Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

  • Kerja di Jepang

    Jepang Tidak Aman Saat Perang Dunia III? Ini yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Berangkat


    Wajar banget kalau kita merasa cemas melihat situasi geopolitik belakangan ini. Makin kesini makin bikin geleng-geleng kepala ga sih? Kondisi timur tengah yang memanas ngebuat kita mikir-mikir untuk keluar negeri, dan pastinya Jepang pun bukan pengecualian ya. Soalnya pasti udah pernah liat bahwa Jepang itu ga termasuk kedalam negara yang paling aman kalau terjadi perang dunia III. Ngeliat itu berita soal "negara teraman jika perang pecah" memang sering banget seliweran dan biasanya sih mereka menempatkan negara-negara terpencil kaya Selandia Baru atau Islandia di posisi teratas karena lokasi geografisnya. Tapi apakah bener Jepang itu sebenernya ga seaman itu? Yuk kita coba bahas.

    Di zaman perang dunia II Jepang memang nanam bibit dendam ke beberapa negara sekitarnya. Salah satunya yang paling greget sama Jepang itu adalah China. Saat ini pun hubungan antar Jepang dan China lagi memanas karena isu Taiwan. Belum lagi Jepang menjadi bagian dari kubu Amerika, jadi kalau beneran terjadi Perang Dunia III, kemungkinan Jepang bakal ikut kubu Amerika akan terbilang sangat besar. 

    Nah sekarang pertanyaannya adalah "apakah mustahil atau terlalu berbahaya ke Jepang sekarang?", jawaban singkatnya "Sama sekali tidak".

    Kalau kita coba breakdown, sekalipun saat ini keamanan makro (politik dunia) sedang agak memanas. Keamanan mikro (kehidupan sehari-hari) di Jepang masih jadi salah satu yang teraman di dunia. Di tengah memanasnya geopolitk, Jepang masih jadi salah satu negara dengan tingkat kriminalitas terendah di dunia. Hal-hal seperti rasisme di Jepang mungkin ada yang mulai terekspose di media sosial. Tapi ini bukan berasal dari geopolitik, melainkan akibat melonjaknya jumlah turis di Jepang, terutama turis yang ga mau ngikutin budaya dan aturan tak tersirat di Jepang. Jadi anggap aja ini sebagai tamparan untuk warga asing untuk lebih memperhatikan sikap dan perilaku kita di negara orang ya.

    Sekalipun perang dunia III beneran pecah, Jepang punya sistem peringatan dini yaitu J-alert. Jadi kalau udah di Jepang jangan lupa pake HP Jepang atau pake kartu sim di Jepang ya. Biar kalau terjadi situasi darurat bisa dapet peringatan dari J-alert ini. Dibanding masalah geopolitik, masalah yang mungkin masih terus jadi kendala di Jepang malah intensitas bencananya alamnya ya. Menurut data, tiap taun Jepang dilanda 1.500 kali gempa bumi, dan cenderung sering banget dilanda angin topan dan tsunami. Jadi daripada mengkhawatirkan isu geopolitik yang belum tentu terjadi aku sih lebih mengkhawatirkan kena bencana alam waktu di Jepang.

    Di tengah memanasnya geopolitik pun, perusahaan-perusahaan di Jepang masih membuka lapangan kerja untuk warga asing. Jadi kesempatan untuk kerja ke Jepang masih terus dibuka sama mereka. Angka turis pun masih terbilang tinggi banget di Jepang. Kalau untuk kerja di Jepang, daripada mikirin isu politik di Jepang, mending pikrin isu seperti kesehatan mental pekerja di Jepang. Seperti yang udah sering kita bahas, kerja di Jepang tekanan kerjanya tinggi, overworknya masih tinggi, budaya kerja di Jepang yang masih terbilang sangat tidak nyaman. Nah isu ini malah masih jadi isu yang perlu diperhatikan bagi pekerja di Jepang dari pada isu politik sama negara lain.

    Kita buat kesimpulan yuk. Kalau kamu menunggu dunia benar-benar 100% damai tanpa konflik untuk berangkat, percaya lah kalian gak akan pernah berangkat ke Jepang. Menurutku sih selama pemerintah Indonesia maupun Jepang tidak mengeluarkan travel ban atau peringatan tingkat tinggi, Jepang masih jadi salah satu destinasi yang sangat dan paling layak untuk dikunjungi maupun ditinggali. Aku yakin banyak dari mereka tetap milih berangkat karena melihat kesempatan yang lebih besar daripada risiko yang sifatnya masih spekulatif. Jelas untuk berangkat perlu kemampuan bahasa Jepang ya. Yang udah lulus N4 dan SSWnya kenapa ga berangkat? Apalagi kalau kalian udan N3 ke atas ya? Skill kalian tuh aset yang sangat berharg, jadi sayang kalau "didiamkan" hanya karena ketakutan akan skenario yang belum tentu terjadi. Kalau kamu mau mulai perjalanan ke Jepang tapi belum tahu harus mulai dari mana, cek program belajarnya di sini. So segitu aja bahasan kali ini. Kalau ada bahasan menarik yang ingin kita bahas bareng coba tulis di kolom komentar aja, nanti aku coba cari waktu luang buat bahas bareng-bareng ya.

  • Kerja di Jepang

    Begini Nih Upgrade VISA Tokutei Ginou ke Gijinkoku

    Untuk kalian yang sekarang udah di Jepang dengan visa tokutei ginou, atapupun kalian yang rencana kerja pakai tokutei ginou ke Jepang. Kali ini aku mau share informasi menarik buat kalian. Khususnya untuk kalian yang tertarik untuk upgrade visa ke visa gijinkoku kedepannya. So baca sampe beres biar tau apa syarat dan apa yang perlu disiapin ya. 

    Mungkin cukup banyak kalian yang berangkat pakai visa tokutei ginou itu karena syarat untuk berangkatnya yang terbilang beginer friendly. Iya skill bahasa Jepang yang setara N4 atau JFT Basic A2, dan lulus test SSW di bidangnya, kalau dibanding gijinkoku memang terbilang lebih mudah dan ga butuh waktu selama itu. Bayangin kalian perlu ngejar skill bahasa N2 atau N1 untuk bisa berangkat pakai visa gijinkoku ke Jepang kan ya. So aku tambahin pilihan untuk kalian, yaitu berangkat tokutei ginou dulu, kemudian selama 3~5 tahun di Jepang nanti upgrade visa ke gijinkoku.

    Sebenernya tokutei ginou itu secara perlakuan visanya udah cukup bersahabat untuk warga asing. Tapi pekerjaannya masih sangat terbatas, dan masih pekerjaan manual. Sebagiaan keuntungan visa gijinkoku pun belum tersedia di tokutei ginou. Makanya aku sih selalu menyarankan untuk upgrade visa aja ke gijinkoku kalau syaratnya bisa terpenuhi. Aku bilang "kalau bisa terpenuhi" ya. Karena sebagian orang mungkin akan butuh effort lebih untuk memenuhinya. Jadi kita coba bahas apa sih syarat pengajuan visa ke gijinkoku

    Pertama ada syarat dasar untuk pengajuan visa gijinkoku yaitu pengaju setidaknya lulusan D3/S1, atau lulus senmon gakkou di Jepang, atau punya pengalaman kurang lebih 10 tahun. Jadi kalau memenuhi salah satu dari 3 syarat tadi harusnya kalian udah bisa mengajukan visanya ya. Ngomong-ngomong ke-tiganya perlu sesuai dengan bidang yang akan diajukan nantinya, dan bahkan yang pengalaman 10 tahun pun biasanya diminta sertifikat pengalaman kerja juga. 

    Syarat kedua udah pasti dapat pekerjaan di kategori gijinkoku. Kategori gijinkoku sebagian besar terbagi menjadi 3, dan aku coba kasih contoh pekerjaannya ya. 

    1. 技術 (gijutsu) atau engineer yang mengcangkup engineering, IT, dan ilmu sains. Contoh pekerjaan seperti: software/web engineer, mechanical engineer (desain mesin), electrical engineer, arsitek, operator CAD, peneliti di lab farmasi, dll. 

    2. 人文知識 (jinbun chisiki) atau spesialis humaniora yang mencangkup bisnis, ekonomi, hukum, dan administrasi. Contohnya: digital marketer, social media manager, staff HRD, general affairs, sales executive, staff hukum, dll.

    3. 国際業務 (kokusai gyoumu) atau layanan internasional yang mencangkup penerjemah, komunikasi lintas budaya, dan desain grafis. Contohnya: penerjemah lisan (interpreter), penerjemah tulisan (translator), guru bahasa, staf impor expor, desainer grafis dan fasion, penulis konten (copywriter) untuk audiens Jepang, dll.

    Kalau udah diterima di perusahaan dengan salah satu bidang diatas, bisa lanjut ke tahap berikutnya, yaitu persiapan dokumen. Ada dokumen yang disiapkan perusahaan yaitu: kontrak kerja, job description atau detail pekerjaan, profil perusahaan, dan laporan keuangan. Iya, jadi perusahaan yang nerima kalian itu sebenernya berdiri sebagai sponsor kalian selama di Jepang, jadi wajar kalau laporan keuangan aja sampai harus dilampirkan. 

    Selagi perusahaan menyiapkan dokumen tadi, kalian pun harus menyiapkan dokumen pribadi kalian. Dokumen yang dimaksud seperti: paspor & kartu kependudukan, ijazah & transkrip nilai, dan terakhir CV dan sertifikat yang relevan. Dokumen tadi diserahkan ke imigrasi beserta formulir perubahan visa. Oh iya ini ga gratis ya, jadi biasanya ada pungutan biaya 4000 yen, tapi kalau ga salah udah naik jadi 6000 ya sejak November 2025 kemarin. Dan proses pemeriksaan dokumen akan berlangsung 1~3 bulan.

    Kalau dokumennya rapih, lengkap, ga ada missmatch data, dan di imigrasinya lagi ga ramai pengurusan visanya, prosesnya bisa lebih cepat. Tapi saran aku udah disiapin dan mulai memproses dari jauh-jauh hari ya. Jaga-jaga selama proses pengajuan ada yang ga lengkap jadi harus ngajuin ulang ataupun kejadian ga diharapkan lainnya.

    Begitulah proses pengajuan upgrade visanya guys. Inget ini hal penting ya!

    1. Pekerjaan harus sesuai dengan ijazah

    2. Bukan pekerjaan manual

    3. Perusahaan harus mendukung 

    4. Pastikan pajak dan asuransi selama di bawah visa tokutei ginou sudah dibayar lunas.

    Kalau udah berubah visanya jadi gijinkoku kan kalian udah bisa dapet kerjaan yang lebih luas, visanya juga udah jangka panjang. Jelas karir dan gaji pun akan lebih baik. Kalian pun udah bisa bawa keluarga lagi. Siapa sih yang ga mau?

    So segitu dulu aja bahasan dari aku tentang upgrade visa tokutei ginou ke visa gijinkoku. Gimana pada tertarik untuk TG dulu terus upgrade ke gijinkoku? Kalau ada hal lain yang ingin dibahas bareng sama aku kasih tau di kolom komentar aja ya.  

  • Kerja di Jepang

    Masih Worth It Ga Sih Kerja Ke Jepang di 2026?

    Aku check beberapa berita di Jepang, sampai ada juga beberapa konten di reels aku yang cerita "Yen turun dan biaya hidup Jepang naik". Jadi kepikiran aja waktu liat-liat reels gitu, dengan kenaikan biaya hidup apakah "masih worth it gak sih kerja ke Jepang di tahun 2026 ini?" Aku mau coba bahas aja, tapi pastinya tiap orang punya pendapatnya masing-masing ya, nanti coba tulis aja pendapat kalian di kolom komentar ya. Kita diskus bareng di kolom komentar. 

    So bagi yang belum tau kondisi ekonomi Jepang itu seperti apa di awal 2026, aku coba jelasin singkat aja ya. Disklaimer dulu, aku jujur bukan orang yang expert banget sama dunia ekonomi, jadi kalau ada salah-salahnya kasih tau aku ya. 

    Ya sampe tahun 2025 memang kacau banget ya Jepang. Angka perusahaan yang gulung tikar terus meningkat, di 2025 aja ada lebih dari 10.000 perusahaan sampai gulung tikar. Karena inflasi biaya hidup yang terus meningkat, sehingga daya beli terus menurun. Yen juga sempat mengalami pelemahan yang berdampak pada penurunan impor. Menurut Bank of Japan, di tahun 2026 ini ekonomi Jepang itu meningkat guys, dengan proyeksi pertumbuhan 1%. Ini menandakan ada permulihan secara bertahap ya. Setidaknya ekonomi Jepang udah keliatan ada potensi jadi lebih stabil kalau dibanding beberapa tahun terakhir. Tapi jangan lupa aspek lainnya, seperti Jepang saat ini memiliki hutang yang sangat besar, yaitu di kisaran lebih dari 230% penghasilan mereka. Jadi meskipun 2026 terlihat ada kenaikan, tetap aja ya kondisi ekonomi Jepang masih belum bisa terlihat arahnya kemana, apakah akan membaik atau sebaliknya. 

    Nah balik lagi ke pertanyaan awal tadi "masih worth it ga sih kerja ke Jepang?". Jawaban tiap orang akan berbeda berdasarkan tujuan kalian berangkat ke Jepangnya untuk apa. ASLI untuk kalian yang cuman ngejar YEN biar pulang-pulang bawa uang sebanyak mungkin, bisa jadi di antara kalian ada yang mulai ragu untuk berangkat kerja ke Jepang. Jangankan berangkat, mulai belajar bahasa Jepang aja mungkin ada yang mulai ragu. Karena tujuannya ya "YEN" ini ya guys, jadi mulai ngitung-ngitung pastinya ya. Berarti dengan biaya hidup di sana yang meningkat, uang yang bisa dibawa pulangnya makin sedikit dong. Tapi beda sama yang tujuannya memang ingin hidup di Jepang, yang cari pengalaman, yang memang suka sama Jepang, atau yang memang ga mau di Indonesia aja kali, nah untuk kalian seperti itu mungkin ga ngeliat ini sebagai sesuatu yang membuat kalian mikir-mikir untuk ke Jepang.

    Sekarang kita bandingkan gaji dan biaya hidupnya. Aku pake gambaran kasar ya, jadi mungkin akan ada perbedaan di tiap daerah dan sama kasus kalian nantinya. Ambil contoh aja untuk tokutei ginou, kalian sebulan bisa digaji sekitar 200,000 yen bahkan lebih. Terus biaya hidupnya, itu bisa disesuaikan dengan gaya hidup kalian. Sebenernya di sebagian besar daerah di Jepang, gaji 200,000 yen itu udah lumayan, jadi ga besar tapi ga kecil juga kalau untuk hidup sendiri. Setidaknya gaji segitu kalian masih punya uang untuk tabungan dan hiburan meskipun begitu ga banyak. Kecuali kalian tinggalnya di kota-kota yang UMRnya tinggi seperti Tokyo dan Kyoto, ya 200,000 yen akan terasa sangat pas-pasan. Padahal beberapa tahun yang lalu gaji 200,000 yen ini kerasa lebih besar dari sekarang.

    Sekarang kalian mungkin udah dapet sedikit gambaran tentang garis besar ekonomi Jepang dan biaya hidup di Jepang. Dengan kondisi Jepang yang memang masih abu-abu bakal membaik atau memburuk, setidaknya kita perlu prepare sama apa yang akan terjadi. Maksudnya ya dengan kondisi sekarang kalian bisa jamin Jepang akan baik-baik aja? Apa yang membuat kalian ngerasa gitu? Dengan udah dapet permanent resident terus kalian tinggal di Jepang puluhan taun kedepan pasti aman? 

    Mungkin terkesan nakut-nakutin, tapi niat aku selalu sama, untuk mengingatkan agar kalian TERUS BELAJAR. Aku ga mau jadi orang yang menceritakan kalian mimpi tapi ga meperlihatkan kenyataan sama sekali. Kalian berangkat tokutei ginou ke Jepang pakai N4, terus kalian berhenti belajar seakan-akan udah bebas ngerjain tugas dari guru di lembaga belajarnya. Padalah ujian sesungguhnya itu baru aja mau dimulai. Kalian bisa tetap relevan dengan perkembangan dunia ga? Kalian yang lulus N4 terus berangkat kerja dan ga lanjut diupgrade skillnya, ketika ada apa-apa sama Jepang atau kalian ngelakuin yang engga-engga di Jepang, bisa jadi kalian akan dipaksa pulang ke Indonesia. Kemarin-kemarin aja aku nemu video ada yang takbiran di Jepang ya. Nah kalau di deportasi terus udah di Indonesia mau ngapain? Kalian ga bawa skill baru, atau ninggkatin skill kalian loh selama di Jepang.

    Ujung-ujungnya balik ke Indonesia malah bingung karena ga bawa value yang lebih tinggi untuk berkarir di Indonesia. Bawa pengalaman kerja di Jepang udah jadi value yang bagus, tapi inget pengalaman tanpa skill yang seharusnya didapat dari pengalaman tersebut, nanti kalian malah dikatain pembohong. Dari pengalaman kalian di Jepang jelas skill bidang pekerjaan kalian harusnya naik, tapi skill bahasa Jepang kalian gimana? Tinggal 3 tahun di Jepang berangkat bawa N4 pulang masih di level N4? Ga bosen-bosen aku kasih tau ke kalian. Bahwa masih banyak tenaga kerja Indonesia yang udah berangkat itu milih untuk ga naikin skill bahasa asing mereka karena udah ngerasa cukup untuk berangkat.

    Kalau udah di Jepang, kesempatan belajar bahasa Jepang kalian padahal lebih banyak dan lebih baik dari mereka yang masih di Indonesia. Kalian berangkat TG, terus upgrade ke yang lebih professional kan bisa ya. Berangkat bawa N4 atau N3 dengan visa TG, kemudian sambil kerja di sana, belajar terus sampe N2 biar bisa cari kerja visa gijinkoku selama masih di Jepang. Yang masih di Indonesia manfaatin momen Ramadannya buat belajar juga. Ngitung-ngitung ngabuburit sambil terus perluas kosakata dan kanjinya. Kalau terasa stuck belajar full otodidak, cari mentor yang bisa bantuin belajarnya. Kalau di kita, kita bisa bantuin kalian yang mau belajar otodidak sambil dikawal mentor, biar kalau stuck ada yang bantuin. Kalian pun ga perlu sampe berhenti kerja atau kuliah untuk ikut, soalnya kita pasang jadwal zoom session di jam-jam pulang. Udah ah pesan sponsornya sampe sini aja ya.

    Betul sih ekonomi Jepang makin ga tau arahnya. Jadi aku ngerti kalau ada yang ngerasa udah ga worth it untuk kerja di Jepang. Setidaknya untuk saat ini ya. Tapi gimana menurut kalian? Apakah Jepang masih jadi tujuan yang worth it untuk jadi tempat berkarir? Coba ceritakan pendapat kalian dong di kolom komentar. Aku ingin tau pendapat kalian. Atau kalau kalian ada yang ingin kita bahas juga boleh silahkan tulis di kolom komentar ya. Sampe sini aja bahasan kali ini. Kalian yang ngeliat kondisi Jepang sekarang masih ingin kerja di Jepang, semoga bisa segera berangkat. 

  • Kerja di Jepang

    Cara Bikin CV Untuk Kerja Di Jepang



    Udah belajar bahasa Jepang sampe N4 atau lebih, dan akhirnya kalian udah di tahap mencari pekerjaan di Jepang. Nah pertanyaannya, udah siap belum untuk melamar kerja? Mengumpulkan CV adalah salah satu hal yang wajib untuk diberikan ke pihak perusahaan agar mereka dapat mengetahui tentang kita secara garis besar.

    Untuk kalian yang sedang bersiap-siap untuk bekerja di Jepang mungkin sekarang sedang kebingungan dengan bagaimana cara mengisi CV dalam bahasa Jepang. Dan CV di Jepang itu beda ya sama CV di Indonesia atau di negara-negara lain. Bukan hanya pake bahasa Jepang, tapi memang ada point point lain yang sangat beda. So, pada kali ini, aku akan sharing bagaimana cara mengisi CV dalam bahasa Jepang.

    Curriculum vitae atau yang bisa kita kenal dengan sebutan CV disebut dengan “Rirekisho (履歴書(りれきしょ))” dalam bahasa Jepang. Bentuk dari rirekisho ini sendiri dapat dibilang sedikit kaku dikarenakan rirekisho sudah memiliki formatnya tersendiri dan bagi kalian yang ingin melamar, di Jepang kalian dapat pergi ke toko alat tulis dan membelinya langsung.

    Pada artikel ini, aku akan menuntun kalian untuk mengisi CV kalian dengan baik dan benar menggunakan format CV yang bisa kalian download di sini.

    1. Tanggal Pembuatan CV

    Sebelum kita masuk ke kolom yang pertama, kita dapat melihat judul dari CV ini yang dituliskan pada bagian sebelah kiri atas yang bertuliskan “Rirekisho”.

    Pada kolom pertama, kalian dapat mengisi tanggal pembuatan CV dengan format (Tahun/Bulan/Tanggal). Jadi kalau kalian bikin CVnya di tanggal 13 Februari 2026 maka tulislah seperti: 2026年2月13日 ya.

    2. Pas Foto

    Pada kolom kedua, kamu dapat memasukan pas foto kamu yang berwarna dan berukuran 3x4 dengan latar belakang berwarna putih. Apakah harus putih? Di CV Jepang sebenernya background putih itu yang paling umum dan paling aman. Jadi kalau binggung pake warna background apa, ya pilih putih aja. Tapi selama warna kalem harusnya aman seperti biru muda yang cerah, atau abu cerah. Tapi sekali lagi, paling aman itu warna putih ya.

    3. Nama Lengkap


    Pada kolom ketiga, kamu dapat menuliskan nama lengkap kamu dengan menggunakan alfabet apabila nama mu ditulis menggunakan alfabet. Pada kotak yang ada di atasnya kamu dapat menuliskan nama kamu dengan menggunakan katakana. Masih bingung nulis nama kamu pake katakana? Inget-inget ya, bahasa katakana dalam bahasa Jepang itu berdasarkan pendengaran orang Jepang. Jangan terpaku sama cara tulisannya ya. Contoh nama Michael kan ditulisnya マイケル karena dibaca maikeru, bukan ミチャエル (michaeru) kan ya.

    4. Tanggal Lahir dan Usia

    Pada kolom keempat, kamu dapat menuliskan tanggal lahir kamu dengan format (Tahun/Bulan/Tanggal) seperti dalam pengisian tanggal pembuatan CV. Untuk usia kamu yang sekarang, dapat kamu isi di bagian yang diberikan tanda kurung. Sebagai contoh, kalau kalian kelahiran 2 Mei 1995 dan CVnya dibuat tanggal 13 Februari 2026, maka ditulisnya 1995年5月2日(満 31歳)ya.

    5. Jenis Kelamin

    Pada kolom kelima ini, kamu diharuskan untuk menuliskan jenis kelamin kamu. Cara penulisan jenis kelamin di kolom ini adalah dengan menulisnya dengan kanji laki-laki ((おとこ)) atau kanji perempuan ((おんな)).

    6. Nomor Telepon

    Pada kolom ini, kamu dapat menulis nomor telepon pribadi kamu yang dapat dihubungi. Tergantung perusahaannya, tapi ada perusahaan yang ngasih infornya via SMS atau telepon. Jadi kalian perlu standby kalau udah ngirim CV ya.

    7. Email

    Pada kolom ketujuh ini, kamu diharuskan untuk menuliskan email yang aktif digunakan dan mudah dihubungi. Karena orang Jepang lebih suka untuk berkomunikasi formal dengan menggunakan email. Makanya dibanding telepon, perusahaan Jepang jauh lebih sering ngasih infonya lewat email. Apalagi kita pake nomor luar Jepang, biasanya mereka akan lebih milih ngasih info pelamarannya lewat email.

    8. Alamat

    Pada kolom kedelapan ini, kamu akan melihat dua kotak besar dan dua kotak kecil. Kotak kecil yang ada di sini adalah kotak furigana atau tempat untuk menulis alamat kalian menggunakan hiragana dan katakana. Pada kotak besar yang ada pada kolom ini, kamu dapat mengisinya dengan alamat tempat tinggal mu di bagian kotak besar pertama dan alamat lainnya di bagian kotak besar kedua bila kamu memiliki alamat lainnya. Jadi kalau cuman punya 1 tempat tinggal, ga apa-apa isi satu yang di atas aja ya.

    9. Nomor Telepon Rumah dan Fax

    Pada kolom kesembilan ini, kamu dapat mengisi nomor telepon rumahmu serta nomor fax-mu apabila kamu memilikinya. Ini biasanya lebih ke nomor atau fax cadangan kalau yang kolom kontak yang di atasnya ga ada respon.

     10. RIwayat pendidikan dan pengalaman kerja.


     Pada kolom ini kamu akan menuliskan riwayat pendidikan kamu. Kalian bisa tulis mulai dari kapan masuk sekolah atau kuliah apakah kalian pindah atau lulus? Semua kalian tulis di kolom ini. Untuk pekerjaan kalian bisa menuliskan kapan kalian mulai kerja atau pernah pindah atau mungkin kalian masih kerja sampai sekarang tuliskan juga beserta bulan dan tahunnya ya.

    11. Keahlian/sertifikasi yang dimiliki.


     Pada kolom ini kamu bisa menuliskan sertifikasi kalian. Misalnya JLPT, TOEFL, SIM internasional, atau sertifikat skill lainnya. Utamakan sertifikasi yang berhubungan dengan bidang kerjaan kalian nanti ya. 

    12. Isi dengan kata-kata motivasi dan kalimat-kalimat tentang kelebihan kamu.


     Pada kolom ini kalian bisa menuliskan kata-kata motivasi,atau kata-kata yang  menggambarkan kalian banget. Bagian ini aku udah buatkan penjelasan yang lebih detailnya di artikel perbedaan jikoshoukai dan jiko PR ya. Silahkan dibaca-baca sebelum mengisi biar ga ketuker sama jikoshoukai, ataupun malah nigisi hal lainnya. Inget ya! di Jepang jiko PR itu bagian yang sangat penting dalam pelamaran pekerjaan.

    13. Estimasi perjalanan ke kantor yang di-apply


     Pada kolom ini kalian bisa tulis estimasi waktu perjalanan dari rumah kalian ke kantor yang kalian apply. Kalau kalian masih di luar Jepang tidak apa-apa kalian kosongkan, Tapi kalau kalian sudah tinggal atau sudah tau bakal tinggal dimana kalian bisa sertakan nama stasiun terdekat dari kantor kalian.

    14. Banyaknya jumlah orang yang ditanggung


     Pada kolom ini kalian cukup menulis berapa jumlah orang yang menjadi tanggungan kalian. Kolom ini berlaku untuk kalian yang sudah berkeluarga. Tapi di sini tidak termasuk pasangan kalian.

    15. Status nikah


     Kolom ini diisi dengan cara melingkari bila kalian sudah berpasangan lingkari kanji yang kiri (有) kalau kalian masih lajang lingkari kanji yang kanan (無) ya

    16. Status tanggungan


     Kolom ini kalian isi sama caranya dengan kolom 15. Kalian lingkari kanji yang kiri (有) kalau kalian memiliki pasangan yang tidak bekerja, kalau pasangan kalian bekerja dan berpenghasilan, silahkan lingkari yang kanan (無) ya.

    17. Isi dengan ekspetasi seandainya diterima.


     Kolom ini kalian isi dengan ekspektasi kalian kalau kalian diterima di perusahaan tersebut. Contohnya mungkin kalian ingin menduduki posisi mana di perusahaan tersebut. Atau mungkin kalian pengen dapat kesempatan untuk dinas keluar negeri. Tulis semuanya di kolom ini ya.

    Nah CV kalian dalam bahasa Jepang sudah jadi!. Jangan lupa untuk share ke teman-teman kalian yang pingin kerja di Jepang biar mereka juga tahu cara mengisi CV Jepang kaya gimana.


  • Kerja di Jepang

    Kenapa Orang Lebih Suka Tokutei Ginou daripada Gijinkoku?


     Halo, Guys! Gimana proses belajarnya bahasa Jepangnya? Lancar-lancar aja ga nih? Atau ada yang masih stuck dibagian tertentu nih? Kalau ada nanti tulis dibagian komentar ya, siapa tau nanti aku buatkan penjelasannya. Kali ini aku mau bahas tentang apa yang aku dapat setelah bicara dengan beberapa kenalan aku yang udah berangkat ke Jepang. Khususnya aku mau bahas tentang Kenapa banyak yang milih tokutei ginou daripada gijinkoku. Yuk masuk kita kepembahasan.

    Pernah nggak sih kamu ngerasa bingung pas lagi scrolling info kerja ke Jepang? Di satu sisi ada yang namanya Tokutei Ginou (SSW), di sisi lain ada Gijinkoku/Professional Worker (Engineer/Humanities/International Services).

    Ga hanya aku loh, tapi ternyata banyak yang bilang, "Kalau punya ijazah S1, mending langsung Gijinkoku aja biar keren!" Selain itu, lebih sesuai juga kan ya lulusan S1 kalau kerja di gijinkoku. Tapi anehnya, data menunjukkan kalau peminat Tokutei Ginou justru makin meledak. Bahkan menurut data dari Immigration Services Agency of Japan, per akhir 2024 kemarin, jumlah pemegang visa SSW (Tokutei Ginou) sudah menembus angka 336.000 orang lebih, dan Indonesia masuk dalam 3 besar penyumbang pekerja terbanyak! Jangan salah ya, pengguna visa gijinkoku dari Indonesia memang tidak masuk 5 besar di Jepang, tapi bukan berarti pengguna visa gijinkoku itu sedikit. Kenyataannya akhir-akhir ini visa tokutei ginou memang sedang meningkat pesat. 

    Nah, dari kenyataan yang tadi aku sebutin, muncuk pertanyaan dong: "Kenapa orang lebih milih Tokutei Ginou dari pada Gijinkoku?" Padahal kan "katanya" visa gijinkoku itu lebih "wah" kan? Kali ini aku coba rangkum dari sudut pandang kenalan-kenalan aku yang udah berangkat ke Jepang, ya!

    Syarat Bahasa atau Pengajuan Visa yang lebih "Masuk Akal" buat Pemula

    Visa Gijinkoku memang lebih menggiurkan. Tapi ayo kita jujur-jujuran aja ya guys. Mau pakai visa Gijinkoku aja kalian minimal harus punya N3 atau bahkan N2 biar bisa bersaing dan lolos wawancara. Masalahnya, bagi pemula belajar sampe N2 itu butuh waktu tahunan kalau nggak fokus banget. Pikiran para pemula langsung nyari yang lebih mudah dicapai dulu. Kalau sekiranya N2 butuh waktu sampe setahun atau lebih, mereka mikirnya langsung ya udah N4 dulu aja terus berangkat pakai visa Tokutei Ginou.

    Beda dengan gijinkoku yang aku saranin N2, di Tokutei Ginou kamu cukup punya modal N4 (atau JFT-Basic A2) plus lulus ujian skill bidangnya. Bagi pemula yang udah ngebet ingin berangkat dan butuh cuan segera, Tokutei Ginou itu jalur paling realistis dan dan terdengar lebih praktis. 

    Bidang Pekerjaan yang "Pasti Ada"

    Visa Gijinkoku itu syaratnya ketat banget. Selain harus lulusan diploma ke atas, ada juga pekerjaanmu harus nyambung sama jurusan kuliah. Kalau kamu lulusan Teknik Informatika tapi mau kerja di Hotel? Akan sangat sulit untuk dapet visa Gijinkoku, karena bidangnya tidak sesuai sama bidang kuliah kalian. 

    Di sisi lain, untuk daftar Tokutei Ginou kalian mau dari lulusan jurusan apa pun bisa ngajuin. PLUS kalian yang lulusan SMA atau SMK aja bisa apply ke 12 sektor (sekarang nambah jadi 16 sektor lho!) yang lagi butuh banget orang, kayak Food Service, Caregiver, atau Manufacturing. Selama udah lulus N4 / JFT basic A2 atau lebih kalau bisa ya, terus udah lulus skill bidangnya juga, ya kalian udah bisa apply visa ini. Fleksibilitas ini yang bikin orang nggak pusing mikirin "ijazahku relevan nggak ya?". 

    Gaji & Hak yang Setara (Bahkan Dalam Case Tertentu Bisa Lebih Gede!)

    Ini yang masih sering salah kaprah. Banyak yang ngira gaji Tokutei Ginou itu kecil. Padahal secara hukum, gaji tokutei ginou itu WAJIB setara dengan orang Jepang di posisi yang sama. Rata-rata take home pay bisa di angka 150.000 - 250.000 Yen. Meskipun Gijinkoku punya potensi yang lebih tinggi, tapi dengan gaji tokutei ginou sebenernya udah cukup untuk bisa hidup di Jepang sambil nabung untuk masa depan.

    Bahkan buat beberapa bidang, dengan lemburan yang stabil, penghasilan anak tokutei ginou seringkali lebih stabil dibanding anak kantoran yang mungkin gajinya flat tanpa lembur.

    "Terus, Bisa Nggak Sih Upgrade dari Tokutei Ginou ke Gijinkoku?"

    Banyak banget yang nanya ini ke aku. Jawabannya BISA BANGET. Sebenarnya, strategi paling cerdas (terutama buat kamu yang ijazahnya S1/D3 tapi bahasa Jepangnya masih zero) adalah:

    1. Berangkat dulu pakai Tokutei Ginou. 

    2. Sambil kerja di Jepang, kamu asah terus bahasa Jepangmu (incaran ke N3 atau N2).

    3. Setelah bahasa makin jago dan punya pengalaman kerja di Jepang, baru deh kamu apply atau pindah ke visa Gijinkoku.

    Kenapa strategi ini lebih aman? Karena kamu sudah di Jepang, sudah punya penghasilan, dan sudah paham budaya kerjanya. Daripada kamu nunggu di Indonesia 2-3 tahun cuma buat ngejar N2 tapi nggak berangkat-berangkat, kan? Tapi inget ya, banyak banget dari mereka yang gagal pakai strategi ini. Kenapa? Karena udah cape kerja. Pada akhirnya mereka males untuk belajar lagi untuk ngerjar naik level, karena udah cape kerja, dan terlanjur berfikir bahwa udah menghasilkan, dan udah bisa hidup dengan tokutei ginou juga. Dan ini sebenernya agak gawat, karena pada hakikatnya, mereka yang berhenti untuk belajar adalah mereka yang akan jadi generasi dinosaurus berikutnya. Jadi kalau udah berangkat nanti semangat terus naik levelnya ya.

    Kesimpulannya, mau ambil jalur Tokutei Ginou dulu atau langsung loncat ke gijinkoku itu pilihan masing-masing. Tapi buat kamu yang mau jalur cepat, aman, dan pasti, Tokutei Ginou adalah pintu pembuka paling lebar saat ini. Kuncinya cuma satu yaitu Bahasa Jepang. Nggak usah pusing harus belajar bertahun-tahun. Kalau targetmu Tokutei Ginou, kamu cuma butuh N4 untuk berangkat. Tapi inget, untuk masa depan kamu, N4 aja ga cukup. Aku udah sempet bahas di konten sebelumnya juga kan ya. Buat kamu yang mau sat-set, di kita bisa bantu kalian yang tertarik sama program Akselerasi N4 dalam 15 Hari. Bayangin, cuma dengan 15 hari kamu sudah punya modal buat dapet gaji puluhan juta di Jepang. Peserta akselerasi N4 yang udah berhasil berangkat aja udah banyak loh. Atau buat kamu yang pengen banget kejar visa Gijinkoku dari awal, minimal amankan dulu N3nya, kita bisa bantu lewat Program N3≠S1. Ingat ya, punya ijazah S1 doang nggak cukup kalau nggak dibarengi sertifikat bahasa yang mumpuni. 

    Jadi, kapan mau mulai? Jangan cuma jadi penonton kesuksesan orang lain di sosmed ya. 

    Semangat, Minasan!

  • Kerja di Jepang

    Realita Pasca Magang Jepang: Hati-hati Tabungan Habis Sia-sia Tanpa Rencana Karir yang Matang

    Belajar bahasa Jepang berbulan-bulan sampe bertahun-tahun, terus akhirnya berhasil berangkat kerja ke Jepang. Udah di Jepang kalian berhasil tuh nabung sampe tembus ratusan juta. Amin ya, semoga yang punya impian kerja ke Jepang bisa ngerasain menghasilkan uang sampe ratusan juta dari hasil keringat sendiri. Masa ia udah lama kerja di Jepang tapi belum punya uang ratusan juta? 

    Iya guys, yang aku ceritain tadi itu sebenernya udah banyak yang berhasil, tapi banyak juga yang gagal. "Kerja di Jepang itu gajinya besar, tapi biaya hidupnya juga besar" itu kata orang-orang. Tapi sebenernya kalau bisa hemat, hidup di Jepang itu ga semahal yang dikatain mereka. Makanya nabung di Jepang itu ga sesulit yang kalian bayangkan, tapi KALAU BISA HIDUP HEMAT ya. Ga bisa kita samain semua sih, soalnya kan gaji, biaya hidup di tiap daerah, sampe jenis pekerjaan tiap orang kan memang beda-beda. Jadi penghasilan sama pengeluaran tiap bulannya pasti beda-beda. Ada yang memang gap antara gaji dan biaya hidupnya beda tipis. Tapi di antara mereka ada juga yang gapnya cukup besar. Nah orang tadi bisa hemat biaya makan, listrik, air, dll, tapi ga bisa jaga mata waktu jalan-jalan. Yang baru nyampe Jepang langsung beli PS aja ada loh. Terus milih buat hidup menderita di bulan pertama di Jepang. Iya deh mungkin dia butuh hiburan selama longstay di Jepang. Tapi dari cerita tadi bisa ngebayangin kan? Setelah kerja di Jepang pun itu ga menjamin kalian bisa punya tabungan ratusan juta, dan semuanya tergantung kalian sendiri juga.

    Kali ini aku bukan mau ngebahas seboros apa orang Indonesia ketika berada di negeri orang. Tapi aku mau ajak kalian untuk mikirin apa yang akan kalian lakukan setelah kalian cape-cape kerja di Jepang. Hidup di Jepang itu enak, tapi inget kerja di Jepang itu ga enak ya guys. Dari budaya kerjanya yang absurb seperti jam kerja yang luar biasa, terkesan wajib ikut nomikai setelah kerja, dunia sosial di tempat kerja yang bikin cape hati, dll lah. Yang udah kerja di Jepang mungkin bisa nambahin di kolom komentar. Meskpun begitu, banyak orang Indonesia masih ngerasa lebih layak daripada kerja di Indonesia. Karena gajinya yang lebih berasa ke dompet. Ya ga dikit dari mereka yang gajinya cuman numpang lewat aja sih.

    Nah dari orang-orang yang aku kenal, banyak dari mereka milih untuk pulang ke Indonesia. Kebanyakan punya target nabung sampe ratusan juta selama di Jepang. Berhasil sih, setelah punya ratusan juta mereka memilih untuk pulang ke Indonesia. Di antara mereka hanya ingin membuktikan diri ke sosial bahwa dia udah sukses, ada yang hidup enak aja foya-foya di Indonesia pake tabungan dia, ada yang pulang bangun bisnis sendiri di Indonesia, tapi ada yang ga beruntung ketika pulang tabungannya dipake buat bayarin hutang keluarga. 

    Banyak cerita dari kenalan aku guys, ga semuanya berakhir baik hanya dengan bawa ratusan juta dari Jepang. Yang pulang ke Indonesia tabungannya dipake sama yang ga penting aja banyak, ujung-ujungnya tabungannya habis ga jadi apa-apa. Makanya kita perlu persiapan matang apa yang akan dilakukan setelah pulang dari Jepang. Sekali lagi pulang ke Indonesia itu bukan pilihan yang buruk.

    Banyak jalan yang bisa kalian pilih, seperti bangun perusahaan di Indonesia menggunakan tabungan yang kalian kumpulin di Jepang. Kalau kalian pulang bawa skill bahasa Jepang yang tinggi seperti N2, kalian bakal punya peluang karir yang bagus di Indonesia. Seperti jadi interpreter atau penerjemah di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia. Tergantung perusahaannya kalian bahkan bisa dapet kesempatan untuk bulak-balik ke Jepang nantinya. Bahkan memungkinkan kalian diberikan posisi strategis seperti manager atau HR di perusahaan Jepang tadi. Selain itu ada juga kesempatan kerja di sektor pendidikan atau penyalur pekerja seperti kerja di lembaga pendidikan atau jadi konsultan pendidikan dan kerja ke Jepang. Kerja di sektor pariwisata atau hospitality seperti tour guide atau kerja di hotel pun sangat memungkinkan.

    "Tapi kak aku mah maunya lanjut kerja di Jepang" nah itu pun salah satu pilihan yang bisa kalian ambil. Tapi coba pelajari dulu jauh-jauh hari apakah visa yang kalian gunakan bisa upgrade visa atau engga, dan sekalian caranya gimana, berapa lama butuh waktunya, cari tau informasinya jauh-jauh jangan mepet. Karena ngurusin visa itu biasanya ga akan beres 1~2 hari, malahan bisa jadi lama banget sampai berbulan-bulan. Bisa lebih cepet bisa lebih lama, makanya siapin dari jauh-jauh hari ya biar ga panik dan terjadi kesalahan saat pengajuan. 

    Umumnya kalau mau lanjut aku saranin naik level sekalian, yang aku maksud itu bukan hanya level visa, tapi level bahasa Jepangnya juga ya. Contoh kalau kalian berangkat pakai visa ginou jisshu atau magang, setelah diperpanjang sampe 5 tahun, next coba kejar upgrade ke tokutei ginou. Biar ada kenaikan kualitas hidup kan ya selama di Jepang. Kebanyan magang itu gap gaji sama biaya hidupnya tipis banget ya, dan aku yakin kalian ga akan betah lama-lama kaya gitu. Tentu kalau mau upgrade visa otomatis ada skill yang perlu kalian upgrade, seperti yang magang awalnya NOL atau N5 cobalah upgrade ke N4 ditambah skill SSWnya. Malah lebih tinggi lebih bagus, kalau bisa ke N3 atau ke N2 mungkin ya. 

    Intinya mau lanjut stay di Jepang ataupun balik ke Indonesia, aku selalu saranin upgrade skillnya. Untuk stay di Jepang diperlukan untuk pengajuan visa dan mungkin untuk keperluan perekrutan di perusahaan barunya nanti. Uang yang udah terkumpul di Jepang bisa kalian simpan untuk masa depan kalian di Jepang, atau untuk masa tua kalian di Indonesia. Sekalipun kalian milih untuk pulang ke Indonesia, kalian akan tetep perlu skill bahasa Jepang untuk perekrutan di Indonesia nanti. Masa kalian pulang ke Indonesia cuman mau foya-foya? Terus waktu tabungan habis kalian mau ngeluh aja gitu? 

    Sekarang kalian yang udah berencana kerja di Jepang udah nyiapin plan sampai mana? Apakah cuman nyiapin sampe berangkat aja? Jangan ya, hidup kalian terlalu panjang untuk disiapin sampai berangkat ke Jepang aja. Malahan sebaiknya siapkan backup plan atau plan kedua dan ketiga kalau bisa. Setelah program atau visa di Jepang kalian selesai, kalian mau lanjut di Jepang atau pulang ke Indonesia itu ga ada yang bener atau salah, intinya plan kalian seperti apa? Dan kalian bisa menjalani plan itu ga? Coba tulis di kolom komentar rencana kalian. Semoga tulisan kalian di komentar nanti akan jadi doa biar terkabul ya. 

  • Kerja di Jepang

    Inilah kenapa N4 itu tidak cukup, sebaiknya kejar N3 atau lebih !

    Setiap aku nanyain pelajar bahasa Jepang yang belajarnya untuk kerja ke Jepang, jawaban mereka udah kaya template gitu. Kurang lebih jawabannya akan "Aku mau ngejar N4 atau JFT basic A2 biar bisa berangkat kerja ke Jepang". Ini hampir setiap pelajar yang memang tujuannya ingin berangkat pakai visa Tokutei Ginou itu jawabannya kurang lebih kaya tadi. Bahkan kalau ditanya balik "kenapa ga ngejar N3 aja kak?", diantara mereka cukup banyak yang jawabnya "Kan N4 atau JFT basic A2 aja udah cukup kak". Kebetulan mereka memang ingin ngejar visa Tokutei Ginou, dan visa ini memang populer banget. Tapi bentar kayanya ada yang salah nih, dan perlu saya bahas kayanya. Jadi izin untuk share kenapa aku ingin kalian ga terpaku sama yang penting lulus N4 atau JFT basic A2 biar bisa kerja ke Jepang, so baca sampai selesai ya.

    Balik lagi, visa Tokutei Ginou itu memang populer banget, sehingga di Indonesia pun sampai banyak yang ingin kerja di Jepang menggunakan visa ini. Baik dari perlakuan visanya yang bisa diperpanjang atau diupgrade, gajinya yang cukup oke, sampai syarat pengajuan visanya yang ga begitu berat kalau dibanding visa gijinkoku. Secara standarisasi dari Jepangnya sendiri, untuk bisa mengapply atau mengajukan visa Tokutei Ginou itu perlu setidaknya sertifikasi JLPT level N4 atau JFT Basic A2. Ini belum termasuk sertifikat skill bidang SSWnya ya. Tapi dengan syarat pengajuan yang seperti tadi, memang ga begitu butuh waktu yang lama untuk bisa dikejar itu semua. Makanya di Indonesia visa ini otomatis viral dan jumlah peminatnya pun meningkat pesat. 

    Apa yang ingin aku bahas kali ini bukan tentang visa tokutei ginou, ataupun syarat pengajuannya. Tapi aku ingin bahas tentang kenyataan bahwa banyak orang yang merasa lulus N4 atau JFT basic A2 aja itu udah cukup. Coba baca lagi apa yang aku tulis tadi, JLPT level N4 atau JFT basic A2 itu hanya syarat pengajuan visanya aja, jadi yang penting bisa ngajuin visanya dan bisa berangkat ke Jepang pakai visa tokutei ginou. Bisa berangkat terus di Jepangnya gimana tuh? Ya enda tau ya, kok tanya saya - by Jokowi.

    Aku mau coba tanya ke kalian "expektasi apa sih yang kalian pegang dari orang yang punya skill N4 ?

    Percaya lah guys, N4 itu ga cukup, dan cuman sekedar standar untuk bisa berangkat aja. Ini aku coba bikin analoginya kurang lebih kaya gini ya. Mereka yang punya N5 itu setidaknya bisa jikoshokai atau perkenalan diri, kalau di ajak ngobrol pasti ga tau harus ngomong apa karena keterbatasan kosakata dan pola kalimat. Yang punya N4 setidaknya bisa survive selama hidup di Jepang. Survive yang aku maksud itu kaya "kalau mau kemana-mana bisa berangkat sendiri", "nyasar bisa pulang sendiri", ada juga "mau beli apa dia bisa beli sendiri". Secara ilmu N4 itu bisa percakapan singkat seperti waktu nanya jalan, ketika beli beli di toko, dll. Jadi bisa lah kita berekspektasi dengan N4 itu bisa sekedar bertahan hidup di Jepang.

    Iya pertanyaannya sekarang bagaimana di dunia sosial dan dunia karirnya?

    Aku sering denger cerita mereka yang berangkat baik pakai visa tokutei ginou ataupun magang. Kesimpulan yang aku dapat ya, N4 itu susah dapet temen, karena masih terbatas obrolan yang bisa dilakukannya. Orang Jepang masih enggan untuk PDKT karena sebelum mulai ngobrol udah punya pikiran "ini kita ngobrol bakal nyambung ga ya?". Otomatis orang Jepang yang ngajak ngobrol cuman terbilang lebih sedikit dan jarang banget ada hubungan pertemanan yang berlangsung seumur hidup. Belum lagi hampir semuanya ketika dimarahin sama atasan mereka cuman "Iya, iya aja". Yang salah bukan mereka, tapi mereka cuman bisa "iya iya aja" karena ga tau cara membela diri sendirinya gimana. Alhasil kalian akan kesulitan dalam dunia karir juga, bahkan ini juga yang menjadi alasan mereka dibuli sama senpai di tempat kerjanya, karena ga bisa ngelawan ketika dimarahin.

    Setelah denger cerita tadi, kalian masih ngerasa N4 itu cukup?

    Kalau kalian udah N3, setidaknya kalian seharusnya udah mulai bisa memahami pembicaraan yang lebih detail. Kalian udah bisa mengerti obrolan di meeting. Obrolan pertemanan pun udah lebih enak ya, karena udah punya bekal kosakata dan pola kalimat yang cukup luas untuk mengembangkan percakapan. Kalau gitu kan lebih enak dan lebih mudah juga kan ya cari teman orang Jepangnya. Ketika dimarahin sama atasan pun kalian harusnya udah bisa loh jelasin situasinya seperti apa, jadi setelah denger penjelasan kalian, bisa jadi ternyata yang salah bukan kalian kan. Senpai kalian ga akan mudah manfaatin kalian lagi kalau gitu. Kemungkinan pembulian di tempat kerja akan bisa diminimalisir lagi. 

    Terus gimana dong kak? Kalau aku cuman mau belajar sampai N4, apakah sebaiknya kita fokus ngelatih kaiwa juga biar bisa aman selama di Jepang? 

    Dengan kosakata dan pola kalimat yang lebih terbatas, kalian mau latihan kaiwa pun topik pembicaraan dan level pembahasaan yang bisa kalian tangkep ga akan berubah. Jadi kalau mau ngobrol lebih bebas sama orang Jepang memang N4 itu terbilang kurang. Makanya di J-class kita baru ngadain sesi ngobrol atau sesi kaiwa dengan native itu di program N3 ≠ S1. Kenapa? Karena di fase inilah kalian udah bisa lebih memahami obrolan sama orang Jepang. Bukan hanya sekedar nanya jalan atau mau beli sesuatu, tapi obrolan sebagaimana kalian ngobrol sama temen-temen kalian di Indonesia. Makanya perlu di kasih kesempatan untuk ngobrol langsung sama native di level ini. Kebetulan di program N3 ≠ S1 ini kita kerja sama dengan Homestay in Japan. Jadi sesi percakapannya ga hanya ngobrol secara random, tapi ada topik menarik tiap sesinya.

    Udah ah, pesan promosinya sampe sini aja ya. Ya bukan berarti level N4 ke bawah ga perlu latihan kaiwa ya. Kalian yang masih berproses di N4 kalau di kelas disuruh ngobrol sama orang Jepang pasti masih pada planga plongo kan? Itu karena kosakata dan pola kalimatnya yang masih terbatas. Kalau belum N4 memang belum saatnya ngobrol langsung di kelas sama native. Tapi kalian bisa mulai dari latihan listening, perbanyak kosakata, dan latihan bikin kalimat. Fokus sama memahami dulu apa yang mereka ucapin, sambil baca juga dengan lantang ya kosakata dan kalimat yang udah kalian buat. Dengan gitu kalian bisa melatih lidah supaya terbiasa ngucapin kalimat bahasa Jepang dulu. Kalau udah lulus N4 dan kalian mulai proses ke N3, di situlah saatnya kalian mulai membiasakan diri dengan ngobrol sama native sambil terus memperluas kosakata dan pola kalimatnya.

    Ngomong-ngomong, aku mau coba tambahin informasi lain mengenai N3. Secara kompetensinya N3 itu udah cukup untuk dibandingkan dengan sarjana. Saat ini lulusan sarjana di jurusan bahasa Jepang, pendidikan bahasa Jepang, ataupun sastra Jepang itu rata-rata memasang standar minimal punya skill setara N3, standar ini dipakai untuk mengajukan sidang skripsinya. Jadi seharusnya kalau belum N3 belum bisa sidang skripsi, meskipun banyak universitas yang mengadakan test kesetaraan N3 secara mandiri. Jadi kalau kalian punya N3 setidaknya kalian dianggap udah punya kompetensi atau kemampuan bahasa Jepang setara sarjana. Inilah yang membuat orang yang udah punya setidaknya N3, kebanyakan udah ga peduli lagi sama gelar pendidikannya, dan lebih milih fokus di jenjang karir mereka. FYI, sarjana yang memang udah lulus N3 ke atas ternyata secara jumlah masih sangat rendah loh. Bayangin kalau kalian udah lulus N3 sama aja kalian udah mendahului rata-rata sarjana di luar sana. Keren ga tuh? 

    Sekarang udah pada bisa ngebayangin ga kenapa N4 itu ga cukup, dan kalau mau di Jepangnya lebih mudah berteman sama lokal, dan punya peluang karir yang lebih baik sebenernya mending punya N3 dulu sebelum berangkat. Atau ya setidaknya jangan berhenti belajar, jadi waktu udah berangkat pun jangan puas dengan skill bahasa Jepang N4 kalian. Kalau udah di Jepang mah lebih mudah juga kan ya buat upgrade skill bahasanya, kalau butuh orang yang bantuin belajarnya juga udah banyak program kelas online ya. Gimana menurut kalian bahasan kali ini? Coba tulis pendapat kalian di kolom komentar ya. Atau kalau ada yang ingin dibahas sama aku bisa juga tulis dikolom komentar ya. Nitip ke kalian semua untuk jangan berhenti untuk upgrade skillnya ya. Sampai ketemu di bahasan berikutnya.

  • Kerja di Jepang

    Kenali Perbedaan Jikoshoukai vs JikoPR Untuk Interview ke Perusahaan Jepang

    Kita udah sempet bahas bagaimana budaya interview di Jepang. Kalian udah siapin diri kan? Biar punya mental kuat dulu sebelum interview dan mulai kerja di Jepang nanti. Kita juga udah kenal sama pertanyaan-pertanyaan penting yang sering ditanyakan selama interview. Nah ada 1 hal lagi yang perlu kalian siapkan untuk interview nanti. Yaitu kenali perbedaan dari Jikoshokai atau perkenalan diri dengan JikoPR atau mempromosikan diri. Yuk kita masuk pembahasan.

    Sebenernya Jikoshoukai dan juga JikoPR keduanya berkaitan dengan memperkenalkan diri, makanya yang gatau bisa jadi salah menyampaikan ketika interview. Namun inget ya keduanya punya perbedaan yang cukup menonjol. Jadi hati-hati jangan sampai kalian salah ketika diminta jikoshoukai malah mempromosikan diri, ataupun sebaliknya, dan ini kesalahan yang dianggap fatal. 

    Pertama ada Jikoshoukai yang kalau diartikan jadi memperkenalkan diri. Jadi Jikoshoukai itu bener-bener memperkenalkan diri pada umumnya kalau kita memperkenakan diri ke orang lain. Umumnya Jikoshoukai bisa selesai sekitar 1 menit, dan point penting yang kita sebutkan biasanya nama, pengalaman kerja, dan juga kenapa ngelamar ke perusahaan terkait. Jadi jikoshoukai ini memang untuk memulai percakapan dan menyambungkan dengan pertanyaan berikutnya. 

    Selain itu jikoshokai pun sangat penting untuk memberikan kesan pertama ya guys, jadi nada bicara, gerak gerik, sampai penyampaian nama pun harus bagus ya. Ketika nyebutin nama sendiri coba sebutin agak pelan-pelan seperti sedang mengeja nama sendiri. Contoh nama "Manda" ketika jikoshoukai nanti sebutinnya "Ma-n-da" tapi jangan terlalu pelan ya. Aku udah siapin contoh jikoshoukai yang ini menceritakan guru bahasa Jepang yang ingin pindah kerja ke Jepang sebagai orang yang ngasih support ke orang Indonesia di Jepang ya, contohnya seperti berikut :

    〇〇と(もう)します。(ほん)(じつ)()(ちょう)なお()(かん)をいただき、(まこと)にありがとうございます。
    Nama saya 〇〇. Terima kasih sudah meluangkan waktu pentingya.

    ぶんはこれまで5ねんかん日本かんじほんきょういくかんきょうとしてはたらいていました。インドネシアには「ほんのことがき」、「ほんはたらきたい」などとおもっているかたがたおおく、そのかたがたのためにほんおしえてきました。ぶんひとだけではかなえられないことですので、ほかきょうやくいんれんけいして、せいたちのゆめかなえてきました。  
    Saya sudah 5 tahun bekerja sebagai guru di lembaga pendidikan bahasa Jepang. Di Indonesia ada banyak orang yang merasa "suka dengan Jepang", "Ingin bekerja di Jepang", dll, dan selama ini saya mengajarkan bahasa Jepang untuk orang-orang seperti itu. Karena saya ga bisa mewujudkan impian mereka sendirian, sehingga saya bekerja sama dengan pegawai dan guru yang lainnya supaya bisa mewujudkan impian mereka. 

    せいたちがゆめかなえられたときがおがとてもきで、そのがおまもりたくなります。それでこれからはほんはたらいているかたがたのために、ほんだけではなくそれがいえんなどにもじんりょくしたいとかんがえておりますので、どうぞよろしくおねがいいたします。
    Saya sangat menyukai senyuman para siswa ketika impian mereka terwujud, dan saya ingin melindungi senyuman itu. Oleh karena itu, mulai sekarang, saya berencana untuk tidak hanya fokus pada pengajaran bahasa Jepang, tetapi juga memberikan dukungan lain bagi para pekerja di Jepang. Saya berharap dapat bekerja sama dengan Anda semua.

    Iya ini contoh yang cukup berat, dan umumnya digunakan untuk jikoshoukai saat lamar kerja menggunakan visa gijinkoku. Kalau jikoshoukai magang, atau specified skill worker harusnya ga sesopan ini juga oke. Coba pakai bahasa yang sopan, formal dan yang terpenting kalian ngerti apa yang kalian omongin ya.

    Itu Jikoshoukai, kali ini kita coba bahas yang satu lagi yaitu JikoPR atau mempromosikan diri. Secara garis besar lebih ke menjelaskan kita itu orang yang seperti apa dan supaya perusahaan bisa menilai kalian itu bisa kepake atau ga. Informasi atau poin penting yang harus kalian sebutkan saat JikoPR bukan tentang nama, atau selama ini pernah kerja dimana ya. JikoPR bisa makan waktu lebih lama sekitar 2~3 menit karena point penting yang perlu kalian sampaikan memang lebih banyak, seperti :

    1. Jelasin kelebihan kamu apa seperti (わたし)(つよ)みは〇〇です (Watashi no tsuyomi wa ... desu.).

    2. Jangan berhenti disitu, setelahnya ceritain juga pengalaman dan pencapaian yang membuat kalian merasa itu kelebihan kamu. Bisa kalian ceritakan pake pola STAR yaitu ceritakan berurutan dari Situation: kondisinya seperti apa, Task: tugas, atau hasil yang diharapkan, Action: aksi apa yang dilakukan untuk mencapai itu, dan terakhir Result: hasil yang kalian dapat.

    3. Terakhir ceritakan juga kontribusi apa yang bisa kalian berikan berdasarkan pengalaman dan pencapaian kalian tadi.

    Contohnya seperti berikut :

    (わたし)(つよ)みは、(こと)なる(ぶん)()(はい)(けい)()(ひと)(びと)のニーズを()(かい)し、それに(おう)じてサポートできるところです。
    Keunggulan saya adalah kemampuan untuk memahami kebutuhan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda dan memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

    漢字(かんじ)はこれまで(なが)(ねん)、インドネシアで()(ほん)()(きょう)()として、()(よう)(もく)(てき)()(せい)()()(えん)してまいりました。(たん)()(ほん)()(おし)えるだけでなく、(かれ)らが()(ほん)(せい)(かつ)したり、()(ほん)()(ぎょう)(はたら)(うえ)(ちょく)(めん)するであろう(ぶん)()違い(かんじ)いや(しゅう)(かん)などについてもアドバイスを(おこな)ってきました。(たと)えば、()(ほん)での(しゅう)(しょく)()()(せい)()には、(めん)(せつ)(たい)(さく)()(れき)(しょ)()(かた)指定(かんじ)(どう)だけでなく、()(ほん)(とく)(ゆう)のビジネスマナーなどを(まじ)えて()(どう)しました。その(けっ)()(おお)くの(せい)()()(ぼぷ)する()(ほん)()(ぎょう)への(しゅう)(しょく)(じつ)(げん)し、『(せん)(せい)のおかげで、()(ほん)での(せい)(かつ)()(ごと)への()(あん)(かい)(しょう)された』という(かん)(しゃ)(こと)()をいただいています。
    Selama bertahun-tahun, saya telah mengajar bahasa Jepang di Indonesia dan membimbing siswa dengan berbagai tujuan. Selain mengajarkan bahasa Jepang, saya juga memberikan nasihat tentang perbedaan budaya dan kebiasaan yang mungkin mereka hadapi saat tinggal di Jepang atau bekerja di perusahaan Jepang. Misalnya, bagi siswa yang ingin bekerja di Jepang, saya tidak hanya membimbing mereka dalam persiapan wawancara dan penulisan CV, tetapi juga mengajarkan etika bisnis Jepang. Akibatnya, banyak siswa berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaan Jepang yang mereka inginkan, dan saya menerima ucapan terima kasih seperti, “Berkat Anda, kekhawatiran saya tentang hidup dan bekerja di Jepang telah teratasi.”

    この(けい)(けん)(つう)じて、インドネシアの(かた)(がた)()(ほん)(せい)(かつ)(しゅう)(ろう)する(さい)(かん)じる()(あん)や、(ちょく)(めん)する()(のう)(せい)のある()(だい)(はだ)(かん)じ、(かれ)らが(ほん)(とう)(もと)めている()(えん)(なん)なのかを(ふか)(かんが)える()(かい)()ました。
    Dari pengalaman ini, saya dapat merasakan secara langsung kekhawatiran yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia saat tinggal dan bekerja di Jepang, serta tantangan yang mungkin mereka hadapi. Hal ini memberikan kesempatan bagi saya untuk memikirkan secara mendalam apa sebenarnya dukungan yang benar-benar mereka butuhkan.

    (わたし)のインドネシア(ぶん)()への(ふか)()(かい)と、()()(じょう)(きょう)()わせたきめ(こま)​やかなサポートを(てい)(きょう)する(のう)(りょく)は、(おん)(しゃ)(かつ)(どう)において(かなら)ずお(やく)()てると(かく)(しん)しております。これまでの(けい)(けん)(つちか)った(けい)(ちょう)(りょく)(もん)(だい)(かい)(けつ)(のう)(りょく)()かし、(おん)(しゃ)(いち)(いん)として、()(ほん)(がん)()るインドネシアの(かた)(がた)(あん)(しん)して(せい)(かつ)し、(かつ)(よう)できる(しゃ)(かい)(じつ)(げん)(こう)(けん)したいと(かんが)えております。
    Saya yakin bahwa pemahaman mendalam saya tentang budaya Indonesia dan kemampuan saya untuk memberikan dukungan yang terperinci dan disesuaikan dengan situasi masing-masing individu akan sangat bermanfaat bagi kegiatan perusahaan Anda. Dengan memanfaatkan kemampuan mendengarkan dan memecahkan masalah yang telah saya kembangkan melalui pengalaman sebelumnya, saya berharap dapat berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat di Jepang di mana orang-orang Indonesia yang bekerja keras dapat hidup dengan tenang dan berkontribusi secara aktif sebagai bagian dari perusahaan Anda.

    Terkesan panjang banget kan JikoPR ini. Iya ngeliat contoh di atas, mungkin banyak yang nganggepnya panjang, padahal kalau kalian lancar ngomongnya, bisa jadi cuman 2~3 menit selesai. Dan memang contoh yang aku kasih tadi itu contoh yang cukup panjang, dan kalian bisa sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kalian. Kalian bisa pake kata-kata dan kalimat yang lebih simple, dan pastikan kalian ngerti apa yang kalian omongin ya. Biasanya setelah JikoPR kalian akan ditanya-tanya berdasarkan apa yang kalian omongin waktu JikoPR.

    Tapi apakah penjelasan ini cukup ngasih gambaran ke kalian apa yang perlu kalian siapin untuk interview kalian nanti? Aku udah bahas mengenai perbedaan budaya interview Jepang dengan Indonesia, contoh-contoh pertanyaan yang krusial saat interview, dan kali ini aku bahas apa itu jikoshoukai dan jikoPR beserta contohnya. Kira-kira apa aja sih yang kalian khawatirkan ketika mau interview ke perusahaan Jepang? Kira-kira apa lagi yang kalian ingin kita coba bahas mengenai interview ke perusahaan Jepang? Atau mungkin ada yang udah pernah ikut interview ke perusahaan Jepang? Coba ceritakan juga ya di kolom komentar, aku mau denger cerita dan pendapat kalian.

  • Kerja di Jepang

    Waspada! 3 Kesalahan Fatal yang Membuat Kamu Di-blacklist Masuk Jepang

    Sempet seru ya, ada isu warga negara Indonesia akan diblacklist secara umum oleh Pemerintah Jepang untuk masuk atau bekerja di Jepang. Khawatir kan udah cape-cape belajar bahasa Jepang, eh bisa-bisa ga jadi berangkat kerja ke Jepang nih. Bersyukurnya ini udah ada klarifikasi bahwa isu tersebut adalah hoaks oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, dan juga tidak ada pernyataan resmi dari Pemerintah Jepang mengenai larangan massal atau blacklist terhadap WNI. Nah tapi sadar ga sih, blacklist yang dimaksud adalah blacklist secara keseluruhan warga negara Indonesia, bukan blacklist secara individual. Sekedar info bahwa kalian masih punya kemungkinan diblacklist kalau bermasalah. Kali ini aku mau coba bahas mengenai blacklist di Jepang ya.

    Seperti yang aku mention tadi, warga negara Indonesia memang tidak diblacklist secara keseluruhan. Kita bisa merasa tenang dengan itu, tapi disisi lain jadikanlah ini sebagai pelajaran atau tamparan untuk kita semua agar bisa lebih berhati-hati dengan kelakuan kita di negara orang. Karena yang namanya blacklist ke negara tertentu, sebenarnya bisa juga terjadi secara individual atau blacklist terhadap 1 orang tertentu. Belum lagi kalau jumlah yang diblacklist ini terus bertambah, kasusnya bisa lebih besar. 

    Kita bisa belajar dari kasusnya Vietnam. Sempat beredar Vietnam telah diblacklist oleh Jepang. Ga semudah itu memblacklist sebuah negara, jadi inget ya sebenernya bukan diblacklist tapi pengawasannya memang diperketat oleh pemerintah Jepang. Jadi warga Vietnam yang ingin sekolah atau kerja di Jepang itu ga sulit tapi ga semudah warga Indonesia saat ini. Sebagai contoh, disana udah banyak institusi/lembaga pengirim yang diblacklist, kantor imigrasi dipaksa untuk lebih ketat dalam pengawasan VISA warga Vietnam di Jepang, dll. Semua ini bukan terjadi tanpa sebab, karena setau aku sebelumnya Vietnam sama Jepang itu akur-akur aja. Kalau aku coba cari tau ternyata dari Vietnam banyak banget pelarian peserta magang, pekerja ilegal, dan juga kasus kriminal selama di Jepang. 

    Aku kasih contoh kasus Vietnam karena kebetulan point kenapa mereka diperketat pengawasannya karena "jumlah kasus pelanggaran dan kriminal". Dimana kalian pasti udah ga bosen dengerin berita aneh-aneh dari rekan kita yang udah di Jepang. Ada yang nyolong tas mahal lah, ada yang ngerampok lah, sampe kasus pembunuhan aja ada loh. Pelakunya macem-macem dari yang belum lama dateng ke Jepang, sampe WNI yang overstayer. Waktu denger pelakunya overstayer aja udah kesel ya, nah ini ada yang belum lama dateng ke Jepangnya tapi udah ngelakuin kriminal gimana ceritanya ya? 

    Udah lah aku mau coba lanjut ke bahasan utama kita kali ini. Kita bisa tenang karena ternyata blacklistnya Indonesia itu hoax, tapi ga bisa tutup mata dengan kenyataan bahwa kita bisa diblacklist sama pemerintah Jepang. Ada beberapa alasan umum yang biasanya menyebabkan seseorang dibekukan atau dilarang masuk kembali ke Jepang (ini termasuk dikenai larangan masuk/deportasi). Secara garis besar aku jabarin kaya gini ya :

    Pelanggaran Imigrasi Serius

    Kurang lebih kasus seperti tinggal melebihi batas waktu izin atau overstay selama di Jepang. Ini adalah salah satu pelanggaran paling umum dan kabar buruknya ternyata WNI yang ngelakuin ini jumlahnya ga dikit. Singkat kata kalau udah habis masa visanya ya pulang ke Indonesia aja ya pilih anatara perpanjang VISAnya atau pulang guys. Ga semua kasus memang bisa perpanjang VISA, jadi perhatikan aturan mainnya ya. Kalau kalian tinggal lebih lama dari izin tinggal (visa) kalian harus siap-siap ga bisa balik lagi ke Jepang setelah dideportasi. Ada juga kasus bekerja secara ilegal dimana mereka beraktifitas di luar tujuan visa mereka. Contoh yang pake visa turis yang ditujukan untuk bertamasya, tapi waktu di Jepang mereka malah bekerja. Ada juga yang memberikan dokumen palsu saat pengajuan visa atau izin tinggal. Kalau ga mau diblacklist ikuti aturan yang ada ya.

    Pelanggaran Hukum Kriminal

    Sesuai namanya, blacklist yang ini terkait kasus melakukan tindak kriminal/kejahatan selama di Jepang. Melakukan tindak pidana seperti pencurian, perampokan, kekerasan, atau kejahatan serius lainnya di Jepang. Kalau sampe ditangkap dan dihukum, orang itu hampir pasti akan dideportasi setelah menjalani hukuman dan setelah pulang dia akan diblacklist dari Jepang. Sebenernya kegiatan yang mengganggu ketertiban umum pun bisa berujung deportasi hingga blacklist. Meskipun kasus ini mungkin tidak selalu berujung blacklist, tapi tindakan yang sangat mengganggu ketertiban umum dan meresahkan masyarakat lokal dapat menyebabkan pengawasan ketat. Jika berulang atau disertai pelanggaran lain, ini bisa berujung sampe masalah imigrasi atau pengetatan kebijakan visa di masa depan.

    Alasan Lain Terkait Visa/Kesehatan

    Ini kasus lain yang mungkin kurang tersorot tapi, masalah kesehatan pun bisa berujung penolakan masuk ya. Kalau sampai kalian membawa penyakin menular tertentu, ada kemungkinan akan berujung ke kasus blacklist. 


    Balik lagi yang aku bahas ini blacklist yang bersifat individual atau ditujukan kepada orang tertentu yang melanggar. Tapi ga menutup kemungkinan kalau sampai warga negara Indonesia yang terlibat kasusnya semakin banyak, warga negara Indonesia akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti warga Vietnam yang ingin ke Jepang. Kalau sampe terjadi ini ga bagus ya, setidaknya kita bisa tau bahwa warga Jepang udah ga percaya secara penuh terhadap warga negara Indonesia. Padahal para senpai udah berusaha membangun dan menjaga kepercayaan terhadap warga Indonesia. Tapi dihancurkan oleh segelintir orang yang hanya melihat diri mereka sendiri.

    Kalau udah diblacklist terus gimana kak?

    Untuk keluar dari blacklist Jepang dan balik lagi ke daftar putih (whitelist), kalian harus menghubungi kedutaan besar atau konsulat Jepang di negara Indonesia. Ini untuk memahami alasan blacklist dan prosedur penghapusan blacklistnya, karena inget ya daftar tersebut tidak mudah untuk diubah dan hanya bisa diperbarui melalui proses resmi. Ga mudah, dan bisa jadi butuh proses yang panjang. Aku sendiri ga paham 100% dengan prosedurnya, jadi aku minta izin jelasin secara singkat dan sepengetahuan aku aja ya. 

    Pertama-tama pahami alasan blacklist. Iya cari tau dulu alasan spesifik kenapa kalian bisa masuk dalam blacklist Jepang. Ini bisa terkait dengan pelanggaran imigrasi, masalah visa, atau aktivitas lain yang melanggar hukum atau peraturan Jepang. Kalau udah tau, coba Hubungi Kedutaan Jepang, untuk cari informasi lebih detilnya tentang proses penghapusan blacklistnya. Biasanya nanti ada dokumen yang perlu disiapkan ya, nanti ikutin aja informasi dari kedutaan Jepangnya. 

    Next biasanya ada proses pengajuan banding, nah di proses ini mungkin akan ada proses verifikasi dan pemeriksaan ulang yang memakan waktu. Terakhir yang paling penting adalah kepatuhan di masa depan, ketika udah masuk ke whitelist lagi, terus apa? Udah cukup kapok kan diblacklist? Jangan diulangin ya! Karena ketika diulangin, sangat mungkin kalian bakal kena blacklist permanen atau proses pengajuan banding di pemutihan berikutnya bisa menjadi sangat sulit untuk diterima. Balik lagi proses ini bisa sangat panjang dan ga ada jaminan pasti berhasil karena tergantung sama kebijakan imigrasi Jepang.


    Gimana guys pembahasan kali ini? Pembahasannya berat ya, tapi izin aku mau mengingatkan sesama pejuang yang ingin berkarir atau berangkat ke Jepang. Setidaknya kita jaga kepercayaan warga lokal Jepang agar kohai atau generasi berikutnya tidak dipersulit saat ingin berangkat ke Jepang ya. Biar ga kejadian deh udah cape-cape belajar bahasa Jepang ternyata ga jadi berangat gara-gara pengajuannya dipersulit sama pemerintah Jepang. Tapi diantara kalian ada ga ya yang pernah diblacklist? Terus gimana cara kalian kembali ke whitelistnya? Boleh sharing dong pengalamannya di kolom komentar ya. Atau kalau sekiranya ada bahasan menarik seputar Jepang dan bahasa Jepang silahkan tulis juga ya di komentar, nanti kita bahas bareng-bareng ya.

J-Class, pernah diliput di :