Belajar
Belajar Bahasa Jepang: Panduan Lengkap Kata Penghubung Level N5 dan N4
Di zoom session aku pernah dapet pertanyaan seperti dibawah ini.
"kak kan ada そして, それから, dan それで ya, nah bedanya apa sih kak? Bukanya semuanya sama ya?"
So, aku mau ambil kesempatan ini untuk sharing pembelajaran bahasa Jepang lagi nih. Kali ini aku mau lanjutin belajarnya di bagian kata penghubung, dimana kata penghubung dalam bahasa Jepang ternyata mirip-mirip ya. Kalau belum terbiasa terkadang bingung mau pake yang mana. Khususnya aku kali ini bahas yang biasanya muncul di level N5 dan N4 dulu deh. Nanti kalau ada kesempatan lagi, aku coba bahas yang next levelnya. Jadi coba ikutin sampe beres yuk biar dapet bayangan penggunaan-penggunaannya.
Menurut KBBI, "kata penghubung" atau "kata hubung" diartikan sebagai "kata atau ungkapan yang berfungsi untuk menghubungkan antarkata, antarfrasa, antarklausa, dan antarkalimat". Sedangkan dalam bahasa Jepang "kata penghubung" itu disebut 接続詞 (setsuzokushi) yang secara jumlah memang cukup banyak dan sebagiannya memang mirip mirip secara penggunaan. Bahkan sampe N4 aja udah lumayan banyak ya, jadi kali ini aku coba bahas sebagian dulu, dan nextnya aku akan bahas lanjutannya. Aku juga mau coba jabarin atau kelompokan berdasarkan fungsinya ya, biar kalian yang bacanya bisa langsung tau perbedaan masing-masing kata penghubungnya. So kita masuk ke pembahasan yuk.
Kesejajaran dua kalimat dan penambahan informasi
Pertama ada そして (soshite) yang udah keluar dari level N5, dan dilanjutkan di N4. そして punya fungsi memberi kesan kesejajaran antara kalimat 1 dan kalimat 2, atau penambahan informasi dari kalimat 1. Ya intinya penggunaan そして itu seperti "dan", "kemudian", atau "selanjutnya" dalam bahasa Indonesia, dan memang sering digunakan untuk menghubungkan dua klausa atau kalimat yang memiliki kedudukan sejajar, baik nunjukkin kegiatan/kejadian berikutnya maupun penambahan informasi yang ga ada di kalimat sebelumnya. Contohnya :
Kare wa choushoku o tabemashita. Soshite, sugu ie o demashita.
彼は朝食を食べました。そして、すぐ家を出ました。
Dia sudah makan sarapan. Kemudian ia segera pergi ke luar rumah.
Toukyou wa hiroi machi desu. Soshite, totemo nigiyaka desu.
東京は広い街です。そして、とても賑やかです。
Tokyo kota yang luas. Dan juga sangat ramai.
Ada juga yang mirip dengan そして yaitu それに (soreni). Tapi, それに penggunaannya lebih terbatas untuk penambahan informasi saja. Meskipun ga bisa nunjukin urutan kegiatan, それに punya peran unik untuk memperkuat penegasan informasi tambahan yang ada di kalimat keduanya. Jadi ketika memberikan argumen, atau pendapat biasanya kalimat di setelah それに punya penegasan yang lebih kuat daripada ketika menggunakan そして. Kalau di bahasa Indonesia sama kaya "selain itu", "ditambah lagi", dan "lagipula". Contohnya kalau kita bandingkan dengan kalimat yang sama dengan そして tadi akan seperti :
Toukyou wa hiroi machi desu. Soreni, totemo nigiyaka desu.
東京は広い街です。それに、とても賑やかです。
Tokyo kota yang luas. Selain itu sangat ramai.
Mungkin sekilas sangat mirip bahkan terlihat sama, tapi ketika pakai それに Mungkin sekilas sangat mirip bahkan terlihat sama, tapi ketika pakai それに informasi tambahan yaitu "sangat ramai" memiliki penekanan yang lebih tinggi kalau dibanding pakai そして.
Menunjukkan sebab akibat
Di N5 dan N4 udah ada beberapa kata penghubung yang menunjukkan sebab akibat. Pertama ada ~から (kara) dan bentuk yang lebih sopannya yaitu ~ので (node). Kalau di bahasa Indonesia seperti "karena", "dikarenakan", "sebab", dan sebagainya. Selain tingkat kesopanannya yang berbeda, ada satu perbedaan lain yang sangat membedakan kedua kata penghubung ini. Yaitu ~から cenderung lebih menunjukkan alasan yang subjektif (menurut pembicara), sedangkan ~ので memberikan alasan yang objektif (berdasarkan kenyataan/kondisi yang terjadi). Contoh:
Atama ga itai kara, kyou wa hayaku kaeritai desu.
頭が痛いから、今日は早く帰りたいです。
Karena (menurut aku) sakit kepala, aku ingin pulang lebih awal hari ini.
Koutsuu ga juutai shiteita node, chikoku shite shimaimashita.
交通が渋滞していたので、遅刻してしまいました。
Karena (faktanya) jalanan macet, aku jadi terlambat
Ada yang mirip dengan ~から dan ~ので yaitu awalan kalimat それで (sorede). Kalau 2 pola yang diatas tadi digunakan di akhir kalimat, それで dipasang di awal kalimat ke-2 setelah titik atau koma. Meskipun sama-sama nunjukkin sebab akibat, それで punya penekanan yang lebih kuat di akibat/hasil yang ada di kalimat ke-2nya. Seakan-akan ingin nunjukkin bahwa point utama yang ingin disampaikan itu bukan alasannya melainkan akibat/hasilnya. Contohnya:
Kinou byouki de shigoto ga dekimasen deshita. Sorede, kyou kinou no bun no shigoto o owarasenaito ikemasen.
昨日病気で仕事ができませんでした。それで、今日昨日の分の仕事も終わらせないといけません。
Kemarin ga bisa kerja karena sakit. Oleh karena itu, hari ini harus menyelesaikan pekerjaan yang kemarin juga.
Kita lanjut ya, Kalau から, ので, dan それで biasanya nunjukkin 1 alasan, kali ini ketemu sama pola akhiran ~し (shi) yang biasanya digunakan untuk menjabarkan beberapa alasan atau kondisi. Jadi dengan pola ini kalian bisa buat rentetan kalimat yang nujukkin sebab atau alasan. Pola ~し ini pun udah dipelajari di N4, dan cukup sering juga digunakan dalam keseharian. Coba kita liat contoh kalimat berikut:
Kono resutoran wa yasui shi, oishii shi, funiki mo ii shi, yoku kimasu.
このレストランは安いし、おいしいし、雰囲気もいいし、よく来ます。
Restoran ini murah, enak, suasananya bagus, jadi sering datang ke sini.
Di kalimat ini, kita bisa liat ada 3 alasan kenapa sering datang ke restoran ini. Jadi untuk bikin rentetan alasan bisa pakai pola ~し ini ya.
Urutan waktu, atau kegiatan
Berikutnya kita bahas kata penghubung yang nunjukkin urutan waktu kejadian atau kegiatan. Sampai N4 harusnya ada 3 yang mirip secara arti, namun ketiganya punya perbedaan yang jelas. Pertama ada perubahan kata kerja (konjugasi kata kerja) bentuk TE. Detail dari cara mengubah ke bentuk TE mungkin aku coba bahas di lain waktu, tapi sebagai contoh perubahannya bisa liat beberapa seperti berikut:
Kata Kerja → bentuk TE
食べます → 食べて
書きます → 書いて
勉強します → 勉強して
Setelah kita ubah menjadi bentuk TE seperti di atas, kita bisa pakai kata kerja tersebut sebagai penghubung urutan waktu dengan kalimat berikutnya. Bentu TE bisa digunakan berkali-kali hingga ratusan pun bisa. Jadi secara teori bisa menghubungkan ratusan kalimat dengan kata kerja bentuk TE ini, tapi pada praktiknya, orang Jepang biasanya ga pake panjang-panjang. Palingan cuman dipake ngehubungin dua atau tiga kalimat, sekalipun ada yang lebih dari empat kalimat itu jarang banget sepengetahuan aku. Jadi kalau mau buat yang panjang banget aku saranin pake pola yang lain biar ga ribet. Contoh bentuk TE sebagai penghubung waktu seperti berikut:
Bangohan o tabete, mata shousetsu o kaite, beddo ni nemasu.
晩ご飯を食べて、また小説を書いて、ベッドに寝ます。
Makan malam, terus lanjutin nulis novel, kemudian tidur di kasur.
Ketika predikatnya diubah jadi bentuk TE, kalian bisa buat kalimat urutan waktu seperti di atas
Ada yang mirip dengan bentuk TE yaitu ketika kalian tambahkan から (kara) di setelah bentuk TEnya, jadi Bentuk TE + から (~te kara). Kalau bentuk TE aja kalian cuman mengaitkan kalimat jadi urutan waktu, tapi kalau Bentuk TE + から kalian ngasih penekanan bahwa tindakan kalimat kedua hanya bisa dimulai setelah tindakan kalimat pertama selesai. Bahasa gampangnya gini "lakuin kalimat satu dulu baru kalimat dua". Contohnya:
Kyou no shigoto o owarasetekara, douryou to nomikai ni ikimasu.
今日の仕事を終わらせてから、同僚と飲み会に行きます。
Selesaikan pekerjaan hari ini dulu, kemudian pergi untuk minum-minum bareng rekan kerja.
Ada juga kata penghubung seperti それから (sorekara) yang secara fungsinya mirip. Kali ini dipakai untuk urutan waktu yang lebih lepas, seperti menambahkan poin/informasi berikutnya dalam sebuah daftar kegiatan. Mirip dengan そして (soshite), tetapi lebih sering menekankan urutan waktu. Contohnya seperti:
Shukudai o shimasu. Sorekara, terebi o mimasu.
宿題をします。それから、テレビを見ます。
Mengerjakan PR. Kemudian nonton TV.
Kesimpulan atau mengakhiri topik pembicaraan
Di bahasan terakhir di artikel ini, kita punya awalan kalimat kedua では (dewa) dan juga じゃ (ja). Keduanya punya fungsi yang sama yaitu memberi kesimpulan atau mengakhiri topik pembicaraan. Kalau di Indonesia では sama じゃ itu mirip seperti "baiklah", "oke kalau gitu ...", "yah ...". Sedangkan yang membedakan dari keduanya yaitu, kalau では (dewa) lebih formal, sedangkan じゃ (ja) lebih kasual jadi lebih sering digunakan ke orang yang udah akrab ya. Coba liat di contoh berikut :
Dewa, ashita sanji ni ikimasu ne.
では、明日3時あに行きますね。
Kalau begitu, besok aku pergi jam 3 ya.
Ja, mata ashita
じゃ、また明日
Baiklah, sampai jumpa besok
Oke guys untuk sekarang aku coba bahas sampe sini dulu ya. Udah pada paham belum? Karena ada banyak, nanti sisanya aku coba lanjutin di artikel lain ya. Atau kalau dari kalian ada yang ingin kita bahas bareng di artikel berikutnya, bisa coba tulis di komentar ya. Biar nanti kita bahas di artikel berikutnya.



Komentar
No Comments To Display