Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

  • Belajar Bahasa Jepang

    Predikat dalam Bahasa Jepang: Kunci yang Menentukan Makna Seluruh Kalimat

    Pernah bikin kalimat bahasa Jepang yang rasanya udah bener, tapi pas dicek sama native speaker ternyata maknanya meleset jauh?

    Salah satu penyebab paling umum adalah bagian yang paling sering diabaikan pemula — predikat. Lebih tepatnya, bagian paling belakang dari kalimat bahasa Jepang yang nentuin apakah kalimat itu pernyataan, sanggahan, pertanyaan, atau cerita masa lalu.

    Di artikel sebelumnya kita udah bahas macam-macam kata kerja dan hubungannya sama partikel. Nah, artikel ini adalah kelanjutannya — karena predikat itu bukan cuma kata kerja. Ada kata benda, kata sifat, dan masing-masing punya caranya sendiri untuk berubah bentuk tergantung apa yang mau kalian sampaikan.

    Kalau kalian pahamin ini, bikin kalimat bahasa Jepang yang tepat itu jadi jauh lebih gampang.


    Kenapa Predikat dalam Bahasa Jepang Itu Spesial?

    Sebelum masuk ke teknisnya, ada satu fakta soal bahasa Jepang yang menarik.

    Di bahasa Indonesia atau Inggris, predikat biasanya ada di tengah kalimat. Tapi di bahasa Jepang, predikat selalu ada di paling akhir.

    Artinya apa? Artinya kalian baru tahu apakah lawan bicara mau ngasih tahu sesuatu, menyangkal sesuatu, atau nanya sesuatu — setelah kalian denger kalimatnya sampai selesai.

    Ini juga yang bikin orang Jepang terkenal sebagai pendengar yang baik. Mereka memang harus dengerin sampai habis sebelum bisa nangkep maksud kalimatnya.

    Jadi buat kalian yang sering motong pembicaraan orang — mulai sekarang latih diri untuk dengerin sampai selesai ya. Di Jepang ini bukan cuma sopan santun, tapi memang kebutuhan linguistik.


    3 Jenis Kalimat Dasar: Positif, Negatif, Interogatif

    Sebelum bahas perubahan predikatnya, kita recall dulu bentuk kalimat dasarnya.

    Ini konsep yang sebenernya udah kalian kenal dari pelajaran bahasa Inggris dulu:

    1. Kalimat positif (+) — pernyataan yang memberikan informasi
    2. Kalimat negatif (-) — sanggahan atau penyangkalan
    3. Kalimat interogatif (?) — pertanyaan

    Yang menarik di bahasa Jepang, untuk mengubah dari satu bentuk ke bentuk lain, kalian cukup mengubah bagian predikatnya saja — bukan seluruh kalimat.

    Ini polanya:

    Jenis Predikat Positif (+) Negatif (-) Interogatif (?)
    Kata Benda / KSな です じゃ/ではありません + か
    Kata Kerja 〜ます 〜ません + か

    Simpel, kan? Sekarang kita lihat gimana ini bekerja di kalimat nyata.


    Contoh dengan Kata Benda sebagai Predikat

    Kita pakai pola paling dasar dulu: KB は KB です

    Kalimat positif

    Watashi wa isha desu.
    私わたしは 医(い)者(しゃ)です。
    Saya adalah dokter.

    Kalimat negatif

    Watashi wa isha dewa arimasen.
    私わたしは 医(い)者(しゃ)ではありません。
    Saya bukanlah dokter.

    Catatan: じゃありません dan ではありません itu sama aja — keduanya bentuk negatif dari です. じゃありません lebih kasual, ではありません lebih formal sedikit.

    Kalimat interogatif

    Watashi wa isha desu ka.
    私わたしは 医(い)者(しゃ)ですか。
    Apakah saya seorang dokter?

    Perhatiin — kalimat pertanyaan dalam bahasa Jepang nggak selalu pakai tanda tanya. Yang jadi indikator utamanya adalah huruf か di ujung kalimat.


    Contoh dengan Kata Kerja sebagai Predikat

    Sekarang kalau predikatnya kata kerja:

    Kalimat positif

    Watashi wa tabemasu.
    私わたしは食たべます。
    Aku makan.

    Kalimat negatif

    Watashi wa tabemasen.
    私わたしは食たべません。
    Aku tidak makan.

    Kalimat interogatif

    Watashi wa tabemasu ka.
    私わたしは食たべますか。
    Apakah aku makan?

    Polanya sama persis — yang berubah cuma bagian akhirnya.


    Pola Kalimat Lampau

    Pola です dan 〜ます yang tadi dibahas itu digunakan untuk menyatakan sesuatu yang terjadi sekarang atau yang akan terjadi. Tapi kalau mau ngomong tentang sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu, pola-pola tadi perlu disesuaikan.

    Jenis Predikat Lampau Positif (+) Lampau Negatif (-)
    Kata Benda / KSな でした じゃ/ではありませんでした
    Kata Kerja 〜ました 〜ませんでした

    Coba lihat bedanya di contoh kalimat berikut. Perhatikan bagian yang berubah:

    Kalimat positif (sekarang)

    Anata wa gakusei desu.
    あなたは学(がく)生(せい)です。
    Kamu seorang pelajar.

    Kalimat negatif (sekarang)

    Anata wa gakusei dewa arimasen.
    あなたは学(がく)生(せい)ではありません。
    Kamu bukan seorang pelajar.

    Kalimat lampau positif

    Anata wa gakusei deshita.
    あなたは学(がく)生(せい)でした。
    Kamu tadinya seorang pelajar. (sekarang udah bukan)

    Kalimat lampau negatif

    Anata wa gakusei dewa arimasen deshita.
    あなたは学(がく)生(せい)ではありませんでした。
    Kamu sebelumnya bukan seorang pelajar. (sekarang udah jadi pelajar)

    Sekarang dengan kata kerja:

    Kalimat positif (sekarang)

    Anata wa mizu o nomimasu.
    あなたは水みずを飲のみます。
    Kamu minum air.

    Kalimat negatif (sekarang)

    Anata wa mizu o nomimasen.
    あなたは水みずを飲のみません。
    Kamu tidak minum air.

    Kalimat lampau positif

    Anata wa mizu o nomimashita.
    あなたは水みずを飲のみました。
    Kamu udah minum air. (kejadian yang udah selesai)

    Kalimat lampau negatif

    Anata wa mizu o nomimasen deshita.
    あなたは水みずを飲のみませんでした。
    Kamu sebelumnya tidak minum air. (kejadian lampau)

    Hanya dengan mengubah bagian predikat di akhir, makna keseluruhan kalimat bisa berubah total. Ini yang bikin posisi predikat di akhir kalimat bahasa Jepang itu sangat powerful — sekaligus alasan kenapa kalian harus dengerin kalimat orang Jepang sampai selesai sebelum bisa nangkep maksudnya.


    Kata Sifat い: Logikanya Sendiri yang Konsisten

    Nah, sekarang kita bahas kata sifat.

    Kata sifat dalam bahasa Jepang terbagi dua: kata sifat い (KSい) dan kata sifat な (KSな). Cara bedainnya simpel — lihat huruf paling belakang kosakatanya.

    KSい → ada huruf い yang merdeka di akhir kosakatanya
    Contoh: 高たかい (tinggi), 低ひくい (rendah), 狭せまい (sempit), 広ひろい (luas)

    KSな → yang tidak punya huruf い merdeka di akhirnya
    Contoh: 元(げん)気(き) (sehat), ハンサム (tampan), 便(べん)利(り) (praktis), 親(しん)切(せつ) (ramah)

    Satu catatan penting — ada beberapa kosakata yang kelihatannya punya い di belakang tapi tetap masuk KSな, seperti 有(ゆう)名(めい) (terkenal) dan きれい (cantik/indah). Kenapa? Karena huruf い-nya itu bukan "merdeka" — dia bagian dari cara baca kanjinya.

    Khusus きれい, aslinya ditulis 綺(き)麗(れい) dengan kanji yang cukup rumit, sehingga orang Jepang lebih sering menulisnya dalam hiragana. Tapi tetap masuk KSな, bukan KSい, karena huruf いnya merupakan bagian dari furigana/cara baca kanjinya.

    Kenapa KSい Punya Cara Perubahannya Sendiri?

    Sekarang bagian yang menarik.

    Kalau KB dan KSな, ketika bentuk kalimatnya berubah, yang berubah itu bagian ですnya.

    Tapi KSい punya logika yang berbeda — yang berubah bukan ですnya, melainkan huruf い di akhir kosakatanya sendiri.

    Lihat polanya:

    Jenis Predikat Positif (+) Negatif (-)
    KB / KSな です じゃ/ではありません
    KSい です い → くないです
    Kata Kerja 〜ます 〜ません

    Jenis Predikat Lampau Positif (+) Lampau Negatif (-)
    KB / KSな でした じゃ/ではありませんでした
    KSい い → かったです い → くなかったです
    Kata Kerja 〜ました 〜ませんでした

    Coba lihat polanya di contoh kalimat nyata dengan 優やさしい (baik hati):

    Kalimat positif

    Anata wa yasashii desu.
    あなたは優やさしいです。
    Kamu baik hati.

    Kalimat negatif

    Anata wa yasashikunai desu.
    あなたは優やさしくないです。
    Kamu tidak baik hati.

    Kalimat lampau positif

    Anata wa yasashikatta desu.
    あなたは優やさしかったです。
    Kamu tadinya baik hati. (sekarang udah nggak)

    Kalimat lampau negatif

    Anata wa yasashikunakatta desu.
    あなたは優やさしくなかったです。
    Kamu sebelumnya tidak baik hati. (sekarang udah baik hati)

    Keliatan kan polanya? Huruf い di akhir 優やさしい itu yang terus berubah:

    • Negatif: い → くない
    • Lampau: い → かった
    • Lampau negatif: い → くなかった

    Konsisten, bukan acak-acakan.


    Rangkuman: Tabel Lengkap Perubahan Predikat

    Biar gampang diingat, ini tabel lengkap semua pola yang udah kita bahas:

    Sekarang / Masa Depan:

    Jenis Predikat Positif (+) Negatif (-) Interogatif (?)
    KB / KSな です じゃ/ではありません + か
    KSい です い → くないです + か
    Kata Kerja 〜ます 〜ません + か

    Lampau:

    Jenis Predikat Lampau Positif (+) Lampau Negatif (-)
    KB / KSな でした じゃ/ではありませんでした
    KSい い → かったです い → くなかったです
    Kata Kerja 〜ました 〜ませんでした

    Kesimpulan

    Kalau kalian udah paham pola di artikel ini, ada satu insight besar yang bisa kalian bawa:

    Mengubah bentuk kalimat bahasa Jepang itu bukan soal menghafal puluhan rumus berbeda. Cukup pahami tiga hal: jenis predikatnya apa, waktunya kapan, dan maknanya positif atau negatif.

    Dari tiga hal itu, kalian bisa rakit hampir semua kalimat dasar dalam bahasa Jepang.

    Dan ini baru fondasi. Makin dalam kalian belajar, makin kalian sadar bahwa bahasa Jepang itu bukan tentang hafalan — tapi tentang memahami logika di balik polanya.

    Buat yang lagi belajar bahasa Jepang dan mau belajar fondasi-fondasi kayak gini secara terstruktur, kalian bisa cek program N4 15 hari J-Class di j-class.id/akselerasi-n4. Kalian ga perlu buang-buang waktu banyak untuk belajar — karena metodenya udah dirancang biar efektif. Penasaran? Bisa langsung cek di halaman itu, atau tanya-tanya ke tim kami di +62 817-800-354 ya.

    Kalau ada bagian yang masih bikin bingung, tulis di kolom komentar — kita diskusi bareng!

  • Belajar Bahasa Jepang

    Bagian JLPT yang Paling Bikin Gagal

    Ayo bulan Juli udah makin deket loh, siapa di sini yang masih berleha-leha belajarnya? Udah kebagian kuota kan?. Ya kali ini aku mau bahas tentang JLPT. Oke, jujur deh. Buat kalian yang sekarang lagi persiapan JLPT, bagian mana yang paling kalian takutin? Aku yakin sebagian besar dari kalian bakal jawab: "KANJI dong, kak! Banyak banget, susah lagi!" Nah, justru di situ banyak yang salah kaprah. Kenapa? Ayo kita bahas!

    Kalian yang masih pemula ketika liat kanji, pasti langsung ngerasa kanji itu seram. Tapi tau ga? Ternyata bukan itu yang jadi penyebab paling banyak orang gagal ketika test JLPT. Ada "penghalang tak terlihat" yang sering banget luput dari radar persiapan kalian, udah kaya penyakit jantung yang tiba-tiba menyerang. So, di artikel ini aku mau bongkar satu per satu supaya kalian bisa mengantisipasinya ya. Tapi sebelum itu, siapa tau ada yang belum tau struktur ujian dalam JLPT, jadi aku coba rangkum dulu struktur ujiannya biar kita sefrekuensi ya.

    Struktur Ujian JLPT yang Wajib Kamu Pahami Sebelum Mulai Belajar

    JLPT N5~N4 terdiri dari tiga bagian besar:

    1. Moji Goi (文字・語彙) — Kanji dan kosakata
    2. Bunpou + Dokkai (文法・読解) — Pola kalimat dan membaca
    3. Choukai (聴解) — Mendengarkan

    Sedangkan N2 dan N1 jadi 2 bagian

    1. Gengo Chisiki (言語知識) — Pengetahuan bahasa (meliputi kosakata, kanji, pola kalimat dan membaca)
    2. Choukai (聴解) — Mendengarkan (Listening)

    Sistem penilaiannya bukan sekadar ngejar minimal total nilai secara keseluruhan, tapi ada juga passing score per sesinya. Artinya, kalian bisa punya total nilai tinggi, tapi kalau salah satu seksinya di bawah batas minimum, tetap TIDAK LULUS. Ini yang sering banget jadi jebakan, karena masih ada yang ngira ga perlu mahir di semua sesi, dan hanya fokus untuk mahir di satu sesiinya aja udah cukup tanpa mengetahui ada sessional score yang harus di kejar di setiap sesinya. Udah paham sampe sini? Berarti kalian harus punya skill yang merata ya untuk bisa lulus.

    Kanji si "Bintang Iklan" yang Ternyata Bukan Musuh Utama

    Kita ambil contoh deh kalau mau ikut JLPT N4, kalian perlu hafal bentuk kanji N4 sekitar 200 kanji, ditambah yang N5nya sekitar 80 kanji jadi totalnya sekitar 280an ya. Kedengarannya banyak, tapi sebenarnya ini adalah kanji-kanji yang cukup sering muncul di kehidupan sehari-hari. Karena sering muncul, kalian yang rajin baca atau dengerin materi Jepang secara konsisten bakal familiar dengan banyak dari kanji ini. Konsistenkan nambahin kanji baru tiap hari, terus dengan banyak baca-baca tulisan Jepang kalian bisa hafal kok sama kanji.

    Aku ga bilang kanji bisa dikesampingkan dan bisa diabaikan ya! Tapi maksudku, kanji itu visible enemy. Kalian tau musuhnya, bisa dihitung, bisa didrill satu per satu. Tapi dalam ujian seperti JLPT, yang berbahaya justru sesuatu tidak kelihatan seperti musuh. Aku coba jabarin apa aja penghalang tak terlihat yang perlu kalian hadapi.

    3 Penghalang Tersembunyi yang Sering Bikin Peserta JLPT Gagal

    Choukai (Listening) — Sesi yang Paling Diremehkan

    Ini dia yang paling sering bikin orang kaget di hari H ujian.

    Banyak peserta yang belajar berbulan-bulan tapi porsi latihannya 90% baca dan hafal, 10% dengerin. Begitu masuk ruang ujian, soal listening muncul, dan... panik. Di level N5 dan N4 mungkin masih terasa gampang banget soalnya pace atau kecepatan ngomongnya masih terbilang pelan. Tapi karena cuman diputar sekali, dan ga ada teks yang bisa dibaca ulang, banyak yang ngeblank saat sesi ini.

    Soal listening itu bukan sekadar "dengar lalu pilih jawaban". Ada soal yang menguji kemampuan kalian untuk memahami konteks percakapan, bukan cuma kata per kata. Misalnya dua orang lagi ngomongin jadwal, dan kalian harus nyimpulin mereka setuju ketemu jam berapa. Kalau kalian jarang latihan listening, kosakata yang udah dihafalin pun jadi percuma karena otak belum terlatih memproses bahasa yang masuk lewat telinga bukan lewat mata. 

    Untuk yang telinganya udah terbiasa dengan bahasa Jepang seperti dari anime, drama, lagu-lagu Jepang atau mungkin dari game, bisa jadi listening akan terasa relatif mudah. Tapi aku tau ga semua dari kalian melakukan itu, jadinya ada yang ngerasa listening itu bukan sesi yang mudah. Kalau mau latihan listening yang penglafalan dan pace bicara yang dekat dengan native coba banyak-banyak nonton drama dan variety show Jepang. Tapi untuk melatih listening sebaiknya ga pilih-pilih, silahkan latihan dari mana yang kalian suka dan sesuai dengan level kalian dulu.

    Grammar JLPT Bukan Soal Hafalan, tapi Pemahaman Konteks

    Banyak yang belajar pola kalimat dengan cara menghafal rumus, contoh waktu belajar pola kalimat "Bentuk TE + から = setelah melakukan A, lakukan B." Hafal? Iya. Tapi pas ketemu soal, tetap bingung?

    Ini karena soal grammar di JLPT itu bukan ujian hafalan rumus, tapi ujian pemahaman konteks. Soalnya sering dalam bentuk kalimat panjang yang disisipin grammar point di tengah-tengah, dan jawabannya kelihatannya mirip semua. Buat yang cuman hafal rumus A = B, pasti bakal kebingungan waktu ngerjain soal pola yang mirip. Contoh, kalian pasti tau bedanya Bentuk TE + もいいです dan Bentuk A + なければならない, tapi kalau udah masuk ke kalimat kompleks dengan konteks percakapan tertentu, pilihannya bisa bikin ragu.

    Ya sebenernya kalau ngomongin pola kalimat yang lebih sering jadi jebakan untuk para pemula itu bisa jadi "partikel" ya? Partikel secara jumlah ga sedikit sih tapi sebenernya simpel kalau paham logikanya. Kenyataannya banyak yang menghafalkan partikel tanpa mengerti logika penggunaannya. Contoh paling seringnya di partikel-partikel keterangan tempat. Kapan kita pakai partikel へ, に, で, sama を. Kalau paham logika perbedaannya sebenernya partikel akan terasa gampang. Inget kuncinya bukan hafal tapi paham. Mau sampai kapan kalian di level kognitif menghafal? Bahasa itu bukan hanya di hafal tapi dipahami, yang akhirnya diaplikasikan di keseharian kalian.

    Manajemen Waktu saat Ujian JLPT

    Kita mengelola waktu ga hanya di tempat kerja loh. Ketika ikut ujian seperti JLPT akan terasa sangat berbeda ketika kalian bisa mengelola waktu kalian selama proses ujian. Ini yang paling jarang banget dibahas orang, padahal dampaknya sangat terasa di hari ujian.

    Kenapa? Karena JLPT itu ada batas waktunya. Tiap level dan tiap sesi punya durasi waktu yang berbeda. Kejadian di lapangan sering kali peserta sebenernya tau jawabannya, tapi kehabisan waktu karena terlalu lama di soal tertentu. Ujung-ujungnya soal-soal di akhir diisi asal-asalan. Gara-gara kehabisan waktu jadi ya udah diisi apa aja lah dari pada kosong. Padahal udah belajar bagian itu loh, jadi pasti bisa jawab benernya. Kalau gitu kan skor kalian jadi ga bisa maksimal ya. Harusnya kalian bisa lulus tapi malah gagal karena soal-soal yang bisa kalian isi dengan bener malah diisi asal-asalan.

    Makanya ketika ngerjain soal JLPT, pastikan kalian mengerjakannya secara efektif. Ketika kalian udah baca soal, dan pilihan gandanya kalian GA KENAL sama kanjinya atau sama pola kalimatnya, mau dipikirin sampe kepala kalian botak juga ga akan dapet jawabannya. Jadi ya udah langsung skip aja dan move on ke soal berikutnya. Pastikan semua soal yang kalian bisa bener udah keisi dulu, sisa yang ga yakin atau yang ga tau isinya bisa dipikirin nanti belakangan. Inget ya SKIP SOAL YANG BIKIN BINGUNG dan pikirin soal itu belakangan aja.

    Lalu Gimana Strategi Belajar Kanji yang Benar untuk JLPT?

    Oke balik lagi ke kanji. Aku bilang bukan halangan, tapi bukan berarti diabaikan ya! Secara jumlah memang banyak, dan ini harus dipelajari. Kalau fondasi kanji kalian kuat, bagian lain jadi lebih mudah. Karena di soal kanji, kosakata, bunpo, sampai dokkai (membaca) kalian bakal ketemu banyak teks yang butuh pemahaman kanji. Tapi kita tau kanji apa aja yang perlu dipelajari kan? Coba baca buku kanji N5 atau N4, pasti ada list kanji apa aja yang perlu dipelajari. Bahkan ada kanji card yang membantu kalian belajar kanji lewat ilustrasi. 

    Jadi kanji itu musuh yang terlihat bentuknya dan ga sulit untuk mengalahkannya selama kita tau cara belajarnya. Yang kesulitan mengerjakan soal kanji, itu mereka yang memang belum belajar aja. Belum kenal bentuk kanji dan makna kanjinya. Yang masih kesulitan belajar kanji coba tonton video dibawah ini ya, siapa tau membantu kalian.


    Kesimpulan

    JLPT bukan cuma ujian hapalan. Ini ujian yang menguji apakah kalian bisa menggunakan bahasa Jepang, bukan cuma mengingat-ingatnya. Makanya persiapan yang seimbang antara kosakata, grammar, listening, yang merata itu penting. Selain itu mulailah sadar untuk mengelola waktu ketika ujian nanti agar bisa mendapat skor yang maksimal.

    Kalau kalian pengen persiapan yang lebih terstruktur dan ingin belajar bahasa Jepang otodidak yang efektif ga buang-buang waktu, coba lirik program Akselerasi N4 = 15 Hari di J-Class. Info lengkapnya bisa cek di https://j-class.id/akselerasi-n4/. Gimana bahasan kali ini? Kalau ada pertanyaan atau mau sharing pengalaman ujian JLPT kalian silahkan tulis aja di kolom komentar ya. Kita diskusi bareng!

  • Belajar Bahasa Jepang

    Angka dalam Bahasa Jepang: Lebih Mudah dari yang Kamu Kira

     
    "Ichi, ni, san..." — siapa di sini yang lagi menghafalkan angka dalam bahasa Jepang? Atau mungkin sudah mulai belajar tapi masih belum hafal-hafal juga?

    Kabar baiknya, belajar bilangan bahasa Jepang untuk pemula itu jauh lebih mudah dari yang kamu bayangkan. Bahkan lebih mudah dibanding angka dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kenapa bisa begitu? Ikuti pembahasan ini sampai selesai, dan kamu akan paham sendiri jawabannya.

    Kenapa Angka Bahasa Jepang Lebih Mudah dari Bahasa Indonesia dan Inggris?

    Sebelum masuk ke cara baca angka dalam bahasa Jepang, coba kita lihat dulu perbandingannya.

    Dalam bahasa Indonesia, ada banyak sekali kosakata angka yang perlu dipelajari. Dari angka 1 sampai 10, lalu ada belasan, ratusan, ribuan, puluhan ribu, jutaan, miliar, biliun, triliun, dan seterusnya. Bahkan ada istilah seperti 1K untuk 1.000 dan 1M untuk 1 miliar — padahal dalam bahasa Inggris, 1M justru berarti 1 juta. Hal seperti ini sering bikin salah paham, bukan?

    Bahasa Inggris pun tidak jauh berbeda. Kosakata angkanya banyak, bahkan untuk angka belasan saja punya bentuk yang berbeda-beda — eleven, twelve, thirteen, dan seterusnya. Orang yang baru belajar bahasa Inggris pasti butuh waktu dan usaha lebih untuk benar-benar menguasai penyebutan angkanya.

    Nah, berbeda dengan keduanya, dalam bahasa Jepang kamu hanya perlu menghafal 16 kosakata untuk bisa menyebutkan angka sampai triliunan sekalipun. Ini bisa terjadi karena sistem angka bahasa Jepang sangat mengandalkan pola dan logika, bukan menghafal banyak kata baru. Kalau sudah paham polanya, semua angka akan terasa jauh lebih mudah.

    Percaya? Mari kita buktikan satu per satu.

    Angka Dasar Bahasa Jepang 0–10

    Langkah pertama dalam belajar angka bahasa Jepang adalah menghafal angka dasar dari 0 sampai 10. Ini adalah fondasi dari segalanya.

    Udah pada hafal belum angka-angka di atas? Iya angka dasar mah hafalin aja dulu ya, gampang kok ga banyak kan. Aku buat tabelnya ada 2 kolom. Kolom ke-2 yang tengah itu bacaan normalnya, jadi kalau kamu sebutin angkanya aja seperti angka 1 itu "いち", 4 itu "よん", 9 itu "きゅう". Tapi di kolom ke-3 itu cara baca khusus yang biasanya dipake saat nyebutin jam, bulan dan tanggal. Bagian cara baca khususnya kita bahas lain kali ya. Sekarang pertama-tama fokus dulu aja pelajari yang di kolom tengah. Cara latihan terbaik: ambil angka secara acak, lalu coba sebutkan dalam bahasa Jepang. Ulangi sampai hafal tanpa harus berpikir lama.

    Cara Membaca Angka Belasan (11–19) dalam Bahasa Jepang

    Kalau udah hafal bisa kita lanjut ke angka belasan. Logika penyebutan angka belasan itu sebutin 10 kemudian angka satuan di setelah angka 10nya. Kalau angka 11 berarti 10 (じゅう) dan 1 (いち) makanya kalau digabung jadi "じゅういち". Angka 12 berarti 10 (じゅう) dan 2 (に) digabung jadi じゅうに, dan seterusnya. Aku udah coba rangkum kaya berikut ya:

    Cara Membaca Angka Puluhan Hingga Ribuan (20–9.999)

    Sampai belasan gini udah pada bisa caranya? Kita belum nambah kosakata baru loh. Masih pake 0~10, belum nambah lagi. Kita lanjut ya? Next kita tambahkan logika penyebutan angka 20~9,999 yang caranya sama seperti pengejaan dalam bahasa Indonesia. Ejaan yang aku maksud ejaan yang formal ya, bukan yang dipake sama orang Indonesia sehari-hari. Anggap lah sekarang kan 95 itu pada nyebutnya sembilan lima kan bukan sembilan puluh lima? Biar lebih jelas coba liat detailnya di contoh berikut ya:

    - 20 = dua (に) puluh (じゅう) = にじゅう
    - 34 = tiga (さん) puluh (じゅう) empat (よん) = さんじゅうよん
    - 68 = enam (ろく) puluh (じゅう) delapan (はち) = ろくじゅうはち
    - 89 = delapan (はち) puluh (じゅう) sembilan (きゅう) = はちじゅうきゅう

    Kebayang ga sekarang cara bacanya? Sampe 99 sih kita belum perlu nambahin kosakata baru ya. Tapi kalau udah nyebutin lebih besar dari 99 kita perlu nambahin kosakata yang ke 12, yaitu 100 atau disebut ひゃく (hyaku). Logika cara bacanya masih sama dengan yang tadi, tapi perlu dicatat bahwa 100 ini memang ada cara baca yang spesial, di mana seratus / ratus itu ga selalu dibaca ひゃく (hyaku), tapi ketika angkanya 300 dia akan dibaca さんびゃく (sanbyaku), 600 dibaca ろっぴゃく (roppyaku), dan 800 itu はっぴゃく (happyaku). Sisanya 100, 200, 400, dll itu tetap dibaca ひゃく. Kita coba liat contoh-contoh berikut yuk.

    - 200 = dua (に) ratus (ひゃく) = にひゃく

    - 375 = tiga (さん) ratus (びゃく) tujuh (なな) puluh (じゅう)
       lima (ご) = さんびゃくななじゅうご

    - 704 = tujuh (なな) ratus (ひゃく) empat (よん) = ななひゃくよん

    - 861 = delapan (はっ) ratus (ぴゃく) enam (ろく) puluh (じゅう)
       satu (いち) = はっぴゃくろくじゅういち

    Mulai agak panjang ya? Ayo kita panjangin lagi, kalau seratus tadi ada ひゃく (hyaku), kita lanjut ke seribu ada せん (sen). Sekali lagi, logika cara bacanya masih sama ya, kali ini cuman nambah kosakata ke 13 aja yaitu せん (sen). Sama dengan ratusan, ribuan juga punya angka yang cara bacanya spesial yaitu 3,000 dibaca さんぜん (sanzen), dan 8,000 yang dibaca はっせん (hassen). Coba check contoh-contoh berikut: 

    - 1,200 = せんにひゃく
      seribu (せん) dua (に) ratus (ひゃく) 

    - 3,850 = さんぜんはっぴゃくごじゅう
      tiga (さん) ribu (ぜん) delapan (はっ) ratus (ぴゃく) lima (ご)
       puluh (じゅう) 

    - 8,491 = はっせんよんひゃくきゅうじゅういち
      delapan (はっ) ribu (せん) empat (よん) ratus (ひゃく) sembilan (きゅう)
       puluh (じゅう) satu (いち) 

    - 9,999 = きゅうせんきゅうひゃくきゅうじゅうきゅう
      sembilan (きゅう) ribu (せん) sembilan (きゅう) ratus (ひゃく)
       sembilan (きゅう) puluh (じゅう) sembilan (きゅう)

    Angka Puluhan Ribu ke Atas: Sistem まん・おく・ちょう

    Sampe sini udah ada yang ngebul? Masih gampang kan ya? Cara nyebutinnya aja sama banget dengan pengejaan dalam bahasa Indonesia. Jadi kalau udah hafal kosakata dan logikanya, bakal otomatis jago nyebutin angka sampe ribuannya. Sisanya tinggal dilancarin dengan latihan sebutin angka-angka aja biar lebih lancar lagi. Kita ga selesai di sini, ayo lanjut ke yang berikutnya yaitu penyebutan puluhan ribu ke atas.

    Tapi sebelum itu aku mau kasih 3 kosakata baru beserta cara aku menggunakannya.

    - Ketika liat tanda | (satu garis) kita baca まん (man)
    - Ketika liat tanda || (dua garis) kita baca おく (oku)
    - Ketika liat tanda ||| (tiga garis) kita baca ちょう (chou)

    Kenapa aku kasihnya seperti ini? Kalau dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris kita terbantu dengan koma di setiap 3 digit dari belakang kan. Komanya ada 1 berarti "ribu", komanya ada 2 berarti "juta", komanya ada 3 berarti "miliar". Nah angka dalam bahasa Jepang itu beda. Point ini bisa jadi satu-satunya yang menurut aku ngeselin banget dari bahasa Jepang. Cara baca yang angkanya lebih dari 4 digit, kita perlu ngitung tiap 4 digit dari paling belakang angkanya. Padahal penulisan komanya tiap 3 digit sama seperti bahasa Indonesia dan Inggris. Belum kebayang? Coba liat contoh-contoh gampang berikut:

    Ketika mau baca "12,500" kita itung dulu 4 digit dari belakang jadi "1 | 2,500" kalau udah ditandai satu garis (まん)nya ada di mana, kita bisa lebih mudah bacanya. Sebelum satu garis ada angka 1 maka baca dulu いち, kemudian baca tanda | dibaca まん, dan terakhir baca 2,500 seperti cara pengejaan biasa. Hasilnya akan jadi いちまんにせんごひゃく. Coba liat contoh-contoh lain seperti:

    - 25,000 → 2 | 5,000
      2 | dibaca にまん  
      5,000 dibaca ごせん
      Jadi keseluruhan akan dibaca にまんごせん
    - 430,020 → 43 | 0,020
      43 | dibaca よんじゅうさんまん
      0,020 dibaca にじゅう
      Jadi keseluruhan akan dibaca よんじゅうさんまんにじゅう

    Kalau setelah nandain | (satu garis) di sebelumnya masih ada sisa lebih dari 4 digit, maka tambahin || (dua garis) yang dibaca おく ya. Contoh:

    - 850,200,750 → 8 || 50,20 | 0,750 
      8 || dibaca はちおく
      50,20 | dibaca ごせんにじゅうまん
      0,750 dibaca ななひゃくごじゅう
      Jadi keseluruhan dibaca はちおくごせんにじゅうまんななひゃくごじゅう
    Kalau udah liat contoh-contoh tadi kita simpulkan dah 
    - まん (man) itu 10,000 (puluh ribu)
    - おく (oku) itu 100,000,000 (ratus juta)
    - ちょう (chou) itu 1,000,000,000,000 (triliun)

    Panjang? Ya bayangin aja coba angka tadi disebutin dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pasti ga beda jauh kok. Belum lagi ini baru sampe おく (oku) ya, belum sampe ちょう (chou). Tapi yang ちょう (chou) pun caranya sama dengan yang tadi, aku ga akan kasih contoh disini, tapi di akhir nanti aku kasih kamu PR buat dicoba ya. 

    Sampai Mana Kita Perlu Menguasai Angka Besar dalam Bahasa Jepang?

    Ngeliat bacaannya yang panjang muncul pertanyaan ga sih, "apakah sehari-hari di Jepang nanti kita bakal sering nyebutin angka panjang gitu?", "Terus kita harus bisa lancar baca angka panjang-panjang gitu kak?" Jawabannya engga harus lancar, tapi sebaiknya bisa nyebutinnya meskipun harus mikir dulu. 

    Kalau tujuannya minimal bisa survive tinggal di Jepang kamu bisa lancar nyebutin angka sampe ratusan ribu aja udah pasti bisa survive kok. Minimal bisa sebutin gaji sebulannya berapa, sewa apartemen berapa, mau beli iPhone baru kita ngerti angka yang disebutin penjualnya, dan harga-harga tadi biasanya sih ga akan sampai jutaan yen ya. Orang Jepang sendiri pun rata-rata ga lancar kok kalau udah sebutin puluhan juta mah, mereka pasti loading dulu waktu liat angkanya. Kecuali kamu nanti ke Jepang bakal jadi businessman, buka bisnis sendiri di Jepang dan uang yang kamu pegang memang bakal ampe jutaan atau puluhan juta yen. Kalau sampe segitunya sih aku saranin untuk bisa lancar sebutin sampe おく (oku) bahkan ちょう (chou) mungkin ya. 

    Sampe sini ada yang mau ditanyakan dulu? Kalau masih ada yang ga ngerti dan ingin ditanyain coba tulis di kolom komentar ya. Ngomong-ngomong aku suka share ilmu bahasa Jepang kaya gini, materinya manfaatin buat belajar ya. Kalau mau dibantu lebih serius kita ada program belajar bahasa Jepang OTODIDAK. Tenang kamu bisa lulus N4 hanya dengan 15 hari aja kok. Sebagai penutup aku mau tantang kamu dengan kasih PR baru ya, coba tulis di komentar penyebutan bahasa Jepang dari angka 2,040,055,700. Kira-kira ada yang bisa ga ya?

  • Belajar Bahasa Jepang

    Belajar Bahasa Jepang Sambil Main Game?! KENAPA ENGGA

    Halo guys, ketemu lagi sama aku di J-Class! Kalian yang suka main game pasti pernah kepikiran "Enak ya kalau waktu gaming ini bisa sekalian dipake buat belajar bahasa Jepang?.", atau ada juga nanya "Kak ada rekomendasi game gitu ga ya biar bisa seneng-seneng main game tapi sambil belajar bahasa Jepang juga?" Kebetulan ketika zoom session beberapa minggu lalu aku dapet pertanyaan di atas, jadi aku mau coba bahas bareng di sini biar kalian semua juga dapet bahasannya ya. 

    Beda sama aplikasi belajar yang memang dibuat khusus buat belajar ya, tapi kali ini kita bahas game sungguhan baik itu dari konsol, PC, sampai mobile yang aku pernah aku mainin, dan kayanya bisa nih ini game dipake buat belajar bahasa Jepang. Jadi game-game yang aku sebutin nanti emang dibuat buat hiburan, bukan buat belajar. Tapi justru di situlah kuncinya: kamu paparin diri ke bahasa Jepang yang natural, yang beneran dipakai orang Jepang di kehidupan sehari-hari. 

    INGET YA! Main game dalam bahasa Jepang itu efektif kalau kalian udah punya fondasi yang cukup kuat dulu, minimal udah lancar hiragana, katakana, dan punya kosakata dasar sekitar N5. Coba bayangin kalian main pake bahasa Jepang tapi belum punya basic bahasa Jepangnya. Aku yakin game bakal terasa frustrasi alih-alih menyenangkan kan? Udah kaya jaman dulu kita main tenchu di PS1 tapi pake bahasa Jepang. Frustasi kan? Ga tau apa-apa? Meskipun ujung-ujungnya tetap dilanjut mainnya.

    So, bahasan kali ini mungkin untuk kalian yang udah punya N5 ke atas nih, yang masih belum bisa hiragana katakana dan belum punya basic bahasa Jepang, coba pelajari dulu ya. Yang mau dibantuin belajarnya bisa aku bantuin. Tontonin aja playlist belajar bahasa Jepang di chanel youtube aku, atau kalau mau dibantu lebih serius bisa tulis di komentar aja ya.

    Oke, langsung gas ke pembahasan game yang bisa dipake belajar bahasa Jepang yuk!

    Untuk Pemula (N5 - N4)

    Game-gamenya punya teks yang sederhana, dengan dialog yang cenderung pendek, dan lebih banyak kosakata dasar atau sehari-hari.

    Animal Crossing: New Horizons

    Nintendo Switch | N5 - N4 | Simulasi/Life Sim

    Animal Crossing adalah salah satu game paling direkomendasikan buat pemula bahasa Jepang. Dialognya pendek-pendek, kosakatanya sederhana, dan topiknya seputar kehidupan sehari-hari seperti belanja, cuaca, dan aktivitas rumah. Selain itu, gamenya santai dan ga ada tekanan waktu, sehingga kamu bisa baca dialog pelan-pelan tanpa panik. Cocok banget buat belajar, karena dialog repetitif bikin kamu terbiasa sama pola kalimat yang sama berulang kali, jadi ya bisa dipake untuk bikin kosakata nyangkut di otak.

    Pokémon (Scarlet / Violet / seri lainnya)

    Nintendo Switch | N5 - N4 | RPG

    Pokemon itu salah satu game dengan bahasa Jepang paling ramah pemula. Nama-nama Pokemon asli Jepangnya sering diambil dari kata Jepang asli, jadi sambil main kalian sekalian belajar kosakata baru. Tapi jangan heran ya kalau nama versi internationalnya banyak yang beda banget. Dialog di gamenya ini ga terlalu panjang, dan karena alur ceritanya repetitif (pergi ke gym, kalahkan musuh, lanjut), strukturnya mudah diprediksi. Game ini cocok buat belajar, karena selain kosakata, nama-nama serangan Pokemon banyak yang pakai kanji umum, jadi lumayan buat latihan baca.

    Stardew Valley (versi Jepang)

    PC/Switch/PS/Mobile | N4 - N3 | Simulasi Pertanian

    Mungkin kalian udah kenal Stardew Valley. Nah, coba deh ganti bahasanya ke Jepang! Teksnya cukup ramah untuk level N4 ke atas, karena banyak dialog kasual antar karakter, deskripsi item, dan surat-surat yang bisa jadi bahan baca yang asyik. Bonusnya, gamenya sendiri udah seru banget jadi kamu bakal betah main lama-lama. Cocok dipake belajar karena ragam teks yang variatif, baik dari dialog santai sampai surat formal. So bisa bikin kamu mengeksplor berbagai gaya bahasa.

    Sebelum lanjut ada tips buat kalian yang belajar pake game-game di atas. Jangan langsung panik kalau nemu kanji yang ga kalian kenal. Fokus dulu ke hiragana dan katakana-nya, coba tebak artinya dari konteks, baru deh cek kamusnya. Proses nebak dari konteks ini justru yang bikin otak kalian aktif belajar! Oke? Kalau gitu kita lanjut ke level menengah.

    Level Menengah Ke Atas (N3–N2)

    Kita bisa lanjut ke level berikutnya, dengan game yang punya narasi yang lebih kompleks, dialog lebih panjang, dan kanji yang lebih banyak. So mulai dari sini bisa jadi ga cocok untuk pemula.

    Persona Series

    PC/PS4/PS5/Switch | N3 - N2 | JRPG

    Persona adalah salah satu game JRPG yang sangat terkenal, dan secara conteks bahasa pun lebih ke arah "sekolah bahasa Jepang" versi gaming. Dialognya panjang, natural, dan penuh dengan ekspresi sehari-hari anak muda Jepang. Dari cara ngomong kasual, slang, sampai bahasa formal semua ada di sini. Persona 5 Royal khususnya punya voice acting yang lengkap, jadi kamu bisa latihan listening sekaligus. Cocok untuk kalian yang mulai masuk belajar bahasa penuh ekspresi yang natural banget, soalnya kalian bakal banyak nemu ungkapan yang ga ada di buku teks dari game ini.

    Yakuza / Like a Dragon Series

    PC/PS4/PS5 | N3 - N2 | Action RPG

    Kalau mau belajar bahasa Jepang yang bener-bener dipakai orang Jepang dewasa, Yakuza/Like a Dragon adalah jawabannya. Dialognya panjang dan natural, settingnya di kota-kota Jepang yang riil, dan karakter-karakternya ngomong dengan gaya yang sangat otentik. Banyak banget slang dan ekspresi informal yang kalian ga bakal nemuin di buku pelajaran ataupun di kelas kursus. Bahasa yang dipakai sangat natural dan kontekstual jadi sangat bagus untuk belajar, dari dialog serius sampai percakapan kocak di mini-game karaoke pun ada di game ini.

    Ace Attorney Series (Gyaku Saiban)

    PC/Switch/Mobile | N3 - N1 | Visual Novel/Puzzle

    Ace Attorney atau 逆転裁判 (Gyakuten Saiban) adalah game visual novel berbasis persidangan yang isinya hampir 100% teks. Ini artinya porsi reading-nya luar biasa tinggi. Teksnya sendiri variatif banget, mulai dari bahasa sehari-hari, bahasa hukum, sampai humor verbal. Levelnya memang bukan untuk pemula, tapi bagi kalian yang N3 ke atas, game ini adalah tambang emas buat belajar. Game ini isinya hampir murni teks, dan variatif banget, jadi buat yang mau ningkatin kemampuan baca/readingnya, ini salah satu yang aku rekomendasikan.

    Berbagai Macam Visual Novel Jepang (Steins;Gate, Clannad, dll)

    PC/PS/Switch | N2 - N1 | Visual Novel

    Sebenernya ga hanya Serinya Ace Attorney aja, sebagian besar visual novel bisa jadi surga buat yang mau belajar bahasa Jepang lewat cerita. Ya visual novel mungkin ada yang ngerasa bukan game tapi lebih ke novel dengan visual yang lebih detail sih bisa jadi, meskipun gitu tetap secara kategori Visuan Novel itu tergolong kedalam game karena ada unsur pilihan yang mengubah ending ceritanya. Sebagai contoh lain, kalian bisa coba Steins;Gate terkenal dengan dialog yang cerdas dan banyak referensi budaya Jepang. Clannad punya bahasa yang lebih emosional dan sastrawi. Kalau kalian udah di level N2 ke atas dan mau beneran uji kemampuan membaca, visual novel original (bukan terjemahan) adalah tantangan yang worth untuk dicoba. Sayangnya kita sebagai user visual novel perlu berhati-hati, karena budaya di Jepang memang beda dengan di Indonesia. Sehingga jangan heran kalau nemu visual novel yang kontennya tidak sesuai dan tidak bisa diterima dengan budaya di Indonesia. Kita perlu pintar-pintar memilih visual novel apa yang aman untuk di mainkan ya.

    Mungkin ini belum semuanya ya, tapi itu yang bisa aku rekomendasikan, kalau mau aku sebutin selain yang tadi, aku mau nambahin game gacha karena jaman sekarang game gacha lagi naik-naiknya, aku coba bahas singkat aja. Bahwa game-game gacha baik yang dari china, atau asli Jepang itu bisa dipake buat selingan belajar bahasa Jepang juga. Seperti Genshin Impact, Fate/Grand Order, Wuthering Waves, Granblue Fantasy, dll lah ada banyak banget game gacha yang udah go international dan bisa dimainin. Ya meskipun banyak juga game asli Jepang yang kena region lock, jadi kalian perlu akun google/apple Jepang untuk bisa main. Tapi banyak game-game gacha itu punya versi bahasa Jepang baik voice actingnya dan juga text in gamenya. Kalian bisa manfaatin juga game-game tersebut dengan mengubahnya ke bahasa Jepang. 

    EITSS!! TAPI INGET YA!! Yang namanya game gacha itu biasanya gachanya selalu bikin ga sadar diri, jadi tolong jangan sampe top up berlebihan!!! Sekedar mengingatkan, untuk lebih bijak dalam penggunaan uang kalian, karena ga worth sama sekali kalian top up berlebihan hanya untuk game yang ga akan jadi value apa-apa di kehidupan kalian.

    Sekian referensi game yang bisa aku bahas, soalnya kalau aku bahas semua banget, bisa jadi ga ada habisnya. Jangan lupa pindahin setiap kosakata baru yang kalian denger dari game ke kamus personal kalian. Biar nanti bisa kalian baca-baca ulang kosakatanya, dan kerekam juga jejak belajar kalian. Jangan ragu juga pake kamus baik yang buku atau aplikasi ketika main, inget kamus itu teman baik kita yang lagi belajar bahasa asing loh. Intinya tetep konsisten nambahin kosakata baru, dan juga terus konsisten gunakan bahasa Jepang yang udah dipelajarinya. Bayangin main game aja kalian pake bahasa Jepangnya, lancar bahasa Jepangnya pasti akan lebih cepet dong daripada yang cuman belajar dari buku, bisa sambil seneng-seneng lagi. Kalau kalian udah pernah coba main game dalam bahasa Jepang, cerita dong pengalamannya di kolom komentar! Game apa yang kalian coba, dan seberapa susah? Kita diskusi bareng yuk.

  • Belajar Bahasa Jepang

    Hafal Hurufnya Aja GA CUKUP?! Ini Beberapa ATURAN Cara Baca Khusus Dalam Hiragana & Katakana

    Waktu mulai belajar bahasa Jepang pastinya kalian mulai dari belajar huruf dasarnya kan ya? Iya huruf hiragana dan katakana. 2 huruf ini tuh basic banget dan merupakan dinding pertama yang harus dilewati oleh pelajar bahasa Jepang. Tapi terkadang masih ada aja yang ternyata masih ga tau beberapa aturan cara baca khususnya. Ini beberapa aturan dasar dan khusus hiragana dan katakana yang harus kalian ketahui. Yuk ikutin sampe akhir biar ga salah lagi.

    Sebelum bahas aturan yang aku maksud, pastikan hafal cara baca yang dasarnya dulu ya. Seperti あ itu dibaca "a", い itu dibaca "i", か itu dibaca "ka", dsb. Ini paling dasar jadi perlu dihafalkan satu persatu baik hiragana dan katakana. Jadi step pertamanya pelajari dulu huruf dasar Hiragana dan Katakananya ya. Sebagian besar huruf hiragana dan katakana itu berupa suku kata atau mora seperti KA, KI, KU, KE, KO, dll. Di antara 48 huruf, cuman ada 1 huruf mati yaitu "~n" (ん / ン). Kalau kesulitan ngafalin bentuknya, kalian bisa pakai KANA Card untuk mempermudah belajar hiragana dan katakana, biar bisa ngafalinnya berdasarkan ilustrasi dan bisa auto hafal <1 jam. Atau coba tonton video belajar hiragana dan video belajar katakana yang udah pernah aku share sebelumnya ya. 

    Perubahan Konsonan atau Dakuon (濁(だく)音(おん)) dan Handakuon (半(はん)濁(だく)音(おん))

    Nah kalau udah hafal bentuk dan cara bacanya, baru kita bisa mulai masuk pembahasan utama kita. Huruf KANA itu masing-masing ada 48, tapi ternyata ada juga cara baca yang berubah ketika di tambahkan sesuatu di hurufnya. Di ujung kanan atas hurufnya kita bisa tambahkan tenten (") atau disebut dakuon (濁(だく)音(おん)) dan ada juga penambahan maru (○) atau disebut handakuon (半(はん)濁(だく)音(おん)). Kalau aku coba rangkumkan akan jadi seperti berikut:


    Kalau udah hafal yang di atas, kalian udah bisa nulis huruf, seperti かぎ (kagi), ちず (chizu), ちぢむ (chijimu), ゆうべ (yuube), dll. 

    Kombinasi 2 Huruf Ya Yu Yo, atau Youon (拗(よう)音(おん))

    Kombinasi 2 huruf yang aku maksud itu kombinasi 2 huruf (hiragana/katakana) berakhiran vokal "i" dengan huruf ya, yu, yo kecil (ゃ, ゅ, ょ) untuk menciptakan bunyi baru atau satu suku kata majemuk. Semua huruf berakhiran vokal "i" bisa ya, aku coba buatkan listnya seperti berikut:


    Jadi きゃ itu bukan dibaca "kiya" ya, tapi "kya", じゃ itu bukan dibaca "jiya" tapi dibaca "ja". Ini aturan yang udah dari sananya, jadi udah ga bisa dihindari mau ga mau kita harus hafal dan terbiasa menggunakannya. Sama aja kaya di bahasa Indonesia kan ya? Coba huruf N ketemu sama G pasti jadi NG kan? Terus N ketemu Y pasti jadi NY kan? Nah dalam bahasa Jepang pun ada aturan-aturan seperti ini yang udah lah kita catet terus kita ikutin aja. 

     Bonus buat kalian, ini mungkin bukan bagian dari youon sih. Tapi ada juga huruf-huruf atau gabungan huruf yang hanya ada di katakana yang mirip sama youon ini. Hanya ada di katakana? Iya karena katakana kan dipake buat serapan bahasa asing ya, makanya ada kalanya perlu huruf-huruf ini, aku coba buatkan listnya kaya berikut:


    Penggunaan Double Konsonan atau Sokuon (促(そく)音(おん))

    Kalau kalian kira つ dan っ itu 2 huruf yang sama, kalian salah! つ itu punya huruf yang ukurannya lebih kecil, coba bandingkan secara ukuran つ dan っ. Nah っ atau tsu kecil ini disebut sokuon (促(そく)音(おん)) yang ga punya cara baca, tapi dia akan ngikut cara baca konsonan di huruf setelahnya. Contoh pada kosakata きっと (kitto), di sini っ akan dibaca "t" karena di setelah huruf っnya ada と (to). Pada kosakata さっき (sakki), っ dibaca "k" karena di setelahnya ada huruf き (ki). Coba juga liat contoh-contoh lainnya: がっこう (gakkou), ざっし (zasshi), けっきょく (kekkyoku), しっぱい (shippai), dll. Silahkan dicoba-coba baca, nanti teribasa kok bedain "tsu" besar dan yang kecil.

    Bacaan N, NG, M di huruf ん / ン atau disebut Hatsuon (撥(はつ)音(おん))

    Satu satunya huruf mati dalam hiragana dan katakana itu huruf ~n (ん / ン), tapi ternyata huruf ini ga hanya dibaca "N". Ada kondisi-kondisi yang membuat dia dibaca berbeda. Ada kalanya dibaca "~m", ada juga dibaca "~ng". Aku coba rangkum seperti berikut:

    - Dibaca M ketika setelah huruf ん ada huruf yang bikin bibir mingkem seperti P, B, M
    Contoh: さんびゃく = sambyaku, せんぱい = sempai, さんま = samma

    - Dibaca NG ketika setelah ん ada huruf G, dan K, atau んnya berdiri di ahkir kosakata
    Contoh: ぎんこう = gingkou, ばんごう = banggou, ほん = hong

    Ayo disini siapa yang masih baca せんぱい itu sempai?? Bener loh terkadang yang udah di Jepang pun masih belum begitu terbiasa sama cara baca ”N". Aku aja terkadang ga sengaja baca ほん itu "hon" bukan "hong" gitu. So, yang masih belajar coba dibiasain dari sekarang-sekarang biar nanti ga terlanjur biasa pake cara yang salah ya. 

    Bacaan Panjang atau Chouon (長(ちょう)音(おん))

    Untuk yang ini terkadang aku masih suka denger WNI yang bacaan panjangnya salah. Malah aku pernah denger dari WNI dengan sertifikat N3 ke atas waktu aku lagi di Jepang. Bayangin udah N3 ke atas dia baca bacaan panjang aja masih salah, malu ga sih? Orang Jepang sih pada ngebiarin ya, tapi buat aku sih lebih baik ada yang ngasih tau biar aku terus belajar ya. 

    So jaga-jaga masih ada yang belum tau, bacaan panjang dalam bahasa Jepang itu bukan hanya 2 vokal sama yang berurutan ya. Jadi vokal "a" ketemu "a" lagi, contohnya "kaa" di kosakata おかあさん (okaasan) dibaca panjang bukan jadi "ka'a" dibacanya. Kalau katakana pake "ー" untuk vokal ganda, seperti ケーキ (keeki), "kee" di sini dibaca panjang ya. Jadi kalau vokalnya ganda bakal dibaca panjang itu aku yakin semuanya udah pada tau. Tapi ternyata yang udah N3 ke atas pun masih ada yang ga tau 2 aturan lain, seperti:

    1. Vokal "O" ketemu "U", maka "O"nya akan dibaca panjang
    Contoh: がっこう = gakkoo, そうですね = soodesune, こうとうがっこう = kootoogakkoo

    2. Vokal "E" ketemu "I", maka "E"nya akan dibaca panjang 
    Contoh: せんせい =sensee, こうこうせい = kookoosee, ていねい = teenee

    Kalau diromajikan memang せんせい itu ditulisnya "sensei", こうこう itu tetap "koukou", tapi bacaannya berbeda sama tulisannya ya. Biar bahasa Jepang kalian lebih terdengar natural, coba sesuaikan dengan aturan ini ya. Siapa sih yang ga mau dikatain "日(に)本(ほん)語(ご)上(じょう)手(ず)ですね~"?  

    Huruf Hiragana Sebagai Partikel Kalimat

    Kita lanjut ke ATURAN berikutnya yuk! Next ada 3 huruf yang terkadang dibaca berbeda dari seharusnya, yaitu huruf は (ha), を (wo), dan へ (he). Ini bisa dibilang special case, tapi gampang kok! Kita cukup bisa membedakan kapan dia jadi partikel dan kapan dia berdiri sebagai bagian dari kosakata. 

    1. Huruf は (ha) akan dibaca "wa" ketika dia berdiri sebagai partikel SUBJEK 

    2. Huruf を (wo) akan dibaca "o" ketika dia berdiri sebagai partikel OBJEK

    3. Huruf へ (he) akan dibaca "e" ketika dia berdiri sebagai partikel KETERANGAN TEMPAT

    Contoh:
    私わたしは 学がっ校こうへ 本ほんを 持もって 行いきます

    - Karena subjeknya 私(わたし) (watashi) maka は yang di setelah kosakata ini adalah partikel SUBJEK, maka akan dibaca "wa" bukan "ha". 

    - Kemudian 学(がっ)校(こう) merupaka keterangan tempatnya, maka へ di setelahnya adalah partikel keterangan tempat, maka akan dibaca "e" bukan "he". 

    - Terakhir 本(ほん) adalah OBJEK dari predikat anak kalimat 持(も)って, makanya を yang di setelahnya adalah partikel OBJEK yang dibaca "o" bukan "wo". 

    Jadi kunci utama dari 3 huruf yang dibaca beda ini tuh bisa membedakan dia berdiri sebagai partikel atau bagian dari kosakata. Tenang, seiring kalian belajar, semakin gampang kok membedakannya. Karena bank kosakata kalian makin luas, jadi makin bisa bedain mana yang jadi partikel dan mana yang bagian dari kosakata. Jadi gaperlu ngerasa khawatir untuk point ini.

    Gimana pembahasan kali ini? Bahasannya memang basic banget ya, tapi terkadang masih ada aja yang ga tau sama aturan-aturan ini. Makanya aku share biar kalian bisa membiasakannya dari awal-awal ya. Untuk yang udah belajar jauh kalian udah tau dan mempraktekan semuanya belum? Ga ada kata telat kok kalau belum juga. Double check lagi aja dan mulai membiasakan dari sekarang juga aman kok. Nah next kalau ada request bahas apa lagi, coba tulis di kolom komentar ya. 

  • Belajar Bahasa Jepang

    Apakah AI Akan Menggantikan Mentor Bahasa Jepang?

    Aku belajar bahasa Jepang di zaman di mana aku datang ke kelas, terus mengikuti pelajaran di kelas, diajarin sama mentor bahasa Jepang. Pada masa itu aku masih ngerasa bahwa belajar bahasa Jepang diajarin mentor di kelas itu hal yang udah seharusnya. Ya, gimana ya waktu itu memang belum ada pilihan. Waktu itu mau belajar bahasa Jepang yang kepikiran memang belajar di lembaga belajar atau kuliah jurusan bahasa Jepang. Bahkan pilihan untuk belajar OTODIDAK aja ga kepikiran, ya terutama waktu liat bentuk tulisan bahasa Jepangnya ya. Tapi sekarang gimana? Dengan berkembangnya budaya dan teknologi sekarang, apakah belajar bahasa Jepang di lembaga pendidikan/pelatihan masih jadi hal yang wajib atau setidaknya masih relevan ga ya? Yuk kita bahas bareng-bareng.

    Aku yakin sekarang pun masih banyak yang merasa belajar bahasa Jepang itu wajib lewat lembaga pendidikan. Buktinya lembaga pendidikan bahasa Jepang masih ada banyak di Indonesia. Pesertanya pun ga dikit ya, bahkan ada yang rame banget tiap aku lewat gedung lembaganya. Dari situ aja kita bisa asumsikan masih banyak yang merasa belajar bahasa Jepang itu harus lewat lembaga pendidikan. Di satu sisi aku seneng lembaga-lembaga ini udah membantu banyak orang yang ingin ke Jepang. Tapi di sisi lain aku kepikiran, "apa bener nih di zaman sekarang masih harus lewat lembaga untuk belajar bahasa Jepang?". Iya aku mau fokusin belajar bahasa Jepangnya ya. Jadi lembaga sebagai perantara antara peserta dan perusahaan Jepang saat jobmatch , ataupun yang membantu proses kerja/sekolah di Jepang sih lain cerita ya, jadi kita kesampingkan bagian itu.

    Coba pikir pikir lagi deh, dengan perkembangan teknologi saat ini. Apakah teknologi udah mempermudah belajar bahasa Jepang secara OTODIDAK? Contohnya dengan kemajuan teknologi AI sekarang, mencari informasi mengenai pola kalimat, kosakata, dll itu udah sangat mudah loh. Sebagai contoh bisa pakai Gemini atau Chat GPT atau kalau mau fokus di AI bahasa Jepang bisa pake Mazii ya. Kalau kita pusing tentang perbedaan partikel に (ni) dan で (de) sebagai keterangan tempat, ya tinggal ngetik prompt langsung keluar jawaban beserta contoh-contohnya. Bahkan bingung sama hal tentang Jepang pun kita bisa tanya-tanya AI. Kalau mau belajar bertahap cukup beli buku pelajaran bahasa Jepang kaya minna no nihongo, terus ikutin aja materinya bab per babnya sambil dibantu sama AI. 

    Jam belajar bisa kita atur sendiri, kalau longgarnya malem pulang kerja ya atur-atur aja sendiri. Mau belajar jam 2 pagi sambil dasteran juga bisa. Belajar OTODIDAK bareng AI itu juara lah urusan fleksibilitas, jadi kamu yang belajar kamu yang atur timing sampe pace belajarnya. Soalnya ga ada yang atur silabus belajar kamu, ga ada yang nyuruh kamu dateng jam 8 pagi ke ruang kelas. Belum lagi AI sekarang makin berkembang lagi, untuk latihan kaiwa atau percakapan kalian udah bisa pake AI. Aku udah coba beberapa kaya AI di Mazii, Cotomo, Bunpo, atau mungkin kalian punya AI kaiwa sendiri. Tapi yang jelas AI udah bisa bantu kita sampe latihan percakapan. Ngomong-ngomong belajar di lembaga aja belum tentu dapet kesempatan kaiwa yang cukup. Untuk latihan kanji bisa cari aplikasi kanji di Google Store atau AppStore juga udah banyak banget.

    Baca apa yang tadi aku jabarin mungkin udah ngerasa kaya "Oh jadi sekarang aku belajarnya ga perlu masuk lembaga kali ya?". Jawabannya tergantung kalian. Aku coba bantu kalian biar tau jawabannya dengan satu pertanyaan ini: YAKIN BISA BELAJAR SENDIRI?

    Kalau jawaban kalian AKU YAKIN BISA, maka coba lakukan belajar OTODIDAK tanpa dibantu mentor, kelas online atau masuk lembaga manapun (kedepannya 3 pihak ini aku sebut "mentor"). Kenyataannya ada orang yang berhasil belajar otodidak sampe N2 bahkan N1 kok. Tapi aku yakin banyak yang bakal jawab ENGGA BISA, atau ada juga yang jawab yakin bisa tapi waktu dijalanin ternyata engga. Tau kenapa? Ternyata mentor ternyata punya peran yang lebih besar dari yang kalian bayangkan. 

    Inget guys "AI itu bagaikan GPS yang akan memberi tau jalan tercepat, tapi ga bisa gantiin kamu nyetir mobilnya". 

    AI bisa ngasih informasi yang kamu butuhkan, tapi membangun kebiasaan dan mindset itu tergantung kamunya. Banyak banget orang yang belajar OTODIDAK bakal gagal. Bukan karena ga ngerti materinya, tapi karena gagal membangun kebiasaan dan mindset sebagai Long life learner (pembelajar sepanjang hayat). Mereka ga dibangun mindsetnya untuk terus meningkatkan skillnya supaya bisa terus relevan sama perkembangan zaman. Sehingga timing dan pace belajar kamu jadi asal-asalan, ga ada hukuman sosial karena ga ngerjain tugas, makanya jadi susah konsisten belajarnya. Pokonya kalian yang selow-selow aja belajarnya ujung-ujungnya pasti gagal bukan karena ga ngerti tapi karena gagal konsisten, terus berhenti belajar karena gagal membangun mindset pembelajarnya.

    Selain itu, Kamu bisa jadi ga dapet cerita tentang kisah nyata dari mentornya. AI bisa kasih cerita ke kalian, tapi kita pasti akan meragukan kebenarannya ya? Karena bukan cerita langsung dari seseorang yang menceritakan detail sampai perasaan mereka. Dari point-point tadi aku bisa simpulkan: "Sebenernya mentor itu ikut membangun kebiasaan, mindset dan menceritakan pengalaman juga, di saat AI hanya memberikan pengetahuan, sehingga AI udah bisa jadi tools yang membantu proses belajarnya". Meskipun kenyataannya, sebagian dari mentor masih di tahap hanya memberikan pengetahuan sebagaimana AI. Aku pernah denger dari peserta program di J-class, ada lembaga yang mengajarkan "yang penting hafalin ini", dan mengatakan "ga perlu paham bagaimana pola atau logika dari pola kalimatnya". Iya! disuruh ga perlu paham loh, pantes kan orang Indonesia masih banyak yang level kognitifnya di level menghafal. Soalnya mandatori dari pendidikannya masih disuruh hafal tanpa memahami, apalagi kalau disuruh menganalisis. 

    Makanya program di kita belajar N4 selama 15 hari itu bukan hanya ngasih pengetahuan, tapi kita lebih membangun mindset dan cara belajarnya gimana. Yang nambahin kosakata, dan kanji itu kalian sendiri, kita bantu memahami logika-logika dalam bahasa Jepang bukan hanya tau arti pola kalimatnya. Supaya nanti kalau udah beres programnya pun kalian tau cara OTODIDAK untuk naikin skillnya ke level N3 atau seterusnya. Udah ah pesan sponsornya segitu aja.

    So, sampe sini udah dapet point yang ingin aku sampaikan guys? Jawaban dari judul artikel ini mungkin beda-beda tiap orang. "Apakah AI akan menggantikan mentor bahasa Jepang?" coba tulis di kolom komentar pendapat kalian ya guys.  

  • Belajar Bahasa Jepang

    Udah Di Jepang Tapi Bingung Menyampaikan Sesuatu Ke Native? Coba Cara Ini Ya!

    Bagaimana semuanya? apakah pernah kesulitan atau bingung ketika mau menceritakan sesuatu? menjelaskan sesuatu? atau mau curhat tapi bingung ngomongnya gimana pake bahasa Jepang? Bahkan lagi di pekerjaan mau jelasin sesuatu tentang kerjaan, terkadang ga jadi ngomong gara-gara bingung mau jelasinnya gimana? Mulai dari mana, terus jelasinnya gimana? Waktu udah ngejelasin, eh lawan bicara kita malah kaya ga ngerti atau kebingungan. Ya orang yang jago ngobrol sih pasti ga ketemu masalah seperti ini ya. Tapi di antara kalian mungkin ada yang kesulitan untuk mulai pembicaraan karena bingung mau mulai dari mana, atau gimana cara dan teknik dalam menyampaikan sesuatu. Jadi kali ini aku mau coba bahas gimana cara menyampaikan yang enak di dengar sama orang Jepang.

    Ngomong-ngomong pembahasan kali ini sebenernya ga hanya berlaku di bahasa Jepang loh. Ini sebenernya hal dasar yang tiap orang harusnya mengerti dan tanpa sadar udah ngelakuin ini. Tapi di pembahasan kali ini aku coba kaitkan temanya sama bahasa Jepang dan budaya orang Jepang. Disklaimer ini menurut pengalamanku dan beberapa temenku selama di Jepang, yang mungkin di casenya kalian bisa jadi berbeda. Semoga sharing aku kali ini bisa jadi gambaran atau sekedar referensi yang bisa sedikit membantu kalian ya.

    Pertama-tama perlu kita harus sepakat ya bahwa ga semua orang punya daya tangkap yang sama. Apalagi kalau kita harus mendengarkan orang asing yang kemampuan bahasanya bisa jadi belum sejago native. Belum lagi, budaya berbahasa di tiap negara pun bisa jadi beda-beda ya. Makanya kita perlu mencoba untuk berada di posisi lawan bicara kita, ketika mendengarkan penjelasan kita. Kita ambil contoh yuk, ceritanya kalian mau nyeritain kejadian kemarin, dan kalian jelasinnya seperti berikut:

    Kinou hen na hito ni attanda
    昨日(きのう)変(へん)な人(ひと)に会(あ)ったんだ
    Kemarin aku ketemu orang aneh

    Jitensha de gakkou e itta toki nandakedo
    自(じ)転(てん)車(しゃ)で学(がっ)校(こう)へ行(い)ったときなんだけど
    Waktu pergi ke sekolah naik sepeda sih

    Sono hito douro no mannaka de odottanndayo
    その人(ひと)道(どう)路(ろ)の真(ま)ん中(なか)で踊(おど)っていたんだよ
    Orang itu berdansa di tengah jalan loh
     
    Tooteru kuruma wa toorenakute yabai koto ni nattanda
    通(とお)ってる車(くるま)は通(とお)れなくてやばいことになったんだ
    Mobil pada ga bisa lewat, jadi kacau banget lah

    Sore o mite, omowazu waracchattanda yo
    それを見(み)て、思(おも)わず笑(わら)っちゃったんだよ
    Ngeliat itu reflek langsung ketawa lah

    Hara ga itakunaru kurai ni waratta
    腹(はら)が痛(いた)くなるぐらいに笑(わら)った
    Aku ketawa sampe sakit perut

    Hontou ni hen na hito datta yo
    本(ほん)当(とう)に変(へん)な人(ひと)だったよ
    Bener-bener orang yang aneh

    Sou iu hito mo irunda ne
    そういう人(ひと)もいるんだね
    Ada ya orang modelan gitu

    Kimi mo sou iu hito to ka atta koto aru no?
    君(きみ)もそういう人(ひと)とか会(あ)ったことあるの?
    Kamu juga pernah ketemu orang modelan gitu?

    Dari contoh yang aku sebutin tadi apa kalian udah bisa tebak point-point penting dari memulai percakapan? Contoh tadi aku buat pake bahasa kasual banget ya. Tapi nanti kalian sesuaikan dengan kondisi kalian ya. Contoh kalau lagi ngobrol sama yang derajatnya lebih tinggi, sesuaikan dengan bahasa yang sopan. Nah aku mau jelasin ke kalian tentang contoh yang aku buat tadi, tapi sebelum itu kita perlu sepakat dulu, bahwa ada Golden Rule ketika berbicara dengan orang lain, yaitu:

    1. Pembicara kurang lebih pasti ingin didengarkan, ingin dimengerti, ingin dianggap menarik, bagi orang asing di Jepang mungin ada juga yang ingin dirasa jago gitu bhs Jepangnya

    2. Pendengar biasanya ingin mengerti, ini udah pasti ya. Kayanya ga ada orang yang mendengar karena dia ga ingin mengerti.

    Nah kita dalam sehari-hari sering banget lupa sama hal penting ini. Padahal kalau kita pikir-pikir ini tuh hal yang wajar banget ga sih. Makanya ketika berbicara dengan orang lain, kita perlu membuat pendengar bisa tau ini lagi ngomongin apa, dan kita perlu bisa membuat pendengar bisa membayangkan apa yang lagi kita bicarakan. Bagi orang-orang yang udah jago ngobrol ini mungkin terasa hal yang sangat simple dan mudah. Tapi balik lagi, aku yakin bagi sebagian orang ini hal yang sulit karena belum terbiasa atau belum tau caranya aja.

    Nah kali ini aku bahas step atau pola pembicaraan atau cara penyampaian yang aku denger dari orang Jepang. Setidaknya bagi mereka cara penyampaian seperti ini mudah dimengerti. Hal penting dalam menyampaikan sesuatu saya garis besarkan ada 3 step seperti berikut:

    1. Share ide, tema, atau topik utama yang ingin disampaikan terlebih dahulu
    2. Susun point-point yang "perlu" disampaikan
    3. Sampaikan yang "ingin" disampaikan

    Dari point2 tadi kita coba breakdown yaitu pertama-tama kita sharing ide, tema atau topik utama yang ingin disampaikan, jadi biar kedua belah pihak paham kita lagi ngomongin apa. Kalau dari contoh cerita yang tadi, aku sharing tentang 昨日(きのう)変(へん)な人(ひと)に会(あ)ったんだ, yang intinya mau share pengalaman kemarin, ketemu orang aneh kan ya. Jadi pembicara maupun pendengar udah ngerti dan sepakat kita abis ini mau ngobrolin pengalaman kemarin dari si pembicara ya.

    Kemudian lanjut ke point 2 susun poin-point yang perlu disampaikan mengenai ide, tema, atau topik pembicaraannya. Ini biasanya isinya informasi tambahan yang membantu si pendengar bisa membayangkan kejadiannya. Pisah-pisah aja jadi beberapa point. Kalau dicontoh tadi aku pisah jadi 3 point.

    Jitensha de gakkou e itta toki nandakedo
     自(じ)転(てん)車(しゃ)で学(がっ)校(こう)へ行(い)ったときなんだけど
     Waktu pergi ke sekolah naik sepeda sih

    Sono hito douro no mannaka de odottanndayo
    その人(ひと)道(どう)路(ろ)の真(ま)ん中(なか)で踊(おど)っていたんだよ
    Orang itu berdansa di tengah jalan loh

    Tooteru kuruma wa toorenakute yabai koto ni nattanda
    通(とお)ってる車(くるま)は通(とお)れなくてやばいことになったんだ
    Mobil pada ga bisa lewat, jadi kacau banget lah

    Ga harus 3 point, tapi menurut aku sih 3 point itu ga kebanyakan dan ga kedikitan. Untuk sebagian besar kasus harusnya udah cukup untuk ngasih gambaran kejadian ke pendengar. Nah sampe sini baru persiapan. Karena kalau kita berhenti di sini, kesannya cuman ngasih tau aja kan. Terus kalau dikasih tau informasi aja, apa lagi informasi yang udah mereka tau juga ya ga asik ya. Pembicaraannya udah beres di situ nantinya.

    Makanya kita perlu lanjut ke point 3 sampaikan yang ingin disampaikan. Ini bagian yang paling penting. Karena orang kalau dikasih tau apa yang dia udah tau ya ga asik kan ya. Makanya point 3 ini isinya lebih ke apa yang ingin disampaikan, dirasakan, apa yang kalian pikirkan, reaksi kalian setelah kejadian, pokonya apa yang ingin disampaikan tentang kejadian baru diceritakan tadi. Nunjukkin originalitas tentang pembicara. Di contoh tadi aku buat beberapa point seperti berikut:

    Sore o mite, omowazu waracchattanda yo
    それを見(み)て、思(おも)わず笑(わら)っちゃったんだよ
    Ngeliat itu reflek langsung ketawa lah

    Hara ga itakunaru kurai ni waratta
    腹(はら)が痛(いた)くなるぐらいに笑(わら)った
    Aku ketawa sampe sakit perut

    Hontou ni hen na hito datta yo
    本(ほん)当(とう)に変(へん)な人(ひと)だったよ
    Bener-bener orang yang aneh

    Sou iu hito mo irunda ne
    そういう人(ひと)もいるんだね
    Ada ya orang modelan gitu

    Kimi mo sou iu hito to ka atta koto aru no?
    君(きみ)もそういう人(ひと)とか会(あ)ったことあるの?
    Kamu juga pernah ketemu orang modelan gitu?

    Dengan gitu pembicara bisa tau reaksi kita, apa yang kita pikirkan, keheranan kita, dll dari point ke-3 ini. Jadi pendengar bisa tau "oh yang ingin disampaikan itu kita bener-bener ketawa liatnya", "se-aneh itu orangnya sampe bikin kita ketawa", atau semacamnya. Jadi tunjukkin apa yang ingin disampaikan.

    Optional, kalau ingin pembicaraannya diperluas, kita tambahin juga pertanyaan di bagian akhir point ke-3 ini, seperti yang di contoh di atas ya. Ini bisa membantu si pendengar memahami arah pembicaraannya. Ini mau nanyain pendapat aku kah? ingin mencari validasi kah? ingin tau tentang lawan bicara kah? dll.

    Ya setau aku sih yang belum ngelakuin ini juga masih banyak sih. Banyak juga yang sadar ga sadar, mungkin udah ngelakuin ini selama di Indonesia. Tapi ketika udah di Jepang malah lupa sama hal dasar ini. Apakah mungkin karena gugup di lingkungan yang berbeda? atau mungkin memang belum terbiasa menggunakan bahasa Jepang? jadi gagal menyampaikannya dengan baik. Ujung-ujungnya malah ngomongnya kesana kesini dan bikin yang dengernya bingung "ini mau ngomongin apa sih?". Sekali lagi, urutan pembahasan yang aku mention itu seperti berikut:

    1. Share ide, tema atau topik yang ingin disampaikan terlebih dahulu
    2. Susun point-point yang "perlu" disampaikan
    3. Sampaikan yang "ingin" disampaikan

    Tapi sayangnya di keseharian itu banyak yang menyampaikannya tidak sesuai urutan ini. Jadi sebutin apa yang ingin disampaikan dulu, terus ide/tema yang ingin disampaikannya malah disebutin terakhir. Kalau gitu, pendengar ujung-ujungnya ngedengerin pembicaraan panjang tanpa mengetahui ini lagi ngomongin apa. Iya sih orang Jepang akan dengerin sampe akhir, tapi suasana pembicaraannya mungkin agak canggung jadinya. Atau terkesan sepeti mendengarkan tapi ga paham ini ngomongin apa. Dan percayalah ini kondisi yang ga asik bagi pendengar, dan ga nyaman bagi pembicara.

    Yah segitu aja pembahasan kali ini, bahasan kali ini sangat dasar, bahkan lebih dasar dari belajar pola kalimat, yaitu bagaimana menyampaikan sesuatu. Balik lagi ini ga hanya berlaku untuk bahasa Jepang aja loh. Tapi kita ngobrol sehari-hari coba pake cara seperti ini, niscaya bakal lebih mudah tersampaikan ke pendengarnya. Next kalau ada yang ingin di bahas, silahkan tulis di kolom komentar ya. Aku coba curi-curi waktu buat bikinnya nanti.

  • Belajar Bahasa Jepang

    JANGAN Belajar Bahasa Jepang Kalo Cuman Biar Bisa KERJA Di Jepang Atau Dapetin SERTIFIKAT-nya !!

    Kenapa ?! Kamu Tersinggung dg Judulnya ?! Bagus deh. Siapa tau kalian dapet pointnya ketika baca ini. Bahasan kali ini merupakan pesan untuk kalian-kalian yang belajar bahasa Jepang untuk berangkat ke Jepang. Baca sampe akhir ya!

    Iya! Sekarang banyak banget orang yang ngebet ingin berangkat ke Jepang. Nah kalo kamu belajar bahasa Jepangnya cuman biar bisa kerja di Jepang atau dapetin sertifikat aja, ngapain sih harus buang duit, waktu, tenaga yang banyak untuk belajar bhs Jepang. Belum lagi bonus stress gara-gara dimarahin dan dipush sama gurunya dengan alasan "membentuk mental".

    Heran deh, kenapa sih untuk belajar bahasa Jepang aja harus pake dibentak, dipaksa nggak tidur karena harus ngerjain PR yang berlipat ganda, padahal cuman kesalahan kecil karena ada yang belum hafal dikit, dll. Tapi di kelas aku tuh kaya yang udah ngelakuin kesalahan yang ga bisa dimaafin gitu. Emangnya aku udah ngelakuin tindak kriminal atau apa?

    Iya sih, kerja di Jepang itu memang keras banget dan gak cocok untuk "anak mami" yang cengeng. So, sepertinya memang perlu didikan yang keras, tahan banting, biar ga cengeng nanti di Jepangnya. Paling tidak, itu menurut beberapa instruktur di lembaga sana.

    Nah, masalahnya, kamu sendiri belajar bahasa Jepangnya itu buat apa ?

    Kalo kamu belajar bahasa Jepang cuman buat kerja di Jepang. Udah banyak banget orang yang sekarang BERHENTI belajarnya loh! Iya, senpai atau senior kalian yang sekarang udah berhasil dapetin kerjaan dan sekarang tinggal di Jepang. Mereka saat ini, atau setidaknya beberapa diantara mereka, udah pada berhenti belajar.

    Yeay!!! Akhirnya GOAL untuk kerja di Jepang tercapai!!! Akhirnya bisa tidur nyenyak karena gak harus ngerjain PR sampe larut malam lagi. Akhirnya gak ada yg marah dan bentak-bentak lagi. Begitu kan menurut mereka ya?

    Sementara itu, mereka yang belajar bahasa Jepang dengan GOAL untuk dapetin sertifikat JLPT N4 / JFT A2, dll supaya bisa apply visa kerja Tokutei Ginou (TG) / Specified Skilled Worker (SSW) di Jepang. Sekarang, mereka juga udah berhenti belajar karena sertifikatnya udah berhasil didapat. Dan, kini saatnya mereka untuk menyibukkan diri mencari perantara yang bisa kenalin ke perusahaan, TSK ataupun lembaga yang memiliki job order, dsb.

    Kayaknya sih mereka lupa ya. Punya N4/JFT plus SSW itu hanya syarat untuk apply visa TG aja. Belum tentu ada perusahaan yang mau nerima dia kalo attitude-nya nggak bagus. Dan salah satu attitude terbaik yang dicari oleh semua perusahaan di dunia adalah attitude-nya pembelajar, alias orang yang punya mindset Lifelong Learning.

    Loh, emangnya Kenapa ?

    Karena ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan termasuk ilmu bahasa itu akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Suatu saat, kalo kamu udah mulai gak nyambung dengan becandaan anak-anak ABG di komplek tempatmu tinggal, kamu akan tau rasanya gimana menjadi dinosaurus. haha

    Ketika kamu berhenti belajar, itu artinya hidupmu sudah selesai. Dan kalo misal hidupmu udah selesai, untuk apa juga masih hidup. (Oppps, nyesek bgt kan)

    Ini sebetulnya sama aja dengan case-nya orang yang kuliah supaya bisa dapet kerjaan, atau supaya dapetin gelarnya. Mereka yang niatin kuliahnya supaya dapet kerjaan, beberapa diantara mereka itu akan berhenti kuliah alias DO, ketika mereka berhasil dapetin kerjaan sebelum lulus. Apalagi kalo lulusnya masih 2-3 tahun lagi.

    Buat kamu yang baru aja lulus, baru aja wisuda dan dapetin gelarnya. "Welcome to the Jungle bro!" Gelar dan sertifikatmu belum tentu berguna di pekerjaan kamu. Satu-satunya hal yang bisa bikin kamu bersaing di dunia kerja, dunia profesional, termasuk dunia bisnis adalah kehausan kamu terhadap ilmu-ilmu baru.

    Siap-siap dibelakangmu itu udah ada banyak anak fresh graduate yang usianya jauh lebih muda, tenaganya lebih kuat, berpikirnya lebih kritis, dan karyanya jauh lebih kreatif dari kamu.

    Please ya, teruslah belajar sekalipun GOAL jangka pendekmu untuk dapetin pekerjaan dan dapetin sertifikat itu, udah tercapai.

    So, Apa GOAL kamu selanjutnya ?

    Buat kalian yang ingin berkarir menggunakan bahasa Jepang seperti penerjemah atau intepreter, kejarlah N2, bahkan N1! Mulailah belajar coding, design, finance, dll, mulailah belajar memanfaatkan AI (Artificial Interligence), gali terus perkembangan teknologi supaya kamu tidak menjadi dinosaurus selanjutnya. Jadi udah tau apa yang perlu dilakukan kan? Terakhir di penutupan izin ngutip quote closing pak Prof. Rhenald Kasali ya.

    Stay Relevan

  • Belajar Bahasa Jepang

    5 Kebiasaan Kecil Orang Jepang yang Bikin Kamu Cepat ke Jepang

    Pernah nggak sih kamu mikir, kok bisa ya orang Jepang itu hidupnya tertata banget, panjang umur, dan kerjanya efisien? Mulai bandingin sama kehidupan diri sendiri yang mungkin ga sesuai dengan harapan kalian. Masih kesulitan menata hidup sendiri, masih kesulitan buat efisien juga. Rahasianya bukan karena mereka punya kekuatan super, tapi karena 8 kebiasaan kecil yang disebut Tiny Japanese Habits yang dimiliki oleh orang Jepang. Kali ini aku mau bahas micro habits ini yang bisa kita pakai supaya bisa cepet berangkat ke Jepang. So, baca sampai beres ya.

    Udah bosen mungkin dengerin aku cerita tentang orang-orang yang gagal atau ga berangkat-berangkat ke Jepang. Karena secara jumlah memang banyak guys mereka yang udah masuk lembaga supaya bisa berangkat ke Jepang, tapi ujung-ujungnya ga berangkat-berangkat. Dari yang terjebak sama jebakan lembaganya, sampai yang stuck belajar bahasa Jepangnya, ada macem-macem alasan gagal berangkatnya. Apakah kalian salah satunya? Semoga engga ya. Nah, buat kamu yang lagi berjuang belajar bahasa Jepang atau lagi nunggu jadwal terbang, Aku sudah pilihin 5 poin paling penting dari "8 Tiny Japanese Habits" yang bisa kamu contoh biar proses belajarmu nggak berasa beban, dan bisa membantu proses belajar bahasa Jepang kalian.

    Kaizen: Jangan Ngebet Mau Langsung Jago!

    Banyak banget dari kalian yang baru mulai belajar, langsung pengen hafal 2000 Kanji dalam semalam. Akhirnya apa? Ga masuk semua? Burnout terus menyerah? Atau ada lagi yang mau nambahin dari pengalaman kalian? Kalian bisa coba pakai prinsip Kaizen, dimana kuncinya adalah 1% lebih baik setiap hari. Daripada maksain belajar 5 jam sehari, tapi cuma seminggu sekali belajarnya. Mending belajar 15 menit tapi tiap hari tanpa absen, dan konsistensi kecil ini kalau dikumpulin bakal jadi ledakan progres yang gila banget! Konsisten nambahin kosakata baru tiap hari, sambil ngulang-ngulang yang udah dipelajari. Sekalipun ga banyak yang ditambahin, tapi coba konsistenkan tiap hari. Kalian mungkin ga sadar step kecil yang kalian lakukan tiap hari ternyata udah sejauh ini. Jadi kunci pertama adalah konsisten berkembang tiap hari ya guys.

    Ikigai: Cari Alasan Kuat Kenapa Kamu Mau ke Jepang

    Orang Jepang punya konsep yang disebut Ikigai. Ya kalau aku jelasiin ini cukup rumit, tapi penjelasan gampangnya sih ikigai itu alasan yang bikin mereka semangat bangun pagi. Coba tanya diri sendiri, kenapa kamu mau kerja ke Jepang? Apa cuma ikut-ikutan? Apa buat bantu ekonomi keluarga? Atau pengen nabung buat modal usaha di Indo? Kalian suka ga sama apa yang akan kalian lakukan nanti? Kalian sekarang lagi belajar bahasa Jepang, setelah bisa bahasa Jepang terus apa? Udah mulai kerja di Jepang, kalian bisa mencintai pekerjaan kalian di sana ga? Banyak banget pertanyaannya ya Hhe.

    Tapi bener guys, Ikigai itu kita mengaitkan 4 point yaitu "apa yang kita cintai?", "apa yang kita bisa/mahir?", "apa yang dibutuhkan dunia/masyarakat?", setelah itu kita tanya "dari point tadi apakah bisa menghasilkan atau bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga?" Jadi kalau kalian bisa mengaitkan itu semua dengan bahasa Jepang dan bekerja di Jepang, harusnya kalian udah punya jalur ikigai kalian. Nah pertanyaannya alasanmu kuat ga? Kalau kuat sih nanti waktu pusing ketemu materi konjugasi kata kerja, kamu nggak bakal gampang nyerah karena kamu tahu tujuan akhirmu apa.

    Hara Hachi Bu: Makan Secukupnya, Belajar Secukupnya

    Berikutnya di Jepang ada istilah Hara Hachi Bu, artinya berhenti makan sebelum kenyang (sekitar 80% saja). Coba kita modifikasi ke dalam gaya belajar bahasa Jepang. Kalian yang biasa "makan" semua materi sampai kenyang banget, cape, dan ngerasa tersiksa. Coba mulai untuk "makan" materinya ga sekaligus, tapi dimanage biar ga menyiksa diri sendiri. Coba berhenti "makan"nya pas kamu lagi ngerasa "enak-enaknya" belajar, supaya besoknya kamu masih punya rasa penasaran buat lanjut lagi. Ini rahasia biar belajar nggak berasa kayak siksaan. Yang ini mirip sama yang point kaizen ya.

    Wabi-sabi: Cintai Proses "Blepotan"-mu

    Ini yang beda banget sama apa yang sering diajarin sama banyak sekolah di Indonesia. Sering nggak sih kamu takut ngomong bahasa Jepang karena takut salah partikel atau takut aksennya nggak mirip native? Udah ngerasa takut, ujung-ujungnya ga berani ngomong atau takut untuk mencoba. Di sinilah filosofi Wabi-sabi berperan untuk mengajarkan kita menghargai ketidaksempurnaan. 

    Kita masih belajar kan? Gak apa-apa diawal ngomongnya masih belepotan, yang penting kamu berani coba. Orang yang udah N2 juga terkadang ada yang ngomongnya masih belepotan. Masa yang masih belajar harus bagus ngomongnya? Turunkan ekspektasimu, dan nikmati proses belajarnya. Ga apa-apa salah, justru coba ambil apa yang bisa kamu pelajari dari kesalahan. Terkadang kesalahan atau kegagalan itu guru yang lebih baik daripada guru manapun. Waktu latihan bikin kalimat terus lupa kosakatanya, kalian boleh nyontek-nyontek kamus kalian kok. Contoh lain, di awal-awal belajar hiragana dan katakana pun kalian sambil nyontek-nyontek kan ya. Tapi proses "lupa → nyontek → ingat lagi" ini kalau diulang lama-lama inget kok. Saat ini belum sempurna, tapi kalau kita terus berusaha berkembang, cepat lambat kita akan mendekati kesempurnaan. Jadi jangan ngerasa minder atau galau kalau saat ini belum bisa ya.

    Gaman: Daya Tahan Mental "Baja"

    Gaman itu artinya sabar, tahan, bertahan, dll. Tapi dalam kasus ini ayo kita artikan sabar dan bertahan. Proses belajar bahasa sampai nanti kalian hidup di Jepang itu pasti ada tantangannya. Pasti ada saatnya kamu ngerasa jenuh, atau stuck saat belajar. Tapi dengan prinsip Gaman, kamu diajarkan buat nggak gampang mengeluh dan tetap fokus pada solusi. Mentalitas tangguh inilah yang dicari perusahaan Jepang dari pekerja Indonesia. Aku udah cerita berkali-kali kan, kerja di Jepang itu berat, dan budaya kerjanya lebih keras. Anggap aja proses belajar bahasa Jepang kalian ini sebagai proses latihan bertahan dari beratnya kerja di Jepang.

    Setelah ngikutin sampai sini apa yang kalian tangkap? Ya nggak perlu berubah jadi "Jepang banget" dalam semalam sih, cukup mulai terapin beberapa kebiasaan yang aku jelasin tadi dikit-dikit ya. Sebenernya prinsip-prinsip tadi itu tentang menjalani hidup, tapi kita sebenernya bisa kaitkan sama cara belajar bahasa Jepang juga. Dengan prinsip tadi kita bisa belajar OTODIDAK lebih teratur. Kalau ragu dengan cara sendiri, bisa coba lirik program Akselerasi N4 dalam 15 Hari untuk dapetin cara belajar bahasa Jepang OTODIDAKnya. Udah ah pesan sponsornya sampe sini aja ya. 

    Kalau udah pada dapet pointnya aku izin tutup di sini. Next kalau ada yang ingin kita bahas berikutnya bisa tulis di kolom komentar ya. Yuk, mulai bentuk kebiasaan barumu dari hari ini. Semangat, Guys!

J-Class, pernah diliput di :