Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

  • Kerja di Jepang

    Waspada! 3 Kesalahan Fatal yang Membuat Kamu Di-blacklist Masuk Jepang

    Sempet seru ya, ada isu warga negara Indonesia akan diblacklist secara umum oleh Pemerintah Jepang untuk masuk atau bekerja di Jepang. Khawatir kan udah cape-cape belajar bahasa Jepang, eh bisa-bisa ga jadi berangkat kerja ke Jepang nih. Bersyukurnya ini udah ada klarifikasi bahwa isu tersebut adalah hoaks oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, dan juga tidak ada pernyataan resmi dari Pemerintah Jepang mengenai larangan massal atau blacklist terhadap WNI. Nah tapi sadar ga sih, blacklist yang dimaksud adalah blacklist secara keseluruhan warga negara Indonesia, bukan blacklist secara individual. Sekedar info bahwa kalian masih punya kemungkinan diblacklist kalau bermasalah. Kali ini aku mau coba bahas mengenai blacklist di Jepang ya.

    Seperti yang aku mention tadi, warga negara Indonesia memang tidak diblacklist secara keseluruhan. Kita bisa merasa tenang dengan itu, tapi disisi lain jadikanlah ini sebagai pelajaran atau tamparan untuk kita semua agar bisa lebih berhati-hati dengan kelakuan kita di negara orang. Karena yang namanya blacklist ke negara tertentu, sebenarnya bisa juga terjadi secara individual atau blacklist terhadap 1 orang tertentu. Belum lagi kalau jumlah yang diblacklist ini terus bertambah, kasusnya bisa lebih besar. 

    Kita bisa belajar dari kasusnya Vietnam. Sempat beredar Vietnam telah diblacklist oleh Jepang. Ga semudah itu memblacklist sebuah negara, jadi inget ya sebenernya bukan diblacklist tapi pengawasannya memang diperketat oleh pemerintah Jepang. Jadi warga Vietnam yang ingin sekolah atau kerja di Jepang itu ga sulit tapi ga semudah warga Indonesia saat ini. Sebagai contoh, disana udah banyak institusi/lembaga pengirim yang diblacklist, kantor imigrasi dipaksa untuk lebih ketat dalam pengawasan VISA warga Vietnam di Jepang, dll. Semua ini bukan terjadi tanpa sebab, karena setau aku sebelumnya Vietnam sama Jepang itu akur-akur aja. Kalau aku coba cari tau ternyata dari Vietnam banyak banget pelarian peserta magang, pekerja ilegal, dan juga kasus kriminal selama di Jepang. 

    Aku kasih contoh kasus Vietnam karena kebetulan point kenapa mereka diperketat pengawasannya karena "jumlah kasus pelanggaran dan kriminal". Dimana kalian pasti udah ga bosen dengerin berita aneh-aneh dari rekan kita yang udah di Jepang. Ada yang nyolong tas mahal lah, ada yang ngerampok lah, sampe kasus pembunuhan aja ada loh. Pelakunya macem-macem dari yang belum lama dateng ke Jepang, sampe WNI yang overstayer. Waktu denger pelakunya overstayer aja udah kesel ya, nah ini ada yang belum lama dateng ke Jepangnya tapi udah ngelakuin kriminal gimana ceritanya ya? 

    Udah lah aku mau coba lanjut ke bahasan utama kita kali ini. Kita bisa tenang karena ternyata blacklistnya Indonesia itu hoax, tapi ga bisa tutup mata dengan kenyataan bahwa kita bisa diblacklist sama pemerintah Jepang. Ada beberapa alasan umum yang biasanya menyebabkan seseorang dibekukan atau dilarang masuk kembali ke Jepang (ini termasuk dikenai larangan masuk/deportasi). Secara garis besar aku jabarin kaya gini ya :

    Pelanggaran Imigrasi Serius

    Kurang lebih kasus seperti tinggal melebihi batas waktu izin atau overstay selama di Jepang. Ini adalah salah satu pelanggaran paling umum dan kabar buruknya ternyata WNI yang ngelakuin ini jumlahnya ga dikit. Singkat kata kalau udah habis masa visanya ya pulang ke Indonesia aja ya pilih anatara perpanjang VISAnya atau pulang guys. Ga semua kasus memang bisa perpanjang VISA, jadi perhatikan aturan mainnya ya. Kalau kalian tinggal lebih lama dari izin tinggal (visa) kalian harus siap-siap ga bisa balik lagi ke Jepang setelah dideportasi. Ada juga kasus bekerja secara ilegal dimana mereka beraktifitas di luar tujuan visa mereka. Contoh yang pake visa turis yang ditujukan untuk bertamasya, tapi waktu di Jepang mereka malah bekerja. Ada juga yang memberikan dokumen palsu saat pengajuan visa atau izin tinggal. Kalau ga mau diblacklist ikuti aturan yang ada ya.

    Pelanggaran Hukum Kriminal

    Sesuai namanya, blacklist yang ini terkait kasus melakukan tindak kriminal/kejahatan selama di Jepang. Melakukan tindak pidana seperti pencurian, perampokan, kekerasan, atau kejahatan serius lainnya di Jepang. Kalau sampe ditangkap dan dihukum, orang itu hampir pasti akan dideportasi setelah menjalani hukuman dan setelah pulang dia akan diblacklist dari Jepang. Sebenernya kegiatan yang mengganggu ketertiban umum pun bisa berujung deportasi hingga blacklist. Meskipun kasus ini mungkin tidak selalu berujung blacklist, tapi tindakan yang sangat mengganggu ketertiban umum dan meresahkan masyarakat lokal dapat menyebabkan pengawasan ketat. Jika berulang atau disertai pelanggaran lain, ini bisa berujung sampe masalah imigrasi atau pengetatan kebijakan visa di masa depan.

    Alasan Lain Terkait Visa/Kesehatan

    Ini kasus lain yang mungkin kurang tersorot tapi, masalah kesehatan pun bisa berujung penolakan masuk ya. Kalau sampai kalian membawa penyakin menular tertentu, ada kemungkinan akan berujung ke kasus blacklist. 


    Balik lagi yang aku bahas ini blacklist yang bersifat individual atau ditujukan kepada orang tertentu yang melanggar. Tapi ga menutup kemungkinan kalau sampai warga negara Indonesia yang terlibat kasusnya semakin banyak, warga negara Indonesia akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti warga Vietnam yang ingin ke Jepang. Kalau sampe terjadi ini ga bagus ya, setidaknya kita bisa tau bahwa warga Jepang udah ga percaya secara penuh terhadap warga negara Indonesia. Padahal para senpai udah berusaha membangun dan menjaga kepercayaan terhadap warga Indonesia. Tapi dihancurkan oleh segelintir orang yang hanya melihat diri mereka sendiri.

    Kalau udah diblacklist terus gimana kak?

    Untuk keluar dari blacklist Jepang dan balik lagi ke daftar putih (whitelist), kalian harus menghubungi kedutaan besar atau konsulat Jepang di negara Indonesia. Ini untuk memahami alasan blacklist dan prosedur penghapusan blacklistnya, karena inget ya daftar tersebut tidak mudah untuk diubah dan hanya bisa diperbarui melalui proses resmi. Ga mudah, dan bisa jadi butuh proses yang panjang. Aku sendiri ga paham 100% dengan prosedurnya, jadi aku minta izin jelasin secara singkat dan sepengetahuan aku aja ya. 

    Pertama-tama pahami alasan blacklist. Iya cari tau dulu alasan spesifik kenapa kalian bisa masuk dalam blacklist Jepang. Ini bisa terkait dengan pelanggaran imigrasi, masalah visa, atau aktivitas lain yang melanggar hukum atau peraturan Jepang. Kalau udah tau, coba Hubungi Kedutaan Jepang, untuk cari informasi lebih detilnya tentang proses penghapusan blacklistnya. Biasanya nanti ada dokumen yang perlu disiapkan ya, nanti ikutin aja informasi dari kedutaan Jepangnya. 

    Next biasanya ada proses pengajuan banding, nah di proses ini mungkin akan ada proses verifikasi dan pemeriksaan ulang yang memakan waktu. Terakhir yang paling penting adalah kepatuhan di masa depan, ketika udah masuk ke whitelist lagi, terus apa? Udah cukup kapok kan diblacklist? Jangan diulangin ya! Karena ketika diulangin, sangat mungkin kalian bakal kena blacklist permanen atau proses pengajuan banding di pemutihan berikutnya bisa menjadi sangat sulit untuk diterima. Balik lagi proses ini bisa sangat panjang dan ga ada jaminan pasti berhasil karena tergantung sama kebijakan imigrasi Jepang.


    Gimana guys pembahasan kali ini? Pembahasannya berat ya, tapi izin aku mau mengingatkan sesama pejuang yang ingin berkarir atau berangkat ke Jepang. Setidaknya kita jaga kepercayaan warga lokal Jepang agar kohai atau generasi berikutnya tidak dipersulit saat ingin berangkat ke Jepang ya. Biar ga kejadian deh udah cape-cape belajar bahasa Jepang ternyata ga jadi berangat gara-gara pengajuannya dipersulit sama pemerintah Jepang. Tapi diantara kalian ada ga ya yang pernah diblacklist? Terus gimana cara kalian kembali ke whitelistnya? Boleh sharing dong pengalamannya di kolom komentar ya. Atau kalau sekiranya ada bahasan menarik seputar Jepang dan bahasa Jepang silahkan tulis juga ya di komentar, nanti kita bahas bareng-bareng ya.

  • Kerja di Jepang

    Demo karena warga asing! Apakah Jepang akan jadi negara tertutup kembali?

    Mungkin ga asing dengan berita-berita di Jepang mengenai demonstrasi jumlah warga asing. Aku sampe denger ada banyak yang resah dengan kondisi saat ini. "Aku belum sempet ke Jepang kak, apakah Jepang bakal nutupin pintu buat warga asing lagi?", "Apakah kedepannya Jepang akan menjadi negara tertutup kembali?", dan keresahan lainnya. Ya intinya banyak yang khawatir akan gagal berangat ke Jepang gara-gara kasus ini ya. Jadi aku mau coba jelasin menurut aku Jepang akan seperti apa sih, dan kalau dari kalian ada pendapat lain silahkan coba ceritakan di komentar ya.

    Emangnya apa yang terjadi di Jepang sampai ada demonstrasi?

    Pertama kita coba bahas sekilas tentang demo di Jepang yang terjadi di akhir-akhir ini setidaknya sejak Juli 2025. Singkat kata demo ini didasari oleh keresahan warga Jepang mengenai peningkatan pekerja asing di Jepang. Ini hasil dari pelebaran pintu masuk untuk pekerja asing yang ingin kerja di Jepang. Kebijakan ini sangat penting supaya ekonomi Jepang bisa terus bisa berputar, tapi peningkatan jumlah pekerja asing pada akhirnya menimbulkan beberapa keresahan di masyarakat Jepang. Dimana mereka khawatir kebijakan ini di masa depan akan mempersulit warga Jepang mendapat pekerjaan karena perusahaan banyak yang nyari dari luar Jepang. 

    Belum lagi, muncul juga masalah yang sudah mulai keliatan yaitu perubahan sosial dan budaya di Jepang. Budaya Jepang yang udah kita kenal mungkin secara perlahan akan berubah karena banyaknya warga asing masuk kedalam kehidupan sehari-hari di Jepang. Contoh masalah sosial dan budaya yang dikhawatirkan oleh warga Jepang yaitu mengenai kepercayaan terhadap sesama warga. Ini terlihat dari jumlah tindak kriminal di Jepang yang dilakukan oleh warga asing. Sehingga warga Jepang banyak yang khawatir kedepannya makin banyak orang-orang yang ga ikut aturan dan budaya di Jepang. 

    Belum lagi ada dorongan dari politik sayap kanan seperti Sanseito yang memanfaatkan kekhawatiran ini dengan mengusung "anti-imigran" dan "Japanese First", sehingga warga yang udah merasakan keresahan ini ingin mengeluarkan suara mereka. Akhir-akhir ini kalau liat SNS di Jepang, isu imigrasi udah jadi salah satu topik utama yang paling banyak diperdebatkan. Jadi kalau diliat secara skala demonya, sebenarnya terbilang kecil kalau dibanding demo di negara lain, tapi sepertinya pengaruhnya di sosial media dan pemerintahan Jepang itu cukup besar. 

    Kemudian datang berita yang mindblowing yaitu "Jepang akan melakukan pertukaran tenaga kerja dengan India sebesar 500,000 orang dalam 5 tahun kedepan". Ini jadi triger yang membuat warga Jepang semakin khawatir bahwa negara mereka akan berubah ke arah yang tidak diharapkan.

    Nah terus apa pengaruhnya? Apa kita udah ga bisa kerja di Jepang?

    Kalau udah baca dari awal, pasti udah tau jawabannya. "Jepang tetap butuh tenaga kerja ASING, dan tidak akan jadi negara tertutup". Kenyataan ini ga mengubah apapun guys. Sebab cara menyelesaikannya krisis tenaga kerja di Jepang itu mau ga mau tetap menarik tenaga kerja dari luar. Kesepakatan dengan India yang tadi aku sebutin pun ga ada tanda-tanda bakal ditarik oleh pemerintah Jepang. Di sisi lain banyak warga negara lain yang iri dengan kesepakatan ini, seperti netizen Indonesia banyak yang heran "kenapa India bukan Indonesia". Iya aku ngerti sih perasaan kalian. 

    Nah ngeliat masalah krisis tenaga kerja ini sekalipun orang Jepang mendadak pada kompak nikah, kawin dan angka kelahiran di Jepang mendadak naik. Hal tersebut mungkin bisa jadi solusi di masa depan, tapi gak akan menyelesaikan krisis tenaga kerja saat ini. Belum lagi kalau kita liat data kenapa orang Jepang tidak mau nikah dan punya anak, sebenernya kemungkinan mereka mau kompak nikah dan kawin terbilang sangat kecil. Kalau penasaran detailnya silahkan check datanya di halaman ini. So, kenyataan bahwa Jepang membutuhkan tenaga kerja dari luar belum berubah sama sekali.

    Untuk bisa terus memutar ekonomi, saat ini Jepang masih sangat bergantung sama tenaga kerja asing. Namun kalau ditanya efeknya seperti apa, aku yakin akan ada perubahan. Untuk Indonesia dan negara lainnya apakah efeknya sebatas membatasi jumlah pekerja asing, atau mungkin sebatas memperketat seleksi orang asing yang kerja di Jepang. Untuk yang udah di Jepang, mungkin kalian akan kena diskriminasi, tapi kita berharap ga akan ya. Jadi coba jaga sikap kalian dan jangan macem-macem dulu deh selama di sana. Aku sih sering liat netizen udah pada mendiskriminasi warga berkulit hitam yang lagi sekolah di Jepang, dan semoga gak akan terjadi terhadap WNI.

    Tapi kalian sebagai warga Indonesia yang ingin atau bahkan bercita-cita kerja di Jepang harusnya ga perlu terlalu khawatir. Yang perlu dilakukan ga berubah. Kalian belajar dulu bahasa Jepangnya, kejar pekerjaan dengan visa yang sesuai dengan target kalian. Contoh tokutei ginou atau specified skill worker ga keliatan ada tanda-tanda bakal dihilangkan, jadi tokutei ginou untuk kerja di Jepang itu masih sangat bisa ya. Jadi yang mau ngejar N4 secara efektif biar bisa ke Jepang lewat tokutei ginou, bisa aku bantuin ya. Kalau penasaran gimana belajar N4nya bisa check halaman ini

    Jangan hanya belajar bahasanya aja, tapi sekalian kalian pelajari juga budaya mereka. Suatu saat ketika kalian udah berangkat ke Jepang, aku nitip nama baik warga negara Indonesia di tangan kalian. Minimal jangan sampai malu-maluin nama baik Indonesia. Biar setidaknya penerus-penerus kita tidak akan dipersulit kedepannya ya. Aku tau ga semua mentor di Indonesia bener-bener mengerti dan bisa ngejelasin budaya Jepang. Ya intinya jangan berhenti belajar dan ngerasa puas dengan ilmu dan skill yang udah kalian punya sekarang. Belajar yang aku maksud bukan hanya soal ilmu dan skill aja, tapi belajar untuk rasa empati dan peduli satu sama lain juga ya.

    Tapi balik lagi, sekarang zaman udah mulai berjalan ke arah yang tidak stabil ya. Ini ga hanya di Indonesia, tapi di dunia termasuk Jepang juga. Kita ga tau kedepannya akan jadi seperti apa. Jadi, kita coba doain bareng-bareng ga akan terjadi hal yang aneh-aneh ya. Biar impian kalian buat kerja di Jepang bisa tercapai semua. Tapi menurut kalian gimana nih? Apakah memang Jepang akan jadi negara tertutup? Atau mungkin kalian punya prediksi yang lain? Coba tulis di kolom komentar ya. Aku mau denger pendapat kalian.

  • Kerja di Jepang

    Alasan Daripada Lanjut Kerja di Jepang Lebih Baik Pulang Ke Indonesia Dulu

    Mungkin banyak dari kalian yang belajar bahasa Jepang berbulan-bulan, dan akhirnya berhasil berangkat kerja ke Jepang. Setelah bertahun-tahun di Jepang waktu visanya udah mau selesai. Kalian punya pilihan untuk lanjut atau ganti visa sebenernya, tapi ternyata banyak yang milih pulang ke Indonesia daripada lanjut. Kenapa ga pada milih lanjut kerja di Jepang ya? Pada kapok kerja di Jepang?

    Dari temen-temen yang aku kenal sih kebetulan mereka tipikal yang ingin lanjut kerja di Jepang ya. Buktinya circle aku di Indonesia makin kecil, karena mereka pada milih netap di Jepang. Tapi aku juga sering denger cerita dari temen deket sampe temen-temenku di J-class bahwa ternyata ga dikit orang yang udah bertahun-tahun kerja di Jepang, kemudian mereka milih untuk pulang ke Indonesia daripada lanjut kerja disana.

    Memang ketika masa visanya habis kita terpaksa untuk pulang ke negara asal kita. Dalam sebagian case visa memang bisa diperpanjang. Makanya kita kesampingkan dulu deh jenis visa yang tidak bisa diperpanjang, dan yang ketika habis visanya kebetulan perusahaan tempat kerjanya ga mau memperpanjang kontraknya. Kalau keburu dapet kerja baru di bidang yang sama sih bisa aja lanjut ya (balik lagi ga semua bisa). So kita kesampingkan dulu mereka yang ingin lanjut tapi terhambat dengan jenis visa atau kondisi ga keburu dapat kerja yang baru sebelum visanya beneran habis. 

    Nah diluar apa yang tadi kita bahas ternyata ada banyak orang yang malah ingin pulang ke Indonesia daripada lanjut kerja di Jepang? Aku sih memang udah banyak cerita bahwa kerja di Jepang itu ga enak. Inget budaya kerja di Jepang itu berat ya ga cocok lah buat kalian yang mentalnya masih lemah, yang ingin kerja nyantai, dan ingin bisa males-malesan selama di sana. Kenyataannya cukup banyak yang milih pulang karena ngerasain bertapa beratnya kerja di Jepang. Malah ada yang baru dateng ke Jepang dan ga lama kemudian dia nangis minta dipulangin ke Indonesia. Padahal visanya baru jalan bentar ya, tapi dia minta dipulangin.

    Ada juga yang punya mental yang kuat dan ingin lanjut kerja di Jepang, tapi ngerasa skillnya masih kurang setelah nyobain kerja di Jepang. Jadi dia milih pulang ke Indonesia dulu buat fokus lanjut belajar bahasanya lagi, sebelum dia balik lagi kerja ke Jepang. Kalau yang ini alasannya bagus banget ya, dia berusaha untuk maju ke next level, dan berusaha berkembang setelah mengetahui kelemahan yang dia rasain. Ya daripada stay di Jepang ga bisa fokus belajar karena cape kerja ya, pulang dulu ke Indonesia buat fokus naikin skill bisa jadi salah satu pilihan ya. Kecuali kalian percaya diri kalau kalian bisa belajar skill baru ditengah kesibukan kerja di Jepang, kalian bisa cari dan ambil kelas yang online ya.

    FYI kalau kalian rasa N5 atau N4 udah cukup untuk bisa ngobrol sama orang Jepang, sebenernya kalian salah. N5 dan N4 itu basic dari bahasa Jepang, jadi wajar kalau yang baru lulus N4 apa lagi N5 waktu diajak ngobrol malah langsung ngeblank atau ga bisa berkata-kata. Kalau mau bisa ngobrol lebih enak sama orang Jepang aku selalu saranin setidaknya kejar N3. Soalnya banyak pola kalimat dan kosakata-kosakata sehari-harinya orang Jepang itu dipelajari di N3. Kalau udah punya bank kosakata dan pola kalimatnya ya aku jamin ga akan ngeblank banget kaya waktu kalian bawa N4 ke Jepang.

    Ga ada salahnya kalian punya skill N3 tapi ke Jepangnya pakai visa TG. Ya untuk kalian yang lulusan sarjana sih aku lebih nyaranin naikin skillnya lagi ke N2 terus cari kerjanya visa gijinkoku aja sekalian. Tapi untuk yang lulusan SMA/K dan ingin kerja di Jepang, malah aku saraninnya punya N3 dulu sebelum berangat TG. Setidaknya biar kalian punya kelebihan ketika dibandingkan dengan pesaing kalian yang cuman ngejar N4. Belum lagi dengan punya N3 kehidupan di Jepangnya pun akan terasa lebih mudah, terutama dalam aspek sosial selama di Jepang ya. Karena kalian akan lebih ngerti dan bisa lebih nyambung ketika ngobrol sama orang Jepang, dan kalau komunikasi lancar kemungkinan kalian dibully bakal berkurang dah.

    So aku kasih kesimpulan ya guys "Pulang dulu ke Indonesia setelah bertahun-tahun di Jepang itu bukan hal yang salah". Intinya kalian pulang ke Indonesia bawa apa? dan kalau rencananya balik ke Jepang kalian rencananya selama di Indonesia mau ngelakuin apa? Pikirin dulu rencananya ya sampe next kalian ke Jepang lagi, kalian mau ngapain di Indonesianya. Saran aku sih naikin dulu aja level bahasa Jepangnya, biar makin percaya diri nanti waktu balik ke Jepangnya. Yang pulang masih N5 coba naikin ke N4 atau mungkin kejar N3nya. Gimana nih menurut kalian? Apakah kalian tim yang ingin stay terus di Jepang? Atau tim yang suatu saat ingin pulang ke Indonesia? Coba tulis di kolom komentar ya. Aku mau denger pendapat kalian.

  • Kerja di Jepang

    Mau Interview ke Perusahaan Jepang? Coba Kenali Dulu Budaya Interview di Jepang

    Hayo siapa di sini yang lagi seneng karena dapet kabar lanjut ke tahap interview? Pasti sengeng ya dengernya baik kabarnya dateng dari perusahaan yang dilamar atau lembaga yang baintuin job match. Seneng juga akhirnya mulai keliatan nih usaha belajar bahasa Jepang sampe ke tahap ini akhirnya akan berbuah. Tapi sekarang muncul pertanyaan "mensetsu atau interview di perusahaan Jepang sama ga ya sama di Indonesia?". Nah sini aku bantuin ngasih gambaran gimana mensetsu atau interview ke perusahaan Jepang ya guys. Coba baca dan pahami sampe beres yuk.

    Ngomong-ngomong apa udah pada tau kalau interview di Jepang itu budayanya beda banget dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia interview sebenernya terkesan formal tapi jujur ternyata ga seformal yang aku bayangin waktu kuliah. Aku sempet bayangin interview itu selalu pake baju jas lengkap dan kesannya formal banget gitu. Tapi dari pengalaman aku ngelamar ke beberapa perusahaan, dan ditambah cerita temen-temen aku sih ternyata banyak yang datang interview pake baju semi formal tapi tampil rapih aja udah cukup. Ya ga semua perusahaan menerima yang seperti ini memang tapi image yang aku ambil tentang interview kerja di Indonesia itu ga begitu formal, dan sangat fleksibel. Ya disisi lain ini point plus ya.

    Tapi bagai mana dengan di Jepang? So kita coba masuk ke point pembahasan seperti apa budaya interview di Jepang. Buat yang ga tau, interview di Jepang dengan di Indonesia itu budayanya beda banget. Secara garis besar bedanya di seserius apa pelaksanaannya. Di Indonesia aku mau coba detailkan lagi, bahwa interview itu formal tapi ga dikit perusahaan di Indonesia yang melaksanakannya lebih fleksibel menyesuaikan kondisi. Peserta interview yang terkesan nyantai dan bisa bercakap casual blak-blakan, datang telat ke interview pun masih banyak yang di perbolehkan, format CV lebih bervariasi bahkan sampe jadi ajang kreatifitas, selama bisa beperilaku sopan, gerak gerik dan kelakuan selama interview biasanya ga begitu diperhatikan. Nah di Jepang itu bedanya di tingkat formalitasnya. Kita coba bahas satu-satu yuk.

    1. Ketepatan waktu akan sangat dinilai di Jepang. Kalau kalian telat 1 menit aja untuk datang ke interview itu sama aja kalian ga sopan dan ga ngerhargain mereka. Jadi omat ya guys, perhatikan waktu dan jangan sampai telat untuk datang ke interviewnya. Coba usahain datang 15 menit sebelum mulai kalian udah tiba di lokasi, atau kalau interviewnya online setidaknya 10-5 menit sebelum mulai kalian udah standby untuk masuk ruangannya.

    2. Penampilan perlu diperhatikan juga guys. Kalau di Indonesia selama penampilan rapih tuh masih banyak yang ngizinin, di Jepang punya standarnya sendiri. Seperti harus pake setelan Jas hitam atau gelap, pake dasi, dll yang intinya formal banget dah.

    3. Formalitas dan etika di Jepang pun jauh lebih ketat. Bukah hanya harus pake gaya bahasa sopan, tapi kita perlu perhatikan gerak-gerik seperti ketika membungkuk (ojigi), cara masuk dan keluar ruangan, cara duduk, hingga gerak-gerik ketika berbicara akan sangat dinilai di perusahaan Jepang. Contoh baiknya coba untuk tunjukkan sikap rendah hati, menghormati pewawancara, dan berbicara dengan nada sopan dan tenang. Hindari gerakan berlebihan, memotong pembicaraan, atau terlalu banyak berbicara tentang diri sendiri. Duduk tegak dengan kedua kaki rapat. Jangan main duduk dan tunggu dipersilakan duduk. Matikan ponsel jangan sampe telepon mengganggu proses interview.

    4. CV di Jepang ada format wajib yang perlu kita ikutin. Kalau yang ini coba check di internet aja kalian udah bisa dapet banyak referensi yang bagus. Kalau engga coba check template dan tips cara penulisan CV ini ya. 

    5. Persiapkan worst casenya. Kalau interviewnya online, pastikan juga kondisi listrik dan internet kalian baik. Keluar di tengah-tengah interview ini dianggap kurang persiapan oleh mereka. Persiapkan untuk case hal tadi terjadi, seperti sediakan 2 koneksi internet takutnya yang 1 tiba-tiba mati, kemudian pake laptop atau tablet yang batrenya masih cukup banyak biar kalau mati lampu masih bisa tetep jalan interviewnya.

    6. Berikutnya adalah kemampuan. Jelas banget ya, kalau kalian ingin bekerja di Jepang pastinya skill bahasa Jepang kalian akan dinilai selama proses interview. So pelajari lagi dan dalami lagi bahasa Jepangnya biar ketika interview bisa lebih matang ya. Jangan sampai kalian punya sertifikat N4 atau bisa jadi punya N2 tapi waktu di ajak ngobrol waktu interview kalian ga bisa ngomong apa-apa.

    7. Perusahaan di Jepang sangat menghargai sikap positif, motivasi, dedikasi, loyalitas, dan kemampuan beradaptasi. Jadi coba tunjukkan bahwa kalian bersedia belajar, bekerja keras, dan beradaptasi dengan budaya kerja mereka. Kasih jawaban yang jujur dan masuk akal juga ya, jawaban berlebihan akan keliatan loh.

    8. Pertanyaan yang dilontarkan saat interview pun akan sangat berbeda. Di Indonesia mungkin lebih fokus ke pengalaman dan skill pelamarnya. Nah di Jepang pertanyaannya akan lebih luas. Selain pertanyaan tentang latar belakang dan pengalaman, pewawancara juga sering ingin mengetahui motivasi kalian untuk bekerja di Jepang, pemahamanmu tentang budaya Jepang, dan bagaimana kamu akan beradaptasi. Pertanyaan yang menguji karakter dan kemampuan adaptasi sering muncul, seperti "Jika kamu binatang, kamu binatang apa?". Untuk pertanyaan yang krusial akan aku coba bahas lebih detail di artikel berikutnya ya.

    Udah mulai dapet bayangan gimana interview di Jepang? Yang aku sebutin tadi bisa jadi ada point yang berbeda tergantung perusahaan yang kalian lamar. Karena ya meskipun sedikit tapi di Jepang pun ada perusahaan yang lebih santai budayanya. Tapi saran aku sih biar bisa diterima, kita ga ada salahnya untuk mempersiapkan sesuai dengan budaya interview di sana. Apakah artikel ini bermanfaat buat kalian? Terus kalau ada yang pernah interview atau mensetsu ke perusahaan Jepang, coba ceritain juga di kolom komentar dong pengalaman kalian selama interview. Aku mau dengerin cerita kalian.

  • Kerja di Jepang

    Kenalan Sama TG Konstruksi, Di Indonesia Masih Minim Peminatnya?

    Di sini siapa yang belum denger tentang TG Konstruksi? Memang kalau ngomongin TG atau tokutei ginou, orang-orang langsung ngomongin antara TG Perawat, TG Perikanan, atau mungkin TG Pertanian, ya kebetulan 3 TG tadi memang cukup banyak di Indonesia. Nah tapi kebetulan kemarin-kemarin aku check ulang data mengenai angka tokutei ginou guys, dan dari data itu aku nemu sesuatu yang menarik, yaitu ternyata ada satu kategori TG yang mungkin kurang disorot di Indonesia tapi permintaannya ternyata cukup banyak. TG apa itu? Yuk kita coba masuk pembahasan.

    Apa akan aku coba bahas pertama adalah sebanyak apa peserta TG yang masuk di bulan desember 2024. Kalau kita baca data tersebut sebenernya kita bisa dapet banyak insign yang menarik. Dan respon pertama aku sih "ternyata banyak juga ya permintaan TG Konstruksi". Dari Indonesia paling banyaknya dari sektor kaigo, dan kedua di sektor pengolahan makanan, dan kemudian di sektor perikanan. Kalau kita liat secara keseluruhan angka, ternyata ada sektor yang mungkin kurang dilirik di Indonesia salah satunya itu TG Konstruksi atau (けん)(せつ)(ぶん)(). Bisa kalian check di tabel berikut :

    Sumber: 外国入国管理事務証の特愛知技能の2025年報告

    Kenapa kali ini aku mau ngebahas khusus untuk TG Konstruksi? TG Kontruksi ini ada di posisi ke 4 terbanyak dengan jumlah 13.5% dari keseluruhan, dan kebetulan sebenernya permintaannya terhadap WNI itu ada dan cukup banyak, tapi masih banyak WNI yang kurang aware atau kenal sama TG yang satu ini. Kalau kita liat dari data detailnya, peserta ikut test dari Indonesia masih terbilang sedikit. Belum lagi yang berhasil lulus setelah ikut test TG konstruksi pun belum setinggi itu, bisa kalian check dari data berikut :

    Sumber: 一般社団法人建設技能人材機構 (JAC)

    So, aku mau ambil kesempatan ini untuk ngenalin sedikit ke temen-temen mengenai TG Konstruksi. Siapa tau ada yang tertarik dan mau ngambil kesempatan untuk ke Jepang via TG Konstruksi ini ya. FYI, Japan Association of Construction Human Resource (JAC) udah mulai ngelirik Indonesia loh, jadi kedepannya kita bisa pasang ekspektasi bakal ada pelatihan dan juga seminar untuk TG konstruksi di Indonesia ya. Dengan gini siapa tau peminat TG konstruksi di Indonesia meningkat, diikuti dengan persentasi kelulusannya.

    So kalau aku jelasin apa sih yang dilakukan atau di kerjakan kalau kalian ke Jepang lewat TG Konstruksi? Sebenernya TG Konstruksi terbilang luas banget ranah pekerjaannya. Kalau kita ambil garis besarnya, kita bisa bagi jadi 3 kelompok yaitu 'pekerjaan teknik sipil', 'pekerjaan arsitektur', dan 'pekerjaan lifeline/infrastruktur dan pemasangan'.Detailnya akan seperti berikut :

    Pekerjaan Teknik Sipil

    Pekerjaan teknik sipil lebih berfokus pada pekerjaan yang berkaitan dengan infrastruktur berskala besar dan proyek di luar bangunan. Pekerjaan ini umumnya dilakukan di area terbuka dan lebih melibatkan perancangan, pembangunan, dan pemeliharaan struktur yang mendukung keseharian masyarakat. Biasanya yang masuk kedalam kategori ini seperti pekerjaan pembangunan bendungan, pembangunan sungai/pantai seperti pemecah gelombang, tembok laut, dll. Ada juga pembangunan jalan, berbagai macam terowongan, jembatan, rel kereta, dan lainnya. Jadi memang fokus untuk infrastruktur yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat.

    Pekerjaan Arsitektur

    Pekerjaan Arsitektur ini berfokus pada pekerjaan yang berkaitan dengan pembangunan dan penyelesaian interior maupun eksterior bangunan. Kategori ini umumnya dilakukan di dalam atau di sekitar area bangunan, dan sering kali memerlukan keahlian detail untuk menciptakan struktur yang fungsional dan estetis. Nah yang termasuk pekerjaan arsitektur meliputi pekerjaan tukang kayu bangunan, pemasangan bata/batu bangunan, pemasangan atap, penyelesaian interior dan eksterior, pemasangan besi tulang, pemeliharaan/perawatan/renovasi rumah dan lainnya.

    Pekerjaan Lifeline/Infrastruktur dan Pemasangan

    Pekerjaan lifeline/infrastruktur dan pemasangan ini berfokus pada pekerjaan yang berkaitan dengan pemasangan, perbaikan, dan pemeliharaan sistem utilitas dan peralatan di dalam atau di luar bangunan. "Lifeline" di sini merujuk pada sistem vital yang menopang kehidupan sehari-hari, seperti listrik, air, dan gas. Nah kalau kita coba detailkan lagi, yang termasuk pekerjaan lifeline meliputi pekerjaan kelistrikan, pekerjaan gas kota seperti pemasangan pipa gas, suplai air, bahkan drainase. Ada juga Pekerjaan telekomunikasi seperti pemasangan jaringan dan alat-alat internet. Ada juga pekerjaan berhubungan alat-alat yang mengendalikan suhu ruang seperti pemasangan AC, pemasangan bahan insulasi termal, dan juga pekerjaan lainnya.

    Khususnya di bidang lifeline ini ternyata cukup banyak permintaan yang masuk untuk WNI guys. Tapi karena peminat dan yang memang udah punya kualifikasinya belum banyak, terkadang mereka kesulitan untuk dapetin pekerja dari WNI, dan berakhir mencari dari negara lain. Sayang ga sih kalau gini terus? Makanya aku mau ngenalin kalian sama TG Konstruksi ini. Minimal ada beberapa yang nonton mungkin tertarik untuk ikut TG Konstruksi.

    Fun fact dari pengalaman orang yang udah ikut, di sektor konstruksi ini banyak bistrip ke berbagai tempat di Jepang, jadi bakal banyak ketemu teman baru dan kebetulan rekan kerjanya memang orang lapangan tapi relatif lebih berpendidikan karena bareng orang-orang yang ngerti listrik atau jaringan. Jadi case ketemu perlakuan bullying lebih jarang terjadi kalau dibanding sektor lainnya. Tapi tetep ya, perkuat lah kemampuan bahasa Jepangnya sebelum berangkat, biar bisa lebih mudah akrab sama orang-orang sana dan memperkecil kemungkinan dibully.

    TG Konstruksi memang punya kesan yang berbahaya dan keras banget kerjanya. Karena pasti udah ngebayangin kalian naik ke rangka bangunan yang tinggi, bawa barang-barang berat, kalau ga hati-hati bisa ketimpa barang berat, dan macam-macam pikiran negatif kita. Tapi sebenernya di Jepang itu udah ada standar yang tinggi untuk menjamin keselamatan para konstruktornya jadi selama mengikuti standar keselamatan, kalian harusnya bisa lebih tenang selama bekerja di sana. Semoga aja kalian yang sudah ngerasain pengalaman standar keselamatan kerja yang tinggi di Jepang, nantinya bisa kalian aplikasikan di Indonesia waktu udah punya perusahaan konstruksi di Indonesia ya.

    Nah bagaimana nih bahasan kali ini? Kali ini mungkin ga begitu relate sama belajar bahasa Jepangnya ya. Tapi semoga membantu buat kalian yang masih cari-cari informasi kerja ke Jepangnya mau di bidang apa.Apakah dengan baca tulisan ini kalian jadi tertarik atau mulai mempertimbangkan untuk ikut TG konstruksi? Atau mungkin ada yang masih khawatir dan ragu-ragu? Karena mungkin ngebayangin kerja konstruksi itu keras banget gitu ya. Tapi apapun pendapat kalian, coba tulis dong di kolom komentar ya, aku mau tau pendapat kalian.

  • Kerja di Jepang

    List Pertanyaan Krusial Saat Interview ke Perusahaan Jepang

    Sebelumnya kita udah bahas bagaimana sih budaya interview di Jepang ya. Yang belum baca-baca, kalian bisa check di artikel ini dulu sebelum lanjut ya. Karena ini akan jadi lanjutan dari bahasan artikel itu dan kali ini kita akan coba fokus ngebahas jenis pertanyaan krusial yang biasanya ditanyakan saat interview di perusahaan Jepang. 

    Sebelumnya aku sempet mention juga bahwa jenis pertanyaan interview di perusahaan Indonesia dan Jepang secara garis besar agak berbeda. Di perusahaan Indonesia pertanyaan krusialnya mungkin lebih banyak mengenai skill dan pengalaman yang berkaitan dengan kecocokan kalian di posisi yang akan ditempati nanti. Kalau bagian itu udah cocok, sisanya mungkin lebih ke ngobrol basa basi. Ya, ga semua perusahaan seperti itu, tapi umumnya interview di Indonesia seperti ini.

    Nah di Jepang kecocokan skill & pengalaman dengan posisinya memang krusial, tapi cocok skillnya cocok aja ga akan menentukan kalian bisa diterima. Di Jepang selain pertanyaan tentang latar belakang dan pengalaman, pewawancara juga sering ingin mengetahui motivasi kuatmu bekerja di Jepang, pemahamanmu tentang budaya Jepang, dan bagaimana kamu akan beradaptasi. Pertanyaan yang menguji karakter dan kemampuan adaptasi pun sering ditanyakan. 

    Sekali lagi aku ingetin ya, apa yang aku share tentang pertanyaan interview ini bisa jadi ga lengkap, ga mutlak dan biasanya tiap perusahaan punya pertanyaan-pertanyaan dan standar jawabannya masing-masing. Jadi anggap aja ini sebagai gambaran umum yang mungkin bakal muncul pertanyaan seperti apa, dan kalau kalian udah tau setidaknya kalian bisa punya persiapan yang lebih mateng. List pertanyaannya krusial di Perusahaan Jepang akan seperti berikut:

    • ()()(しょう)(かい)をお(ねが)いします (Silahkan perkenalkan diri kamu)

      Biasanya cukup perkenalkan diri, seperti nama, latar belakang pendidikan, minat di posisi apa, pengalaman yang relate dengan pekerjaan tujuannya. Tapi aku mau coba bahas lebih detail di artikel terpisah ya. Sekaligus dengan contoh-contohnya.

    • ()()PRをしてください (Silahkan promosikan diri kamu)

      Ini ga selalu diminta, tapi cukup sering diminta untuk mempromosikan diri kalian. Intinya coba buat perusahaan merasa kamu itu orang yang tepat untuk posisi ini. Ini cukup detail, so aku coba bahas di artkel terpisah beserta contohnya ya.

    • あなたの(ちょう)(しょ)(たん)(しょ)(おし)えてください (Tolong jelaskan kelebihan dan kekurangan kamu)

      Ini udah jadi template yang pasti muncul di interview. Biasanya untuk memahami kesadaran diri kalian, dan yang dicari itu kandidat bisa jujur, reflektif, dan proaktif dalam mengatasi kelemahan atau engga. Coba sebutin 2-3 kelebihan contohnya teliti, bertanggung jawab, cepat belajar, dll. Kemudian coba ceritakan sedikit kenapa kalian bisa bilang itu kelebihan kalian. Untuk kekurangan, sebutin aja 1 yang tidak krusial di dalam pekerjaan, dan paling pentingnya itu jelasin juga bagaimana kalian menyelesaikan atau menangani kekurangan kalian supaya hal buruk tidak akan terjadi.

    • なぜ(とう)(しゃ)(おう)()しましたか? (Kenapa kamu melamar ke perusahaan ini?)

      Riset dulu sedikit mengenai perusahaan yang kalian lamar, dan coba kaitkan visi dan misi perusahaan dengan alasan kalian ingin melamar. Mereka ga mau nerima pelamar yang alesannya karena hanya ada lowongan pekerjaan.

    • キャリアプランを(おし)えてください (Jelaskan rencana karir kamu)

      Cara nanyanya mungkin beda-beda, tapi sering kali ditanyakan tentang rencana karir kalian di perusahaan tersebut. Rata-rata ditanyain seperti "kamu dalam 3-5 tahun udah jadi apa di sini?", dll.

    • これまでの(けい)(けん)で、(もっと)(いん)(しょう)(のこ)っている(せい)(こう)(たい)(けん)(しっ(ぱい)(たい)(けん)(なん)ですか?(Ceritain pengalaman kamu terbaik dan terburuk kamu)

      Sering kali ditanyakan pengalaman terbaik dan terburuk kamu apa selama ini. Cukup jelaskan situasinya, tindakan yang ambil, dan hasilnya (termasuk pembelajaran dari kegagalan).

    • なぜ()(ほん)(はたら)きたいのですか?(Kenapa ingin kerja di Jepang?)

      Biasanya cuman memastikan motivasi kalian kuat dan tidak hanya sebatas "ingin jalan-jalan". Jelaskan ketertarikan Anda pada etos kerja Jepang, budaya perusahaan Jepang, teknologi, atau keinginan untuk mengembangkan diri di lingkungan yang berbeda, jadi fokus sama jawaban yang berhubungan dengan karir, dan hindari jawaban klise atau terlalu fokus pada hal-hal turis.

    • ()(ほん)(ぶん)()(しゅう)(かん)について、どのくらいご(ぞん)()ですか? (Udah tau sebanyak apa tentang budaya kerja di Jepang?)

      Sebaiknya research dulu budaya kerja di Jepang, supaya kalau ditanyakan pertanyaan ini, kalian bisa jawab dengan benar.

    • あなたは(どう)(ぶつ)だとどんな(どう)(ぶつ)ですか? (Kalau kamu binatang, kamu binatang apa?)

      Untuk yang kerjanya pake visa gijinkoku (profesional worker) mungkin akan ada pertanyaan yang tricky seperti yang satu ini. Pertanyaan ini ga baik kalau kalian cuman jawab nama binatangnya seperti kalian jawab "harimau" aja. Tapi kalian perlu jelasin kenapa kalian melihat diri kalian sebagai "harimau", apakah karena kalian "pemberani","percaya diri", atau mungkin "berkarisma" apapun itu kalian harus bisa jelasin alesannya. Yang interviewnya untuk kerja profesional worker siap-siap ada pertanyaan-pertanyaan yang tricky seperti ini ya.

    • (なに)(しつ)(もん)はありますか? (Apakah ada pertanyaan?)

      Ini pertanyaan yang selalu ditanyakan di menjelang akhir interview. Biasanya kalau udah ditanyain ini tandanya interview udah masuk ke fase terakhir. Jangan sampai salah, ini pertanyaan yang sangat penting loh. Biasanya dijadikan standar untuk mengukur tingkat ketertarikan dan inisiatif kalian, jadi kalau ga nanya justru bisa dianggap tidak tertarik, dan kalian berakhir ga terpilih. Penting untuk siapkan 1 atau 2 pertanyaan seperti "Bagaimana budaya kerja tim di departemen ini?", "Teknologi apa yang dipakai di perusahaan ini?, atau "Apa saja tantangan terbesar yang mungkin saya hadapi di posisi ini?" silahkan sesuaikan dengan posisi yang kalian incar juga ya. Satu lagi, hindari pertanyaan yang jawabannya bisa ditemukan di website perusahaan, makanya penting untuk riset dulu perusahaannya.

    • Pertanyaan lainnya

      Tadi aku share pertanyaan krusial yang umum ditanyakan. Kalian ke Jepangnya nanti pakai visa apa? Terus kerjanya jadi apa? Itu akan menentukan pertanyaan yang lainnya. Contoh, untuk yang ke Jepang magang atau mau sekolah ke nihongo gakko, biasanya pertanyaan lainnya akan jadi lebih simple. Kaya "hobi kamu apa?", atau "apa yang kamu sukai dari Jepang?". Pertanyaan tadi biasanya hanya untuk perusahaan atau sekolah bisa tau kalian udah bisa diajak ngobrol pake bahasa Jepang atau belum.

    Yang berangkat pake specified skill worker (SSW / TG) itu biasanya sedikit lebih detail pertanyaannya. Selain pertanyaan seperti "hobi" atau "kesukaannya di Jepang", biasanya ada juga pertanyaan mengenai bidang kerjaan kalian lamar. Balik lagi, meskipun lebih detail tujuannya untuk nentuin kalian udah bisa diajak ngobrol pake bahasa Jepang atau belum, dan udah siap nerima arahan yang lebih detail saat kerja nanti. Jadi selama kalian bisa jawab pertanyaan-pertanyaannya, kalian udah dianggap siap dari segi bahasa Jepangnya.

    Makanya penting untuk menguasai bahasa Jepang dan banyak latihan. Contoh kalian bisa latihan di depan kaca, sambil liat expresi kalian, sambil latihan menjawab pertanyaan-pertanyaan penting tadi. Setidaknya kalian bisa lebih siap untuk menghadapi mensetsu / interview. Pertanyaan lainnya yang aku mention barusan memang akan disesuaikan dengan level pesertanya. Masa iya kalian yang masih N5 tiba-tiba ditanyain pertanyaan yang susahnya minta ampun? Mereka pun ga akan masang ekspektasi yang tinggi untuk yang masih N5. So coba lebih rileks dan siapin aja jawaban yang sekiranya muncul di interviewnya, dan jangan lupa tata krama dan budaya interview Jepangnya ya.

    Bagaimana guys materi kali ini? Aku baru bahas interview mengenai budaya interview dan pertanyaan umumnya ya. Ada detail interview yang akan aku bahas di artikel terpisah. Nanti kalau udah ada aku pasang juga linknya di artikel ini ya. Tapi gimana menurut kalian setelah mengetahui budaya interview di Jepang? Apakah kalian ngerasa budaya interview disana berlebihan? Atau memang budaya interview itu seharusnya seperti ini? Coba tulis di kolom komentar ya guys. Aku mau denger pendapat kalian.

  • Kerja di Jepang

    Mending jadi Budak Korporat di Indonesia atau Jepang?

    Kalau kita tanya orang-orang yang ingin kerja ke Jepang "kerja ke Jepang mau kerja apa sih?". Ternyata masih banyak yang mikir "yang penting bisa kerja di Jepang", atau mungkin banyak yang udah punya target ingin kerja pake visa specified skill worker atau tokutei gino. Tapi udah pada tau ga sih kerjaanya seperti apa? Yang jawab mau kerja pake visa tokutei gino aja banyak yang belum bisa bayangin kerjanya gimana, apa lagi yang jawab yang penting kerja di Jepang, KACAU ga sih? So aku mau ngasih sedikit gambaran kerja di Jepang itu gimana, sekaligus kita bandingin mending mana kerja jadi budak korporat di Indonesia atau kerja di Jepang.

    Memang kerja di Indonesia gimana sih? Setidaknya saat ini banyak gambaran bagaimana kerja di Indonesia. Kalian mungkin ga mau kerja kreatif seperti musisi atau seniman karena masih banyak yang kurang dihargai, atau ga mau jadi petani ataupun kerjaan-kerjaan fisik karena kurang menjamin ditambah dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, bisa jadi saat ini kerjaan yang mungkin setidaknya menjamin dan tidak se-menguras energi seperti kerjaan fisik adalah jadi budak korporat.

    Ga bisa dipungkiri sih lika-liku jadi budak korporat di Indonesia pun sebenernya lumayan rumit. Pihak perusahaan yang mati-matian berusaha mempertahankan perusahaannya tetap hidup di tengah ekonomi yang amburadul, di sisi lain pihak karyawan pun ingin gajinya terus meningkat supaya hidupnya lebih tenang. Belum kalau dapet pimpinan yang ga tau cara mimpin sebuah tim, dsb. Jadi budak korporat di Indonesia pun banyak ga enaknya.

    Jadi untuk kalian yang ogah jadi budak korporat di Indonesia dan memilih untuk kerja di Jepang. Nih aku kasih tau 1 kesimpulan kerja di Jepang ya! "Kerja di Jepang itu bisa jadi lebih GA ENAK daripada di Indonesia" Mungkin di social media banyak yang nunjukkin enak-enaknya ya kerja di Jepang itu seperti apa. Yang ngebuat banyak orang Indonesia yang liat konten itu jadi tertarik untuk kerja di Jepang. Contoh ada yang bilang gaji di Jepang itu ampe 50 juta, fasilitas dan tunjangan yang menarik, sisten kerja yang disiplin, dll. Apakah semua itu benar? Atau cuman omon-omon aja?

    Pertama kita liat dari gaji, "Mereka bilang gaji sampe 50 juta perbulan". Statement ini beneran loh, tapi ga semuanya bisa sampe 50 juta perbulan. Kalau gaji kalian GA sampe 50 juta perbulan berarti jenis pekerjaan atau jam kerja kalian atau bisa jadi kaliannya yang tidak layak di bayar 50 juta. Logikanya gini loh, kalau kalian ke Jepang "Magang" atau "Tokutei Gino", kemungkinan besar kalian sulit banget untuk dapet gaji sampe 50 juta perbulan, karena 2 kategori visa tadi itu biasanya pekerjaan kasar atau blue collar seperti buruh pabrik, pertanian, perawat, konstruksi, dll. Sehingga secara value yang kalian kasih ke perusahaan tidak sebesar itu. Memang betul kalau dibanding kerja kasar di Indonesia memang bisa dapet bayaran yang lebih besar, tapi jangan berangkat dengan bawa harapan gaji kalian 50 juta perbulan dari pekerjaan itu. 

    Kalau mau sampe 50 jutaan, kalian perlu dapet pekerjaan yang valuenya tinggi dan juga membutuhkan skill yang lebih tinggi, atau biasa disebut white collar seperti pekerja kantoran, interpreter, IT engineer, dll. Dimana syarat pengajuan dan diterima sama perusahaannya aja memang butuh skill yang tinggi ya. Itupun belum bisa menjamin kalian bisa di gaji 50 juta. Untuk bisa kerja kantoran di Jepang ini yang aku saranain dan bisa kalian capai dengan pake visa gijinkoku, jadi kalian memang direkrut sebagai profesional worker sama perusahaan Jepangnya. 

    Selain itu, budaya kerja di Jepang pun ga kalah ngeselin sama di Indonesia. Malah bisa jadi banyak yang bilang lebih ngeselin. Terutama untuk kalian yang memang memuja work life balance, kalian perlu perhatikan baik-baik ya. Budaya kerja di Jepang itu aneh dan jauh dari kata work life balance. Aku kasih contoh deh, "lembur yang jadi hal yang wajar sampe ada istilah karoshi", "ga ada istilah 'tenggo' jadi ga boleh pulang duluan meskipun udah jam pulang sebelum rekan-rekan terutama atasannya pulang", "budaya Nomikai (minum-minum) setelah jam kerja yang dianggap ga loyal kalau ga ikut", "kurangnya cuti berbayar", dll. Ada banyak yang aneh tapi nyata di budaya kerja Jepang. Jadi yang aku ceritain tadi kayanya yang memang umum diketahui sama banyak orang, sisanya kalau penasaran coba cari tau sendiri, pasti kalian nemu banyak budaya kerja Jepang yang bikin menghela nafas.

    Setelah denger contoh tadi kalian masih ngerasa bisa work life balance di Jepang? Aku yakin GA BISA. Setidaknya kalau kalian mengharapkan work life balance, kalian pasti kecewa dan ingin pulang lagi ke Indonesia. Terus gimana dong kak? Kok orang-orang pada betah kerja di Jepang? 

    Orang yang betah kerja di Jepang itu ingat dan menanam pada diri mereka bahwa "ga ada tempat kerja yang sempurna". Jadi budak korporat di Jepang ataupun di Indonesia punya nilai plus dan minusnya masing-masing. Jadi pilih resiko yang masuk akal buat kalian. Kalau mau dapet bayaran lebih tinggi, silahkan ke Jepang dengan resiko kerjaan kalian yang lebih banyak dan juga perlu menhadapi budaya dan etos kerja di sana. Kalau di Indonesia bisa jadi kerjaan kalian bisa lebih santai, tapi gajinya pun santai ya. Kalau mau gaji yang besar waktu kerja di Jepang, silahkan kejar gijinkoku tapi dengan catatan perlu skill dan value yang lebih tinggi ya. 

    FYI kerja magang atau tokutei gino utamanya perusahaan Jepang butuh pekerja yang bisa dibayar MURAH. Jadi kalau ke Jepang menggunakan program atau visa yang tadi aku sebutin sih ya jangan berharap gaji yang besar seperti bekerja sebagai profesional worker. "Tapi kan kak MURAH bagi perusahaan Jepang bisa jadi MAHAL buat warga Indonesia", ya kalau kalian ngerasa oke dengan itu aku sih ga akan bilang apa-apa lagi ya, silahkan ambil pilihan kalian. Aku saat ini cuman mau ceritakan ada pilihan yang lebih baik loh. 

    Kesimpulan, aku bukan mau nakutin kalian yang mau kerja ke Jepang, tapi untuk memberikan gambaran bahwa kerja di Jepang itu budayanya lebih keras kalau dibanding di Indonesia, dengan catatan bayaran yang lebih layak ya. Kalau mau kerja ke Jepang magang atau tokutei gino supaya ga butuh syarat skill yang tinggi, silahkan!. Mau ke Jepang untuk gijinkoku atau kerja profesional supaya dibayar dengan gaji yang lebih besar? Aku sih saranin yang ini ya. Atau mau kerja jadi budak korporat di Indonesia? Ya pilihan ada di tangan kalian. So, pilihan apa sih yang mau kalian ambil? Terus kenapa kalian pilih itu coba tulis dikomentar dong. Aku mau tau pendapat dan pilihan kalian.

  • Kerja di Jepang

    Ginojisshu atau Internship? Mungkin kalian belum tau visa ini!

    Kalau kita tanya orang "mau kerja ke Jepang pakai visa apa kak?", jawabannya mungkin ga jauh ya, kalau ga visa ginojisshu (magang), bisa visa tokutei gino (specified skill worker), atau bisa jadi visa gijinkoku (profesional worker)?. Memang ya untuk urusan kerja ke Jepang 3 visa tadi memang yang paling diketahui sama banyak orang Indonesia. Tapi kalian udah kenal sama visa yang satu ini belum? Namanya "Visa internship", yang belum kenal yuk aku coba bahas, siapa tau ada yang cocok.

    インターンシップビザ atau visa internship ini sendiri sering disamakan atau disalah artikan menjadi 技能実習ビザ atau visa ginojisshu yang sering diartikan magang. Ya mungkin karena namanya "internship" ya, secara arti sama kaya ginojisshu yang merujuk ke "magang". Hanya yang satu itu bahasa Inggris, dan yang satunya di Indonesia suka diartikan magang. Tapi ternyata 2 visa ini sebenernya berbeda guys. 

    Untuk yang ginojisshu aku udah sempet bahas di beberapa artikel sebelumnya nih. Kalian bisa check di artikel berikut :
    1. Perbedaan Ginojisshusei dengan Tokuteigino
    2. KERJA di JEPANG itu BERAT. Jadi mendingan Magang atau Tokutein Ginou ya ?
    3. Program Magang di Jepang jadi di Hapus?
    4. Program Ikusei Shuurou, Program Pengganti Magang di Jepang

    Jadi kalau yang belum tau tentang ginojisshu, coba baca dulu artikel-artikel di atas ya.

    Nah kali ini aku mau fokus bahas mengenai visa internship yang kebetulan kayanya masih banyak yang kurang tau detilnya. Jangankan detilnya, kayanya masih banyak juga yang ga tau keberadaan visa internship ini. Nah aku akan coba bandingkan dengan visa ginojisshu juga ya, karena kebetulan 2 visa ini punya banyak kemiripan.

    Pertama, kita bahas tujuan visanya. Berbeda dengan ginojisshu yang fokus pada pelatihan kerja (technical internship) untuk ningkatin keterampilan teknis yang dapat diterapkan di negara asal, internship ini fokusnya ke peserta magang yang ingin mendapatkan pengalaman kerja di Jepang dalam waktu singkat. Umumnya visa internship cuman selama 3 bulan sampai 1 tahun, beda sama ginojisshu yang bisa sampai 5 tahun tergantung levelnya. Hebatnya, visa internship bidangnya pun lebih felksibel, yang mau dapet pengalaman bisnis, bekerja di berbagai macam teknik seperti IT pun bisa menggunakan visa ini. 

    Untuk internship biasanya status visanya menggunakan "Cultural Activities" (文化活動) atau "Designated Activities" (特定活動) tergantung kesepakatan dengan perusahaannya. Jadi visa internship biasanya lebih fleksibel secara syarat pengajuan. Karena pemerintah tidak terlalu incharge dalam visa ini. Biasanya diatur oleh perusahaan penerima atau lembaga yang bekerjasama dengan perusahaannya, dan tidak ada pelatihan resmi atau standar yang ditentukan dari pemerintah. Dengan kata lain, karena tujuannya memberikan pengalaman kerja, meskipun bahasa Jepang kalian masih 0 juga sebenernya bisa berangkat selama ada perusahaannya mau nerima. Berbeda dengan ginojisshu yang diatur ketat oleh badan pemerintahan yaitu OTIT (Organization for Technical Intern Training), sehingga syarat pengajuannya lebih ketat.

    Tapi balik lagi ya, aku sih ga nyaranin bahasa Jepang masih 0 terus berangkat ke Jepang untuk kerja. Sekalipun ada perusahaan yang mengizinkan mereka yang masih NOL, aku tetep saranin setidaknya punya N4 dulu. Dari sisi pekerjaan, kalian akan lebih mudah kalau udah bisa bahasa Jepang, selain itu kalian butuh berinteraksi dengan orang Jepang dalam keseharian agar bisa bertahan hidup. FYI, Orang Jepang rata-rata ga percaya diri sama bahasa Inggris mereka, jadi kalau diajak ngobrol pake bahasa Inggris mereka banyak yang menghidar. Bahkan menurut survey, kemampuan bahasa Inggris orang Jepang berada di posisi 92 dari 116 negara non-native English. Sekarang udah ngerti kan kenapa aku saranin setidaknya N4 atau basic bahasa Jepang dulu sebelum berangkat?

    Nah karena internship ga wajib pakai sertifikat JLPT, sehingga kalian bisa mencoba test bahasa Jepang selain JLPT, seperti JLCT dan lainnya. Setidaknya kalian bisa membuktikan ke perusahaan yang akan menerima kalian bahwa kalian sebenernya udah punya kualifikasi bahasa Jepang, sekaligus membangun kepercayaan diri kalian untuk bisa tinggal dan bekerja di Jepang. 

    Hal lain yang mungkin perlu diketahui adalah, pemerintah tidak ikut andil seleksi dan penyelenggaraan internship, sehingga jaminan pelaksaan internship tidak terlalu terkontrol oleh pemerintah. Meskipun begitu pemerintah tetap mengawas kegiatan selama proses internship, jadi kalau ada apa-apa bisa tetep ngandelin pemerintah kok. Saran aku sih ga ada salahnya untuk cari-cari tau dulu perusahaan yang akan kalian lamar. Kalau sekiranya menghawatirkan, kalian bisa pertimbangkan untuk berhenti sebelum terjalin kontrak, dan mencari yang lainnya.

    Atau cobalah internship yang memanfaatkan program universitas. Yang ini biasanya  khusus mahasiswa/i aktif, jadi semacam program praktik kerja lapangan (PKL) untuk mendapatkan nilai dari kampus. Ga semuanya khusus PKL sih memang, tapi dengan jalur ini bisa lebih terjamin daripada mencari sendiri, karena lembaga atau perusahaan punya hubungan yang ingin dijaga dengan pihak universitas. 

    So, gimana guys apakah kalian tertarik untuk internship? Balik lagi kalau tertarik coba kejar N4 aja dulu ya, biar bisa lebih percaya diri ketika udah di Jepang nanti. Kalau belum punya N4nya kita bisa bantu lewat program Akselerasi N4 kita nih, yang tertarik silahkan tanya-tanya tim aku ya. Tapi gimana menurut kalian? Apakah kalian tertarik? Apakah menurut kalian internship itu layak dicoba? Coba tulis di kolom komentar ya, kita diskusi bareng.

  • Kerja di Jepang

    Tokutei Gino itu penyelamat atau penghancur Jepang?

    Jepang mengalami krisis penduduk karena kekurangan pemuda produktif, dan bertambahnya lansia. Sehingga Jepang memutuskan untuk mempermudah akses warga asing untuk bisa bekerja di Jepang. Maka muncul lah visa baru yaitu Tokutei Gino (Specified Skill Worker). Setelah munculnya visa TG ini, jumlah pekerja asing di Jepang meningkat cukup drastis. Tapi apakah ada dampak lain dari visa ini?

    Tokutei Gino dibuat untuk menyelesaikan krisis penduduk di Jepang. Di waktu bersamaan, Jepang pun membantu negara-negara yang memiliki penduduk yang banyak dan juga orang yang ingin kerja di Jepang untuk bisa berkarir di Jepang. Nah ternyata di Indonesia banyak banget yang tertarik untuk kerja di Jepang, sehingga visa Tokutei Gino mendadak ramai peminatnya di Indonesia. Ya kalau dibanding dengan Ginojisshu (magang) sih memang lebih menarik, baik dari sisi pendapatan, hingga perlakuan visanya. Tapi ada hal detil yang perlu diperhatikan oleh warga lokal dan juga peserta Tokutei Ginonya

    Kali ini aku bukan mau ngebesar-besarin atau ngejelek-jelekin Tokutei Gino, tapi kali ini mau ngajak kalian mikir bareng nih, mari kita liat juga sisi negatif dari program yang satu ini. Jadi kalian bisa mempersiapkan bila terjadi hal yang tidak diinginkan selama di Jepang nanti. Nah menurut kalian Tokutei Gino ini sebenernya penyelamat atau penghancur Jepang? 

    Tokutei Gino berhasil menyelesaikan masalah kekurangan penduduk di Jepang

    Serius loh, jumlah pekerja asing di Jepang itu meningkat cukup drastis. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, katanya jumlah pekerja asing sebelum adanya TG di tahun 2018 itu sekitar 1,46 juta. Sedangkan setelah adanya TG di tahun 2023 jumlahnya jadi 2,04 juta penduduk. Kalau dihitung kasar jumlahnya naik sekitar 40% dalam 5 tahun. Ini hal yang bagus, karena ternyata program baru ini udah sesuai target dan berhasil mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja di Jepang.

    Kalau kita lihat secara jumlah aja, program ini terlihat sukses. Selain menyelesaikan masalah penduduk di Jepang, program ini pun berhasil memberikan kesempatan bagi warga asing yang ingin kerja di Jepang. Saat ini, beberapa pabrik makanan mulai bisa beroperasi 24 jam, pedesaan-pedesaan mulai terisi kembali karena adanya TG di sektor pertanian, 40% lowongan perawatan lansia terisi oleh TG. Sehingga pekerja TG pun ikut membantu Jepang dari sisi pendapatan PDB Jepang. Bagus banget berarti ya program TG ini. 

    Eits!? ternyata ada masalah yang terjadi dengan program ini

    Pertama pekerja TG ternyata cukup banyak yang dibayar di bawah upah minimum. Contoh ada yang cuman dibayar 120.000 Yen per bulannya dengan jam kerja 12 jam/hari. Sampai saat ini, ternyata masih ada perusahaan di Jepang yang melihat warga asing sebagai tenaga kerja yang murah. Sehingga bisa dengan mudahnya dipekerjakan lebih tapi dapet bayaran yang kurang dari seharusnya. Memang ga segila Gino Jisshu, tapi ternyata masalah ini tetap terjadi di Tokutei Gino.

    Selain itu ada juga perbudakan modern yang terjadi seperti paspor disita oleh pihak TSK atau mungkin perusahaannya. Kemudian hal ini perlu diperhatikan ya untuk yang ingin coba ikut TG. Program TG sendiri selama belum upgrade ke TG2, kita belum bisa pindah kerja. Sehingga kalau udah terlanjur masuk ke perusaahan itu, mau perusahaannya memperlakukan kalian dengan baik atau engga, kalian harus bekerja disitu setidaknya 5 tahun sampai kalian berhasil upgrade ke TG2. Belum selesai disitu, ternyata cukup banyak perusahaan yang menolak memberikan rekomendasi peserta TG untuk ikut test TG2. Kalau ga di kasih rekomendasi dari perusahaan TG1, kalian ga bisa ikut test dan upgrade ke TG2. Ujung-ujungnya kalian terpaksa pulang ke negara asal kalian tanpa jalan ke status permanen resident.

    Balik lagi, ini ga semua perusahaan di Jepang gitu ya. Nah alasan mereka ga ngasih rekomendasi kemungkinannya ada dua. Pertama memang kinerja peserta TGnya yang kurang. Atau memang ga ada rencana untuk ngelanjutin peserta ke TG2, dan memilih untuk nerima peserta TG baru, guna mendapatkan tenaga kerja yang lebih murah. Selain itu, cukup banyak orang Jepang yang masih melihat pekerja TG sebagai 'kasta rendah', alhasil banget peserta TG yang mengaku tidak punya teman orang Jepang (survei NPO Solidarity Network, 2024). Ya kondisi ini diakibatkan juga sama pekerja TG yang melakukan kriminalitas seperti pencurian ataupun pembunuhan yang sempat viral di media sosial ya, mana ada orang Indonesia lagi yang ngelakuinnya.

    Jadi dari yang aku sebutkan tadi, selain masalah dari sistemnya seperti masalah upah yang tidak dibayar seharusnya, masalah perbudakan modern, sampai sistem upgrade ke TG2 tadi, ternyata masalah dari sisi peserta TGnya pun ada ya guys. Jadi kita ga bisa 100% menyalahkan 1 belah pihak nih. Peserta TG yang melakukan kriminal juga bisa aja ternyata di perusahaannya dia mendapat perlakuan yang tidak baik. Tapi kalau ini terus dibiarkan, bisa-bisa Jepang akan dicap sebagai negara eksploitatif atau belum lagi kalau pesertanya tidak disaring dengan benar, bisa-bisa kota-kota di Jepang akan kumuh dipenuhi oleh orang asing yang pastinya akan membuat warga lokal tidak nyaman ya. 

    Aku sharing ini bukan untuk menakutkan kalian, ataupun membuat kalian mengurungkan niat kalian untuk berangkat ke Jepang pakai visa TG. Tapi siapa tau dengan aku sharing kaya gini, mata kalian bisa lebih terbuka, bisa melihat kenyataan bahwa ga semuanya indah dan kalian bisa lebih siap menghadapi kondisi apapun selama nanti kalian di Jepang. Nah gimana ya menurut kalian? Apakah program TG ini penyelamat Jepang atau sebenarnya penghancur Jepang? Coba tuliskan pendapat kalian di komentar ya, aku mau tau pendapat kalian.

J-Class, pernah diliput di :