Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

  • Kerja di Jepang

    Mau Interview ke Perusahaan Jepang? Coba Kenali Dulu Budaya Interview di Jepang

    Hayo siapa di sini yang lagi seneng karena dapet kabar lanjut ke tahap interview? Pasti sengeng ya dengernya baik kabarnya dateng dari perusahaan yang dilamar atau lembaga yang baintuin job match. Seneng juga akhirnya mulai keliatan nih usaha belajar bahasa Jepang sampe ke tahap ini akhirnya akan berbuah. Tapi sekarang muncul pertanyaan "mensetsu atau interview di perusahaan Jepang sama ga ya sama di Indonesia?". Nah sini aku bantuin ngasih gambaran gimana mensetsu atau interview ke perusahaan Jepang ya guys. Coba baca dan pahami sampe beres yuk.

    Ngomong-ngomong apa udah pada tau kalau interview di Jepang itu budayanya beda banget dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia interview sebenernya terkesan formal tapi jujur ternyata ga seformal yang aku bayangin waktu kuliah. Aku sempet bayangin interview itu selalu pake baju jas lengkap dan kesannya formal banget gitu. Tapi dari pengalaman aku ngelamar ke beberapa perusahaan, dan ditambah cerita temen-temen aku sih ternyata banyak yang datang interview pake baju semi formal tapi tampil rapih aja udah cukup. Ya ga semua perusahaan menerima yang seperti ini memang tapi image yang aku ambil tentang interview kerja di Indonesia itu ga begitu formal, dan sangat fleksibel. Ya disisi lain ini point plus ya.

    Tapi bagai mana dengan di Jepang? So kita coba masuk ke point pembahasan seperti apa budaya interview di Jepang. Buat yang ga tau, interview di Jepang dengan di Indonesia itu budayanya beda banget. Secara garis besar bedanya di seserius apa pelaksanaannya. Di Indonesia aku mau coba detailkan lagi, bahwa interview itu formal tapi ga dikit perusahaan di Indonesia yang melaksanakannya lebih fleksibel menyesuaikan kondisi. Peserta interview yang terkesan nyantai dan bisa bercakap casual blak-blakan, datang telat ke interview pun masih banyak yang di perbolehkan, format CV lebih bervariasi bahkan sampe jadi ajang kreatifitas, selama bisa beperilaku sopan, gerak gerik dan kelakuan selama interview biasanya ga begitu diperhatikan. Nah di Jepang itu bedanya di tingkat formalitasnya. Kita coba bahas satu-satu yuk.

    1. Ketepatan waktu akan sangat dinilai di Jepang. Kalau kalian telat 1 menit aja untuk datang ke interview itu sama aja kalian ga sopan dan ga ngerhargain mereka. Jadi omat ya guys, perhatikan waktu dan jangan sampai telat untuk datang ke interviewnya. Coba usahain datang 15 menit sebelum mulai kalian udah tiba di lokasi, atau kalau interviewnya online setidaknya 10-5 menit sebelum mulai kalian udah standby untuk masuk ruangannya.

    2. Penampilan perlu diperhatikan juga guys. Kalau di Indonesia selama penampilan rapih tuh masih banyak yang ngizinin, di Jepang punya standarnya sendiri. Seperti harus pake setelan Jas hitam atau gelap, pake dasi, dll yang intinya formal banget dah.

    3. Formalitas dan etika di Jepang pun jauh lebih ketat. Bukah hanya harus pake gaya bahasa sopan, tapi kita perlu perhatikan gerak-gerik seperti ketika membungkuk (ojigi), cara masuk dan keluar ruangan, cara duduk, hingga gerak-gerik ketika berbicara akan sangat dinilai di perusahaan Jepang. Contoh baiknya coba untuk tunjukkan sikap rendah hati, menghormati pewawancara, dan berbicara dengan nada sopan dan tenang. Hindari gerakan berlebihan, memotong pembicaraan, atau terlalu banyak berbicara tentang diri sendiri. Duduk tegak dengan kedua kaki rapat. Jangan main duduk dan tunggu dipersilakan duduk. Matikan ponsel jangan sampe telepon mengganggu proses interview.

    4. CV di Jepang ada format wajib yang perlu kita ikutin. Kalau yang ini coba check di internet aja kalian udah bisa dapet banyak referensi yang bagus. Kalau engga coba check template dan tips cara penulisan CV ini ya. 

    5. Persiapkan worst casenya. Kalau interviewnya online, pastikan juga kondisi listrik dan internet kalian baik. Keluar di tengah-tengah interview ini dianggap kurang persiapan oleh mereka. Persiapkan untuk case hal tadi terjadi, seperti sediakan 2 koneksi internet takutnya yang 1 tiba-tiba mati, kemudian pake laptop atau tablet yang batrenya masih cukup banyak biar kalau mati lampu masih bisa tetep jalan interviewnya.

    6. Berikutnya adalah kemampuan. Jelas banget ya, kalau kalian ingin bekerja di Jepang pastinya skill bahasa Jepang kalian akan dinilai selama proses interview. So pelajari lagi dan dalami lagi bahasa Jepangnya biar ketika interview bisa lebih matang ya. Jangan sampai kalian punya sertifikat N4 atau bisa jadi punya N2 tapi waktu di ajak ngobrol waktu interview kalian ga bisa ngomong apa-apa.

    7. Perusahaan di Jepang sangat menghargai sikap positif, motivasi, dedikasi, loyalitas, dan kemampuan beradaptasi. Jadi coba tunjukkan bahwa kalian bersedia belajar, bekerja keras, dan beradaptasi dengan budaya kerja mereka. Kasih jawaban yang jujur dan masuk akal juga ya, jawaban berlebihan akan keliatan loh.

    8. Pertanyaan yang dilontarkan saat interview pun akan sangat berbeda. Di Indonesia mungkin lebih fokus ke pengalaman dan skill pelamarnya. Nah di Jepang pertanyaannya akan lebih luas. Selain pertanyaan tentang latar belakang dan pengalaman, pewawancara juga sering ingin mengetahui motivasi kalian untuk bekerja di Jepang, pemahamanmu tentang budaya Jepang, dan bagaimana kamu akan beradaptasi. Pertanyaan yang menguji karakter dan kemampuan adaptasi sering muncul, seperti "Jika kamu binatang, kamu binatang apa?". Untuk pertanyaan yang krusial akan aku coba bahas lebih detail di artikel berikutnya ya.

    Udah mulai dapet bayangan gimana interview di Jepang? Yang aku sebutin tadi bisa jadi ada point yang berbeda tergantung perusahaan yang kalian lamar. Karena ya meskipun sedikit tapi di Jepang pun ada perusahaan yang lebih santai budayanya. Tapi saran aku sih biar bisa diterima, kita ga ada salahnya untuk mempersiapkan sesuai dengan budaya interview di sana. Apakah artikel ini bermanfaat buat kalian? Terus kalau ada yang pernah interview atau mensetsu ke perusahaan Jepang, coba ceritain juga di kolom komentar dong pengalaman kalian selama interview. Aku mau dengerin cerita kalian.

  • Kerja di Jepang

    Kenalan Sama TG Konstruksi, Di Indonesia Masih Minim Peminatnya?

    Di sini siapa yang belum denger tentang TG Konstruksi? Memang kalau ngomongin TG atau tokutei ginou, orang-orang langsung ngomongin antara TG Perawat, TG Perikanan, atau mungkin TG Pertanian, ya kebetulan 3 TG tadi memang cukup banyak di Indonesia. Nah tapi kebetulan kemarin-kemarin aku check ulang data mengenai angka tokutei ginou guys, dan dari data itu aku nemu sesuatu yang menarik, yaitu ternyata ada satu kategori TG yang mungkin kurang disorot di Indonesia tapi permintaannya ternyata cukup banyak. TG apa itu? Yuk kita coba masuk pembahasan.

    Apa akan aku coba bahas pertama adalah sebanyak apa peserta TG yang masuk di bulan desember 2024. Kalau kita baca data tersebut sebenernya kita bisa dapet banyak insign yang menarik. Dan respon pertama aku sih "ternyata banyak juga ya permintaan TG Konstruksi". Dari Indonesia paling banyaknya dari sektor kaigo, dan kedua di sektor pengolahan makanan, dan kemudian di sektor perikanan. Kalau kita liat secara keseluruhan angka, ternyata ada sektor yang mungkin kurang dilirik di Indonesia salah satunya itu TG Konstruksi atau (けん)(せつ)(ぶん)(). Bisa kalian check di tabel berikut :

    Sumber: 外国入国管理事務証の特愛知技能の2025年報告

    Kenapa kali ini aku mau ngebahas khusus untuk TG Konstruksi? TG Kontruksi ini ada di posisi ke 4 terbanyak dengan jumlah 13.5% dari keseluruhan, dan kebetulan sebenernya permintaannya terhadap WNI itu ada dan cukup banyak, tapi masih banyak WNI yang kurang aware atau kenal sama TG yang satu ini. Kalau kita liat dari data detailnya, peserta ikut test dari Indonesia masih terbilang sedikit. Belum lagi yang berhasil lulus setelah ikut test TG konstruksi pun belum setinggi itu, bisa kalian check dari data berikut :

    Sumber: 一般社団法人建設技能人材機構 (JAC)

    So, aku mau ambil kesempatan ini untuk ngenalin sedikit ke temen-temen mengenai TG Konstruksi. Siapa tau ada yang tertarik dan mau ngambil kesempatan untuk ke Jepang via TG Konstruksi ini ya. FYI, Japan Association of Construction Human Resource (JAC) udah mulai ngelirik Indonesia loh, jadi kedepannya kita bisa pasang ekspektasi bakal ada pelatihan dan juga seminar untuk TG konstruksi di Indonesia ya. Dengan gini siapa tau peminat TG konstruksi di Indonesia meningkat, diikuti dengan persentasi kelulusannya.

    So kalau aku jelasin apa sih yang dilakukan atau di kerjakan kalau kalian ke Jepang lewat TG Konstruksi? Sebenernya TG Konstruksi terbilang luas banget ranah pekerjaannya. Kalau kita ambil garis besarnya, kita bisa bagi jadi 3 kelompok yaitu 'pekerjaan teknik sipil', 'pekerjaan arsitektur', dan 'pekerjaan lifeline/infrastruktur dan pemasangan'.Detailnya akan seperti berikut :

    Pekerjaan Teknik Sipil

    Pekerjaan teknik sipil lebih berfokus pada pekerjaan yang berkaitan dengan infrastruktur berskala besar dan proyek di luar bangunan. Pekerjaan ini umumnya dilakukan di area terbuka dan lebih melibatkan perancangan, pembangunan, dan pemeliharaan struktur yang mendukung keseharian masyarakat. Biasanya yang masuk kedalam kategori ini seperti pekerjaan pembangunan bendungan, pembangunan sungai/pantai seperti pemecah gelombang, tembok laut, dll. Ada juga pembangunan jalan, berbagai macam terowongan, jembatan, rel kereta, dan lainnya. Jadi memang fokus untuk infrastruktur yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat.

    Pekerjaan Arsitektur

    Pekerjaan Arsitektur ini berfokus pada pekerjaan yang berkaitan dengan pembangunan dan penyelesaian interior maupun eksterior bangunan. Kategori ini umumnya dilakukan di dalam atau di sekitar area bangunan, dan sering kali memerlukan keahlian detail untuk menciptakan struktur yang fungsional dan estetis. Nah yang termasuk pekerjaan arsitektur meliputi pekerjaan tukang kayu bangunan, pemasangan bata/batu bangunan, pemasangan atap, penyelesaian interior dan eksterior, pemasangan besi tulang, pemeliharaan/perawatan/renovasi rumah dan lainnya.

    Pekerjaan Lifeline/Infrastruktur dan Pemasangan

    Pekerjaan lifeline/infrastruktur dan pemasangan ini berfokus pada pekerjaan yang berkaitan dengan pemasangan, perbaikan, dan pemeliharaan sistem utilitas dan peralatan di dalam atau di luar bangunan. "Lifeline" di sini merujuk pada sistem vital yang menopang kehidupan sehari-hari, seperti listrik, air, dan gas. Nah kalau kita coba detailkan lagi, yang termasuk pekerjaan lifeline meliputi pekerjaan kelistrikan, pekerjaan gas kota seperti pemasangan pipa gas, suplai air, bahkan drainase. Ada juga Pekerjaan telekomunikasi seperti pemasangan jaringan dan alat-alat internet. Ada juga pekerjaan berhubungan alat-alat yang mengendalikan suhu ruang seperti pemasangan AC, pemasangan bahan insulasi termal, dan juga pekerjaan lainnya.

    Khususnya di bidang lifeline ini ternyata cukup banyak permintaan yang masuk untuk WNI guys. Tapi karena peminat dan yang memang udah punya kualifikasinya belum banyak, terkadang mereka kesulitan untuk dapetin pekerja dari WNI, dan berakhir mencari dari negara lain. Sayang ga sih kalau gini terus? Makanya aku mau ngenalin kalian sama TG Konstruksi ini. Minimal ada beberapa yang nonton mungkin tertarik untuk ikut TG Konstruksi.

    Fun fact dari pengalaman orang yang udah ikut, di sektor konstruksi ini banyak bistrip ke berbagai tempat di Jepang, jadi bakal banyak ketemu teman baru dan kebetulan rekan kerjanya memang orang lapangan tapi relatif lebih berpendidikan karena bareng orang-orang yang ngerti listrik atau jaringan. Jadi case ketemu perlakuan bullying lebih jarang terjadi kalau dibanding sektor lainnya. Tapi tetep ya, perkuat lah kemampuan bahasa Jepangnya sebelum berangkat, biar bisa lebih mudah akrab sama orang-orang sana dan memperkecil kemungkinan dibully.

    TG Konstruksi memang punya kesan yang berbahaya dan keras banget kerjanya. Karena pasti udah ngebayangin kalian naik ke rangka bangunan yang tinggi, bawa barang-barang berat, kalau ga hati-hati bisa ketimpa barang berat, dan macam-macam pikiran negatif kita. Tapi sebenernya di Jepang itu udah ada standar yang tinggi untuk menjamin keselamatan para konstruktornya jadi selama mengikuti standar keselamatan, kalian harusnya bisa lebih tenang selama bekerja di sana. Semoga aja kalian yang sudah ngerasain pengalaman standar keselamatan kerja yang tinggi di Jepang, nantinya bisa kalian aplikasikan di Indonesia waktu udah punya perusahaan konstruksi di Indonesia ya.

    Nah bagaimana nih bahasan kali ini? Kali ini mungkin ga begitu relate sama belajar bahasa Jepangnya ya. Tapi semoga membantu buat kalian yang masih cari-cari informasi kerja ke Jepangnya mau di bidang apa.Apakah dengan baca tulisan ini kalian jadi tertarik atau mulai mempertimbangkan untuk ikut TG konstruksi? Atau mungkin ada yang masih khawatir dan ragu-ragu? Karena mungkin ngebayangin kerja konstruksi itu keras banget gitu ya. Tapi apapun pendapat kalian, coba tulis dong di kolom komentar ya, aku mau tau pendapat kalian.

  • Kerja di Jepang

    List Pertanyaan Krusial Saat Interview ke Perusahaan Jepang

    Sebelumnya kita udah bahas bagaimana sih budaya interview di Jepang ya. Yang belum baca-baca, kalian bisa check di artikel ini dulu sebelum lanjut ya. Karena ini akan jadi lanjutan dari bahasan artikel itu dan kali ini kita akan coba fokus ngebahas jenis pertanyaan krusial yang biasanya ditanyakan saat interview di perusahaan Jepang. 

    Sebelumnya aku sempet mention juga bahwa jenis pertanyaan interview di perusahaan Indonesia dan Jepang secara garis besar agak berbeda. Di perusahaan Indonesia pertanyaan krusialnya mungkin lebih banyak mengenai skill dan pengalaman yang berkaitan dengan kecocokan kalian di posisi yang akan ditempati nanti. Kalau bagian itu udah cocok, sisanya mungkin lebih ke ngobrol basa basi. Ya, ga semua perusahaan seperti itu, tapi umumnya interview di Indonesia seperti ini.

    Nah di Jepang kecocokan skill & pengalaman dengan posisinya memang krusial, tapi cocok skillnya cocok aja ga akan menentukan kalian bisa diterima. Di Jepang selain pertanyaan tentang latar belakang dan pengalaman, pewawancara juga sering ingin mengetahui motivasi kuatmu bekerja di Jepang, pemahamanmu tentang budaya Jepang, dan bagaimana kamu akan beradaptasi. Pertanyaan yang menguji karakter dan kemampuan adaptasi pun sering ditanyakan. 

    Sekali lagi aku ingetin ya, apa yang aku share tentang pertanyaan interview ini bisa jadi ga lengkap, ga mutlak dan biasanya tiap perusahaan punya pertanyaan-pertanyaan dan standar jawabannya masing-masing. Jadi anggap aja ini sebagai gambaran umum yang mungkin bakal muncul pertanyaan seperti apa, dan kalau kalian udah tau setidaknya kalian bisa punya persiapan yang lebih mateng. List pertanyaannya krusial di Perusahaan Jepang akan seperti berikut:

    • ()()(しょう)(かい)をお(ねが)いします (Silahkan perkenalkan diri kamu)

      Biasanya cukup perkenalkan diri, seperti nama, latar belakang pendidikan, minat di posisi apa, pengalaman yang relate dengan pekerjaan tujuannya. Tapi aku mau coba bahas lebih detail di artikel terpisah ya. Sekaligus dengan contoh-contohnya.

    • ()()PRをしてください (Silahkan promosikan diri kamu)

      Ini ga selalu diminta, tapi cukup sering diminta untuk mempromosikan diri kalian. Intinya coba buat perusahaan merasa kamu itu orang yang tepat untuk posisi ini. Ini cukup detail, so aku coba bahas di artkel terpisah beserta contohnya ya.

    • あなたの(ちょう)(しょ)(たん)(しょ)(おし)えてください (Tolong jelaskan kelebihan dan kekurangan kamu)

      Ini udah jadi template yang pasti muncul di interview. Biasanya untuk memahami kesadaran diri kalian, dan yang dicari itu kandidat bisa jujur, reflektif, dan proaktif dalam mengatasi kelemahan atau engga. Coba sebutin 2-3 kelebihan contohnya teliti, bertanggung jawab, cepat belajar, dll. Kemudian coba ceritakan sedikit kenapa kalian bisa bilang itu kelebihan kalian. Untuk kekurangan, sebutin aja 1 yang tidak krusial di dalam pekerjaan, dan paling pentingnya itu jelasin juga bagaimana kalian menyelesaikan atau menangani kekurangan kalian supaya hal buruk tidak akan terjadi.

    • なぜ(とう)(しゃ)(おう)()しましたか? (Kenapa kamu melamar ke perusahaan ini?)

      Riset dulu sedikit mengenai perusahaan yang kalian lamar, dan coba kaitkan visi dan misi perusahaan dengan alasan kalian ingin melamar. Mereka ga mau nerima pelamar yang alesannya karena hanya ada lowongan pekerjaan.

    • キャリアプランを(おし)えてください (Jelaskan rencana karir kamu)

      Cara nanyanya mungkin beda-beda, tapi sering kali ditanyakan tentang rencana karir kalian di perusahaan tersebut. Rata-rata ditanyain seperti "kamu dalam 3-5 tahun udah jadi apa di sini?", dll.

    • これまでの(けい)(けん)で、(もっと)(いん)(しょう)(のこ)っている(せい)(こう)(たい)(けん)(しっ(ぱい)(たい)(けん)(なん)ですか?(Ceritain pengalaman kamu terbaik dan terburuk kamu)

      Sering kali ditanyakan pengalaman terbaik dan terburuk kamu apa selama ini. Cukup jelaskan situasinya, tindakan yang ambil, dan hasilnya (termasuk pembelajaran dari kegagalan).

    • なぜ()(ほん)(はたら)きたいのですか?(Kenapa ingin kerja di Jepang?)

      Biasanya cuman memastikan motivasi kalian kuat dan tidak hanya sebatas "ingin jalan-jalan". Jelaskan ketertarikan Anda pada etos kerja Jepang, budaya perusahaan Jepang, teknologi, atau keinginan untuk mengembangkan diri di lingkungan yang berbeda, jadi fokus sama jawaban yang berhubungan dengan karir, dan hindari jawaban klise atau terlalu fokus pada hal-hal turis.

    • ()(ほん)(ぶん)()(しゅう)(かん)について、どのくらいご(ぞん)()ですか? (Udah tau sebanyak apa tentang budaya kerja di Jepang?)

      Sebaiknya research dulu budaya kerja di Jepang, supaya kalau ditanyakan pertanyaan ini, kalian bisa jawab dengan benar.

    • あなたは(どう)(ぶつ)だとどんな(どう)(ぶつ)ですか? (Kalau kamu binatang, kamu binatang apa?)

      Untuk yang kerjanya pake visa gijinkoku (profesional worker) mungkin akan ada pertanyaan yang tricky seperti yang satu ini. Pertanyaan ini ga baik kalau kalian cuman jawab nama binatangnya seperti kalian jawab "harimau" aja. Tapi kalian perlu jelasin kenapa kalian melihat diri kalian sebagai "harimau", apakah karena kalian "pemberani","percaya diri", atau mungkin "berkarisma" apapun itu kalian harus bisa jelasin alesannya. Yang interviewnya untuk kerja profesional worker siap-siap ada pertanyaan-pertanyaan yang tricky seperti ini ya.

    • (なに)(しつ)(もん)はありますか? (Apakah ada pertanyaan?)

      Ini pertanyaan yang selalu ditanyakan di menjelang akhir interview. Biasanya kalau udah ditanyain ini tandanya interview udah masuk ke fase terakhir. Jangan sampai salah, ini pertanyaan yang sangat penting loh. Biasanya dijadikan standar untuk mengukur tingkat ketertarikan dan inisiatif kalian, jadi kalau ga nanya justru bisa dianggap tidak tertarik, dan kalian berakhir ga terpilih. Penting untuk siapkan 1 atau 2 pertanyaan seperti "Bagaimana budaya kerja tim di departemen ini?", "Teknologi apa yang dipakai di perusahaan ini?, atau "Apa saja tantangan terbesar yang mungkin saya hadapi di posisi ini?" silahkan sesuaikan dengan posisi yang kalian incar juga ya. Satu lagi, hindari pertanyaan yang jawabannya bisa ditemukan di website perusahaan, makanya penting untuk riset dulu perusahaannya.

    • Pertanyaan lainnya

      Tadi aku share pertanyaan krusial yang umum ditanyakan. Kalian ke Jepangnya nanti pakai visa apa? Terus kerjanya jadi apa? Itu akan menentukan pertanyaan yang lainnya. Contoh, untuk yang ke Jepang magang atau mau sekolah ke nihongo gakko, biasanya pertanyaan lainnya akan jadi lebih simple. Kaya "hobi kamu apa?", atau "apa yang kamu sukai dari Jepang?". Pertanyaan tadi biasanya hanya untuk perusahaan atau sekolah bisa tau kalian udah bisa diajak ngobrol pake bahasa Jepang atau belum.

    Yang berangkat pake specified skill worker (SSW / TG) itu biasanya sedikit lebih detail pertanyaannya. Selain pertanyaan seperti "hobi" atau "kesukaannya di Jepang", biasanya ada juga pertanyaan mengenai bidang kerjaan kalian lamar. Balik lagi, meskipun lebih detail tujuannya untuk nentuin kalian udah bisa diajak ngobrol pake bahasa Jepang atau belum, dan udah siap nerima arahan yang lebih detail saat kerja nanti. Jadi selama kalian bisa jawab pertanyaan-pertanyaannya, kalian udah dianggap siap dari segi bahasa Jepangnya.

    Makanya penting untuk menguasai bahasa Jepang dan banyak latihan. Contoh kalian bisa latihan di depan kaca, sambil liat expresi kalian, sambil latihan menjawab pertanyaan-pertanyaan penting tadi. Setidaknya kalian bisa lebih siap untuk menghadapi mensetsu / interview. Pertanyaan lainnya yang aku mention barusan memang akan disesuaikan dengan level pesertanya. Masa iya kalian yang masih N5 tiba-tiba ditanyain pertanyaan yang susahnya minta ampun? Mereka pun ga akan masang ekspektasi yang tinggi untuk yang masih N5. So coba lebih rileks dan siapin aja jawaban yang sekiranya muncul di interviewnya, dan jangan lupa tata krama dan budaya interview Jepangnya ya.

    Bagaimana guys materi kali ini? Aku baru bahas interview mengenai budaya interview dan pertanyaan umumnya ya. Ada detail interview yang akan aku bahas di artikel terpisah. Nanti kalau udah ada aku pasang juga linknya di artikel ini ya. Tapi gimana menurut kalian setelah mengetahui budaya interview di Jepang? Apakah kalian ngerasa budaya interview disana berlebihan? Atau memang budaya interview itu seharusnya seperti ini? Coba tulis di kolom komentar ya guys. Aku mau denger pendapat kalian.

  • Kerja di Jepang

    Mending jadi Budak Korporat di Indonesia atau Jepang?

    Kalau kita tanya orang-orang yang ingin kerja ke Jepang "kerja ke Jepang mau kerja apa sih?". Ternyata masih banyak yang mikir "yang penting bisa kerja di Jepang", atau mungkin banyak yang udah punya target ingin kerja pake visa specified skill worker atau tokutei gino. Tapi udah pada tau ga sih kerjaanya seperti apa? Yang jawab mau kerja pake visa tokutei gino aja banyak yang belum bisa bayangin kerjanya gimana, apa lagi yang jawab yang penting kerja di Jepang, KACAU ga sih? So aku mau ngasih sedikit gambaran kerja di Jepang itu gimana, sekaligus kita bandingin mending mana kerja jadi budak korporat di Indonesia atau kerja di Jepang.

    Memang kerja di Indonesia gimana sih? Setidaknya saat ini banyak gambaran bagaimana kerja di Indonesia. Kalian mungkin ga mau kerja kreatif seperti musisi atau seniman karena masih banyak yang kurang dihargai, atau ga mau jadi petani ataupun kerjaan-kerjaan fisik karena kurang menjamin ditambah dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, bisa jadi saat ini kerjaan yang mungkin setidaknya menjamin dan tidak se-menguras energi seperti kerjaan fisik adalah jadi budak korporat.

    Ga bisa dipungkiri sih lika-liku jadi budak korporat di Indonesia pun sebenernya lumayan rumit. Pihak perusahaan yang mati-matian berusaha mempertahankan perusahaannya tetap hidup di tengah ekonomi yang amburadul, di sisi lain pihak karyawan pun ingin gajinya terus meningkat supaya hidupnya lebih tenang. Belum kalau dapet pimpinan yang ga tau cara mimpin sebuah tim, dsb. Jadi budak korporat di Indonesia pun banyak ga enaknya.

    Jadi untuk kalian yang ogah jadi budak korporat di Indonesia dan memilih untuk kerja di Jepang. Nih aku kasih tau 1 kesimpulan kerja di Jepang ya! "Kerja di Jepang itu bisa jadi lebih GA ENAK daripada di Indonesia" Mungkin di social media banyak yang nunjukkin enak-enaknya ya kerja di Jepang itu seperti apa. Yang ngebuat banyak orang Indonesia yang liat konten itu jadi tertarik untuk kerja di Jepang. Contoh ada yang bilang gaji di Jepang itu ampe 50 juta, fasilitas dan tunjangan yang menarik, sisten kerja yang disiplin, dll. Apakah semua itu benar? Atau cuman omon-omon aja?

    Pertama kita liat dari gaji, "Mereka bilang gaji sampe 50 juta perbulan". Statement ini beneran loh, tapi ga semuanya bisa sampe 50 juta perbulan. Kalau gaji kalian GA sampe 50 juta perbulan berarti jenis pekerjaan atau jam kerja kalian atau bisa jadi kaliannya yang tidak layak di bayar 50 juta. Logikanya gini loh, kalau kalian ke Jepang "Magang" atau "Tokutei Gino", kemungkinan besar kalian sulit banget untuk dapet gaji sampe 50 juta perbulan, karena 2 kategori visa tadi itu biasanya pekerjaan kasar atau blue collar seperti buruh pabrik, pertanian, perawat, konstruksi, dll. Sehingga secara value yang kalian kasih ke perusahaan tidak sebesar itu. Memang betul kalau dibanding kerja kasar di Indonesia memang bisa dapet bayaran yang lebih besar, tapi jangan berangkat dengan bawa harapan gaji kalian 50 juta perbulan dari pekerjaan itu. 

    Kalau mau sampe 50 jutaan, kalian perlu dapet pekerjaan yang valuenya tinggi dan juga membutuhkan skill yang lebih tinggi, atau biasa disebut white collar seperti pekerja kantoran, interpreter, IT engineer, dll. Dimana syarat pengajuan dan diterima sama perusahaannya aja memang butuh skill yang tinggi ya. Itupun belum bisa menjamin kalian bisa di gaji 50 juta. Untuk bisa kerja kantoran di Jepang ini yang aku saranain dan bisa kalian capai dengan pake visa gijinkoku, jadi kalian memang direkrut sebagai profesional worker sama perusahaan Jepangnya. 

    Selain itu, budaya kerja di Jepang pun ga kalah ngeselin sama di Indonesia. Malah bisa jadi banyak yang bilang lebih ngeselin. Terutama untuk kalian yang memang memuja work life balance, kalian perlu perhatikan baik-baik ya. Budaya kerja di Jepang itu aneh dan jauh dari kata work life balance. Aku kasih contoh deh, "lembur yang jadi hal yang wajar sampe ada istilah karoshi", "ga ada istilah 'tenggo' jadi ga boleh pulang duluan meskipun udah jam pulang sebelum rekan-rekan terutama atasannya pulang", "budaya Nomikai (minum-minum) setelah jam kerja yang dianggap ga loyal kalau ga ikut", "kurangnya cuti berbayar", dll. Ada banyak yang aneh tapi nyata di budaya kerja Jepang. Jadi yang aku ceritain tadi kayanya yang memang umum diketahui sama banyak orang, sisanya kalau penasaran coba cari tau sendiri, pasti kalian nemu banyak budaya kerja Jepang yang bikin menghela nafas.

    Setelah denger contoh tadi kalian masih ngerasa bisa work life balance di Jepang? Aku yakin GA BISA. Setidaknya kalau kalian mengharapkan work life balance, kalian pasti kecewa dan ingin pulang lagi ke Indonesia. Terus gimana dong kak? Kok orang-orang pada betah kerja di Jepang? 

    Orang yang betah kerja di Jepang itu ingat dan menanam pada diri mereka bahwa "ga ada tempat kerja yang sempurna". Jadi budak korporat di Jepang ataupun di Indonesia punya nilai plus dan minusnya masing-masing. Jadi pilih resiko yang masuk akal buat kalian. Kalau mau dapet bayaran lebih tinggi, silahkan ke Jepang dengan resiko kerjaan kalian yang lebih banyak dan juga perlu menhadapi budaya dan etos kerja di sana. Kalau di Indonesia bisa jadi kerjaan kalian bisa lebih santai, tapi gajinya pun santai ya. Kalau mau gaji yang besar waktu kerja di Jepang, silahkan kejar gijinkoku tapi dengan catatan perlu skill dan value yang lebih tinggi ya. 

    FYI kerja magang atau tokutei gino utamanya perusahaan Jepang butuh pekerja yang bisa dibayar MURAH. Jadi kalau ke Jepang menggunakan program atau visa yang tadi aku sebutin sih ya jangan berharap gaji yang besar seperti bekerja sebagai profesional worker. "Tapi kan kak MURAH bagi perusahaan Jepang bisa jadi MAHAL buat warga Indonesia", ya kalau kalian ngerasa oke dengan itu aku sih ga akan bilang apa-apa lagi ya, silahkan ambil pilihan kalian. Aku saat ini cuman mau ceritakan ada pilihan yang lebih baik loh. 

    Kesimpulan, aku bukan mau nakutin kalian yang mau kerja ke Jepang, tapi untuk memberikan gambaran bahwa kerja di Jepang itu budayanya lebih keras kalau dibanding di Indonesia, dengan catatan bayaran yang lebih layak ya. Kalau mau kerja ke Jepang magang atau tokutei gino supaya ga butuh syarat skill yang tinggi, silahkan!. Mau ke Jepang untuk gijinkoku atau kerja profesional supaya dibayar dengan gaji yang lebih besar? Aku sih saranin yang ini ya. Atau mau kerja jadi budak korporat di Indonesia? Ya pilihan ada di tangan kalian. So, pilihan apa sih yang mau kalian ambil? Terus kenapa kalian pilih itu coba tulis dikomentar dong. Aku mau tau pendapat dan pilihan kalian.

  • Kerja di Jepang

    Ginojisshu atau Internship? Mungkin kalian belum tau visa ini!

    Kalau kita tanya orang "mau kerja ke Jepang pakai visa apa kak?", jawabannya mungkin ga jauh ya, kalau ga visa ginojisshu (magang), bisa visa tokutei gino (specified skill worker), atau bisa jadi visa gijinkoku (profesional worker)?. Memang ya untuk urusan kerja ke Jepang 3 visa tadi memang yang paling diketahui sama banyak orang Indonesia. Tapi kalian udah kenal sama visa yang satu ini belum? Namanya "Visa internship", yang belum kenal yuk aku coba bahas, siapa tau ada yang cocok.

    インターンシップビザ atau visa internship ini sendiri sering disamakan atau disalah artikan menjadi 技能実習ビザ atau visa ginojisshu yang sering diartikan magang. Ya mungkin karena namanya "internship" ya, secara arti sama kaya ginojisshu yang merujuk ke "magang". Hanya yang satu itu bahasa Inggris, dan yang satunya di Indonesia suka diartikan magang. Tapi ternyata 2 visa ini sebenernya berbeda guys. 

    Untuk yang ginojisshu aku udah sempet bahas di beberapa artikel sebelumnya nih. Kalian bisa check di artikel berikut :
    1. Perbedaan Ginojisshusei dengan Tokuteigino
    2. KERJA di JEPANG itu BERAT. Jadi mendingan Magang atau Tokutein Ginou ya ?
    3. Program Magang di Jepang jadi di Hapus?
    4. Program Ikusei Shuurou, Program Pengganti Magang di Jepang

    Jadi kalau yang belum tau tentang ginojisshu, coba baca dulu artikel-artikel di atas ya.

    Nah kali ini aku mau fokus bahas mengenai visa internship yang kebetulan kayanya masih banyak yang kurang tau detilnya. Jangankan detilnya, kayanya masih banyak juga yang ga tau keberadaan visa internship ini. Nah aku akan coba bandingkan dengan visa ginojisshu juga ya, karena kebetulan 2 visa ini punya banyak kemiripan.

    Pertama, kita bahas tujuan visanya. Berbeda dengan ginojisshu yang fokus pada pelatihan kerja (technical internship) untuk ningkatin keterampilan teknis yang dapat diterapkan di negara asal, internship ini fokusnya ke peserta magang yang ingin mendapatkan pengalaman kerja di Jepang dalam waktu singkat. Umumnya visa internship cuman selama 3 bulan sampai 1 tahun, beda sama ginojisshu yang bisa sampai 5 tahun tergantung levelnya. Hebatnya, visa internship bidangnya pun lebih felksibel, yang mau dapet pengalaman bisnis, bekerja di berbagai macam teknik seperti IT pun bisa menggunakan visa ini. 

    Untuk internship biasanya status visanya menggunakan "Cultural Activities" (文化活動) atau "Designated Activities" (特定活動) tergantung kesepakatan dengan perusahaannya. Jadi visa internship biasanya lebih fleksibel secara syarat pengajuan. Karena pemerintah tidak terlalu incharge dalam visa ini. Biasanya diatur oleh perusahaan penerima atau lembaga yang bekerjasama dengan perusahaannya, dan tidak ada pelatihan resmi atau standar yang ditentukan dari pemerintah. Dengan kata lain, karena tujuannya memberikan pengalaman kerja, meskipun bahasa Jepang kalian masih 0 juga sebenernya bisa berangkat selama ada perusahaannya mau nerima. Berbeda dengan ginojisshu yang diatur ketat oleh badan pemerintahan yaitu OTIT (Organization for Technical Intern Training), sehingga syarat pengajuannya lebih ketat.

    Tapi balik lagi ya, aku sih ga nyaranin bahasa Jepang masih 0 terus berangkat ke Jepang untuk kerja. Sekalipun ada perusahaan yang mengizinkan mereka yang masih NOL, aku tetep saranin setidaknya punya N4 dulu. Dari sisi pekerjaan, kalian akan lebih mudah kalau udah bisa bahasa Jepang, selain itu kalian butuh berinteraksi dengan orang Jepang dalam keseharian agar bisa bertahan hidup. FYI, Orang Jepang rata-rata ga percaya diri sama bahasa Inggris mereka, jadi kalau diajak ngobrol pake bahasa Inggris mereka banyak yang menghidar. Bahkan menurut survey, kemampuan bahasa Inggris orang Jepang berada di posisi 92 dari 116 negara non-native English. Sekarang udah ngerti kan kenapa aku saranin setidaknya N4 atau basic bahasa Jepang dulu sebelum berangkat?

    Nah karena internship ga wajib pakai sertifikat JLPT, sehingga kalian bisa mencoba test bahasa Jepang selain JLPT, seperti JLCT dan lainnya. Setidaknya kalian bisa membuktikan ke perusahaan yang akan menerima kalian bahwa kalian sebenernya udah punya kualifikasi bahasa Jepang, sekaligus membangun kepercayaan diri kalian untuk bisa tinggal dan bekerja di Jepang. 

    Hal lain yang mungkin perlu diketahui adalah, pemerintah tidak ikut andil seleksi dan penyelenggaraan internship, sehingga jaminan pelaksaan internship tidak terlalu terkontrol oleh pemerintah. Meskipun begitu pemerintah tetap mengawas kegiatan selama proses internship, jadi kalau ada apa-apa bisa tetep ngandelin pemerintah kok. Saran aku sih ga ada salahnya untuk cari-cari tau dulu perusahaan yang akan kalian lamar. Kalau sekiranya menghawatirkan, kalian bisa pertimbangkan untuk berhenti sebelum terjalin kontrak, dan mencari yang lainnya.

    Atau cobalah internship yang memanfaatkan program universitas. Yang ini biasanya  khusus mahasiswa/i aktif, jadi semacam program praktik kerja lapangan (PKL) untuk mendapatkan nilai dari kampus. Ga semuanya khusus PKL sih memang, tapi dengan jalur ini bisa lebih terjamin daripada mencari sendiri, karena lembaga atau perusahaan punya hubungan yang ingin dijaga dengan pihak universitas. 

    So, gimana guys apakah kalian tertarik untuk internship? Balik lagi kalau tertarik coba kejar N4 aja dulu ya, biar bisa lebih percaya diri ketika udah di Jepang nanti. Kalau belum punya N4nya kita bisa bantu lewat program Akselerasi N4 kita nih, yang tertarik silahkan tanya-tanya tim aku ya. Tapi gimana menurut kalian? Apakah kalian tertarik? Apakah menurut kalian internship itu layak dicoba? Coba tulis di kolom komentar ya, kita diskusi bareng.

  • Kerja di Jepang

    Tokutei Gino itu penyelamat atau penghancur Jepang?

    Jepang mengalami krisis penduduk karena kekurangan pemuda produktif, dan bertambahnya lansia. Sehingga Jepang memutuskan untuk mempermudah akses warga asing untuk bisa bekerja di Jepang. Maka muncul lah visa baru yaitu Tokutei Gino (Specified Skill Worker). Setelah munculnya visa TG ini, jumlah pekerja asing di Jepang meningkat cukup drastis. Tapi apakah ada dampak lain dari visa ini?

    Tokutei Gino dibuat untuk menyelesaikan krisis penduduk di Jepang. Di waktu bersamaan, Jepang pun membantu negara-negara yang memiliki penduduk yang banyak dan juga orang yang ingin kerja di Jepang untuk bisa berkarir di Jepang. Nah ternyata di Indonesia banyak banget yang tertarik untuk kerja di Jepang, sehingga visa Tokutei Gino mendadak ramai peminatnya di Indonesia. Ya kalau dibanding dengan Ginojisshu (magang) sih memang lebih menarik, baik dari sisi pendapatan, hingga perlakuan visanya. Tapi ada hal detil yang perlu diperhatikan oleh warga lokal dan juga peserta Tokutei Ginonya

    Kali ini aku bukan mau ngebesar-besarin atau ngejelek-jelekin Tokutei Gino, tapi kali ini mau ngajak kalian mikir bareng nih, mari kita liat juga sisi negatif dari program yang satu ini. Jadi kalian bisa mempersiapkan bila terjadi hal yang tidak diinginkan selama di Jepang nanti. Nah menurut kalian Tokutei Gino ini sebenernya penyelamat atau penghancur Jepang? 

    Tokutei Gino berhasil menyelesaikan masalah kekurangan penduduk di Jepang

    Serius loh, jumlah pekerja asing di Jepang itu meningkat cukup drastis. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, katanya jumlah pekerja asing sebelum adanya TG di tahun 2018 itu sekitar 1,46 juta. Sedangkan setelah adanya TG di tahun 2023 jumlahnya jadi 2,04 juta penduduk. Kalau dihitung kasar jumlahnya naik sekitar 40% dalam 5 tahun. Ini hal yang bagus, karena ternyata program baru ini udah sesuai target dan berhasil mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja di Jepang.

    Kalau kita lihat secara jumlah aja, program ini terlihat sukses. Selain menyelesaikan masalah penduduk di Jepang, program ini pun berhasil memberikan kesempatan bagi warga asing yang ingin kerja di Jepang. Saat ini, beberapa pabrik makanan mulai bisa beroperasi 24 jam, pedesaan-pedesaan mulai terisi kembali karena adanya TG di sektor pertanian, 40% lowongan perawatan lansia terisi oleh TG. Sehingga pekerja TG pun ikut membantu Jepang dari sisi pendapatan PDB Jepang. Bagus banget berarti ya program TG ini. 

    Eits!? ternyata ada masalah yang terjadi dengan program ini

    Pertama pekerja TG ternyata cukup banyak yang dibayar di bawah upah minimum. Contoh ada yang cuman dibayar 120.000 Yen per bulannya dengan jam kerja 12 jam/hari. Sampai saat ini, ternyata masih ada perusahaan di Jepang yang melihat warga asing sebagai tenaga kerja yang murah. Sehingga bisa dengan mudahnya dipekerjakan lebih tapi dapet bayaran yang kurang dari seharusnya. Memang ga segila Gino Jisshu, tapi ternyata masalah ini tetap terjadi di Tokutei Gino.

    Selain itu ada juga perbudakan modern yang terjadi seperti paspor disita oleh pihak TSK atau mungkin perusahaannya. Kemudian hal ini perlu diperhatikan ya untuk yang ingin coba ikut TG. Program TG sendiri selama belum upgrade ke TG2, kita belum bisa pindah kerja. Sehingga kalau udah terlanjur masuk ke perusaahan itu, mau perusahaannya memperlakukan kalian dengan baik atau engga, kalian harus bekerja disitu setidaknya 5 tahun sampai kalian berhasil upgrade ke TG2. Belum selesai disitu, ternyata cukup banyak perusahaan yang menolak memberikan rekomendasi peserta TG untuk ikut test TG2. Kalau ga di kasih rekomendasi dari perusahaan TG1, kalian ga bisa ikut test dan upgrade ke TG2. Ujung-ujungnya kalian terpaksa pulang ke negara asal kalian tanpa jalan ke status permanen resident.

    Balik lagi, ini ga semua perusahaan di Jepang gitu ya. Nah alasan mereka ga ngasih rekomendasi kemungkinannya ada dua. Pertama memang kinerja peserta TGnya yang kurang. Atau memang ga ada rencana untuk ngelanjutin peserta ke TG2, dan memilih untuk nerima peserta TG baru, guna mendapatkan tenaga kerja yang lebih murah. Selain itu, cukup banyak orang Jepang yang masih melihat pekerja TG sebagai 'kasta rendah', alhasil banget peserta TG yang mengaku tidak punya teman orang Jepang (survei NPO Solidarity Network, 2024). Ya kondisi ini diakibatkan juga sama pekerja TG yang melakukan kriminalitas seperti pencurian ataupun pembunuhan yang sempat viral di media sosial ya, mana ada orang Indonesia lagi yang ngelakuinnya.

    Jadi dari yang aku sebutkan tadi, selain masalah dari sistemnya seperti masalah upah yang tidak dibayar seharusnya, masalah perbudakan modern, sampai sistem upgrade ke TG2 tadi, ternyata masalah dari sisi peserta TGnya pun ada ya guys. Jadi kita ga bisa 100% menyalahkan 1 belah pihak nih. Peserta TG yang melakukan kriminal juga bisa aja ternyata di perusahaannya dia mendapat perlakuan yang tidak baik. Tapi kalau ini terus dibiarkan, bisa-bisa Jepang akan dicap sebagai negara eksploitatif atau belum lagi kalau pesertanya tidak disaring dengan benar, bisa-bisa kota-kota di Jepang akan kumuh dipenuhi oleh orang asing yang pastinya akan membuat warga lokal tidak nyaman ya. 

    Aku sharing ini bukan untuk menakutkan kalian, ataupun membuat kalian mengurungkan niat kalian untuk berangkat ke Jepang pakai visa TG. Tapi siapa tau dengan aku sharing kaya gini, mata kalian bisa lebih terbuka, bisa melihat kenyataan bahwa ga semuanya indah dan kalian bisa lebih siap menghadapi kondisi apapun selama nanti kalian di Jepang. Nah gimana ya menurut kalian? Apakah program TG ini penyelamat Jepang atau sebenarnya penghancur Jepang? Coba tuliskan pendapat kalian di komentar ya, aku mau tau pendapat kalian.

  • Kerja di Jepang

    Satu Kesalahan Fatal yang Bikin Hidupmu Miskin di Jepang!

    Pernah denger pola hidup もったいない (mottainai) ? Iya, ini hal yang sebenernya tanpa sadar sering dilakukan oleh orang Indonesia selama di Jepang. Mereka terlanjur senang dengan kenyataan berhasil berangkat ke Jepang, tetapi selama di Jepang mereka melakukan pola hidup もったいない ini nih, jadinya pulang ke Indonesia cuman bawa berkah aja. Maksudnya gimana sih? Coba ikutin sampe beres ya.

    Flexing oh flexing. Tanpa sadar kita sering melakukan ini. Jangankan udah di Jepang, selama di Indonesia aja mungkin kita udah sering lakuin, dan tau tau uang di rekening udah kekuras dan tiba-tiba jatuh miskin. Nah kebiasaan flexing kalau dibawa ke Jepang makin menggila nih. Karena memang di Jepang gap antara penghasilan dan biaya hidupnya lebih besar kalau dibanding di Indonesia. Jadi wajar kalau habis gajihan terus jalan-jalan ke mall, waktu liat-liat barang itu bawaannya mau langsung beli. 

    Nah sebenarnya kalau bisa hidup hemat, biaya hidup di Jepang itu ga kerasa besar kalau dibanding sama gaji kalian. Aku ambil contoh di Osaka ya. Rata-rata gaji pegawai tetapnya 190,000 yen ke atas (ini bisa berubah). Untuk pemagang bisa lebih kecil, jadi kalau berangat magang kalian harus bisa extra hemat lagi. Pertanyaannya emangnya kalian bisa hidup hemat?

    Tapi serius ya godaan hidup di Jepang itu luar biasa. Banyak orang yang 1 tahun 3 tahun tinggal di Jepang tapi cuman pulang bawa sedikit banget dari sekian banyak yang mereka hasilkan. Contoh terdekat aku itu ada temen yang 1 tahun kerja internship di Osaka, Jepang. Aku denger cerita dia seperti ini :

    Sebulan ngasilin sekitar 120 ribu yen perbulan, dan pengeluarannya kurang lebih 60~75ribu sebulan ini kalau extra hemat ya. Ini hemat karena kebetulan biaya apartemen sebagian udah dibayarkan perusahaan dan asuransi udah dipotong dari gaji, jadi 120 ribu itu bersih. Tapi dia cuman pulang ke Indonesia bawa 152 ribu yen, dimana sebagian besar dari hasil gaji bulan terakhir sebelum dia pulang. 

    Loh kok bisa ? Pertama dari gap biaya hidup dan penghasilan tadi ya, kita jadi ngerasa punya uang terus loh. Kecuali kalau kalian udah berkeluarga tinggal di Jepang. Mungkin ga ngerasa sebanyak itu uang kalian, karena kebutuhan hidupnya akan jauh lebih banyak.

    Tapi untuk yang tinggal sendiri, godaan untuk ngeluarin uangnya kuat banget. Kerja dimarahin dikit-dikit healing ngabisin uang. Diajakin ()(かい) (nomikai) atau minum-minum ke ()(ざか)() (izakaya) sama senpai kalian, diajak karakoe, main ke festival segala dibeli, dll. Ya bersosial sama orang sana sih penting sih tapi jangan sampai kehilangan kontrol atas uang kalian ya. 

    Tapi menurut aku yang parah itu membudayakan flexing ya. Waktu di Jepang banyak yang dibeli, dan yang dibeli itu bukan barang-barang yang murah. Mending kalau memang butuh ya, tapi karena pegang uang, jadi bawaannya ingin beli. Jalan-jalan dikit bawaannya ingin beli barang. Ini godaan yang cukup besar untuk yang ga bisa manage uangnya.

    Belum kalau iman kalian ga kuat, di sana dijual juga barang barang haram, sampe perempuan di pinggir jalan aja ada yang bisa dibayar untuk nemenin semalam. Hati-hati juga untuk yang ini, karena bisa sampe kalian dipenjara karena nidurin cewe dibawah umur. Hal seperti pinjol dan judol disana juga ada. Malah ga usah judol deh, kalian cari aja パチンコ (pachinko) atau tempat judi, ga akan susah nyarinya di Jepang mah. Dan sekalinya kalian nyentuh yang aku sebut tadi, bakal sulit buat berhenti.

    Karena ga bisa ngatur uang, kalian ga punya uang darurat. Waktu terjadi yang ga di harepin saat di Jepang kaya tiba-tiba sakit dan butuh ngeluarin uang banyak, atau ada yang rusak jadi harus ngeluarin uang buat benerin, dll. Pakai asuransi itu bukan berarti 100 dibayarin ya, jadi tetep ada yang harus kita bayar. Jadi kalau terjadi yang ga diinginkan otomatis bingung cari uangnya dari mana tuh.

    Jangan mau dah, aku yakin kalian juga pasti ingin aman-aman selama di sana dan setelah kerja di sana kalian bawa pulang uang banyak untuk ngubah nasib keluarga kalian, atau mungkin buat modal usaha dan naikin kualitas hidup kalian di Indonesia. Kalau mau gitu, jauhi pola hidup mubazir atau もったいない (mottainai) selama di Jepang. Jauhi hal-hal konsumtif yang berlebih, dan beli secukupnya. Kalau ada hal yang ga tau, ga usah ikut-ikutan, atau penasaran mau coba-coba daripada kena masalah waktu disana. Manage uang kalian selama di sana, kalau ngerasa belum bisa manage uang, belajar dulu aja sebelum berangkat ke Jepang biar kalian ga nyesel.

    Pisahkan kebutuhan dan keinginan. Mau pake prinsip prinsip silahkan ya, contoh prinsip 50/30/20 yaitu 50% kebutuhan hidup, 30% keinginan, 20% tabungan. Atau kalian sesuaikan dengan tujuan kalian ke Jepang, contoh kalau mau bangun bisnis berarti bakal butuh tabungan lebih, makanya perbesar persenan gaji yang di alokasikan buat tabungannya. 

    Dari cerita tadi kita dapet insigh apa ? Kalau ga bisa ngelola uang, kalian bisa jatuh miskin bukan hanya waktu pulang dari Jepang aja, tapi dari saat kalian kerja di Jepang juga. Percuma gaji besar-besar tapi kalau ga bisa bersukur dan menahan nafsu diri sendiri, aku yakin semua uang yang di bumi ini udah jadi milik kalian juga pasti kalian ga akan puas. Aku cuman cerita kasus yang selama ini terjadi sama banyak orang ya, tinggal gimana kalian ambil cerita ini. Kalau dari cerita ini kalian jadi dapet bayangan ketika di Jepang nanti harus punya skill ngontrol keuangan kalian aku ikut seneng, tapi gimana ya menurut kalian? Apakah suka dengan bahasan kaya gini? Kalau ada bahasan lain yang ingin kita bahas coba tulis dikomentar ya. Nanti aku coba bahas.

  • Kerja di Jepang

    Bahasa Jepang Saja Tidak Cukup untuk Kerja di Perusahaan Jepang

    Aku pernah denger pertanyaan ini nih "Apa punya N3 aku bisa kerja di Jepang kak?", "Kak aku punya JLPT N2 nih kak, aku mau kerja visa gijinkoku nih ke Jepang kira-kira kerja apa ya kak?", atau semacamnya. Aku ngerti sih, pasti banyak yang ingin kerja ke Jepang. Jadi banyak yang ngejar skill bahasa Jepang sampe N3 atau mungkin N2 bahkan N1. Tapi apakah skill bahasa Jepang aja udah cukup untuk cari kerja ke Jepang? 

    Aku selama ini memang selalu membahas "sebaiknya punya N2 kalau mau ke Jepang pake visa gijinkoku" atau "punya N4 dulu baru coba cari lembaga buat bantuin ke Jepangnya", tapi kayanya aku kurang mention juga ya skill yang dibutuhin selain skill bahasa Jepang. Sebenernya basicnya memang di bahasa Jepang guys, jadi kalau bahasa Jepang kalian masih ancur, pintu untuk kerja ke Jepang masih ketutup buat kalian. Jadi yang belum punya skill bahasa Jepang yang memumpuni, terus bertahap dinaikin ya skill bahasanya ya. 

    Nah yang mau ngejar kerja pake visa tokuteigino pasti udah tau ya. Selain skill bahasa Jepang kalian juga butuh sertifikasi skill bidang yang kalian tuju. Aku mau jawab pertanyaan pertanyaan seperti "kak aku bukan lulusan SMK perawat bisa ikut TG Kaigo ga ya?", atau semacamnya. Jawaban dari pertanyaan itu bisa aja, kalau punya skillnya. Jadi yang mau ikut TG kaigo / perawatan ya kalian butuh sertifikasi TG kaigo jadi punya dulu ilmu dan skill basic dari kaigo di Jepangnya, bidang lain pun sama yang mau ikut TG perikanan, ya butuh sertifikat TG perikanan juga. Jadi selain skill bahasa Jepang, kalian harus punya ilmu dan skill basic dari bidangnya. 

    Nah kalau udah lulus test TG perawatan, otomatis kalian akan dianggap punya basic ilmu dan skill perawat meskipun bukan lulusan perawatan, jadi pintu buat berangkat ke Jepang udah terbuka. Tapi "apakah itu sudah cukup?" atau pertanyaannya aku ganti jadi "apakah kalian boleh puas dengan itu?" 

    Kalau tujuannya untuk TG, menurut aku udah cukup, tapi jangan puas dengan skill yang kalian punya sekarang. Jadi waktu kalian di Jepang silahkan perdalami skill yang udah dipelajari, baik bahasa Jepangnya ataupun skill praktek lapangannya. Kalau nanya pendapat aku pribadi, ga ada salahnya kalian punya N3 dulu, baru berangkat, tapi kalau udah mau buru-buru berangkat biar bisa ngubah nasib ya silahkan lah, tapi jangan berhenti belajar ya. FIY untuk upgrade visa ke TG2 aja ada test lagi nanti di Jepang ya, jadi selama proses TG1 kalian harus sambil belajar dan berkembang biar bisa lulus TG2 dan bisa lanjut kerja di Jepangnya.

    Kalau ngomongin TG, itu udah cukup. Tapi kalau kita ngomongin yang lebih tinggi lagi seperti visa gijinkoku ceritanya akan berbeda. Visa Gijinkoku itu singkat kata kaya visa pekerja profesional lah ya, jadi wajar lah kalau syarat untuk pengajuan visanya lebih tinggi. Contohnya, setidaknya kalian harus lulusan diploma, kalau bisa lebih kaya S1 gitu. Jadi lulusan SMA/K belum bisa apply visa gijinkoku. Tapi aku sering denger juga dari temen-temen aku yang gagal waktu interview untuk kerja pake visa gijinkoku. Dimana mereka gagal karena kalah saing dengan yang lainya.

    Kalah saing bukan di skill bahasa Jepangnya. Tapi di softskill atau skill tambahan yang akan membantu di pekerjaannya nanti. Contoh, ada yang lulusan N2 mengapply jadi programer di Jepang, kalah saing sama yang lulusan N3 karena skill programingnya yang lebih menjanjikan dimata perusahaan Jepang. Ada juga yang ngelamar ke bandara kansai, tapi kalah sama yang punya skill bahasa Inggris yang bagus. Bahkan pengalaman dan portofolio pelamar pun akan sangat mempengaruhi diterima atau tidaknya. 

    Apa yang ingin aku sampaikan bukan "kita harus punya pengalaman dan porofolio yang bagus dulu untuk bisa kerja ke Jepang". Aku mau sampaikan ke kalian bahwa bukan hanya skill bahasa Jepang yang dibutuhkan untuk kerja ke Jepang. Kita perlu juga softskill dan ilmu yang dibutuhkan untuk bisa bersaing di negara orang. 

    Kita ambil contoh, untuk programer kalian ga hanya butuh skill bahasa Jepang N3 atau N2, kalian perlu juga bener-bener menguasai setidaknya salah satu bahasa programing, dan sisanya minimal bisa gitu. Jadi waktu interview kalian punya seesuatu yang bisa kalian jual ke perusahaan Jepang. Contoh lain waktu ngelamar ke bandara di Jepang, skill bahasa Inggris jangan sampe bolong ya. Inget kalian bakal berhadapan sama orang-orang luar Jepang yang keluar dan masuk Jepang jadi harus bisa berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa Inggris juga. Contoh lain, di perusahaan otomotif, kalau menguasai skill seperti pengoprasian mesin CNC atau product designing ya sesuai dengan posisi yang kalian tuju itu akan sangat mempermudah proses perekrutan kalian. 

    "Kak aku udah punya skill yang dibutuhkan untuk bisa kerja di posisinya, tapi waktu interview aku tetep kalah sama yang lebih rendah skillnya dari aku" Nah kalau gitu bisa jadi kalian kalah di proses interviewnya. Dikira interview visa gijinkoku itu sama dengan TG ya? Pertanyaan di interview gijinkoku biasanya lebih detil guys, bahkan pertanyaannya bisa lebih rumit dan terkadang mereka membutuhkan jawaban yang menarik supaya bisa ngeliat kalian itu orang yang tepat atau bukan. Selain itu kalian juga perlu punya skill menjual diri kalian waktu interview, kalau di Jepang sebutannya 自己PR (jiko PR) atau mempromosikan diri sendiri. Yakinkanlah perusahaan bahwa kalian itu orang yang tepat buat ngisi posisinya.

    Itu aja kali ya yang ingin aku bahas kali ini. Kesimpulannya, skill bahasa Jepang aja ga cukup untuk kerja ke Jepang. Kita butuh softskill di bidangnya supaya kita bisa bersaing dengan pelamar lain. Point ini jarang banget aku mention jadi khawatir pada berfikir punya bahasa Jepang aja pasti bisa bertahan hidup disana. Ya ga beda jauh sih sama nyari kerja di Indonesia, tapi standarnya lebih tinggi aja. Tapi menurut kalian gimana guys mengenai softskill yang aku bahas tadi? Coba tulis dikolom komentar ya, aku mau denger pendapat kalian.

  • Kerja di Jepang

    Alasan kenapa liburan ke Jepang jauh lebih baik dari pada Kerja di Jepang

    Kerja di Jepang itu gini, kerja di Jepang itu gitu. Kok bosen ya, sekali-sekali kita coba refresing dulu dengan ngeliat hal baik yang ada di Jepang. Di Jepang itu banyak banget hal baik, dan aku yakin kalian pun pasti udah pernah denger beberapa hal baiknya ya. Ada yang bilang kulinernya mantap, pemandangannya indah, budaya keseharian orang lokalnya yang ramah dan bersih, dll. Ada banyak dah, dari pada kita liat terus yang sulit-sulitnya, atau yang berat-beratnya dari negara Jepang ini, yuk aku mau coba bahas alasan kenapa liburan itu lebih baik dari pada kerja ke Jepang. Apa yang aku mau bahas kali ini semoga aja secara tidak langsung bisa naikin montivasi kalian buat menginjakan kaki disana ya, baik mau sekedar libur, ataupun kerja. 


    Hal baik dari liburan ke Jepang yang pertama, meskipun ga dikasih tau sama aku juga kalian pasti udah pernah liat-liat kan pemandangan sakura di Taman Hirosaki, ataupun di kota-kota, dan taman-taman di Jepang. Pemandangan danau di Lima Danau Fuji, pemandangan musim gugur di Kiyomizudera, pemandangan unik di Hutan bambu Arashiyama, Deretan Tori di Kuil Fushimi Inari, Tori unik di danau Biwa, Air Terjun Nachi, dll. ada juga wisata bermain menarik seperti Universal Studio Japan, Tokyo Disneyland, berbagai macam aquarium besar, bahkan kalian jalan-jalan di perkotaan aja udah kaya lagi di dunia lain. Cobain jalan-jalan di Shibuya, atau Akihabara mungkin.



    Di Jepang itu ada banyak banget wisata yang bener-bener bisa jadi tempat healing kalian. Selama di sana sambil rasain kuliner mereka yang unik. Aku ga salah kan pake kata "unik"? Karena aku bisa jamin, kalian belum tentu suka, terutama buat orang Indonesia yang sehari-harinya makan makanan yang rasanya kuat. Tapi kuliner mereka ngasih rasa yang unik. So, bisa ilang lah penat kehidupan kalau healing ke Jepang. Sampai-sampai banyak yang udah pernah healing ke Jepang, mereka kebelet balik lagi buat lanjutin liburan part berikutnya hanya untuk muterin wisata-wisata di Jepang. 

    Populasi turis di Jepang meningkat drastis di beberapa tahun terakhir. Pernah liat berita orang Jepang pada ngeluh sama jumlah turis? Tapi eits, yang paling dikeluhkan sama penduduk lokal itu bukan hanya jumlahnya tapi kelakuan para turisnya, jadi nitip berperilaku sopan dan hargai budaya dan kebiasaan lokalnya ya. Jadi kalau main ke Jepang jaga kelakuan ya.

    Kalau kalian ke Jepang saat kurs YEN lagi turun, kalian bisa dapet harga yang lebih murah buat jalan-jalan loh. Tapi ini juga yang jadi salah satu alasan kenapa liburan ke Jepang malah jadi lebih menarik daripada kerja ke Jepang. Mulai dari sini, pembicaraanya mulai bergeser guys. Tadi kita udah dapet point bahwa liburan ke Jepang itu wah banget ya, nah kalau kerja beda tuh. Udah cape-cape kerja di Jepang dimarahin sama atasan, ternyata kurs YEN turun jadi waktu pulang cuman bawa uang sedikit. Belum lagi kalau selama kerja di Jepang kalian ga upgrade skill kalian, jadi stuck di level tertentu, ya udah deh pulang cuman bawa uang yang valuenya sedang turun. Ya Jepang memang lagi ngalamin beberapa masalah ekonomi, tapi kita ikut berdoa aja ya semoga aja kurs YEN bisa naik lagi. 


    Belum lagi kalau kerja ke Jepang kalian akan ngerasain budaya kerja yang memang gila banget. Pernah denger istilah karoshi (過労死)? Iya karoshi itu mati karena kebanyakan kerja. Ditambah dengan tekanan kerjaan yang gila juga, sampai angka bunuh diri di Jepang itu terbilang sangat tinggi untuk ukuran negara maju. Pemerintah disana udah berusaha untuk ngurangin angkanya, tapi ternyata tidak seefektif itu. 

    Kalau kalian mau kerja ke Jepang, sekarang coba tanya ke diri sendiri, setelah tau kerja di Jepang itu berat, apakah kalian siap kerja di Jepang? Kalian yang mungkin berleha-leha selama ini, terus berharap bisa hidup enak dengan bekerja di Jepang? Kalau mau enaknya sih aku saranin buat liburan aja ke Jepang mah. Kalian yang dibentak dikit sama atasan langsung mikir untuk resign, kalian yang dateng ke kantor yang penting keliatan kerja, kalian punya sifat nunda-nunda kerjaan atau belajar kalian. Kalian ga akan kuat deh, mending liburan aja ke Jepangnya, biar dapet enaknya aja.

    Artikel ini diawali dengan hal baik yang memberikan harapan kalau Jepang itu negara yang bagus, tapi tolong liat juga sisi negatifnya. Dan menurut aku sisi negatif yang paling aku rasain banget itu adalah sisi negatif di bagian bekerja di Jepang. Kalau aku simpulin, Jepang itu negara yang indah banget. Untuk healing sih Jepang itu negara yang bagus banget, tapi kalau mau bekerja aku saranin pikir-pikir dulu. Aku ga bilang kerja di Jepang itu ga layak ya, tapi kalian harus tau dulu kondisi budaya kerja di sana, sehingga kalian berangkat ke Jepang kalian ga akan kaget dan udah dalam kondisi mental yang kuat. Jangan sampai udah sampai di Jepang malah nangis ingin pulang ke Indonesia, padahal kontrak kerja baru aja di tanda tanganin. 

    Terus layak kah kerja di Jepang? kurs YEN memang menurun, tapi dengan tinggal di negara yang punya lingkungan yang sebagus Jepang sih aku masih ngerasa layak-layak aja ya. Seberat-beratnya kerja di Jepang selama kita bisa berusaha berdamai dengan kondisi kerjaan dan menyamankan diri selama tinggal di Jepang, kita pasti bisa enjoy selama tinggal disana. Liburan ke Jepang ga begitu mahal kalau dibanding ke negara indah lainnya seperti negara-negara di Eropa, tapi secara kualitas bisa bersaing dengan nuansa unik yang hanya bisa didapat di Jepang. Tapi kalau kerja kalian bisa stress, pusing, cape sama kerjaan yang budayanya gila, malah kalau ga hoki kalian bisa dapet tempat kerja yang toxic, banyak lembur tapi ga dibayar, dll. Kalau kalian ga bisa berdamai dengan budaya kerja di Jepang, aku yakin kalian ga akan betah bekerja di Jepang.

    Tapi menurut kalian gimana ya? Lebih baik ke Jepang untuk liburan dan healing-healing aja? Atau tetap memilih untuk kerja di Jepang? Coba tulis di kolom komentar ya, aku mau denger pendapat kalian. 

J-Class, pernah diliput di :