Belajar
Kenali Gaya Belajar Kalian Supaya Mudah Memahami Bahasa Jepang
Siapa yang bilang teori cara belajar itu ga berguna? Aku selama ini belajar tanpa disadari menggunakan gaya atau pendekatan belajar. Ya dalam kasus aku sih, kebetulan aku langsung nemu cara belajar yang memang cocok sama aku. Jadi kosakata, pola kalimat, ataupun kanji yang aku pelajari bisa langsung nempel di otak. Tapi ternyata ga semua orang memahami pendekatan atau gaya belajar yang aku maksud tadi loh. Tau sih tapi kayanya ga sepaham itu jadi engga digunakan dalam proses belajarnya. So aku mau coba bahas 3 gaya belajar yang umum dan kita coba kaitkan dengan belajar bahasa Jepang. Semoga yang baca sampe beres bisa tau dan menggunakan cara belajar bahasa Jepang yang cocok buat kalian.
Selama kalian sekolah pasti pernah diajarin tentang gaya belajar atau learning styles. Istilah gaya belajar bisa kalian temukan di dalam bidang psikologi dan pendidikan. Secara umum, ada 3 jenis utama yang paling sering dibahas. Iya ada 3 loh, jadi kalau seorang guru bilang semua orang pasti bisa mudah paham dengan cara belajar yang sama, sebenernya statement itu kurang tepat ya. Makanya jangan aneh kalau ada yang kurang bisa ngikutin pelajaran kalau belajar bahasa Jepangnya di sekolah, kampus atau mungkin di lembaga. Karena mereka cara belajarnya fokus dengan cara mereka sendiri atau ya punya silabus mereka sendiri ya.
Di J-class pun aku ga bosen-bosen untuk menyebarkan cara belajar bahasa Jepang yang OTODIDAK. Karena OTODIDAK itu lebih fleksibel menyesuaikan gaya belajar yang cocok buat kalian. Kalian bisa coba-coba cara belajar orang, tapi kalau ga cocok bisa kalian ubah-uban dan disesuaikan biar lebih cocok buat kalian. Nah aku mau coba jelasin lebih detil tentang 3 jenis utama gaya belajar yang paling sering dibahas ya. Semoga jadi referensi buat kalian menyesuaikan cara belajar OTODIDAK kalian.
Gaya Belajar Visual (Penglihatan)
Kalian yang cocok dengan gaya belajar visual biasanya lebih mudah memahami dan mengingat informasi yang disajikan dalam bentuk visual. Contohnya kalian biasanya lebih mudah paham ketika liat informasi berupa grafik, diagram, peta konsep, simbol, video, presentasi slide, dan semacamnya. Malah temen aku yang pake gaya belajar visual catatan di buku dia penuh dengan highlight atau spidol warna-warni buat nandain mana yang penting.
Nah kalian yang tipe belajar visual, sebenernya gampang banget buat belajar bahasa Jepang, terutama ketika belajar Kanji ya. Kalian bisa gunakan flashcard seperti kana card, dan kanji card buat belajar tulisan Jepang. Apalagi kalau kana card sama kanji cardnya ada ilustrasi yang membantu kalian menghafal bentuknya. Jangan remehkan juga subtitle di media yang kalian tonton loh.
Kalian nonton anime, drama, variety show, dan semacamnya jangan lupa tampilin subtitlenya, karena tipe visual akan mendengar bahasa Jepang yang diomongin sambil melihat subtitle berupa arti dari yang diucapin di videonya. Kalau perlu cari buku cerita dalam bahasa Jepang, atau artikel-artikel bahasa Jepang buat terbiasa melihat, dan membaca tulisan Jepang.
Nah yang ga kalah penting adalah mengganti pengaturan bahasa di gadget kalian menjadi bahasa Jepang. Serius! Menurut aku yang ini paling penting. Karena kita akan dipaksa menggunakan, melihat, dan memahami tulisan yang ada di gadget kita. Jadi kita akan sangat cepat menyerap informasi bentuk kanji beserta maksud dari kanji-kanji di gadget kita. Kalau ketemu kanji yang ga paham, otomatis cari tau kan? Masa dibiarin ga tau, nanti malah makin pusing loh kalau ga tau kanjinya.
Gaya Belajar Auditorial (Pendengaran)
Gaya belajar auditorial mengandalkan indera pendengaran untuk menyerap informasi. Umumnya akan lebih mudah memahami informasi lewat diskusi, debat, ceramah, podcast, rekaman audio, membaca materi dengan suara lantang, mengulangi informasi yang baru didengar, dan semacamnya. Ini tipe-tipe kalian yang seringkali bisa mengingat lirik lagu atau dialog film dengan sangat baik.
Waktu belajar bahasa Jepang kalian mungkin lebih mudah hafal kosakata-kosakata yang muncul di lagu-lagu Jepang, jadi banyak-banyak denger lagu Jepang ya supaya telinganya bisa terbiasa sekalian nambahin kosakata baru lewat lagunya. Jangan hanya dengerin, tapi sambil dinyanyikan atau minimal diucap ulang kosakatanya ya. Selain itu dengerin juga podcast bahasa Jepang ya. Sekarang di youtube juga udah cukup banyak kok, jadi harusnya sih udah ga susah nyarinya. Tinggal cari yang suka bahas hal yang kalian sukain.
Bukan hanya didengerin ya, tapi diulangin dengan suara lantang. Karena kalau diulangin kalian bisa membiasakan berbicara, sekaligus memastikan penglafalan kalian udah bener atau belum. Mau kan dikatain Nihongo ga jouzu desu ne (bahasa Jepangnya jago ya) sama orang Jepang? Nah tipe yang auditorial biasanya ingin punya teman bicara juga. Dulu suka sulit cari temen yang mau diajak bicara bahasa Jepang, sekarang kalau ga punya temen bisa pake AI buat ngobrol bahasa Jepang. Contohnya bisa pake Mazii AI guys.
Gaya Belajar Kinestetik (Pengalaman/Praktik)
Orang dengan gaya kinestetik itu si paling praktek, soalnya mereka belajarnya paling efektif lewat pengalaman dan praktik langsung. Biasanya tipe orang yang bisa paham setelah nyobain dan ngerasain sendiri apa yang dia pelajari. Seperti melakukan eksperimen, bermain peran, pelajarannya langsung dipake di kehidupan, menggunakan model atau alat peraga, dan semacamnya.
Biasanya kalian harus dipraktekkan baru bisa paham dan ingat, makanya waktu belajar kosakata baru kalian harus langsung dipakai buat latihan kalimat yang menggunakan kosakata tersebut. Ini berlaku juga buat kanji, jadi kalau ngetik atau nulis langsung dipake ya kanjinya. Kalau ngomongin belajar bahasa Jepang, sebenernya tipe belajar kinestetik itu cukup dipake terus-terusan juga bakal inget dan ga akan lupa. Tapi kebanyakan dari yang tipe ini, mereka gampang lupa ketika udah ga dipake dikesehariannya.
Idealnya, yang cocok pake gaya belajar kinestetik itu berada di lingkungan yang dipaksa untuk menggunakan ilmu yang udah dipelajarinya. Makanya kalian yang kinestetik kalau udah hidup longstay di Jepang perkembangan skill bahasa Jepangnya akan lebih meroket daripada yang bukan kinestetik. Tapi karena kebanyakan dari kalian mungkin saat ini belum tinggal di Jepang, jadi alternatifnya coba pakai terus bahasa Jepang dalam berbagai macam kegiatan kalian.
Selain bahasa di gadget kalian diubah ke bahasa Jepang, cobalah ubah hiburan kalian jadi sesuatu yang menggunakan bahasa Jepang. Contoh nontonin anime dan drama jangan yang dubbing tapi pake yang bahasa Jepang, bahkan main game pun ubah bahasanya ke bahasa Jepang. Paksain diri sendiri buat pake bahasa Jepangnya terus menerus biar kita terus make bahasa Jepang yang udah dipelajari. Sama dengan yang auditorial, kalian bisa manfaatin AI seperti Mazii AI untuk ngobrol bahasa Jepang kalau kebetulan ga ada temen yang bisa diajak ngobrol bahasa Jepang.
Balik lagi ke statement awal aku, setiap orang memang punya gaya belajarnya masing-masing. Setau aku setiap orang punya gaya yang dominan setidaknya 1 atau 2 dari 3 gaya belajar yang tadi aku bahas. Jadi bukan berarti yang cocok visual ga akan cocok belajar cara auditorial ya. Tapi coba fokuskan gaya dominan kalian kemudian kombinasikan dengan yang gaya lainnya supaya proses belajarnya ga hanya jalan disatu bagian.
So, untuk kalian yang belum tau gaya belajar yang cocok, silahkan coba-coba ya mana yang kira-kira cocok buat kalian. Yang udah tau silahkan coba belajarnya disesuaikan dengan gaya yang cocoknya ya. Soalnya kenal sama gaya belajar ini bisa sangat membantu kalian dalam menentukan cara belajar yang paling efisien untuk diri sendiri. Gimana nih bahasan kali ini? Kali ini aku lebih sharing hal yang mungkin kebanyakan dari kalian udah tau, tapi bisa jadi ga sadar aja selama ini kalian menggunakan gaya belajar untuk mempelajari sesuatu. Nah aku coba ingetin lagi ya yang udah lupa. Kalau udah mulai inget gaya belajar kalian, coba tulis di kolom komentar dong gaya belajar kalian yang mana? Coba tuliskan juga cara kalian belajarnya ya siapa tau ada yang mau nyontek cara belajar kalian.



Komentar
Bener bangett cara belajar ku kinestetik ka kalo di praktekkin suka cepet banget hafal ditulis ulang ulang suka cepet hafal nah saya sendiri kalo belajar tuh setiap mempelajari yang baruu sukaa sambil di tulis ulang yang udah dipelajari tapi lama lama suka cape kalo harus gitu gitu mulu dan akhirnya suka jarang ditulis hal hal yang sudah dipelajari Al hasil suka lupaan ????