Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

Belajar

Bahasa Jepang Itu Bisa Karena Terbiasa Atau Karena Formula?

Bahasa Jepang Itu Bisa Karena Terbiasa Atau Karena Formula?
Okey guys, masih inget kan sebelumnya aku pernah bahas mitos "belajar bahasa Jepang mah WAJIB langsung dari native" dan setelah baca-baca artikel itu pun kalian mungkin punya pendapat kalian masing-masing. Kali ini aku mau coba bahas sesuatu yang masih nyambung dengan bahasan itu, tapi dengan pandangan yang berbeda. Yang siapa tau bisa ngasih gambaran atau pandangan baru buat kalian tentang belajar bahasa Jepang. So kali ini kita akan menjawab pertanyaan tentang belajar bahasa Jepang itu bisa karena "Terbiasa" atau karena "Formula"? Yuk kita masuk ke pembahasan.

Seperti yang tadi aku mention, dalam pembelajaran bahasa Jepang saat ini ada dua aliran pemikiran utama yang sering bikin kita bingung "mau ngikutin yang mana gitu belajarnya". Dua aliran tersebut yaitu: 

Tim Terbiasa yang menjunjung tinggi kebiasaan atau intuisi bahasa Jepangnya. Belajar seperti anak kecil—dengarkan terus-menerus, tiru, dan bahasa akan masuk dengan sendirinya. Biasanya punya prinsip bicara dulu, mikir belakangan.
  
Tim Formula yang menjunjung tinggi aturan dan tata bahasa. Hafalkan semua pola kalimat, partikel, dan konjugasi kata kerja. Biasanya punya prinsip pahami aturannya dulu, baru bicara.

Setelah tau ada dua aliran ini, kalian masuk ke yang mana? Tip terbiasa atau formula? Sebenernya yang mana yang paling benar? Apakah kita harus memilih salah satunya aja? Atau bisa jadi kita harus mencampur kedua aliran tadi? Disini kita coba bahas tuntas bagaimana kedua pendekatan ini bekerja dalam konteks belajar bahasa Jepang. Pertama kita coba bahas dari terbiasa atau intuisi.

Istilah terbiasa yang aku pake ini adalah proses mendapatkan bahasa secara naluriah (intuisi) melalui paparan yang konsisten. Nah kalau aku kaitkan dengan tipe orang, berarti tim tebiasa itu orang yang banyak-banyak membiasakan diri dengan mendengar, mengulang, dan menggunakan sampe kita terbiasa dengan bahasa Jepang. Ini yang dialami sama para native Jepang yang menggunakan bahasa Jepang setiap hari dari mereka kecil. Ya native Jepang aja ga dikit dari mereka malah ga begitu mengerti bagaimana pola kalimat bahasa Jepang yang benernya. 

Tapi di sini aku mau pusatkan contohnya pada orang Indonesia yang berangkat ke Jepang belum lulus N5, dan saat ini dia udah pulang setelah magang 5 tahun di Jepang. Setelah long stay dan tiap hari pake bahasa Jepang, mereka melihat kata おかえりなさい (okaerinasai) menjadi sebuah satu kesatuan kosakata, tanpa mengetahui kata tadi itu hasil olahan dari konjugasi atau perubahan kata kerja. Mereka terbiasa menggunakannya kosakatanya tanpa bener-bener mengerti kosakata yang dimaksud. Tapi karena sehari-hari di Jepang mereka mendengarkan orang ngomong kosakata itu di kondisi tertentu, mereka langsung menggunakannya sesuai yang dia tangkap. Mereka lebih memusatkan terbiasa dengan apa yang didengar dan mereka praktikkan langsung di kehidupan mereka. 

Tidak ada formula atau rumus yang mengajarkan kita aksen atau intonasi yang alami, dan biasanya cuman bisa kita dapatkan dengan mendengar dan mengulangnya, puluhan, ratusan atau mungkin ribuan kali. Itu baru ngomongin aksen, selain aksen pun ada banyak kosakata dengan nuansa yang berbeda-beda. Karena sering mendengarkan dan berbicara dengan native, tipe terbiasa akan lebih mengerti kosakata berdasarkan nuansa, yang terkadang tidak diajarkan di buku pelajaran. Contohnya saat terkesan sama orang lain kita bisa pake kosakata すごい (sugoi), やばい (yabai), atau なるほど (naruhodo), nah tipe terbiasa ini bisa lebih tau mana yang sebaiknya dipake. Ya bisa jadi ga bener-bener ngerti sih, tapi mereka tau dalam kondisi tertentu biasanya orang pake kosakata yang mana. 

Oleh karena itu, orang yang tipe terbiasa akan lebih mudah terbiasa dari sudut pandang lancar berbicara secara langsung. Tapi disisi lain tipe ini sering banget mengandalkan intuisi mereka tanpa dasar formula, sehingga sering terjadi kesalahan struktural seperti salah menggunakan partikel, posisi kalimat, dll. Balik lagi prinsip dari tipe terbiasa adalah bicara dulu, mikir belakangan. Apakah ini sebuah kesalahan? Aku sih ga begitu melihat ini sebagai kesalahan selama tersampaikan dengan baik. Tapi ya khawatir juga kalau si tipe terbiasa ini masuk kedalam kondisi formal ya. Di sisi lain, aku yakin banyak juga diantara kalian yang suka ngerasa ga tenang kalau ga begitu tau apa yang diucapin. Makanya muncul tipe kedua yaitu tipe formula.

Istilah formula yang aku gunakan merujuk pada tata bahasa, pola kalimat, dan juga aturan-aturan struktur kalimat yang benar. Beda sama tipe terbiasa yang mengandalkan intuisi atau kebiasaan dia saat berbicara, tipe formula adalah orang-orang yang biasa membangun atau meracik dulu kalimat sesuai struktur yang seharusnya, baru mulai bicara. Inilah yang membuat tipe formula biasanya butuh waktu untuk bisa lancar atau fasih berbicara bahasa Jepang. Karena mereka memikirkan dulu kosakata, pola kalimat, dan juga partikel yang akan digunakan. Semua itu untuk memastikan bahwa tidak ada kesalah saat berbicara. Kebanyakan tipe ini lebih memilih diam dari pada salah ngomong, atau setidaknya diam sampai dia berhasil merumuskan mau ngomong apa. Makanya tipe formula di awal-awal bakal lebih sering terasa kaya pendiem atau dianggap si paling kaku bicaranya. Ini karena mereka menyesuaikan dengan pola kalimat seharusnya, di mana native pun ga begitu memperhatikan struktur kalimat yang akan mereka ucapkan. Tapi mau gimana ya? Prinsip tipe formula adalah pahami dulu aturannya, baru bicara.

Di sisi lain, tipe ini dia paham betul dengan pola kalimat dan berbagai macan fungsi partikel. Sehingga mereka lebih mudah untuk memahami kalimat yang panjang dan kompleks. Bisa dibilang, kekuatan tipe formula ada ketika menerjemahkan atau menggunakan bahasa Jepang yang formal. Contohnya para pekerja white collar seperti manager yang menghubungkan antar perusahaan, resekpsionis hotel international yang tiap hari pake bahasa formal, ada juga interpreter yang menerjemahkan 2 bahasa yang kompleks. 

Ya aku ga bisa bilang mereka yang tipe formula itu salah karena banyak mikir sebelum bicara. Karena memang udah seharusnya kita ga hanya mengandalkan intuisi, tapi kita mengerti juga dengan apa yang kita ucapin sebelum mulai bicara. Maka idealnya memang kita menggabungkan keduanya. Bisa kita mulai dari membangun dasar bahasa Jepang dengan cara tipe formula, coba mulai dari belajar bahasa Jepangnya OTODIDAK pake buku Minna no Nihongo, dan coba belajarnya step by step ya. Kalau mau dibantu, kita ada program belajar N4 cuman 15 hari kok, yang penasaran bisa tanya-tanya tim aku ya. Nanti sambil belajar formulanya seperti apa, kita bisa sambil membangun intuisi dengan banyak-banyak mendengarkan orang Jepang bicara. Ya intuisi memang idealnya itu dibangun ketika udah dipake tiap hari di keseharian kita, dan ini biasanya beneran kita rasain ketika udah di Jepang. Tapi sebagai persiapan awal kalian bisa manfaatin anime, musik, drama, dll untuk membangun intuisi tahap awal. Minimal kita terbiasa mendengarkan dan memahami apa yang dibicarakan dalam bahasa Jepang terlebih dahulu. 

Kalau menurut aku sih, prinsip paling benernya yaitu "Formula membuat kita benar, terbiasa membuat kita fasih". Maka sebab itu, menggabung keduanya itu udah jadi hal yang penting dalam pembelajaran bahasa Jepang. Tapi gimana menurut kalian? Kalian masuk tipe mana? Atau mungkin kalian punya pendapat lain? Coba tulis di kolom komentar ya. 

Kontak Aku kesini yaa:

Komentari Artikel Ini

Komentar

  • by Hanii,  2025-11-28

    Wahh keren banget penjelasannya Kakak...jadi nambah wawasan baru nihhterima kasih Kak????????

J-Class, pernah diliput di :