Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

  • Belajar Bahasa Jepang

    Hafal Hurufnya Aja GA CUKUP?! Ini Beberapa ATURAN Cara Baca Khusus Dalam Hiragana & Katakana

    Waktu mulai belajar bahasa Jepang pastinya kalian mulai dari belajar huruf dasarnya kan ya? Iya huruf hiragana dan katakana. 2 huruf ini tuh basic banget dan merupakan dinding pertama yang harus dilewati oleh pelajar bahasa Jepang. Tapi terkadang masih ada aja yang ternyata masih ga tau beberapa aturan cara baca khususnya. Ini beberapa aturan dasar dan khusus hiragana dan katakana yang harus kalian ketahui. Yuk ikutin sampe akhir biar ga salah lagi.

    Sebelum bahas aturan yang aku maksud, pastikan hafal cara baca yang dasarnya dulu ya. Seperti あ itu dibaca "a", い itu dibaca "i", か itu dibaca "ka", dsb. Ini paling dasar jadi perlu dihafalkan satu persatu baik hiragana dan katakana. Jadi step pertamanya pelajari dulu huruf dasar Hiragana dan Katakananya ya. Sebagian besar huruf hiragana dan katakana itu berupa suku kata atau mora seperti KA, KI, KU, KE, KO, dll. Di antara 48 huruf, cuman ada 1 huruf mati yaitu "~n" (ん / ン). Kalau kesulitan ngafalin bentuknya, kalian bisa pakai KANA Card untuk mempermudah belajar hiragana dan katakana, biar bisa ngafalinnya berdasarkan ilustrasi dan bisa auto hafal <1 jam. Atau coba tonton video belajar hiragana dan video belajar katakana yang udah pernah aku share sebelumnya ya. 

    Perubahan Konsonan atau Dakuon ((だく)(おん)) dan Handakuon ((はん)(だく)(おん))

    Nah kalau udah hafal bentuk dan cara bacanya, baru kita bisa mulai masuk pembahasan utama kita. Huruf KANA itu masing-masing ada 48, tapi ternyata ada juga cara baca yang berubah ketika di tambahkan sesuatu di hurufnya. Di ujung kanan atas hurufnya kita bisa tambahkan tenten (") atau disebut dakuon ((だく)(おん)) dan ada juga penambahan maru (○) atau disebut handakuon ((はん)(だく)(おん)). Kalau aku coba rangkumkan akan jadi seperti berikut:


    Kalau udah hafal yang di atas, kalian udah bisa nulis huruf, seperti かぎ (kagi), ちず (chizu), ちぢむ (chijimu), ゆうべ (yuube), dll. 

    Kombinasi 2 Huruf Ya Yu Yo, atau Youon ((よう)(おん))

    Kombinasi 2 huruf yang aku maksud itu kombinasi 2 huruf (hiragana/katakana) berakhiran vokal "i" dengan huruf ya, yu, yo kecil (ゃ, ゅ, ょ) untuk menciptakan bunyi baru atau satu suku kata majemuk. Semua huruf berakhiran vokal "i" bisa ya, aku coba buatkan listnya seperti berikut:


    Jadi きゃ itu bukan dibaca "kiya" ya, tapi "kya", じゃ itu bukan dibaca "jiya" tapi dibaca "ja". Ini aturan yang udah dari sananya, jadi udah ga bisa dihindari mau ga mau kita harus hafal dan terbiasa menggunakannya. Sama aja kaya di bahasa Indonesia kan ya? Coba huruf N ketemu sama G pasti jadi NG kan? Terus N ketemu Y pasti jadi NY kan? Nah dalam bahasa Jepang pun ada aturan-aturan seperti ini yang udah lah kita catet terus kita ikutin aja. 

     Bonus buat kalian, ini mungkin bukan bagian dari youon sih. Tapi ada juga huruf-huruf atau gabungan huruf yang hanya ada di katakana yang mirip sama youon ini. Hanya ada di katakana? Iya karena katakana kan dipake buat serapan bahasa asing ya, makanya ada kalanya perlu huruf-huruf ini, aku coba buatkan listnya kaya berikut:


    Penggunaan Double Konsonan atau Sokuon ((そく)(おん))

    Kalau kalian kira つ dan っ itu 2 huruf yang sama, kalian salah! つ itu punya huruf yang ukurannya lebih kecil, coba bandingkan secara ukuran つ dan っ. Nah っ atau tsu kecil ini disebut sokuon ((そく)(おん)) yang ga punya cara baca, tapi dia akan ngikut cara baca konsonan di huruf setelahnya. Contoh pada kosakata きっと (kitto), di sini っ akan dibaca "t" karena di setelah huruf っnya ada と (to). Pada kosakata さっき (sakki), っ dibaca "k" karena di setelahnya ada huruf き (ki). Coba juga liat contoh-contoh lainnya: がっこう (gakkou), ざっし (zasshi), けっきょく (kekkyoku), しっぱい (shippai), dll. Silahkan dicoba-coba baca, nanti teribasa kok bedain "tsu" besar dan yang kecil.

    Bacaan N, NG, M di huruf ん / ン atau disebut Hatsuon ((はつ)(おん))

    Satu satunya huruf mati dalam hiragana dan katakana itu huruf ~n (ん / ン), tapi ternyata huruf ini ga hanya dibaca "N". Ada kondisi-kondisi yang membuat dia dibaca berbeda. Ada kalanya dibaca "~m", ada juga dibaca "~ng". Aku coba rangkum seperti berikut:

    - Dibaca M ketika setelah huruf ん ada huruf yang bikin bibir mingkem seperti P, B, M
    Contoh: さんびゃく = sambyaku, せんぱい = sempai, さんま = samma

    - Dibaca NG ketika setelah ん ada huruf G, dan K, atau んnya berdiri di ahkir kosakata
    Contoh: ぎんこう = gingkou, ばんごう = banggou, ほん = hong

    Ayo disini siapa yang masih baca せんぱい itu sempai?? Bener loh terkadang yang udah di Jepang pun masih belum begitu terbiasa sama cara baca ”N". Aku aja terkadang ga sengaja baca ほん itu "hon" bukan "hong" gitu. So, yang masih belajar coba dibiasain dari sekarang-sekarang biar nanti ga terlanjur biasa pake cara yang salah ya. 

    Bacaan Panjang atau Chouon ((ちょう)(おん))

    Untuk yang ini terkadang aku masih suka denger WNI yang bacaan panjangnya salah. Malah aku pernah denger dari WNI dengan sertifikat N3 ke atas waktu aku lagi di Jepang. Bayangin udah N3 ke atas dia baca bacaan panjang aja masih salah, malu ga sih? Orang Jepang sih pada ngebiarin ya, tapi buat aku sih lebih baik ada yang ngasih tau biar aku terus belajar ya. 

    So jaga-jaga masih ada yang belum tau, bacaan panjang dalam bahasa Jepang itu bukan hanya 2 vokal sama yang berurutan ya. Jadi vokal "a" ketemu "a" lagi, contohnya "kaa" di kosakata おかあさん (okaasan) dibaca panjang bukan jadi "ka'a" dibacanya. Kalau katakana pake "ー" untuk vokal ganda, seperti ケーキ (keeki), "kee" di sini dibaca panjang ya. Jadi kalau vokalnya ganda bakal dibaca panjang itu aku yakin semuanya udah pada tau. Tapi ternyata yang udah N3 ke atas pun masih ada yang ga tau 2 aturan lain, seperti:

    1. Vokal "O" ketemu "U", maka "O"nya akan dibaca panjang
    Contoh: がっこう = gakkoo, そうですね = soodesune, こうとうがっこう = kootoogakkoo

    2. Vokal "E" ketemu "I", maka "E"nya akan dibaca panjang 
    Contoh: せんせい =sensee, こうこうせい = kookoosee, ていねい = teenee

    Kalau diromajikan memang せんせい itu ditulisnya "sensei", こうこう itu tetap "koukou", tapi bacaannya berbeda sama tulisannya ya. Biar bahasa Jepang kalian lebih terdengar natural, coba sesuaikan dengan aturan ini ya. Siapa sih yang ga mau dikatain "()(ほん)()(じょう)()ですね~"?  

    Huruf Hiragana Sebagai Partikel Kalimat

    Kita lanjut ke ATURAN berikutnya yuk! Next ada 3 huruf yang terkadang dibaca berbeda dari seharusnya, yaitu huruf は (ha), を (wo), dan へ (he). Ini bisa dibilang special case, tapi gampang kok! Kita cukup bisa membedakan kapan dia jadi partikel dan kapan dia berdiri sebagai bagian dari kosakata. 

    1. Huruf は (ha) akan dibaca "wa" ketika dia berdiri sebagai partikel SUBJEK 

    2. Huruf を (wo) akan dibaca "o" ketika dia berdiri sebagai partikel OBJEK

    3. Huruf へ (he) akan dibaca "e" ketika dia berdiri sebagai partikel KETERANGAN TEMPAT

    Contoh:
    わたしは がっこうへ ほんを って きます

    - Karena subjeknya (わたし) (watashi) maka は yang di setelah kosakata ini adalah partikel SUBJEK, maka akan dibaca "wa" bukan "ha". 

    - Kemudian (がっ)(こう) merupaka keterangan tempatnya, maka へ di setelahnya adalah partikel keterangan tempat, maka akan dibaca "e" bukan "he". 

    - Terakhir (ほん) adalah OBJEK dari predikat anak kalimat ()って, makanya を yang di setelahnya adalah partikel OBJEK yang dibaca "o" bukan "wo". 

    Jadi kunci utama dari 3 huruf yang dibaca beda ini tuh bisa membedakan dia berdiri sebagai partikel atau bagian dari kosakata. Tenang, seiring kalian belajar, semakin gampang kok membedakannya. Karena bank kosakata kalian makin luas, jadi makin bisa bedain mana yang jadi partikel dan mana yang bagian dari kosakata. Jadi gaperlu ngerasa khawatir untuk point ini.

    Gimana pembahasan kali ini? Bahasannya memang basic banget ya, tapi terkadang masih ada aja yang ga tau sama aturan-aturan ini. Makanya aku share biar kalian bisa membiasakannya dari awal-awal ya. Untuk yang udah belajar jauh kalian udah tau dan mempraktekan semuanya belum? Ga ada kata telat kok kalau belum juga. Double check lagi aja dan mulai membiasakan dari sekarang juga aman kok. Nah next kalau ada request bahas apa lagi, coba tulis di kolom komentar ya. 

  • Belajar Bahasa Jepang

    Apakah AI Akan Menggantikan Mentor Bahasa Jepang?

    Aku belajar bahasa Jepang di zaman di mana aku datang ke kelas, terus mengikuti pelajaran di kelas, diajarin sama mentor bahasa Jepang. Pada masa itu aku masih ngerasa bahwa belajar bahasa Jepang diajarin mentor di kelas itu hal yang udah seharusnya. Ya, gimana ya waktu itu memang belum ada pilihan. Waktu itu mau belajar bahasa Jepang yang kepikiran memang belajar di lembaga belajar atau kuliah jurusan bahasa Jepang. Bahkan pilihan untuk belajar OTODIDAK aja ga kepikiran, ya terutama waktu liat bentuk tulisan bahasa Jepangnya ya. Tapi sekarang gimana? Dengan berkembangnya budaya dan teknologi sekarang, apakah belajar bahasa Jepang di lembaga pendidikan/pelatihan masih jadi hal yang wajib atau setidaknya masih relevan ga ya? Yuk kita bahas bareng-bareng.

    Aku yakin sekarang pun masih banyak yang merasa belajar bahasa Jepang itu wajib lewat lembaga pendidikan. Buktinya lembaga pendidikan bahasa Jepang masih ada banyak di Indonesia. Pesertanya pun ga dikit ya, bahkan ada yang rame banget tiap aku lewat gedung lembaganya. Dari situ aja kita bisa asumsikan masih banyak yang merasa belajar bahasa Jepang itu harus lewat lembaga pendidikan. Di satu sisi aku seneng lembaga-lembaga ini udah membantu banyak orang yang ingin ke Jepang. Tapi di sisi lain aku kepikiran, "apa bener nih di zaman sekarang masih harus lewat lembaga untuk belajar bahasa Jepang?". Iya aku mau fokusin belajar bahasa Jepangnya ya. Jadi lembaga sebagai perantara antara peserta dan perusahaan Jepang saat jobmatch , ataupun yang membantu proses kerja/sekolah di Jepang sih lain cerita ya, jadi kita kesampingkan bagian itu.

    Coba pikir pikir lagi deh, dengan perkembangan teknologi saat ini. Apakah teknologi udah mempermudah belajar bahasa Jepang secara OTODIDAK? Contohnya dengan kemajuan teknologi AI sekarang, mencari informasi mengenai pola kalimat, kosakata, dll itu udah sangat mudah loh. Sebagai contoh bisa pakai Gemini atau Chat GPT atau kalau mau fokus di AI bahasa Jepang bisa pake Mazii ya. Kalau kita pusing tentang perbedaan partikel に (ni) dan で (de) sebagai keterangan tempat, ya tinggal ngetik prompt langsung keluar jawaban beserta contoh-contohnya. Bahkan bingung sama hal tentang Jepang pun kita bisa tanya-tanya AI. Kalau mau belajar bertahap cukup beli buku pelajaran bahasa Jepang kaya minna no nihongo, terus ikutin aja materinya bab per babnya sambil dibantu sama AI. 

    Jam belajar bisa kita atur sendiri, kalau longgarnya malem pulang kerja ya atur-atur aja sendiri. Mau belajar jam 2 pagi sambil dasteran juga bisa. Belajar OTODIDAK bareng AI itu juara lah urusan fleksibilitas, jadi kamu yang belajar kamu yang atur timing sampe pace belajarnya. Soalnya ga ada yang atur silabus belajar kamu, ga ada yang nyuruh kamu dateng jam 8 pagi ke ruang kelas. Belum lagi AI sekarang makin berkembang lagi, untuk latihan kaiwa atau percakapan kalian udah bisa pake AI. Aku udah coba beberapa kaya AI di Mazii, Cotomo, Bunpo, atau mungkin kalian punya AI kaiwa sendiri. Tapi yang jelas AI udah bisa bantu kita sampe latihan percakapan. Ngomong-ngomong belajar di lembaga aja belum tentu dapet kesempatan kaiwa yang cukup. Untuk latihan kanji bisa cari aplikasi kanji di Google Store atau AppStore juga udah banyak banget.

    Baca apa yang tadi aku jabarin mungkin udah ngerasa kaya "Oh jadi sekarang aku belajarnya ga perlu masuk lembaga kali ya?". Jawabannya tergantung kalian. Aku coba bantu kalian biar tau jawabannya dengan satu pertanyaan ini: YAKIN BISA BELAJAR SENDIRI?

    Kalau jawaban kalian AKU YAKIN BISA, maka coba lakukan belajar OTODIDAK tanpa dibantu mentor, kelas online atau masuk lembaga manapun (kedepannya 3 pihak ini aku sebut "mentor"). Kenyataannya ada orang yang berhasil belajar otodidak sampe N2 bahkan N1 kok. Tapi aku yakin banyak yang bakal jawab ENGGA BISA, atau ada juga yang jawab yakin bisa tapi waktu dijalanin ternyata engga. Tau kenapa? Ternyata mentor ternyata punya peran yang lebih besar dari yang kalian bayangkan. 

    Inget guys "AI itu bagaikan GPS yang akan memberi tau jalan tercepat, tapi ga bisa gantiin kamu nyetir mobilnya". 

    AI bisa ngasih informasi yang kamu butuhkan, tapi membangun kebiasaan dan mindset itu tergantung kamunya. Banyak banget orang yang belajar OTODIDAK bakal gagal. Bukan karena ga ngerti materinya, tapi karena gagal membangun kebiasaan dan mindset sebagai Long life learner (pembelajar sepanjang hayat). Mereka ga dibangun mindsetnya untuk terus meningkatkan skillnya supaya bisa terus relevan sama perkembangan zaman. Sehingga timing dan pace belajar kamu jadi asal-asalan, ga ada hukuman sosial karena ga ngerjain tugas, makanya jadi susah konsisten belajarnya. Pokonya kalian yang selow-selow aja belajarnya ujung-ujungnya pasti gagal bukan karena ga ngerti tapi karena gagal konsisten, terus berhenti belajar karena gagal membangun mindset pembelajarnya.

    Selain itu, Kamu bisa jadi ga dapet cerita tentang kisah nyata dari mentornya. AI bisa kasih cerita ke kalian, tapi kita pasti akan meragukan kebenarannya ya? Karena bukan cerita langsung dari seseorang yang menceritakan detail sampai perasaan mereka. Dari point-point tadi aku bisa simpulkan: "Sebenernya mentor itu ikut membangun kebiasaan, mindset dan menceritakan pengalaman juga, di saat AI hanya memberikan pengetahuan, sehingga AI udah bisa jadi tools yang membantu proses belajarnya". Meskipun kenyataannya, sebagian dari mentor masih di tahap hanya memberikan pengetahuan sebagaimana AI. Aku pernah denger dari peserta program di J-class, ada lembaga yang mengajarkan "yang penting hafalin ini", dan mengatakan "ga perlu paham bagaimana pola atau logika dari pola kalimatnya". Iya! disuruh ga perlu paham loh, pantes kan orang Indonesia masih banyak yang level kognitifnya di level menghafal. Soalnya mandatori dari pendidikannya masih disuruh hafal tanpa memahami, apalagi kalau disuruh menganalisis. 

    Makanya program di kita belajar N4 selama 15 hari itu bukan hanya ngasih pengetahuan, tapi kita lebih membangun mindset dan cara belajarnya gimana. Yang nambahin kosakata, dan kanji itu kalian sendiri, kita bantu memahami logika-logika dalam bahasa Jepang bukan hanya tau arti pola kalimatnya. Supaya nanti kalau udah beres programnya pun kalian tau cara OTODIDAK untuk naikin skillnya ke level N3 atau seterusnya. Udah ah pesan sponsornya segitu aja.

    So, sampe sini udah dapet point yang ingin aku sampaikan guys? Jawaban dari judul artikel ini mungkin beda-beda tiap orang. "Apakah AI akan menggantikan mentor bahasa Jepang?" coba tulis di kolom komentar pendapat kalian ya guys.  

  • Belajar Bahasa Jepang

    Udah Di Jepang Tapi Bingung Menyampaikan Sesuatu Ke Native? Coba Cara Ini Ya!

    Bagaimana semuanya? apakah pernah kesulitan atau bingung ketika mau menceritakan sesuatu? menjelaskan sesuatu? atau mau curhat tapi bingung ngomongnya gimana pake bahasa Jepang? Bahkan lagi di pekerjaan mau jelasin sesuatu tentang kerjaan, terkadang ga jadi ngomong gara-gara bingung mau jelasinnya gimana? Mulai dari mana, terus jelasinnya gimana? Waktu udah ngejelasin, eh lawan bicara kita malah kaya ga ngerti atau kebingungan. Ya orang yang jago ngobrol sih pasti ga ketemu masalah seperti ini ya. Tapi di antara kalian mungkin ada yang kesulitan untuk mulai pembicaraan karena bingung mau mulai dari mana, atau gimana cara dan teknik dalam menyampaikan sesuatu. Jadi kali ini aku mau coba bahas gimana cara menyampaikan yang enak di dengar sama orang Jepang.

    Ngomong-ngomong pembahasan kali ini sebenernya ga hanya berlaku di bahasa Jepang loh. Ini sebenernya hal dasar yang tiap orang harusnya mengerti dan tanpa sadar udah ngelakuin ini. Tapi di pembahasan kali ini aku coba kaitkan temanya sama bahasa Jepang dan budaya orang Jepang. Disklaimer ini menurut pengalamanku dan beberapa temenku selama di Jepang, yang mungkin di casenya kalian bisa jadi berbeda. Semoga sharing aku kali ini bisa jadi gambaran atau sekedar referensi yang bisa sedikit membantu kalian ya.

    Pertama-tama perlu kita harus sepakat ya bahwa ga semua orang punya daya tangkap yang sama. Apalagi kalau kita harus mendengarkan orang asing yang kemampuan bahasanya bisa jadi belum sejago native. Belum lagi, budaya berbahasa di tiap negara pun bisa jadi beda-beda ya. Makanya kita perlu mencoba untuk berada di posisi lawan bicara kita, ketika mendengarkan penjelasan kita. Kita ambil contoh yuk, ceritanya kalian mau nyeritain kejadian kemarin, dan kalian jelasinnya seperti berikut:

    Kinou hen na hito ni attanda
    昨日(きのう)(へん)(ひと)()ったんだ
    Kemarin aku ketemu orang aneh

    Jitensha de gakkou e itta toki nandakedo
    ()(てん)(しゃ)(がっ)(こう)()ったときなんだけど
    Waktu pergi ke sekolah naik sepeda sih

    Sono hito douro no mannaka de odottanndayo
    その(ひと)(どう)()()(なか)(おど)っていたんだよ
    Orang itu berdansa di tengah jalan loh

    Tooteru kuruma wa toorenakute yabai koto ni nattanda
    (とお)ってる(くるま)(とお)れなくてやばいことになったんだ
    Mobil pada ga bisa lewat, jadi kacau banget lah

    Sore o mite, omowazu waracchattanda yo
    それを()て、(おも)わず(わら)っちゃったんだよ
    Ngeliat itu reflek langsung ketawa lah

    Hara ga itakunaru kurai ni waratta
    (はら)(いた)くなるぐらいに(わら)った
    Aku ketawa sampe sakit perut

    Hontou ni hen na hito datta yo
    (ほん)(とう)(へん)(ひと)だったよ
    Bener-bener orang yang aneh

    Sou iu hito mo irunda ne
    そういう(ひと)もいるんだね
    Ada ya orang modelan gitu

    Kimi mo sou iu hito to ka atta koto aru no?
    (きみ)もそういう(ひと)とか()ったことあるの?
    Kamu juga pernah ketemu orang modelan gitu?

    Dari contoh yang aku sebutin tadi apa kalian udah bisa tebak point-point penting dari memulai percakapan? Contoh tadi aku buat pake bahasa kasual banget ya. Tapi nanti kalian sesuaikan dengan kondisi kalian ya. Contoh kalau lagi ngobrol sama yang derajatnya lebih tinggi, sesuaikan dengan bahasa yang sopan. Nah aku mau jelasin ke kalian tentang contoh yang aku buat tadi, tapi sebelum itu kita perlu sepakat dulu, bahwa ada Golden Rule ketika berbicara dengan orang lain, yaitu:

    1. Pembicara kurang lebih pasti ingin didengarkan, ingin dimengerti, ingin dianggap menarik, bagi orang asing di Jepang mungin ada juga yang ingin dirasa jago gitu bhs Jepangnya

    2. Pendengar biasanya ingin mengerti, ini udah pasti ya. Kayanya ga ada orang yang mendengar karena dia ga ingin mengerti.

    Nah kita dalam sehari-hari sering banget lupa sama hal penting ini. Padahal kalau kita pikir-pikir ini tuh hal yang wajar banget ga sih. Makanya ketika berbicara dengan orang lain, kita perlu membuat pendengar bisa tau ini lagi ngomongin apa, dan kita perlu bisa membuat pendengar bisa membayangkan apa yang lagi kita bicarakan. Bagi orang-orang yang udah jago ngobrol ini mungkin terasa hal yang sangat simple dan mudah. Tapi balik lagi, aku yakin bagi sebagian orang ini hal yang sulit karena belum terbiasa atau belum tau caranya aja.

    Nah kali ini aku bahas step atau pola pembicaraan atau cara penyampaian yang aku denger dari orang Jepang. Setidaknya bagi mereka cara penyampaian seperti ini mudah dimengerti. Hal penting dalam menyampaikan sesuatu saya garis besarkan ada 3 step seperti berikut:

    1. Share ide, tema, atau topik utama yang ingin disampaikan terlebih dahulu
    2. Susun point-point yang "perlu" disampaikan
    3. Sampaikan yang "ingin" disampaikan

    Dari point2 tadi kita coba breakdown yaitu pertama-tama kita sharing ide, tema atau topik utama yang ingin disampaikan, jadi biar kedua belah pihak paham kita lagi ngomongin apa. Kalau dari contoh cerita yang tadi, aku sharing tentang 昨日(きのう)(へん)(ひと)()ったんだ, yang intinya mau share pengalaman kemarin, ketemu orang aneh kan ya. Jadi pembicara maupun pendengar udah ngerti dan sepakat kita abis ini mau ngobrolin pengalaman kemarin dari si pembicara ya.

    Kemudian lanjut ke point 2 susun poin-point yang perlu disampaikan mengenai ide, tema, atau topik pembicaraannya. Ini biasanya isinya informasi tambahan yang membantu si pendengar bisa membayangkan kejadiannya. Pisah-pisah aja jadi beberapa point. Kalau dicontoh tadi aku pisah jadi 3 point.

    Jitensha de gakkou e itta toki nandakedo
    ()(てん)(しゃ)(がっ)(こう)()ったときなんだけど
    Waktu pergi ke sekolah naik sepeda sih

    Sono hito douro no mannaka de odottanndayo
    その(ひと)(どう)()()(なか)(おど)っていたんだよ
    Orang itu berdansa di tengah jalan loh

    Tooteru kuruma wa toorenakute yabai koto ni nattanda
    (とお)ってる(くるま)(とお)れなくてやばいことになったんだ
    Mobil pada ga bisa lewat, jadi kacau banget lah

    Ga harus 3 point, tapi menurut aku sih 3 point itu ga kebanyakan dan ga kedikitan. Untuk sebagian besar kasus harusnya udah cukup untuk ngasih gambaran kejadian ke pendengar. Nah sampe sini baru persiapan. Karena kalau kita berhenti di sini, kesannya cuman ngasih tau aja kan. Terus kalau dikasih tau informasi aja, apa lagi informasi yang udah mereka tau juga ya ga asik ya. Pembicaraannya udah beres di situ nantinya.

    Makanya kita perlu lanjut ke point 3 sampaikan yang ingin disampaikan. Ini bagian yang paling penting. Karena orang kalau dikasih tau apa yang dia udah tau ya ga asik kan ya. Makanya point 3 ini isinya lebih ke apa yang ingin disampaikan, dirasakan, apa yang kalian pikirkan, reaksi kalian setelah kejadian, pokonya apa yang ingin disampaikan tentang kejadian baru diceritakan tadi. Nunjukkin originalitas tentang pembicara. Di contoh tadi aku buat beberapa point seperti berikut:

    Sore o mite, omowazu waracchattanda yo
    それを()て、(おも)わず(わら)っちゃったんだよ
    Ngeliat itu reflek langsung ketawa lah

    Hara ga itakunaru kurai ni waratta
    (はら)(いた)くなるぐらいに(わら)った
    Aku ketawa sampe sakit perut

    Hontou ni hen na hito datta yo
    (ほん)(とう)(へん)(ひと)だったよ
    Bener-bener orang yang aneh

    Sou iu hito mo irunda ne
    そういう(ひと)もいるんだね
    Ada ya orang modelan gitu

    Kimi mo sou iu hito to ka atta koto aru no?
    (きみ)もそういう(ひと)とか()ったことあるの?
    Kamu juga pernah ketemu orang modelan gitu?

    Dengan gitu pembicara bisa tau reaksi kita, apa yang kita pikirkan, keheranan kita, dll dari point ke-3 ini. Jadi pendengar bisa tau "oh yang ingin disampaikan itu kita bener-bener ketawa liatnya", "se-aneh itu orangnya sampe bikin kita ketawa", atau semacamnya. Jadi tunjukkin apa yang ingin disampaikan.

    Optional, kalau ingin pembicaraannya diperluas, kita tambahin juga pertanyaan di bagian akhir point ke-3 ini, seperti yang di contoh di atas ya. Ini bisa membantu si pendengar memahami arah pembicaraannya. Ini mau nanyain pendapat aku kah? ingin mencari validasi kah? ingin tau tentang lawan bicara kah? dll.

    Ya setau aku sih yang belum ngelakuin ini juga masih banyak sih. Banyak juga yang sadar ga sadar, mungkin udah ngelakuin ini selama di Indonesia. Tapi ketika udah di Jepang malah lupa sama hal dasar ini. Apakah mungkin karena gugup di lingkungan yang berbeda? atau mungkin memang belum terbiasa menggunakan bahasa Jepang? jadi gagal menyampaikannya dengan baik. Ujung-ujungnya malah ngomongnya kesana kesini dan bikin yang dengernya bingung "ini mau ngomongin apa sih?". Sekali lagi, urutan pembahasan yang aku mention itu seperti berikut:

    1. Share ide, tema atau topik yang ingin disampaikan terlebih dahulu
    2. Susun point-point yang "perlu" disampaikan
    3. Sampaikan yang "ingin" disampaikan

    Tapi sayangnya di keseharian itu banyak yang menyampaikannya tidak sesuai urutan ini. Jadi sebutin apa yang ingin disampaikan dulu, terus ide/tema yang ingin disampaikannya malah disebutin terakhir. Kalau gitu, pendengar ujung-ujungnya ngedengerin pembicaraan panjang tanpa mengetahui ini lagi ngomongin apa. Iya sih orang Jepang akan dengerin sampe akhir, tapi suasana pembicaraannya mungkin agak canggung jadinya. Atau terkesan sepeti mendengarkan tapi ga paham ini ngomongin apa. Dan percayalah ini kondisi yang ga asik bagi pendengar, dan ga nyaman bagi pembicara.

    Yah segitu aja pembahasan kali ini, bahasan kali ini sangat dasar, bahkan lebih dasar dari belajar pola kalimat, yaitu bagaimana menyampaikan sesuatu. Balik lagi ini ga hanya berlaku untuk bahasa Jepang aja loh. Tapi kita ngobrol sehari-hari coba pake cara seperti ini, niscaya bakal lebih mudah tersampaikan ke pendengarnya. Next kalau ada yang ingin di bahas, silahkan tulis di kolom komentar ya. Aku coba curi-curi waktu buat bikinnya nanti.

  • Belajar Bahasa Jepang

    JANGAN Belajar Bahasa Jepang Kalo Cuman Biar Bisa KERJA Di Jepang Atau Dapetin SERTIFIKAT-nya !!

    Kenapa ?! Kamu Tersinggung dg Judulnya ?! Bagus deh. Siapa tau kalian dapet pointnya ketika baca ini. Bahasan kali ini merupakan pesan untuk kalian-kalian yang belajar bahasa Jepang untuk berangkat ke Jepang. Baca sampe akhir ya!

    Iya! Sekarang banyak banget orang yang ngebet ingin berangkat ke Jepang. Nah kalo kamu belajar bahasa Jepangnya cuman biar bisa kerja di Jepang atau dapetin sertifikat aja, ngapain sih harus buang duit, waktu, tenaga yang banyak untuk belajar bhs Jepang. Belum lagi bonus stress gara-gara dimarahin dan dipush sama gurunya dengan alasan "membentuk mental".

    Heran deh, kenapa sih untuk belajar bahasa Jepang aja harus pake dibentak, dipaksa nggak tidur karena harus ngerjain PR yang berlipat ganda, padahal cuman kesalahan kecil karena ada yang belum hafal dikit, dll. Tapi di kelas aku tuh kaya yang udah ngelakuin kesalahan yang ga bisa dimaafin gitu. Emangnya aku udah ngelakuin tindak kriminal atau apa?

    Iya sih, kerja di Jepang itu memang keras banget dan gak cocok untuk "anak mami" yang cengeng. So, sepertinya memang perlu didikan yang keras, tahan banting, biar ga cengeng nanti di Jepangnya. Paling tidak, itu menurut beberapa instruktur di lembaga sana.

    Nah, masalahnya, kamu sendiri belajar bahasa Jepangnya itu buat apa ?

    Kalo kamu belajar bahasa Jepang cuman buat kerja di Jepang. Udah banyak banget orang yang sekarang BERHENTI belajarnya loh! Iya, senpai atau senior kalian yang sekarang udah berhasil dapetin kerjaan dan sekarang tinggal di Jepang. Mereka saat ini, atau setidaknya beberapa diantara mereka, udah pada berhenti belajar.

    Yeay!!! Akhirnya GOAL untuk kerja di Jepang tercapai!!! Akhirnya bisa tidur nyenyak karena gak harus ngerjain PR sampe larut malam lagi. Akhirnya gak ada yg marah dan bentak-bentak lagi. Begitu kan menurut mereka ya?

    Sementara itu, mereka yang belajar bahasa Jepang dengan GOAL untuk dapetin sertifikat JLPT N4 / JFT A2, dll supaya bisa apply visa kerja Tokutei Ginou (TG) / Specified Skilled Worker (SSW) di Jepang. Sekarang, mereka juga udah berhenti belajar karena sertifikatnya udah berhasil didapat. Dan, kini saatnya mereka untuk menyibukkan diri mencari perantara yang bisa kenalin ke perusahaan, TSK ataupun lembaga yang memiliki job order, dsb.

    Kayaknya sih mereka lupa ya. Punya N4/JFT plus SSW itu hanya syarat untuk apply visa TG aja. Belum tentu ada perusahaan yang mau nerima dia kalo attitude-nya nggak bagus. Dan salah satu attitude terbaik yang dicari oleh semua perusahaan di dunia adalah attitude-nya pembelajar, alias orang yang punya mindset Lifelong Learning.

    Loh, emangnya Kenapa ?

    Karena ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan termasuk ilmu bahasa itu akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Suatu saat, kalo kamu udah mulai gak nyambung dengan becandaan anak-anak ABG di komplek tempatmu tinggal, kamu akan tau rasanya gimana menjadi dinosaurus. haha

    Ketika kamu berhenti belajar, itu artinya hidupmu sudah selesai. Dan kalo misal hidupmu udah selesai, untuk apa juga masih hidup. (Oppps, nyesek bgt kan)

    Ini sebetulnya sama aja dengan case-nya orang yang kuliah supaya bisa dapet kerjaan, atau supaya dapetin gelarnya. Mereka yang niatin kuliahnya supaya dapet kerjaan, beberapa diantara mereka itu akan berhenti kuliah alias DO, ketika mereka berhasil dapetin kerjaan sebelum lulus. Apalagi kalo lulusnya masih 2-3 tahun lagi.

    Buat kamu yang baru aja lulus, baru aja wisuda dan dapetin gelarnya. "Welcome to the Jungle bro!" Gelar dan sertifikatmu belum tentu berguna di pekerjaan kamu. Satu-satunya hal yang bisa bikin kamu bersaing di dunia kerja, dunia profesional, termasuk dunia bisnis adalah kehausan kamu terhadap ilmu-ilmu baru.

    Siap-siap dibelakangmu itu udah ada banyak anak fresh graduate yang usianya jauh lebih muda, tenaganya lebih kuat, berpikirnya lebih kritis, dan karyanya jauh lebih kreatif dari kamu.

    Please ya, teruslah belajar sekalipun GOAL jangka pendekmu untuk dapetin pekerjaan dan dapetin sertifikat itu, udah tercapai.

    So, Apa GOAL kamu selanjutnya ?

    Buat kalian yang ingin berkarir menggunakan bahasa Jepang seperti penerjemah atau intepreter, kejarlah N2, bahkan N1! Mulailah belajar coding, design, finance, dll, mulailah belajar memanfaatkan AI (Artificial Interligence), gali terus perkembangan teknologi supaya kamu tidak menjadi dinosaurus selanjutnya. Jadi udah tau apa yang perlu dilakukan kan? Terakhir di penutupan izin ngutip quote closing pak Prof. Rhenald Kasali ya.

    Stay Relevan

  • Belajar Bahasa Jepang

    5 Kebiasaan Kecil Orang Jepang yang Bikin Kamu Cepat ke Jepang

    Pernah nggak sih kamu mikir, kok bisa ya orang Jepang itu hidupnya tertata banget, panjang umur, dan kerjanya efisien? Mulai bandingin sama kehidupan diri sendiri yang mungkin ga sesuai dengan harapan kalian. Masih kesulitan menata hidup sendiri, masih kesulitan buat efisien juga. Rahasianya bukan karena mereka punya kekuatan super, tapi karena 8 kebiasaan kecil yang disebut Tiny Japanese Habits yang dimiliki oleh orang Jepang. Kali ini aku mau bahas micro habits ini yang bisa kita pakai supaya bisa cepet berangkat ke Jepang. So, baca sampai beres ya.

    Udah bosen mungkin dengerin aku cerita tentang orang-orang yang gagal atau ga berangkat-berangkat ke Jepang. Karena secara jumlah memang banyak guys mereka yang udah masuk lembaga supaya bisa berangkat ke Jepang, tapi ujung-ujungnya ga berangkat-berangkat. Dari yang terjebak sama jebakan lembaganya, sampai yang stuck belajar bahasa Jepangnya, ada macem-macem alasan gagal berangkatnya. Apakah kalian salah satunya? Semoga engga ya. Nah, buat kamu yang lagi berjuang belajar bahasa Jepang atau lagi nunggu jadwal terbang, Aku sudah pilihin 5 poin paling penting dari "8 Tiny Japanese Habits" yang bisa kamu contoh biar proses belajarmu nggak berasa beban, dan bisa membantu proses belajar bahasa Jepang kalian.

    Kaizen: Jangan Ngebet Mau Langsung Jago!

    Banyak banget dari kalian yang baru mulai belajar, langsung pengen hafal 2000 Kanji dalam semalam. Akhirnya apa? Ga masuk semua? Burnout terus menyerah? Atau ada lagi yang mau nambahin dari pengalaman kalian? Kalian bisa coba pakai prinsip Kaizen, dimana kuncinya adalah 1% lebih baik setiap hari. Daripada maksain belajar 5 jam sehari, tapi cuma seminggu sekali belajarnya. Mending belajar 15 menit tapi tiap hari tanpa absen, dan konsistensi kecil ini kalau dikumpulin bakal jadi ledakan progres yang gila banget! Konsisten nambahin kosakata baru tiap hari, sambil ngulang-ngulang yang udah dipelajari. Sekalipun ga banyak yang ditambahin, tapi coba konsistenkan tiap hari. Kalian mungkin ga sadar step kecil yang kalian lakukan tiap hari ternyata udah sejauh ini. Jadi kunci pertama adalah konsisten berkembang tiap hari ya guys.

    Ikigai: Cari Alasan Kuat Kenapa Kamu Mau ke Jepang

    Orang Jepang punya konsep yang disebut Ikigai. Ya kalau aku jelasiin ini cukup rumit, tapi penjelasan gampangnya sih ikigai itu alasan yang bikin mereka semangat bangun pagi. Coba tanya diri sendiri, kenapa kamu mau kerja ke Jepang? Apa cuma ikut-ikutan? Apa buat bantu ekonomi keluarga? Atau pengen nabung buat modal usaha di Indo? Kalian suka ga sama apa yang akan kalian lakukan nanti? Kalian sekarang lagi belajar bahasa Jepang, setelah bisa bahasa Jepang terus apa? Udah mulai kerja di Jepang, kalian bisa mencintai pekerjaan kalian di sana ga? Banyak banget pertanyaannya ya Hhe.

    Tapi bener guys, Ikigai itu kita mengaitkan 4 point yaitu "apa yang kita cintai?", "apa yang kita bisa/mahir?", "apa yang dibutuhkan dunia/masyarakat?", setelah itu kita tanya "dari point tadi apakah bisa menghasilkan atau bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga?" Jadi kalau kalian bisa mengaitkan itu semua dengan bahasa Jepang dan bekerja di Jepang, harusnya kalian udah punya jalur ikigai kalian. Nah pertanyaannya alasanmu kuat ga? Kalau kuat sih nanti waktu pusing ketemu materi konjugasi kata kerja, kamu nggak bakal gampang nyerah karena kamu tahu tujuan akhirmu apa.

    Hara Hachi Bu: Makan Secukupnya, Belajar Secukupnya

    Berikutnya di Jepang ada istilah Hara Hachi Bu, artinya berhenti makan sebelum kenyang (sekitar 80% saja). Coba kita modifikasi ke dalam gaya belajar bahasa Jepang. Kalian yang biasa "makan" semua materi sampai kenyang banget, cape, dan ngerasa tersiksa. Coba mulai untuk "makan" materinya ga sekaligus, tapi dimanage biar ga menyiksa diri sendiri. Coba berhenti "makan"nya pas kamu lagi ngerasa "enak-enaknya" belajar, supaya besoknya kamu masih punya rasa penasaran buat lanjut lagi. Ini rahasia biar belajar nggak berasa kayak siksaan. Yang ini mirip sama yang point kaizen ya.

    Wabi-sabi: Cintai Proses "Blepotan"-mu

    Ini yang beda banget sama apa yang sering diajarin sama banyak sekolah di Indonesia. Sering nggak sih kamu takut ngomong bahasa Jepang karena takut salah partikel atau takut aksennya nggak mirip native? Udah ngerasa takut, ujung-ujungnya ga berani ngomong atau takut untuk mencoba. Di sinilah filosofi Wabi-sabi berperan untuk mengajarkan kita menghargai ketidaksempurnaan. 

    Kita masih belajar kan? Gak apa-apa diawal ngomongnya masih belepotan, yang penting kamu berani coba. Orang yang udah N2 juga terkadang ada yang ngomongnya masih belepotan. Masa yang masih belajar harus bagus ngomongnya? Turunkan ekspektasimu, dan nikmati proses belajarnya. Ga apa-apa salah, justru coba ambil apa yang bisa kamu pelajari dari kesalahan. Terkadang kesalahan atau kegagalan itu guru yang lebih baik daripada guru manapun. Waktu latihan bikin kalimat terus lupa kosakatanya, kalian boleh nyontek-nyontek kamus kalian kok. Contoh lain, di awal-awal belajar hiragana dan katakana pun kalian sambil nyontek-nyontek kan ya. Tapi proses "lupa → nyontek → ingat lagi" ini kalau diulang lama-lama inget kok. Saat ini belum sempurna, tapi kalau kita terus berusaha berkembang, cepat lambat kita akan mendekati kesempurnaan. Jadi jangan ngerasa minder atau galau kalau saat ini belum bisa ya.

    Gaman: Daya Tahan Mental "Baja"

    Gaman itu artinya sabar, tahan, bertahan, dll. Tapi dalam kasus ini ayo kita artikan sabar dan bertahan. Proses belajar bahasa sampai nanti kalian hidup di Jepang itu pasti ada tantangannya. Pasti ada saatnya kamu ngerasa jenuh, atau stuck saat belajar. Tapi dengan prinsip Gaman, kamu diajarkan buat nggak gampang mengeluh dan tetap fokus pada solusi. Mentalitas tangguh inilah yang dicari perusahaan Jepang dari pekerja Indonesia. Aku udah cerita berkali-kali kan, kerja di Jepang itu berat, dan budaya kerjanya lebih keras. Anggap aja proses belajar bahasa Jepang kalian ini sebagai proses latihan bertahan dari beratnya kerja di Jepang.

    Setelah ngikutin sampai sini apa yang kalian tangkap? Ya nggak perlu berubah jadi "Jepang banget" dalam semalam sih, cukup mulai terapin beberapa kebiasaan yang aku jelasin tadi dikit-dikit ya. Sebenernya prinsip-prinsip tadi itu tentang menjalani hidup, tapi kita sebenernya bisa kaitkan sama cara belajar bahasa Jepang juga. Dengan prinsip tadi kita bisa belajar OTODIDAK lebih teratur. Kalau ragu dengan cara sendiri, bisa coba lirik program Akselerasi N4 dalam 15 Hari untuk dapetin cara belajar bahasa Jepang OTODIDAKnya. Udah ah pesan sponsornya sampe sini aja ya. 

    Kalau udah pada dapet pointnya aku izin tutup di sini. Next kalau ada yang ingin kita bahas berikutnya bisa tulis di kolom komentar ya. Yuk, mulai bentuk kebiasaan barumu dari hari ini. Semangat, Guys!

  • Belajar Bahasa Jepang

    Belajar Menyusun Kalimat Bahasa Jepang: Tips untuk Pemula

    Kita belajar bahasa Jepang rata-rata pasti lewat buku ya, dan kebanyakan buku pelajaran bhs Jepang mungkin ada yang kurang menjelaskan pola yang perlu diperhatikan saat menyusun kalimat. Sehingga pasti ada yang ngerasa "udah khatam buku pelajaran tapi masih kesulitan nyusun kalimat". Nah bisa jadi ada hal yang terlewat tuh belajarnya. Mau tau dimana? Yuk aku coba bahas.

    Oke seperti yang tadi aku sebutin, ya kebanyakan belajar bahasa Jepang lewat buku ya. Dan aku mau coba ambil contoh yaitu buku sejuta umat yaitu "Minna no Nihongo", dimana buku ini kayanya dipake sama hampir semua pelajar bahasa Jepang ya, kalau engga pun setidaknya pasti udah pada denger atau liat deh bukunya. Buku ini bagus banget buat belajar bahasa Jepang, karena udah bisa dibilang sistematis banget tiap BABnya. Tapi ada beberapa point yang mungkin ga dijelasin di buku minna no nihongo, dan sebagian besar buku belajar bahasa Jepang, yaitu perbedaan bahasa Jepang dengan bahasa ibu pelajarnya.

    Sebenernya sih dijelasin tapi secara tidak langsung, contohnya di buku itu udah ada penjelasan seperti SubjekはObjekをPredikatです tapi tidak dijelasin lebih detil mengenai urutan ini, sehingga banyak pelajar yang gagal paham tentang step menerjemahkan kalimat.

    Mempelajari perbedaan bahasa ini terlihat ga penting tapi sebenernya punya peran penting untuk bisa memahami apa yang perlu kita lakukan untuk mengubah ke dalam bahasa tujuan. Ya singkat kata gimana caranya mengubah bahasa Indonesia ke bahasa Jepang, kalau kita ga tau perbedaannya dari 2 bahasa tadi? Makanya yuk kita kenalan sama perbedaan pola kalimat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jepang.

    Pertama kenali perbedaan polanya. Bahasa Jepang punya pola yang berbeda dengan bahasa Indonesia ya, seperti berikut :

    Bahasa Indonesia : S P O K

    Bahasa Jepang : S K O P 

    Udah keliatan kan? Susunan kalimatnya berbeda, sehingga output kalimatnya pun akan berbeda. So sebelum kita terjemahkan kita perlu ubah dulu susunan kalimatnya. Untuk pemula yang baru mulai atau masih di awal-awal belajarnya bisa pakai cara kaya yang aku coba ini ya. 

    1. Coba buat dulu kalimat bhs Indonesia 

      Aku makan sushi di restoran

    2. Kenali dulu ada fungsi kata dalam kalimat tadi,
         tentuin dulu Subjek, Predikat, Objek dan Keterangannya.

      Aku makan sushi di restoran
        S           P           O                 K

    3. Ubah polanya menjadi pola bahasa Jepang

      Aku di restoran sushi makan
              S               K            O            P

    4. Tambahin partikel yang sesuai 

      Akuは restoranで sushiを makanます
              S               K                O               P

    5. Tinggal kosakatanya kita ubah kedalam bahasa Jepang

    Watashi wa resutoran de sushi o tabemasu
      (わたし)は レストランで 寿()()を ()べます
       S              K                   O                P
    Saya makan sushi di restoran

    Udah selesai tuh penerjemahannya. Sekali kagi, buat pemula atau yang masih di awal-awal belajarnya, coba dulu pake step seperti ini sampe teribasa, nanti dikit-dikit mulai biasakan diri langsung terjemahkan tanpa menggunakan step ini ya. 

    Kalau keterangannya ada banyak gimana kak?
    Urutan penggunaan beberapa kata keterangan dalam satu kalimat, pada umumnya urutannya akan jadi
    kata keterangan lainnya kata keterangan tempat keterangan waktu

    Meskipun seringnya yang ingin ditekankan disebutkan lebih awal.

    Contoh 1 : (yang ingin menekankan waktu)

    Watashi wa 12ji ni tomodachi to hashi de resutoran de sushi o tabemasu
      (わたし)は 12()(とも)(だち)(はし)レストラン 寿()()を ()べます
       S                             K                                     O               P

    Contoh 2 : (yang ngikutin pola umum)

    Watashi wa tomodachi to hashi de resutoran de 12ji ni sushi o tabemasu
      (わたし)は (とも)(だち)(はし)で レストランで 12 寿()()を ()べます
       S                             K                                    O                P

    Saya makan sushi di restoran menggunakan sumpit bersama teman jam 12

    2 kalimat di atas ga ada yang salah dan secara makna pun sama, meskipun urutan keterangannya berbeda, tapi selama keterangan ada di setelah subjek dan di belakang objek, sehingga kalimat itu benar.

    "Aku suka denger keterangan waktunya disimpen didepan kak, itu bener ga ya?"

    Yang kaya gini kah maksud kalian ?

    Kinou watashi wa tomodachi to resutoran de sushi o tabemashita
     きのう (わたし)は (とも)(だち)と レストランで 寿()()を ()べました
                  S                             K                         O                P
    Aku kemarin makan sushi di restoran bersama teman

    Kalau kalimat tadi, kita jadikan keterangan waktu "きのう" jadi bagian dari subjek, sehingga kita lagi ngomongin aku yang kemarin.
    Ini ga salah, subjek itu bisa kita isi anak kalimat sebenernya. Jadi intinya subjek ga harus orang yang ngelakuin predikat, atau yang dijelaskan predikatnya, tapi Subjek adalah TOPIK PEMBICARAAN, banyak yang masih suka keliru sama ini


    "Oh memang orang Jepang ngobrolnya gitu ya? Polanya pasti S K O P gitu?" Jawabannya engga!! 
    Pernah denger atau liat kalimat seperti ini kan?

    Sushi o watashi wa tabeta ndesu yo kinou
     寿()()を (わたし)は ()べたんですよ きのう
    Sushi udah aku makan loh kemarin
    Ya intinya sih "Saya makan sushi kemarin" ya tapi urutannya ga sesuai S K O P, dan orang Jepang tuh kesehariannya sering ngobrolnya seperti ini.

    Eits, tapi kalian coba ngaca dulu, emang kita orang Indonesia ngomongnya selalu S P O K ?? Engga kan, kalau kalian sehari-hari ngomongnya ngikutin aturan S P O K banget yaaa kaku banget sih kalian. 

    Nah seperti contoh tadi orang Jepang pun ga se-patuh itu sama aturan S K O P, jadi ketika ngobrol sama mereka nanti, ga perlu kaget kalau urutannya agak berbeda. Kalau kalian ngerti dengan apa yang dipelajari selama ini, kalian pasti ga akan sulit buat paham maksud dari kalimat meskipun ga sesuai S K O P. Makanya aku sebutin tadi cara nerjemahin yang akujelasin di awal ini hanya jadi jembatan sampai ngerti pola kalimat dalam bahasa Jepang, sampai kalian bisa nyusun kalimat secara spontan.

    Jadi harus ga sih pelajari urutan dan pola kalimat bahasa Jepang yang baik dan benarnya? Jawabannya PERLU. Alasan pertamanya sebelum ke Jepang kita di test dulu bahasa Jepangnya, jadi harus bisa dulu tuh pola kalimat yang benernya, alasan keduanya kita ga tau kedepannya kita bakal jadi apa. Contoh kalau kalian jadi penerjemah profesional kan kalian harus bisa pake bahasa yang baik dan benar ya. Contoh masa kalian nerjemahin dokumen resmi tapi bahasanya acak-acakan? atau kalian jadi guru bahasa Jepang, berarti harus bisa ngajarin pola yang benernya, masa dari awal udah diniatin ngajarin yang salah ke orang lain?

    So, kali ini aku baru ngebahas dikit tentang cara nerjemahin bahasa Indonesia ke bahasa Jepang khusus pemula, tapi inget jangan sampe cara ini kalian pake terus-terusan ya, latih diri sendiri biar bisa level up dan bisa nerjemahin secara spontan. Nah silahkan dicoba-coba ya guys, kalau masih kurang paham bisa coba kita diskusikan di kolom komentar ya, atau kalau kalian mau dibantu belajarnya lebih serius, coba kontak nomor aku aja ya, nanti aku bantu.

  • Belajar Bahasa Jepang

    Alasan Bahasa Jepangmu Masih Terasa Kurang Natural

    Udah belajar bahasa Jepang cukup lama, ada yang udah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menguasai bahasa Jepang. Pada akhirnya berhasil dapet kerjaan ke Jepang, dan mulai mempertanyakan 1 hal, "Kok bahasa Jepang aku kaya ada yang beda ya sama yang dipake orang Jepang?" Bahasa Jepang yang aku pake ga salah tapi kok kaya ada yang beda, terkesan ga natural kalau dibanding sama orang Jepang. Nah aku yakin diantara kalian banyak yang pernah ngerasain itu. So, kali ini aku mau coba bahas dikit mengenai ngobrol layaknya para native. 

    Kemarin aku udah sharing-sharing cara nerjemahin kalimat untuk pemula ya guys. Gimana udah pada terbiasa? Coba dikit-dikit mulai ngomong bahasa Jepangnya secara spontan ya. Kali ini aku coba sharing next levelnya nih. Gimana cara supaya ngomong kaya orang Jepang. Nah kalau ada yang ngerasa ngobrolnya belum kaya native, menurut aku ada cara berfikir yang mungkin belum selaras dengan gimana orang Jepang berfikir sebelum mereka berbicara. Nah aku coba kasih contoh kalimat gini ya.

    Kinou no barentaindee ni tomodachi ga takai chokoreeto o katte kuremashita.
    昨日(きのう)のバレンタインデーに(とも)(だち)(たか)いチョコレートを()ってくれました。
    Valentine kemarin aku dapet coklat mahal dari teman.

    Kalimat tadi itu kalimat yang mungkin kalian temukan di textbook, dan ini kalimat yang bener secara ilmu bahasa. Tapi, orang Jepang gak akan ngomong seperti itu. So kita mau coba arrange kalimat tadi jadi gimana orang Jepang biasanya ngomong ya, sambil aku jelasin step gimana biar lebih natural.

    1. Mengerti apa yang ingin kalian ucapkan?

    Kalimat tadi itu kalimat yang cukup panjang, dan aku yakin orang Jepang gak akan ngomong kalimat panjang disekaliguskan seperti itu. Jadi pertama-tama dari kalimat tadi kalian ngerti ga apa yang ingin kalian sampaikan? Atau lebih tepatnya apa yang paling ingin kalian sampaikan? Mungkin tiap orang beda-beda ya apa yang paling ingin disampaikannya, so sebagai contoh dari kalimat tadi kita asumsikan yang ingin disampaikannya adalah "dibelikan coklat di hari valentine" ya. Informasi lainnya orang lain mungkin ga begitu peduli. Jadi pahami dulu apa yang ingin kalian sampaikan, dan kita masuk ke point berikutnya

    2. Sebutkan dari yang paling ingin disampaikan duluan.

    Contoh dari point 1 tadi kita ingin sampaikan "dibelikan coklat di hari valentine", jadi sebutkan dulu yang paling penting atau yang paling ingin disampaikannya dulu. Kalau dari contoh tadi akan jadi seperti ini kan ya

    Kinou no barentaindee ni chokoreeto moratannda
    昨日(きのう)のバレンタインデーにチョコレートもらったんだ
    Valentine kemarin aku dapet coklat loh

    Sebutin dulu yang paling penting, kemudian kita masuk ke point berikutnya yaitu

    3. Sebutkan pendek-pendek aja. 

    Dari pengalaman aku 1 tahun di Jepang, aku rasa orang Jepang memang ga suka denger kalimat panjang-panjang. Makanya mereka sering memotong-motong kalimat panjang jadi kalimat yang pendek-pendek. Setelah kita sebutkan point utamanya, baru kita lanjutkan dengan point tambahannya. Jadi berurutan gitu dari yang penting ke yang kurang penting. Oh iya jangan lupa tambahin juga kata-kata penghubung seperti それで, で, けどさ, dll supaya lebih natural ya. So, kalimat panjang tadi kita bisa potong jadi seperti ini,

    Kinou no barentaindee ni choko morattanda
    昨日(きのう)のバレンタインデーにチョコもらったんだ
    Valentine kemarin aku dapet coklat loh
    Soredesa, tomodachi kara nandesu keredo
    それでさ、ともだちからなんですけれど
    Terus, aku nerima dari temen ya

    Choko wa takai mono rashii yo
    チョコは(たか)(もの)らしいよ
    Dan ini katanya coklat mahal loh

    Dibandingin sama kalimat pertama yang kita buat udah ga kaya textbook lagi kan? Setelah kita potong jadi 3 kalimat pendek, makin kerasa kaya orang Jepang banget ga sih? Kalian sering juga pasti denger kalau di anime pada ngomongnya pendek-pendek gitu. Oke aku mau kasih contoh 1 lagi, ada kalimat seperti :

    Eki no chikaku ni koohii ga umakute, sugoku oshare na kafe e tomodachi to ikimashita.
    (えき)(ちか)くにコーヒーがうまくて、すごくおしゃれなカフェへ(とも)(だち)()きました。
    Aku pergi ke kafe cantik banget dan kopinya enak yang ada di dekat stasiun bersama teman.

    Kalimat ini panjang banget loh, orang Jepang biasanya ga akan ngomong panjang gini. So coba pake cara tadi ya

    Sugoku oshare na kafe e ittannda !
    すごくおしゃれなカフェへ()ったんだ!
    Aku pergi ke kafe yang cantik banget loh!
    De tomodachi to itta kedo sa
    で、(とも)(だち)()ったけどさ
    Terus, aku berangkat sama temen kan

    Eki no chikaku ni atte, koohii mo umainda yo
    (えき)(ちか)くにあって、コーヒーもうまいんだよ~
    Tempatnya deket sama stasiun dan kopinya juga enak loh!

    Nah gitu udah kebayang belum cara-caranya? aku mau coba tambahin informasi penting ya. Ketika bicaranya pendek-pendek itu ada fungsi lain sebenernya, yaitu kita ngasih kesempatan lawan bicara untuk (あい)づち (aidzuchi) atau semacam reaksi yang diberikan selama ngobrol biar nunjukkin udah paham atau engganya gitu ya contoh kaya Hmm~, hee~, sou nanda~. Jadi lawan bicara lebih gampang ngasih aidzuchi tadi gitu ya. Seakan-akan kaya kita ngomong pendek, terus ada reaksi, ngomong pendek, terus ada reaksi, dan seterusnya. Kalau gini kan pembicaraan bisa lebih panjang, bisa lebih meluas, dan bikin suasana yang lebih baik sambil liat reaksi lawan bicaranya.

    Selain itu, kalau pendek-pendek omongannya maka akan jadi lebih mudah untuk dicerna oleh pendengar. Ini ga hanya ngomongin dalam bahasa Jepang sih, kalian kalau ngobrol pake bahasa Indonesia juga coba aja pake cara ini. Aku yakin ngobrol ga akan berbelit, bakal lebih enak dan mudah tersampaikan. Kalau dengerin orang ngomong panjang lebar malah jadi "intinya mau ngasih tau apa sih kamu?" gitu kan? Mereka akan ngerasa kaya ga ngobrol sama manusia, malah kaya ngobrol sama robot atau AI gitu.


    So kesimpulannya kalau mau ngobrol kaya native Jepang salah satu yang aku pelajari adalah pertama pahami apa yang ingin disampaikan, kedua sebutin dulu yang paling ingin disampaikan, dan ketiga jangan panjang-panjang tapi bikin urutan kalimat pendek berdasarkan seberapa penting informasinya. Aku kasih kesimpulan lain yang mungkin lebih mudah dipahami sama kalian ya. Jadi kalau mau ngobrol kaya native cobalah ceritakan dari jawabannya dulu, baru kita kasih penjelasan di setelahnya

    Kaya yang aku mention di konten sebelumnya juga kan ya, orang Jepang nyebutin yang paling ingin disampaikan duluan. Jadi kalau agak beda dikit sama pola kalimat benernya ga apa-apa ya kalau lagi ngobrol santai sama native. Pola kalimatnya beda sama yang di textbook jadi ga S K O P gitu ga masalah. Buat lawan bicara kalian ngerti apa yang ingin disampaikan kalian dulu baru tambahin informasi lainnya.

    Nah sekarang udah tau kan point-point yang perlu diperhatikan biar ngobrol kaya native? Coba kalian bisa ga ya praktekin cara ini? Atau bisa deh kalian latihan pake kalimat-kalimat di textbook terus kalian arrange ke cara orang native bicara. Perlu diperhatikan ya, ini biasa digunakan saat ngobrol sehari-hari aja, so dalam konteks yang lebih formal seperti dalam meeting atau semacamnya, sebenernya ga 100% seperti yang aku sampaikan tadi. So gimana pembelajaran hari ini? Kalau ada yang ingin aku bahas di konten berikutnya bisa komen aja biar aku bantuin ya. 

  • Belajar Bahasa Jepang

    Belajar Dasar Keterangan dan Penyebutan Waktu Dalam Bahasa Jepang

    Kita ketemu lagi di bahasan materi bahasa Jepang ya guys. Kali ini aku mau coba bahas lanjutan dari materi yang udah pernah aku share ya. Masih inget kan kita udah bahas bagaimana predikat dalam bahasa Jepang, terus ada juga pembahasan objek dalam kalimat. jadi harusnya udah pada bisa ya bikin kalimat S-O-P. Kali ini kita coba lanjut bahasan mengenai pola kalimat dasarnya, khususnya cara-cara menyebutkan waktu atau keterangan waktu dalam bahasa Jepang. Biar nanti kalian udah bisa nyebutin kapan kejadian atau kegiatannya terjadi ya. Ga usah panjang- panjang pembukaannya, mending kita masuk ke pembahasannya yuk.

    Oke, aku udah mention dikit tadi tapi biar makin jelas, kita coba kenalan dulu sama apa itu keterangan waktu. Intinya keterangan waktu itu keterangan yang nunjukkin kapan terjadinya sesuatu. Contohnya seperti besok, minggu depan, taun lalu, dll. Tapi aku mau sekalian ngebahas juga kosakata atau penyampaian waktu yang lainnya, seperti penyebutan durasi yang menjelasikan berapa lama, dan juga frekuensi yang menjelaskan seberapa sering. Nah untuk yang durasi dan juga frekuensi sebenernya masuk kedalam kata intensitas bukan masuk keterangan waktu, namun berhubung masih berkaitan dengan waktu aku coba bahas juga ya.

    Nah uniknya, dalam bahasa Jepang untuk bisa menyampaikan keterangan waktu kita perlu tau logika yang sedikit berbeda kalau dibanding bahasa Indonesia. Ada yang perlu partikel, ada yang ga perlu partikel. Jadi kita perlu tau dulu kata keterangan yang akan kita sebutkan itu bagian dari yang mana, spesifik atau engga, kemudian yang durasi atau frekuensi pun punya caranya dan penempatannya sendiri. Kalau udah tau logikanya, harusnya penggunaan partikel ataupun penempatan keterangan waktu ini akan terasa sangat mudah kok. Kita coba kenalan satu-per satu yuk. Kita mulai bahas dari keterangan waktu kapan kejadiannya.

    Keterangan Waktu Kapan Kejadiannya 

    Kalau kalian belajar bahasa Jepangnya pakai buku kaya buku Minna no Nihongo, kalian udah ketemu sama cara penyebutan waktu di bab-bab awal. Memang yang kita bahas pertama ini termasuk basic banget ya, tapi terkadang masih ada yang keliru, dikarenakan ada logika yang penggunaan partikel yang bisa jadi masih ada yang kurang paham. Yaitu membedakan kapan kita harus pakai partikel に dan kapan ga perlu pakai partikel. 

     Iya, jadi waktu kita ngasih tau kapan kejadiannya, penyebutannya ada 2 kemungkinan. Intinya, kita akan harus menggunakan partikel に ketika keterangan waktunya ada angkanya atau spesifik. Berarti kalau ga ada angka atau ga spesifik, jangan pake partikel に ya. Nah terkadang ada yang kurang mengerti maksud dari spesifik di sini itu apa ya? Contoh kita liat kalimat simple berikut:

    Watashi wa kesa tabemashita 
    (わたし)今朝(けさ)()べました
    Aku makan tadi pagi
    Watashi wa ashita no asa ni hatarakimasu
    わたし明日あしたあさはたらきます
     Aku bekerja pagi besok
    Watashi wa 5 ji ni ikimashita
    わたし5きました
    Aku berangkat jam 5
    Watashi wa sen kyuu hyaku kyuu juu yon nen ni umaremashita
    わたし1994ねんまれました
     Aku lahir di tahun 1994


    To the point ya, kalimat 1 ga perlu に sedangkan yang 2 perlu partikel に. Ini karena "tadi pagi" masih cukup luas cangkupan periodenya, sehingga kita belum bisa tau pagi kapannya. Sedangkan "pagi besok" akan pakai partikel に karena dari kata "besok" yang masih ga jelas, kemudian diperjelas dengan kata "pagi", sehingga kata gabungan "pagi besok" ini terhitung sebagai spesifik. Kalau yang contoh 3 dan 4 mah udah pasti pakai に ya, karena ada angkanya. Sekarang kita coba liat contoh lain yang ga perlu pakai itu seperti berikut :

    Watashi wa konban nemasu
    (わたし)(こん)(ばん)()ます
    Aku tidur malam ini
    Watashi wa raishuu jakaruta e ikimasu
    (わたし)(らう)(しゅう)ジャカルタへ()きます
    Aku pergi ke Jakarta minggu depan
    Watashi wa kyonen sushi o tabete mimashita
    (わたし)(きょ)(ねん)寿()()()べてみました
    Aku udah cobain makan sushi tahun lalu 

    Udah keliatan banget kan ya, 3 kalimat di atas pakai keterangan waktunya masih abu-abu, dan ga jelas kapannya gitu. Tidur malam ini, jam berapa?, pergi ke Jakarta minggu depan hari apa?, yang makan sushi ini lebih parah, dari tanggal 1 januari sampai 31 desember dia kapan makan sushi nya ga jelas kan? Sampe sini udah kebayang ya yang ga spesifik itu yang seperti apa?

    Di contoh tadi aku buat juga, tapi izin untuk coba jelasin lebih detail case dimana kalau keterangan waktunya berupa kata gabungan seperti kata gabungan KB + KB, maka kata gabungan itu akan terhitung spesifik, sehingga biasanya akan menggunakan partikel に di kalimatnya. Contohnya seperti berikut:

    Watashi wa senshuu no getsuyoubi ni karimashita
    (わたし)(せん)(しゅう)(げつ)(よう)()()りました
     Aku meminjamnya senin minggu lalu
    Watashi wa kayoubi no yuugata ni benkyou shimasita
    (わたし)()(よう)()(ゆう)(がた)(べん)(きょう)しました
    Aku belajar sore hari selasa
    Watashi wa raigetsu no chuujun ni kaerimasu
    (わたし)(らい)(げつ)(ちゅう)(じゅん)(かえ)ります
    Aku pulang pertenganhan bulan depan

    Kalau gini kan kita bisa tau detailnya kapan. Seperti Minggu lalunya hari apa, waktunya udah lebih spesifik. Hari selasanya juga selasa kapannya udah dispesifikkan. Bulan depannya bulan depan kapan juga ya. Kalau udah berupa kata gabungan, biasanya mereka sudah terhitung spesifik ya, jadi kita akan perlu menggunakan partikel に. Nah dari penjelasan tadi coba kita simpulkan ya 

    1. Kalau ada angkanya seperti nunjukkin jam, menit, tanggal, bulan, dan tahun itu udah pasti kita pakai partikel に.
    2. Tapi kalau keterangan waktunya berupa kata tunggal yang ga spesifik atau masih abu-abu kita ga perlu pakai に.
    3. Kalau keterangan waktunya terdiri dari kata gabungan KB + KB, maka kita akan memerlukan partikel に.

    Kak, gimana kalau kita pakai に di waktu yang ga spesifik? Jawabannya AMAN, tersampaikan dan orang Jepang pun terkadang gitu, tapi ga natural aja nanti kesannya. Kalau sampai sini udah paham, kita coba liat contoh kalimat dibawah. Aku ga akan langsung kasih jawabannya, ga akan kasih terjemahannya juga, tapi coba perhatikan dan bayangin dulu dari contoh kalimat berikut mana yang harus ada partikel に dan mana yang ga perlu. Jawabannya aku simpen di bagian paling bawah artikel ini ya.

    1. (わたし)明日(あした)( )(がっ)(こう)()きます
    2. (かい)()(らい)(しゅう)()(よう)()( )(おこな)われます
    3. 7()( )()きて、すぐシャワーを()びます
    4. (きょ)(ねん)(はる)( )()(ぞく)(さくら)()たよ
    5. ()(もの)がおいしいから、明後日(あさって)( )(とも)(だち)(いっ)(しょ)()ようかな
    6.  ()りた(ほん)は9(がつ)( )(かえ)したと(おも)いますよ


    Gimana? Apa udah pada pegang jawabannya masing masing kan? Nanti check di paling bawah untuk jawabannya ya. Aku sengaja ga buatin dulu cara baca, dan arti kalimat-kalimatnya ya biar kalian fokus sama partikelnya pakai に atau ga pakai partikel. 

    Dari tadi aku baru bahas soal partikelnya, sekarang aku coba mention singkat aja mengenai posisi penempatan keterangan waktu. Memang posisi paling benernya dipasang di antara SUBJEK dan OBJEK. Inget ya pola kalimat dalam bahasa Jepang itu S-K-O-P. Jadi kalau kata keterangannya ada banyak, selama semua deretan keterangannya ada di antara SUBJEK dan OBJEK, maka sah-sah aja. Contohnya seperti berikut:

    Watashi wa  shichiji ni tomodachi to  eiga o  mimasu
    (わたし) 7()に (とも)(だち) (えい)() ()ます
      S                  K                  O             P
    Aku  nonton  film  bersama teman jam 7
      S         P         O                    K

    Urutan bersama teman dan jam 7 bisa kalian tukar-tukar, karena masih di area kata keterangan. Seacara ilmu kebahasaan, posisi ini paling bener. Meskipun gitu, banyak juga orang yang pasangnya di sebelum SUBJEK, jadinya "7時に私は友達と...", kalimat ini ga salah dan sah-sah aja. Ini dikarenakan cukup banyak orang Jepang yang biasa nyebutin waktu duluan. Casenya mirip sama orang Indonesia kan ya hhe. Yang masih kurang jelas, bisa baca artikel cara menyusun kalimat bahasa Jepang atau tonton video berikut ya 



    Waktu Durasi dan Frekuensi 

    Kalau ngomongin durasi, itu singkat kata berapa lama kejadian atau kegiatannya. Kalau kita menjelaskan kapan terjadinya harus liat apakah kita pakai partikel に atau engga, nah ngomongin durasi dan juga frekuensi kita ga perlu mikirin partikel ya, cukup pasang aja kosakata durasi atau frekuensi di kalimatnya ga perlu nambahin partikel apa-apa. Coba kita liat di contoh-contoh berikut:

    Watashi wa mainichi nihongo o benkyou shite imasu
    (わたし)(まい)(にち)()(ほん)()(べん)(きょう)しています
    Saya tiap hari belajar bahasa Jepang
    Watashi wa kinou ni jikan eiga o mimashita
    (わたし)昨日(きのう)2()(かん)(えい)()()ました
    Saya kemarin nonton film 2 jam
    Watashi wa maishuu yon kai undou shite imasu
    (わたし)(まい)(しゅう)4(かい)(うん)(どう)しています
    Saya tiap minggu olah raga 4 kali
    Watashi wa maitoshi kazoku to ni kai ryokou shite imasu
    (わたし)(まい)(とし)()(ぞく)2(かい)(りょ)(こう)しています
    Saya traveling 2 kali tiap tahun bareng keluarga 

    Dari 4 kalimat di atas, kita bisa lihat bahwa di setelah durasi ataupun frekuensi, kita ga perlu nambahkan partikel apapun ya. Nah mungkin pada sadar juga, bahwa posisinya penempatannya kok ada yang berbeda ya. Jadi durasi ataupun frekuensi, secara posisi pun terbilang cukup fleksibel. Berbeda sama keterangan waktu kapan yang udah pasti ada di posisi yang ditentukannya, penempatan durasi ataupun frekuensi itu sebenernya ga ada. Tapi supaya bisa terkesan lebih natural, sebenernya ada kebiasaan penempatan yang digunakan orang Jepang. Biasanya durasi ataupun frekuensi dipasang di sebelum objek, atau sebelum predikat, balik lagi ya ini ga harus dan ga selalu. Aku coba kasih contoh tambahan yang posisinya aku coba ubah ya.

    Watashi wa maishuu shacho to ni kai kaigi shite imasu yo
    (わたし)(まい)(しゅう)(しゃ)(ちょう)2(かい)(かい)()していますよ
     Saya rapat 2 kali dengan pimpinan setiap minggu

    Watashi wa maishuu ni kai shacho to kaigi shite imasu yo
    わたし(まい)(しゅう)2(かい)(しゃ)(ちょう)(かい)()していますよ
    Saya rapat dengan pimpinan setiap minggu 2 kali 
    Watashi wa ni kai shacho to maishuu kaigi shite imasu yo
    わたし2(かい)(しゃ)(ちょう)(まい)(しゅう)(かい)()していますよ
    Saya rapat setiap minggu dengan pimpinan 2 kali 

    Dari kalimat di atas, kalimat ketiga mungkin banyak orang termasuk aku ngerasa kurang sreg mungkin. Tapi kalian mau pake kalimat yang manapun, maksud dari kalimatnya ga akan berubah, dan secara kalimat pun sah-sah aja. Terus kalau di paling depan bisa ga kak? Misal dari kalimat yadi jadi 毎週私は.... gimana boleh ga? Boleh, biasanya untuk kosakata frekuensi seperti 毎日 (tiap hari), 毎週 (tiap minggu), dll sih cukup sering denger pada make di posisi awal kalimat, tapi ga harus ya. Silahkan sesuaikan aja ya posisinya.

    Gimana guys bahasan kali ini? Kali ini kita fokus sama pembahasan waktu dalam kalimat, aku udah share contoh-contohnya juga, semoga membantu dan memberikan penjelasan untuk kalian. Kalau masih ada yang kurang paham, atau ada yang ingin kita bahas lebih dalam lagi, coba tulis di kolom komentar ya biar aku coba bahas di artikel berikut-berikutnya. 

    Berikut jawaban dari pertanyaan tadi ya, silahkan dicheck... 

    Watashi wa ashita gakkou e ikimasu
    (わたし)明日(あした)がっこうきます
    Aku pergi ke sekolah besok
    *ga perlu nambahkan partikel に, karena kata keterangan waktu yaitu 明日 itu tidak ada angkanya ataupun spesifik

    Kaigi wa raishuu no doyoubi ni okonawaremasu 
    (かい)()(らい)(しゅう)()(よう)()(おこな)われます
    Rapatnya diadakan sabtu minggu depan
    *pakai partikel に, karena kata keterangan waktunya 来週の土曜日 merupakan kata gabungan sehingga bisa kita anggap spesifik
    Shichi ji ni okite, sugu shawaa o abimasu
    7()()きて、すぐシャワーを()びます
    Bangun jam 7, kemudian langsung mandi (shower)
     *pakai partikel に, karena kata keterangan waktunya 7時 ada angkanya

    Kyonen no haru ni kazoku to sakura o mita yo
    (きょ)(ねん)(はる)()(ぞく)(さくら)()たよ
    Aku lihat sakura bareng keluarga di musim gugur tahun kemarin loh
     *pakai partikel に, karena kata keterangan waktunya 去年の春 merupakan kata gabungan sehingga bisa kita anggap spesifik
    Tabemono ga oishii kara, asatte tomodachi to issho ni koyou ka na
    ()(もの)がおいしいから、明後日(あさって)(とも)(だち)(いっ)(しょ)()ようかな
    Karena makanannya enak, kayanya besok lusa datang lagi bareng temen ya
    *ga perlu nambahkan partikel に, karena kata keterangan waktu yaitu 明後日 itu tidak ada angkanya ataupun spesifik
    Karita hon wa kugatsu ni kaeshita to omoimasu yo
    ()りた(ほん)9(がつ)(かえ)したと(おも)いますよ
    Buku yang aku pinjam udah aku kembalikan bulan september
     *pakai partikel に, karena kata keterangan waktunya 9月 ada angkanya

  • Belajar Bahasa Jepang

    7 Cara Menyebutkan 'Saya' Dalam Bahasa Jepang

    Halo guys, pernah ga sih ketika belajar bahasa Jepang kalian nemu kalimat yang nyebutin 'saya' tapi kok kosakatanya berbeda ya? Ada kalimat yang nyebutin 'saya' pakai 'watashi', ada juga yang pakai 'boku'. Nah lho bedanya apa ya ?

    Di dalam bahasa Indonesia juga sama ya, ada beberapa cara untuk menyebukan pihak pertama seperti "saya", "aku", "diriku", dll. Nah di dalam bahasa Jepang juga sama. Setidaknya aku udah coba rangkum ada 7 cara menyebutkan pihak pertama dalam bahasa Jepang. Kali ini aku akan mau coba jelasin macam-macam cara menyebutkan pihak pertama dalam bahasa Jepang. Aku coba masukin contoh pengalaman aku selama di Jepang ya, biar dapet gambaran dari perbedaan penggunaan kosakatanya. Yuk kita masuk ke pembahasan.

    1. Watashi ((わたし))

    私 (watashi) adalah cara penyebutan “saya” yang paling umum dan biasanya paling pertama dipelajari ya. Contohnya di buku Minna no Nihongo kosakata ini merupakan kosakata pertama yang dipelajari. Watashi sendiri adalah bentuk penyebutan “saya” yang paling dasar dan luas, sehingga bisa digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Nuansanya pun sopan, sehingga watashi itu disebut-sebut sebagai cara menyebutkan saya yang paling aman dalam kondisi apapun. Namun dari pengalaman aku selama di Jepang, orang Jepang yang pakai watashi lebih jarang digunakan ketika berbicara dengan teman yang udah akrab, dan cenderung menggunakan kosakata yang lain. Penggunaan watashi digunakan ketika perkenalan, atau ngobrol sama orang yang ga kenal atau ga akrab, contohnya seperti berikut : 

    Watashi no namae wa manda desu.
    (わたし)()(まえ)はマンダです。
     Nama saya adalah Manda.

     Watashi wa kouban e ikitai desuga, kouban ha doko deshou ka?
    (わたし)(こう)(ばん)()きたいですが、(こう)(ばん)はどこでしょうか
    Aku ingin pergi ke pos polisi, posnya ada dimana ya?

    2. Ore ((おれ))

    Kalian pasti ga asing sama satu kosakata ini. 俺 (ore) itu bukan "saya" ya artinya, kalau di bahasa Indonesia mungkin seperti "gua", atau dalam bahasa sunda itu seperti "aing". Jadi ore itu bahasa kasual ke kasar guys sebenernya. Makanya sering banget digunakannya oleh laki-laki ke teman-teman akrabnya, atau ketika lagi marah gitu suka dipake juga ini kosakata. Bukan berarti perempuan tidak menggunakannya ya, perempuan juga terkadang ada yang pake, meskipun jarang banget. 

    Ore ini sering juga digunakan di media seperti anime, drama, dll. Dan memang biasa digunakan oleh anak gang sekolahan ataupun anak gaul di Jepang. Tapi ingat, jangan pakai ore pada saat acara formal ya temen-temen, karena sekali lagi kata ini sifatnya kurang sopan dan kita akan terdengar seperti orang yang sombong. Contoh penggunaannya :

     Ore sa hontou ni hima da na.
    (おれ)(ほん)(とう)(ひま)だな
     Gua lagi bosen banget nih

      Ore no na wa manda da
    (おれ)()はマンダだ
     Nama gua manda

    3. Atashi (あたし)

    Atashi adalah bentuk lain dari watashi. Atashi ini biasanya dipakai sama perempuan dan sekarang biasa dikenal sebagai bentuk feminin dari watashi. Sama seperti watashi, atashi juga merupakan bentuk dasar dari cara penyebutan “saya” hanya saja atashi biasanya hanya digunakan oleh perempuan dan biasanya laki-laki yang memakai ini untuk menyebutkan diri mereka akan dianggap aneh. Tapi dengan perkembangan jaman, sekarang perempuan yang menggunakan atashi pun mulai berkurang. Meskipun begitu, atashi masih digunakan oleh sebagian perempuan. Selama aku di Jepang pun terkadang denger ada perempuan yang pakai atashi untuk nyebutin diri sendiri. Berikut contoh penggunaan atashi:

    Atashi wa ichigo keeki ga suki desu.
    あたしは(いちご)ケーキが()きです。
    Saya suka kue stroberi.

     Atashi wa honya de hon wo kaimashita.
    あたしは(ほん)(とう)(ほん)()いました。
    Saya membeli buku di toko buku.

    4. Boku ((ぼく))

    僕 (boku) adalah cara kasual dalam menyebutkan “saya” dalam bahasa Jepang. Kata boku ini biasanya digunakan oleh laki-laki. Meskipun kasual, boku cenderung lebih formal dan cukup aman dipakai di berbagai situasi. Contohnya kita bisa gunakan kepada atasan kita ketika kita sudah akrab dengan mereka, dan kita gak mau terlalu formal juga ketika ngobrol dengan mereka. Aku sendiri sebagai laki-laki lebih nyaman menggunakan boku, dari pada kosakata yang lainnya. Walau boku ini digunakan oleh laki-laki, beberapa perempuan juga ada yang memakai boku ketika mereka menyebutkan diri mereka, ketika boku digunakan oleh perempuan mereka akan dinilai sebagai perempuan yang tomboy. Coba kita liat contoh penggunaannya:

     Boku wa gakkou e ikimasu.
    (ぼく)(がっ)(こう)()きます。
    Aku berangkat ke sekolah.

     Boku no ie wa asoko ni arimasu
    (ぼく)(いえ)はあそこにあります。
    Rumah ku ada di sebelah sana

    Sebelum kita lanjut ke kata yang selanjutnya, aku ada fakta menarik nih seputar boku. Jadi pada jaman dulu kanji boku itu dibaca yatsugare (やつがれ) yang artinya pelayan, dan pada era Meiji, yatsugare mulai disebut dengan boku oleh banyak murid-murid pelayan sebagai bentuk untuk menyebutkan diri sendiri. Tidak hanya itu, boku juga dapat digunakan untuk memanggil anak kecil, seperti misalnya anak kecil yang sedang terpisah dari orang tuanya.

    5. Watakushi (わたくし)

    Watakushi adalah bentuk formal dari watashi. Watakushi sendiri biasanya digunakan pada saat acara-acara penting seperti contohnya rapat, atau pertemuan bersama pers. Tidak hanya itu, watakushi juga biasa digunakan untuk berbicara dengan atasan kita di tempat kerja dan digunakan untuk menyampaikan pengumuman secara umum. Selain pekerja, watakushi juga biasa digunakan oleh tokoh politikus untuk menyebutkan diri mereka sendiri. Kalau aku hanpir ga pernah menggunakan yang satu ini, mungkin karena aku jarang ada di dalam kondisi yang mengharuskan aku pake watakushi. Tapi sebagai contoh bisa liat yang di bawah ini ya:

    Watakushi no sei de gomeiwaku wo okakeshi, moushiwake gozaimasen deshita.
    わたくしのせいでご(めい)(わく)をおかけし、(もう)(わけ)ございませんでした。
    Saya dengan tulus meminta maaf kepada Anda atas masalah yang saya sebabkan.

    Watakushi wa kore nite jishokusasete itadakimasu
    わたくしはこれにて()(しょく)させていただきます。
    Saya adalah dengan ini akan mengundurkan diri.

    6. Uchi (うち)

    Kalau anak laki-laki ada boku untuk nyebutin diri mereka, perempuan ada uchi. Uchi adalah cara penyebutan “saya” yang biasa digunakan oleh para gadis. Uchi ini memiliki level yang sama dengan boku dan terkadang hanya digunakan oleh para gadis dan ketika mereka beranjak dewasa, mereka biasanya akan mulai menggunakan atashi.

     Uchi wa kimi no koto ga suki desu
    うちは(きみ)のことが()きです。
    Aku suka dirimu.

    Uchi wa horaa eiga wo mimasu
    うちはホラー(えい)()()ます。
    Aku menonton film horror

    7. Jibun (()(ぶん))

    Nah untuk yang terakhir ini, aku ada cara yang paling cocok buat kalian para atlit atau kalian yang mau keliatan beda nih. Selain watashi, kita bisa menggunakan jibun untuk menyebutkan diri kita sendiri. Jibun sendiri biasanya dinilai sebagai cara untuk menyebutkan diri sendiri untuk orang yang ternilai sopan ataupun tenang. Jibun ini bisa digunakan secara kasual dan juga formal. Jadi untuk kalian yang ingin dinilai sebagai orang yang sopan dan lembut, kalian bisa pakai jibun untuk menyebutkan diri kalian sendiri. Contohnya :       

    Jibun wa sakka senshu ni naritai desu.
    ()(ぶん)はサッカー(せん)(しゅ)になりたいです。
    Saya ingin menjadi atlet sepakbola.

     Jibun wa urusai hito ga dai kirai desu
    ()(ぶん)はうるさい(ひと)(だい)きらいです。
    Saya sangat tidak suka orang yang berisik


     Sebenarnya masih ada cara-cara menyebutkan 'saya' yang lainnya guys, tapi kebetulan saya bahas yang mungkin kalian sering atau masih suka digunakan sekarang. Kalian mungkin pernah juga denger (われ) (ware), わし (washi), わい (wai), あたい (atai), あてし (ateshi), dll. Kata-kata tersebut bisa diartikan dan berfungsi sebagai 'saya' tapi mungkin udah jarang digunakan atau hanya kalian dengar di daerah-daerah tertentu.

     Kalian bisa juga check video dibawah mengenai macam-macam cara penyebutkan saya dalam bahasa Jepang yaa, Jangan lupa like & subscribe channelku juga yaa


    Gimana guys? Kira-kira setelah belajar tentang cara lain untuk ngomong saya di bahasa Jepang ? Menyebutkan saya di Jepang memang berbeda-beda tergantung kebiasaan orang dan kondisi atau konteks penggunaannya. Sekarang kalian bakal pakai yang mana nih untuk nyebut diri kalian nantinya ? 


J-Class, pernah diliput di :