Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

  • Belajar Bahasa Jepang

    Kenapa Partikel Bahasa Jepangmu Sering Salah? Pelajari Dulu 3 Kelompok Kata Kerja

    Kalau kalian sering bingung kapan pakai partikel , , atau untuk keterangan tempat kalian engga sendirian.

    Ini salah satu kebingungan paling klasik di antara pelajar bahasa Jepang. Dan yang bikin frustasi, kebanyakan penjelasan yang beredar cuma ngasih rumus hafalan tanpa ngasih tahu kenapa aturannya beda-beda. Disuruh hapalin aja pokoknya kalau A maka B, tapi ga disuruh paham kenapa bisa gitu, bagaimana logikanya.

    Balik lagi tentang partikel keterangan tempat, jawabannya ada di tempat yang mungkin jarang dilihat orang, yaitu predikatnya. Iya, partikel yang dipakai untuk keterangan tempat itu ditentukan oleh predikat di kalimat tersebut. Kalau ngomongin keterangan tempat sih biasanya predikatnya kata kerja ya. Kalau kata sifat dan kata benda predikatnya biasanya ga ada keterangan tempatnya. Nah supaya bisa milih partikel yang tepat, kuncinya kalian perlu bisa memisahkan kata kerja ke dalam 3 kelompok.

    Artikel ini akan bahas tuntas ketiga kelompok itu, beres baca artikel ini kalian bakal paham kenapa hal ini penting banget buat kalian yang serius belajar bahasa Jepang.

    3 Kelompok Kata Kerja Berdasarkan Gerakannya

    Kita membagi kata kerja ke dalam 3 kelompok:

    1. Kata Kerja Bergerak 
    2. Kata Kerja Statis 
    3. Kata Kerja Menuju

    Kita bahas satu per satu.

    1. Kata Kerja Bergerak

    Kata kerja bergerak adalah kata kerja yang ada gerakannya. Kedengarannya simpel, tapi ini perlu aku tekankan: sebagian besar kata kerja itu masuk kelompok ini.

    Coba pikirin bareng:

    - "Makan" — jelas ada gerakannya, mulut gerak, tangan gerak. 
    - "Bekerja" — ada gerakannya. 
    - "Tidur" — eh, ini ada gerakannya nggak? Ada dong. Buktinya, kalian tidur dengan posisi rapi, tapi bangun-bangun posisinya udah kepala di bawah kaki di atas. Itu bukti nyata kalau kata kerja "tidur" pun ada gerakannya. 
    - "Beristirahat" — ada yang rebahan diam total tanpa gerak sama sekali? Nggak ada kan? Tetap ada gerakannya.

    Contoh lainnya: minum, membaca, belajar, mengirim, membuka, menulis — semuanya masuk Kata Kerja Bergerak, karena kata kerja tadi semuanya ada gerakannya. Pahami dengan baik ya, karena nanti akan berpengaruh langsung ke partikel yang dipakai.

    2. Kata Kerja Statis

    Nah, ini bagian yang agak tricky. Kata Kerja Statis punya dua definisi, dan keduanya perlu dipahami.

    Definisi pertama: kata kerja yang hanya menunjukkan keadaan, kondisi, atau status

    Kalau Kata Kerja Bergerak punya gerakan fisik yang jelas, Kata Kerja Statis justru tidak. Ia hanya menggambarkan sebuah kondisi atau status.

    Contohnya:

    - "Mengerti" (わかります) — ini kondisi, bukan kegiatan 
    - "Bisa" (できます) — ini status kemampuan 
    - "Ada" (います/あります) — kondisi keberadaan 
    - "Tinggal" dalam arti domisili (住みます) — status tempat tinggal, bukan aktivitas pindahan 
    - "Menikah" (結婚します) — status, bukan kegiatan yang sedang dilakukan

    Sampai sini masih oke kan? Kalau mau contoh lain, coba kosakata "selesai, mulai, lupa, hilang, dll" — semuanya nunjukkin keadaan, kondisi atau status kan ya.

    Definisi kedua: kata kerja yang gerakannya tidak dilakukan oleh subjek

    Nah, ini yang sering bikin orang melongo pertama kali dengernya. Kata kerja yang *sama* bisa jadi Kata Kerja Bergerak atau Kata Kerja Statis tergantung siapa yang melakukan gerakan itu di dalam kalimat. Aku kasih contohnya langsung ya biar lebih jelas.

    Contoh pertama:

    Yamada san wa mikan o tabemasu.
    (やま)()さんは ミカンを ()べます。
    Yamada-san makan jeruk.

    Di sini, yang makan adalah Yamada-san (subjek). Gerakannya dilakukan oleh subjek. Maka "食べます" di sini adalah Kata Kerja Bergerak.

    Sekarang balik kalimatnya:

    Mikan wa yamada san ga tabemasu.
    ミカンは (やま)()さんが ()べます。
    Jeruk dimakan oleh Yamada-san.

    Di sini, yang jadi subjek/topik kalimatnya adalah jeruk. Jeruk tidak melakukan gerakan apapun — ia yang "dikenai" gerakan. Maka "食べます" yang sama di sini menjadi Kata Kerja Statis.

    Contoh kedua:

    Watashi wa manga o yomimasu.
    (わたし)(まん)()()みます。
    Aku membaca komik.

    Aku = subjek yang melakukan gerakan. → Kata Kerja Bergerak.

    Manga wa watashi ga yomimasu.
    (まん)()(わたし)()みます。
    Komik dibaca oleh aku.

    Komik = subjek/topik kalimat yang tidak melakukan gerakan apapun. → Kata Kerja Statis.

    Intinya: kata kerja yang sama bisa masuk kelompok berbeda tergantung apakah gerakan itu dilakukan oleh subjeknya atau tidak.

    Ini memang agak mindblowing, tapi jangan panik dulu. Step by step fokus dulu ke definisi pertama. Definisi kedua akan makin terasa relevan ketika kalian mulai belajar pola kalimat yang lebih kompleks.

    3. Kata Kerja Menuju

    Dibanding dua kelompok sebelumnya, kelompok ini justru paling gampang karena cuma ada 3:

    1. 行きます — Pergi 
    2. 来ます — Datang 
    3. 帰ります — Pulang

    Kalau didefinisikan: Kata Kerja Menuju adalah kata kerja yang ada arahnya, ada perpindahan tempat dari titik A ke titik B. Tapi kenapa 3 ini harus dipisah jadi kelompok sendiri dan nggak masuk Kata Kerja Bergerak?

    Karena ada satu hal unik dari ketiga kata kerja ini: mereka nggak bisa ditambahkan objek.

    Coba bandingin:

    - "Makan nasi" → bisa ada objeknya kan, "apa yang dimakan" jadi objeknya. 
    - "Mengirim paket" → bisa ada objek juga, "apa yang dikirim" akan jadi objeknya. 
    - Kalau "Pergi"? → Apa yang pergi? Yang pergi akan berdiri sebagai "subjek" bukan "objek". Ini berlaku juga pada kata "Datang" dan "Pulang".

    Terus kalau "Datang paket" itu gimana? "Paket" di sini bukannya "objek"? Betul "paket" di kalimat itu objek, tapi "datang" yang dipakai di kalimat itu akan lebih tepat kalau kita ganti "sampai" atau dalam bahasa Jepang 届きます yang termasuk kata kerja statis.

    Sampai sini kebayang belum kalau "pergi", "datang", dan "pulang" tidak butuh objek? Yang mereka butuhkan adalah keterangan tempat — dan disinilah koneksi ke partikel jadi sangat penting.

    Koneksi 3 Kelompok Kata Kerja dengan Partikel: Ini Inti dari Semuanya

    Oke, sekarang bagian yang jadi alasan utama kenapa kita perlu bisa memisahkan 3 kelompok kata kerja ini.

    Partikel keterangan tempat ditentukan oleh kelompok kata kerjanya.

    Kata Kerja Menuju = へ 
    Kata Kerja Statis = に
    Kata Kerja Bergerak = で 

    Langsung aku contohin dengan satu "tempat" yang sama — Jepang — supaya bedanya keliatan jelas:

    Watashi wa nihon e ikimasu.
    (わたし)()(ほん)()きます。→ 行きます = Kata Kerja Menuju → pakai へ
    Aku pergi ke Jepang

    Watashi wa nihon ni imasu.
    (わたし)()(ほん)に います。→ います = Kata Kerja Statis → pakai に
    Aku ada di Jepang.

    Watashi wa nihon de hatarakimasu.
    (わたし)()(ほん)(はたら)きます。→ 働きます = Kata Kerja Bergerak yang dilakukan di dalam keterangan tempatnya → pakai で
    Aku bekerja di Jepang.

    Contoh lain deh:

    Watashi wa resutoran e kimasu
    (わたし) レストランへ ()ます。→ 来ます = Kata Kerja Menuju → pakai へ
    Aku datang ke restoran. 

    Watashi wa resutoran ni sunde imasu.
    (わたし)レストランに ()んでいます。→ 住んでいます = Kata Kerja Statis → pakai に
    Aku tinggal di restoran

    Watashi wa resutoran de tabemasu.
    (わたし)レストランで ()べます。→ 食べます = Kata Kerja Bergerak yang dilakukan di dalam keterangan tempatnya → pakai で
    Aku makan di restoran.

    Keliatan kan bedanya? Keterangan tempatnya sama loh, tapi partikelnya berbeda tergantung predikatnya terdiri dari kata kerja apa.

    Ini artinya kalau kalian salah kelompokkan kata kerjanya, bisa jadi kalian akan masangin partikel yang salah. Dan kalimatnya bisa jadi aneh atau bahkan berubah makna.

    Case lain 1: Partikel を untuk Keterangan Tempat

    Satu lagi yang perlu disinggung. Ada juga penggunaan partikel untuk keterangan tempat — tapi ini khusus untuk kata kerja yang maknanya keluar dari atau melewati tempat tersebut.

    Watashi wa nihon o demasu.
    (わたし)()(ほん)()ます
    Aku keluar dari Jepang.

    Di sini Jepang tetap jadi keterangan tempat, tapi pakai を karena gerakannya bersifat "meninggalkan" tempat itu. Ini sekali lagi membuktikan bahwa partikel itu tidak bisa dihafal asal-asalan, ia sangat bergantung pada predikat di kalimat tersebut. Tapi kalau udah tau logikanya, bakal kerasa gampang kok.

    Case lain 2: Partikel に untuk Kata Kerja Bergerak Tertentu

    Partikel に ga hanya digunakan ketika predikatnya Kata Kerja Statis aja loh sebenernya. Ada Kata Kerja Bergerak yang lebih benar kalau pakai partikel に. Yaitu ketika makna kata kerjanya terkesan masuk ke dalam keterangan tempatnya, atau ketika keterangan tempatnya menjadi titik koordinat spesifik atau permukaan dari posisi kata kerjanya.

    Ketika Makna Kata Kerjanya Terkesan Masuk Ke Dalam Tempatnya

    Contoh kata kerja seperti "masuk, memasukkan, mendaftar sekolah, dll". Kata kerja tadi sebenernya masuk ke dalam Kata Kerja Bergerak dan normalnya pakai で untuk keterangan tempatnya, tapi ternyata keterangan tempatnya akan menggunakan partikel に. Karena maknanya terkesan masuk/memasukkan dari luar ke dalam. Contoh kalimatnya:

    Watashi wa kaban ni megane o iremasu.
    (わたし)(かばん) ()(がね)()れます
    Aku memasukkan kacamata ke dalam tas.

    Watashi wa mise ni hairimasu.
    (わたし)(みせ)(はい)ります
    Aku masuk ke dalam toko.

    Ketika Keterangan Tempatnya Jadi Titik Koordinat Spesifik atau Permukaan Dari Posisi Kata Kerjanya

    Wah yang ini panjang ya. Tapi simple kok sebenernya. Contoh kata kerja "duduk" dan "meletakkan". Normalnya kedua kata kerja itu masuk ke dalam Kata Kerja Bergerak, jadi partikelnya pakai で dong? Kalau kegiatannya dilakukan di dalam keterangan tempatnya, maka iya akan pakai partikel で. Tapi sekarang bayangin coba: kalian "duduk" di dalam kursi atau di permukaan kursi? Kalian "meletakkan" HP di permukaan meja atau di dalam meja?

    Udah kebayang maksud aku? Jadi kalau "tempat" yang dimaksud itu satu titik point yang spesifik, biasanya keterangan tempatnya akan pakai partikel に. Sedangkan で digunakan ketika Kata Kerja Bergeraknya dilakukan di dalam ruangan, wilayah, atau teritori tertentu. Contoh:

    Watashi wa isu ni suwarimasu.
    (わたし)(みせ)(はい)ります
    Aku duduk di kursi.

    Watashi no nimotsu wa ie ni todokimasu.
    (わたし)()(もつ)(いえ)(とど)きます
    Paket aku sampai di rumah.


    Kesimpulan

    Banyak yang frustasi sama partikel bahasa Jepang karena belajarnya dari sisi partikelnya langsung — tanpa paham dulu kata kerjanya masuk kelompok mana.

    Padahal urutannya harusnya begini:

    Pahami kata kerjanya dulu → tentukan kelompoknya → baru pilih partikel yang tepat.

    Kalau kalian bisa melakukan itu, pilihan partikel keterangan tempat jadi jauh lebih logis dan nggak perlu dihafal satu-satu. So aku coba rangkum sekali lagi ya:

    Kelompok Kata Kerja

    Kata Kerja Menuju = へ
    Kata Kerja Statis = に
    Kata Kerja Bergerak (Makna kata kerjanya terkesan masuk ke dalam tempatnya) = に
    Kata Kerja Bergerak (Tempatnya jadi titik koordinat/permukaan yang jadi target) = に
    Kata Kerja Bergerak (Kegiatan dilakukan di dalam ruangan, wilayah, atau teritori) = で

    Dan ini baru permulaan. Makin dalam kalian belajar bahasa Jepang, makin banyak pola yang bergantung pada pemahaman kata kerja yang solid.

    Jadi kalau kalian mau serius naik level — jangan skip bagian fondasi kayak gini. Selain ini ada juga fondasi penting lainnya. Ya kalau ikut Akselerasi N4 sih bisa lebih efektif belajar fondasi-fondasinya. Banyak yang ga percaya memang bisa lulus N4 hanya dalam 15 hari. Tapi banyak juga yang mau challenge diri sendiri buat buktiin bisa lulus N4 dalam 15 hari. Yang ga percaya dan ga mau coba juga banyak, ya udah lah aku serahin ke kalian yang itu mah.

    Kalian punya pertanyaan soal materi ini? Tulis di kolom komentar ya, kita diskusi bareng!  


  • Belajar Bahasa Jepang

    Predikat dalam Bahasa Jepang: Kunci yang Menentukan Makna Seluruh Kalimat

    Pernah bikin kalimat bahasa Jepang yang rasanya udah bener, tapi pas dicek sama native speaker ternyata maknanya meleset jauh?

    Salah satu penyebab paling umum adalah bagian yang paling sering diabaikan pemula — predikat. Lebih tepatnya, bagian paling belakang dari kalimat bahasa Jepang yang nentuin apakah kalimat itu pernyataan, sanggahan, pertanyaan, atau cerita masa lalu.

    Di artikel sebelumnya kita udah bahas macam-macam kata kerja dan hubungannya sama partikel. Nah, artikel ini adalah kelanjutannya — karena predikat itu bukan cuma kata kerja. Ada kata benda, kata sifat, dan masing-masing punya caranya sendiri untuk berubah bentuk tergantung apa yang mau kalian sampaikan.

    Kalau kalian pahamin ini, bikin kalimat bahasa Jepang yang tepat itu jadi jauh lebih gampang.


    Kenapa Predikat dalam Bahasa Jepang Itu Spesial?

    Sebelum masuk ke teknisnya, ada satu fakta soal bahasa Jepang yang menarik.

    Di bahasa Indonesia atau Inggris, predikat biasanya ada di tengah kalimat. Tapi di bahasa Jepang, predikat selalu ada di paling akhir.

    Artinya apa? Artinya kalian baru tahu apakah lawan bicara mau ngasih tahu sesuatu, menyangkal sesuatu, atau nanya sesuatu — setelah kalian denger kalimatnya sampai selesai.

    Ini juga yang bikin orang Jepang terkenal sebagai pendengar yang baik. Mereka memang harus dengerin sampai habis sebelum bisa nangkep maksud kalimatnya.

    Jadi buat kalian yang sering motong pembicaraan orang — mulai sekarang latih diri untuk dengerin sampai selesai ya. Di Jepang ini bukan cuma sopan santun, tapi memang kebutuhan linguistik.


    3 Jenis Kalimat Dasar: Positif, Negatif, Interogatif

    Sebelum bahas perubahan predikatnya, kita recall dulu bentuk kalimat dasarnya.

    Ini konsep yang sebenernya udah kalian kenal dari pelajaran bahasa Inggris dulu:

    1. Kalimat positif (+) — pernyataan yang memberikan informasi
    2. Kalimat negatif (-) — sanggahan atau penyangkalan
    3. Kalimat interogatif (?) — pertanyaan

    Yang menarik di bahasa Jepang, untuk mengubah dari satu bentuk ke bentuk lain, kalian cukup mengubah bagian predikatnya saja — bukan seluruh kalimat.

    Ini polanya:

    Jenis Predikat Positif (+) Negatif (-) Interogatif (?)
    Kata Benda / KSな です じゃ/ではありません + か
    Kata Kerja 〜ます 〜ません + か

    Simpel, kan? Sekarang kita lihat gimana ini bekerja di kalimat nyata.


    Contoh dengan Kata Benda sebagai Predikat

    Kita pakai pola paling dasar dulu: KB は KB です

    Kalimat positif

    Watashi wa isha desu.
    わたし()(しゃ)です。
    Saya adalah dokter.

    Kalimat negatif

    Watashi wa isha dewa arimasen.
    わたし()(しゃ)ではありません。
    Saya bukanlah dokter.

    Catatan: じゃありません dan ではありません itu sama aja — keduanya bentuk negatif dari です. じゃありません lebih kasual, ではありません lebih formal sedikit.

    Kalimat interogatif

    Watashi wa isha desu ka.
    わたし()(しゃ)ですか。
    Apakah saya seorang dokter?

    Perhatiin — kalimat pertanyaan dalam bahasa Jepang nggak selalu pakai tanda tanya. Yang jadi indikator utamanya adalah huruf di ujung kalimat.


    Contoh dengan Kata Kerja sebagai Predikat

    Sekarang kalau predikatnya kata kerja:

    Kalimat positif

    Watashi wa tabemasu.
    わたしべます。
    Aku makan.

    Kalimat negatif

    Watashi wa tabemasen.
    わたしべません。
    Aku tidak makan.

    Kalimat interogatif

    Watashi wa tabemasu ka.
    わたしべますか。
    Apakah aku makan?

    Polanya sama persis — yang berubah cuma bagian akhirnya.


    Pola Kalimat Lampau

    Pola です dan 〜ます yang tadi dibahas itu digunakan untuk menyatakan sesuatu yang terjadi sekarang atau yang akan terjadi. Tapi kalau mau ngomong tentang sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu, pola-pola tadi perlu disesuaikan.

    Jenis Predikat Lampau Positif (+) Lampau Negatif (-)
    Kata Benda / KSな でした じゃ/ではありませんでした
    Kata Kerja 〜ました 〜ませんでした

    Coba lihat bedanya di contoh kalimat berikut. Perhatikan bagian yang berubah:

    Kalimat positif (sekarang)

    Anata wa gakusei desu.
    あなたは(がく)(せい)です。
    Kamu seorang pelajar.

    Kalimat negatif (sekarang)

    Anata wa gakusei dewa arimasen.
    あなたは(がく)(せい)ではありません。
    Kamu bukan seorang pelajar.

    Kalimat lampau positif

    Anata wa gakusei deshita.
    あなたは(がく)(せい)でした。
    Kamu tadinya seorang pelajar. (sekarang udah bukan)

    Kalimat lampau negatif

    Anata wa gakusei dewa arimasen deshita.
    あなたは(がく)(せい)ではありませんでした。
    Kamu sebelumnya bukan seorang pelajar. (sekarang udah jadi pelajar)

    Sekarang dengan kata kerja:

    Kalimat positif (sekarang)

    Anata wa mizu o nomimasu.
    あなたはみずみます。
    Kamu minum air.

    Kalimat negatif (sekarang)

    Anata wa mizu o nomimasen.
    あなたはみずみません。
    Kamu tidak minum air.

    Kalimat lampau positif

    Anata wa mizu o nomimashita.
    あなたはみずみました。
    Kamu udah minum air. (kejadian yang udah selesai)

    Kalimat lampau negatif

    Anata wa mizu o nomimasen deshita.
    あなたはみずみませんでした。
    Kamu sebelumnya tidak minum air. (kejadian lampau)

    Hanya dengan mengubah bagian predikat di akhir, makna keseluruhan kalimat bisa berubah total. Ini yang bikin posisi predikat di akhir kalimat bahasa Jepang itu sangat powerful — sekaligus alasan kenapa kalian harus dengerin kalimat orang Jepang sampai selesai sebelum bisa nangkep maksudnya.


    Kata Sifat い: Logikanya Sendiri yang Konsisten

    Nah, sekarang kita bahas kata sifat.

    Kata sifat dalam bahasa Jepang terbagi dua: kata sifat い (KSい) dan kata sifat な (KSな). Cara bedainnya simpel — lihat huruf paling belakang kosakatanya.

    KSい → ada huruf yang merdeka di akhir kosakatanya
    Contoh: たかい (tinggi), ひくい (rendah), せまい (sempit), ひろい (luas)

    KSな → yang tidak punya huruf い merdeka di akhirnya
    Contoh: (げん)() (sehat), ハンサム (tampan), 便(べん)() (praktis), (しん)(せつ) (ramah)

    Satu catatan penting — ada beberapa kosakata yang kelihatannya punya い di belakang tapi tetap masuk KSな, seperti (ゆう)(めい) (terkenal) dan きれい (cantik/indah). Kenapa? Karena huruf い-nya itu bukan "merdeka" — dia bagian dari cara baca kanjinya.

    Khusus きれい, aslinya ditulis ()(れい) dengan kanji yang cukup rumit, sehingga orang Jepang lebih sering menulisnya dalam hiragana. Tapi tetap masuk KSな, bukan KSい, karena huruf いnya merupakan bagian dari furigana/cara baca kanjinya.

    Kenapa KSい Punya Cara Perubahannya Sendiri?

    Sekarang bagian yang menarik.

    Kalau KB dan KSな, ketika bentuk kalimatnya berubah, yang berubah itu bagian ですnya.

    Tapi KSい punya logika yang berbeda — yang berubah bukan ですnya, melainkan huruf い di akhir kosakatanya sendiri.

    Lihat polanya:

    Jenis Predikat Positif (+) Negatif (-)
    KB / KSな です じゃ/ではありません
    KSい です い → くないです
    Kata Kerja 〜ます 〜ません

    Jenis Predikat Lampau Positif (+) Lampau Negatif (-)
    KB / KSな でした じゃ/ではありませんでした
    KSい い → かったです い → くなかったです
    Kata Kerja 〜ました 〜ませんでした

    Coba lihat polanya di contoh kalimat nyata dengan やさしい (baik hati):

    Kalimat positif

    Anata wa yasashii desu.
    あなたはやさしいです。
    Kamu baik hati.

    Kalimat negatif

    Anata wa yasashikunai desu.
    あなたはやさしくないです。
    Kamu tidak baik hati.

    Kalimat lampau positif

    Anata wa yasashikatta desu.
    あなたはやさしかったです。
    Kamu tadinya baik hati. (sekarang udah nggak)

    Kalimat lampau negatif

    Anata wa yasashikunakatta desu.
    あなたはやさしくなかったです。
    Kamu sebelumnya tidak baik hati. (sekarang udah baik hati)

    Keliatan kan polanya? Huruf い di akhir やさしい itu yang terus berubah:

    • Negatif: い → くない
    • Lampau: い → かった
    • Lampau negatif: い → くなかった

    Konsisten, bukan acak-acakan.


    Rangkuman: Tabel Lengkap Perubahan Predikat

    Biar gampang diingat, ini tabel lengkap semua pola yang udah kita bahas:

    Sekarang / Masa Depan:

    Jenis Predikat Positif (+) Negatif (-) Interogatif (?)
    KB / KSな です じゃ/ではありません + か
    KSい です い → くないです + か
    Kata Kerja 〜ます 〜ません + か

    Lampau:

    Jenis Predikat Lampau Positif (+) Lampau Negatif (-)
    KB / KSな でした じゃ/ではありませんでした
    KSい い → かったです い → くなかったです
    Kata Kerja 〜ました 〜ませんでした

    Kesimpulan

    Kalau kalian udah paham pola di artikel ini, ada satu insight besar yang bisa kalian bawa:

    Mengubah bentuk kalimat bahasa Jepang itu bukan soal menghafal puluhan rumus berbeda. Cukup pahami tiga hal: jenis predikatnya apa, waktunya kapan, dan maknanya positif atau negatif.

    Dari tiga hal itu, kalian bisa rakit hampir semua kalimat dasar dalam bahasa Jepang.

    Dan ini baru fondasi. Makin dalam kalian belajar, makin kalian sadar bahwa bahasa Jepang itu bukan tentang hafalan — tapi tentang memahami logika di balik polanya.

    Buat yang lagi belajar bahasa Jepang dan mau belajar fondasi-fondasi kayak gini secara terstruktur, kalian bisa cek program N4 15 hari J-Class di j-class.id/akselerasi-n4. Kalian ga perlu buang-buang waktu banyak untuk belajar — karena metodenya udah dirancang biar efektif. Penasaran? Bisa langsung cek di halaman itu, atau tanya-tanya ke tim kami di +62 817-800-354 ya.

    Kalau ada bagian yang masih bikin bingung, tulis di kolom komentar — kita diskusi bareng!

  • Belajar Bahasa Jepang

    Kenapa Bikin Kalimat Bahasa Jepang Tuh Susah? (Spoiler: Bukan Salah Bahasa Jepangnya!)

    Halo guys, ketemu lagi sama aku di J-Class! Kali ini aku mau ngebahas sesuatu yang kayanya sering banget bikin frustrasi para pelajar bahasa Jepang, mulai dari yang baru mulai sampai yang udah lumayan jalan. Sebelum kalian nambahin lebih banyak pola kalimat ke catetan atau buka lagi tab baru buat nyari daftar partikel, coba baca dulu sampe beres ya.

    Pernah ga sih ngerasa udah hafal banyak pola kalimat, udah khatam list partikel dari A sampai Z, tapi begitu mau bikin kalimat sendiri otak malah blank total? Atau lagi semangat mau nerjemahin sesuatu ke bahasa Jepang, eh malah nyangkut di tengah jalan dan ga tau harus ngapain? Kalau pernah, tenang. Kalian ga sendirian, kok.

    Banyak yang langsung nyimpulin, "Ah, bahasa Jepang emang ribet banget sih." Dan aku paham banget kenapa kalian bisa sampai di titik itu.

    Tapi, tunggu dulu. Aku punya pengamatan yang cukup menarik selama nemenin banyak pelajar belajar bahasa Jepang: seringkali, kesulitan itu bukan terletak pada bahasa Jepangnya. Melainkan pada fondasi bahasa Indonesia kalian.

    Masalah Utama: "Remedial" Bahasa Indonesia

    Hah, maksudnya gimana tuh? Sabar, aku jelasin ya.

    Kenyataannya, kita tuh sering banget menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari dengan struktur yang... ya, acak-acakan. Wajar sih, karena bahasa sehari-hari emang fleksibel. Kita terbiasa ngomong santai, sering menyingkat kata, atau bahkan menghilangkan subjek dan objek tanpa kita sadari. Contoh gampangnya: "Udah makan?" siapa yang makan? Siapa yang nanya? Dalam obrolan santai, konteks udah ngejawab semua itu tanpa perlu dijelasin.

    Nah, masalahnya muncul ketika kalian mencoba menerjemahkan kalimat dari bahasa Indonesia yang "acak-acakan" itu ke bahasa Jepang. Kalian akan ketemu tembok yang cukup besar.

    Kenapa? Karena bahasa Jepang adalah bahasa yang sangat sistematis. Setiap elemen dalam kalimat punya perannya masing-masing, dan partikel yang kalian tempel di setiap kata bukan cuma hiasan, melainkan penentu makna. Kalau kalimat asalnya aja udah ga jelas fungsinya, kalian mau terjemahkan ke bahasa Jepang yang seperti apa? Bahasa Jepangnya otomatis ikut kacau.

    Jadi sebelum ngomongin bahasa Jepang lebih jauh, kita perlu jujur ke diri sendiri dulu: seberapa beneran kita ngerti struktur kalimat bahasa Indonesia kita sendiri?

    Bedakan Dulu: Jenis Kata vs. Fungsi Kata

    Oke, sekarang aku mau ajak kalian "remedial" sebentar. Jangan dulu kabur ya, ini bukan pelajaran bahasa Indonesia yang membosankan kok. Ini fondasi yang kalau kalian paham, belajar bahasa Jepang kalian bakal jauh lebih masuk akal.

    Ada dua hal yang harus bisa kalian bedain:

    1. Jenis Kata (KK, KS, KB)

    Jenis kata adalah "kategori" dari sebuah kata — alias kata itu termasuk apa secara gramatikal. Ada tiga yang paling penting untuk kita bahas:

    • KK (Kata Kerja) → kata yang menyatakan tindakan, kegiatan, proses, atau bisa juga keadaan. Contoh: makan, pergi, belajar, beli, terbuka, ada, hidup, dll.

    • KS (Kata Sifat) → kata yang menerangkan sifat atau keadaan pada benda, mahluk hidup atau sesuatu. Contoh: besar, mahal, dingin, cantik.

     • KB (Kata Benda) → kata yang menyatakan nama orang, tempat, benda, hewan, dll. Baik benda yang nyata atau yang tak berwujud pun bisa masuk kata benda ya. Benda yang ga berwujud? contohnya: konsep, waktu, cinta, keadilan, dll.

    Jenis kata ini penting banget karena di bahasa Jepang, ia menentukan partikel mana yang harus kalian tempelkan — terutama saat membentuk kata gabungan atau frasa. Tapi jenis kata baru setengah dari ceritanya. Setengah lagi ada di bawah ini.

    2. Fungsi Kata (S-P-O-K)

    Fungsi kata adalah "posisi" atau peran sebuah kata di dalam kalimat. Di bahasa Indonesia (dan juga bahasa Jepang), ada empat fungsi utama. Aku pasangkan 1 contoh kalimat juga biar bisa bantuk bedain ya.

    “Aku makan nasi di restoran bersama keluarga”

     • S (Subjek) → topik pembicaraan di kalimatnya, intinya sih lagi ngomongin apa di kalimat tersebut. Kalau di kalimat di atas, kita lagi ngomongin “Aku”, makanya subjeknya “Aku”

     • P (Predikat) → yang menjelaskan, menceritakan, atau menyatakan tindakan, sifat, serta keadaan dari subjek. Di kalimat di atas predikatnya “makan” karena itu yang menjelaskan kegiatan yang dilakukan “Aku” sebagai subjek.

     • O (Objek) → benda yang dikenai tindakan oleh subjek atau yang jadi sasaran dari predikat. Contoh: Karena predikatnya “makan”, maka sesuatu yang di makan adalah objeknya. Dalam kalimat di atas yang dimakan itu "nasi", maka objeknya “nasi”.

     • K (Keterangan) → informasi tambahan seperti tempat, waktu, bersama siapa, cara, dll. Contoh: dari kalimat di atas itu "di restoran" dan juga "keluarga."

    Nah, banyak pelajar bahasa Jepang yang gagal bukan karena ga ngerti kosakatanya, tapi karena ga bisa membedakan jenis kata dan fungsi kata ini. Akibatnya? Mereka ga tau harus pakai partikel apa, dan ujung-ujungnya nebak. Dan tebak-tebakan di bahasa Jepang itu... ya seringnya meleset.

    Makanya penting banget kita ngerti ini dulu sebelum lanjut. Bukan dihafal ya, tapi dipahami. Jangan ngafalin subjek itu partikelnya は (wa) tapi kita ga tau apa itu subjek, dan kenapa partikelnya は (wa).

    Predikat: Sang Penentu Nasib Partikel

    Kalau udah paham yang tadi, masuk bahasan berikutnya bisa lebih nyambung nih. Ini bagian yang paling penting, jadi aku minta kalian beneran fokus sebentar ya.

    Dalam bahasa Jepang, bentuk kata yang berdiri sebagai Predikat (P) adalah "bintang utama" yang menentukan partikel apa yang harus digunakan di bagian lain kalimat, khususnya di Objek (O) dan Keterangan Tempat (K). Pemasangan partikel itu ada logikanya, selama kita paham logikanya bahasa Jepang pasti akan terasa gampang.

    Coba kita lihat langsung contohnya biar lebih gampang dipahami.

    Contoh 1: Menentukan Partikel Objek (O)

    Kalimat: "Saya makan nasi."

     • Predikatnya: makan → ini adalah “kata kerja bergerak dinamis”, yaitu kata kerja yang ada gerakannya, atau berupa kegiatan.

     • Karena predikatnya kata kerja bergerak dinamis, maka "nasi" sebagai Objek harus ditempeli partikel を (o).

     • Bahasa Jepangna jadi: (わたし)はご(はん)()べます。 (Watashi wa gohan o tabemasu.)

    Kalimat: “Saya mengerti bahasa Jepang”

     • Predikatnya: mengerti → ini adalah “kata kerja statis”, yaitu kata kerja yang menunjukkan status atau keadaan.

     • Karena predikatnya kata kerja statis, maka "bahasa Jepang" sebagai Objek harus ditempeli partikel が (ga).

     • Bahasa Jepangna jadi: (わたし)()(ほん)()わかります。 (Watashi wa nihongo ga wakarimasu.)

     • Selain kata kerja statis, kalau predikatnya kata sifat pun akan menggunakan が (ga) sebagai penanda objeknya.

    Contoh 2: Menentukan Partikel Keterangan Tempat (K)

    Ini yang paling sering bikin bingung: kapan pakai partikel へ (e), に (ni), で (de), dan を (o) untuk menyatakan tempat? Jawabannya ada di predikatnya!

    Bandingkan tiga kalimat ini:

    • "Saya pergi ke sekolah." → Predikatnya: pergi (Kata kerja menuju = ada gerakan berpindah tempat)

     • "Saya belajar di sekolah." → Predikatnya: belajar (Kata kerja bergerak dinamis = ada gerakannya, atau berupa kegiatan)

     • "Saya ada di sekolah." → Predikatnya: ada (Kata kerja statis = menunjukkan status atau keadaan)

     • "Saya keluar dari sekolah." → Predikatnya: keluar (Kata kerja yang terkesan keluar dari tempatnya)

    Karena predikatnya beda, partikel untuk "sekolah" sebaga keterangan tempat pun berbeda:

    (がっ)(こう)()きます。 (Gakkou e ikimasu.) → Pergi ke sekolah. Pakai partikel へ (e) karena predikatnya kata kerja menuju.

     • (がっ)(こう)(べん)(きょう)します。 (Gakkou de benkyou shimasu.) → Belajar di sekolah. Pakai partikel で (de) karena predikatnya kata kerja aksi di suatu tempat.

     • (がっ)(こう)います。 (Gakkou ni imasu.) → Ada di sekolah. Pakai partikel に (ni) karena predikatnya kata kerja statis.

    (がっ)(こう)()ます。 (Gakkou o demasu.) → Keluar dari sekolah. Pakai partikel を (o) karena predikatnya kata kerja dengan kesan keluar dari tempatnya.

    Keliatan kan bedanya? Satu kata bahasa Indonesia "sekolah" bisa pakai partikel yang berbeda tergantung apa predikatnya. Makanya kalau di bahasa Indonesia kalian sendiri ga jelas mana predikatnya dan apa jenis predikatnya, kalian bakal selalu bingung mau milih partikel. Dan itu bukan salah bahasa Jepangnya, itu karena input-nya yang kurang jelas.

    Kesimpulan: Perbaiki "Input"-nya Dulu

    Bahasa Indonesia yang acak-acakan membuat otak kalian kerja dua kali lipat lebih keras saat belajar bahasa Jepang. Kalian harus menebak-nebak dulu apa maksud kalimat kalian sendiri, baru kemudian mencoba menerjemahkannya. Itu melelahkan dan seringkali berujung frustrasi.

    Jadi, kalau kalian lagi stuck saat bikin kalimat bahasa Jepang, coba ikuti langkah ini:

    • Tulis dulu kalimatnya dalam bahasa Indonesia yang bersih dan jelas.
    • Bedah strukturnya: mana S, P, O, dan K-nya, kemudian ubah urutannya jadi S K O P,
    • Tentukan jenis kata predikatnya: kata benda, kata kerja bergerak dinamis, kata kerja menuju, kata kerja statis, atau mungkin kata sifat?
    • Masukan partikel yang tepatnya, dan terakhir baru terjemahkan kosakatanya ke bahasa Jepang.

    Kalau masih bingung coba check artikel ini untuk penjelasan cara penerjemahan bahasa Jepang ala pemula.

    Percayalah, cara ini akan membuat proses belajar kalian jauh lebih cepat dan terasa lebih masuk akal. Bukan karena bahasa Jepangnya jadi lebih mudah, tapi karena "input"-nya udah lebih rapi dan siap untuk diterjemahkan. Kalau udah terbiasa nerjemahin kaya gini, nanti sedikit-sedikit tinggal di upgrade skillnya untuk nerjemahin secara langsung.

    Ingat: kalau kalian aja ga paham struktur kalimat yang kalian buat sendiri, bagaimana bisa berharap bahasa Jepang kalian akan rapi? Jadi yuk, mulai perbaiki cara kita membangun kalimat dari dasarnya. Pelan-pelan, konsisten, dan pasti bisa!

    Kalau kalian punya pertanyaan atau mau sharing pengalaman belajar kalian soal partikel bahasa Jepang, tulis aja di kolom komentar ya! Kita diskusi bareng.

  • Kerja di Jepang

    Jepang Mau Seminggu 4 Hari Kerja? Data Aslinya Bikin Kaget

    Sebelum kalian terlalu senang sama headline itu, ada satu angka yang perlu kalian tahu dulu. Setelah pemerintah Tokyo resmi mendorong sistem kerja 4 hari di 2025, berapa persen perusahaan di Jepang yang benar-benar menerapkannya?

    0,9%.

    Bukan 9. Bukan 19. Tapi 0,9. Dan angka itu bahkan turun dari tahun sebelumnya.

    Jadi kalau kalian lagi belajar bahasa Jepang dengan tujuan kerja ke sana, dan ngerasa berita ini bikin makin yakin — artikel ini penting banget buat kalian baca sampai habis.

    ---

    Apa yang Sebenarnya Tokyo Umumkan?

    Jadi begini. Di awal 2025, Tokyo Metropolitan Government memang resmi mendorong perubahan workstyle — termasuk memfasilitasi sistem kerja 4 hari seminggu.

    Tapi kata kuncinya di situ: memfasilitasi.

    Artinya ini bukan dekrit nasional yang bikin semua perusahaan langsung ganti sistem. Ini lebih ke arah sinyal dan dorongan kebijakan, bukan kewajiban.

    Jadi kalau ada yang langsung nyimpulin "Jepang sekarang udah 4 hari kerja" itu kurang tepat. Yang lebih akurat adalah: ada arah yang makin jelas dari pemerintah Tokyo untuk mendorong sistem kerja yang lebih fleksibel, dan 4 hari kerja adalah salah satu opsinya.

    Beda jauh, kan?

    ---

    Data Aslinya: Jauh dari yang Kalian Bayangkan

    Nah, ini bagian yang paling jarang dibahas di berita-berita yang lagi viral.

    Setelah pengumuman itu, banyak yang nanya: "Setelah setahun lebih jalan, sekarang udah berapa banyak perusahaan yang ikut?"

    Berdasarkan 令和7年就労条件総合調査 alias survei kondisi kerja resmi Kementerian Tenaga Kerja Jepang tahun 2025, hasilnya seperti ini:

    - Perusahaan yang menerapkan semacam sistem kerja 4 hari: 0,9%
    - Turun dari tahun sebelumnya yang sudah rendah, yaitu 1,6%

    Jadi bukan naik setelah pengumuman besar itu. Malah turun.

    Dan kalau kalian kira itu sudah mengejutkan, ada data lagi dari survei majalah manajemen bisnis 月刊総務 yang lebih jujur lagi:

    88,7% perusahaan menyatakan tidak pernah sekalipun mempertimbangkan untuk menerapkan sistem ini.

    Hampir 9 dari 10 perusahaan.

    Tapi di sisi lain, kalau kita lihat dari sisi pekerja, khususnya generasi muda gambarannya kebalik total. Survei Human Holdings 2025 nunjukin 35,1% anak muda usia 20-an di Jepang pengen banget sistem ini diterapkan. Bahkan survei Nikkei ke 1.000 pekerja usia 30–40-an juga nunjukin hal yang sama: pilihan nomor satu yang mereka minta diterapkan di tempat kerja mereka adalah sistem kerja 4 hari.

    Jadi kondisi sekarang tuh begini:

    - Pekerja muda mau banget
    - Tapi perusahaan hampir semuanya belum gerak

    Gap-nya besar. Dan itu yang perlu kalian pahami sebelum terlalu gembira sama headline-nya. Oh iya, data-data di atas bisa kalian check dari halaman ini ya.

    ---

    Kenapa Jepang Mulai Dorong Perubahan Ini?

    Meskipun adoption-nya masih kecil, nggak bisa dipungkiri bahwa arahnya memang sedang berubah. Dan ini bukan kebetulan.

    Ada beberapa alasan besar kenapa isu ini makin sering muncul.

    Pertama, masalah demografi. Jepang udah lama bergulat sama angka kelahiran yang terus turun dan populasi yang menua. Kalau orang terlalu capek kerja, nggak punya waktu buat keluarga, ya nggak heran makin banyak yang menunda nikah atau nggak mau punya anak. Pemerintah Jepang paham soal ini, makanya dorongan soal workstyle itu nyambung langsung sama isu parenting, care work, dan kualitas hidup.

    Kedua, tekanan global. Setelah pandemi, banyak negara mulai lebih terbuka soal kerja fleksibel, remote work, hybrid, sampai 4 day workweek. Jepang memang nggak secepat negara lain, tapi mereka juga nggak diam di tempat.

    Ketiga, persaingan tenaga kerja. Perusahaan yang terlalu kaku lama-lama kalah menarik, terutama di mata generasi muda yang makin peduli soal kualitas hidup. Dan Jepang sedang kekurangan tenaga kerja — jadi mereka nggak bisa terus abaikan ekspektasi generasi baru.

    Jadi perubahan ini bukan karena Jepang tiba-tiba jadi negara yang santai. Tapi karena mereka dipaksa realita untuk beradaptasi.

    ---

    Jadi, Kerja di Jepang Sekarang Lebih Enak?

    Jawaban jujurnya: belum tentu.

    Karena dunia kerja Jepang itu nggak satu warna. Kerja di startup teknologi di Tokyo beda banget sama kerja di pabrik di daerah. Kerja di perusahaan besar dengan 10.000+ karyawan beda jauh sama kerja di restoran kecil yang minta fleksibilitas nggak ada.

    Dan buat kalian yang ngejar jalur Tokutei Ginou yang notabene jalur paling banyak dikejar orang Indonesia, kemungkinan besar kalian akan masuk ke sektor seperti manufaktur, pertanian, atau kaigo. Sektor-sektor ini justru yang paling jauh dari perubahan gaya kerja ini.

    Jadi pertanyaan "kerja di Jepang" itu terlalu luas. Yang lebih relevan adalah:

    - Kerja di sektor apa?
    - Perusahaannya seperti apa?
    - Budaya tempat kerjanya sehat atau nggak?
    - Sistem lemburnya gimana?

    Itu yang menentukan pengalaman kerja kalian bukan headline soal 4 hari kerja.

    ---

    Yang Paling Penting Buat Kalian yang Mau Tokutei Ginou

    Oke, sekarang bagian yang paling praktis.

    Kalau kalian lagi ngejar Tokutei Ginou dan ngerasa N4 udah cukup — ini saatnya aku lurusin.

    N4 itu cukup buat lulus syarat visa. Tapi nggak cukup buat survive di dunia kerja.

    Ini bedanya:

    N4 itu cukup buat survive hidup di Jepang. Buat belanja, naik kereta, baca petunjuk, ngobrol dasar, minimal ga akan nyasar dah waktu di Jepang. Tapi di tempat kerja, kalian akan ketemu instruksi teknis, rapat, feedback dari atasan, situasi darurat yang harus langsung dipahami dan direspons dalam bahasa Jepang, tanpa waktu buat mikir lama.

    Untuk lakuin itu, N4 masih belum masuk. Bayangin kalian berada ditengah-tengah perubahan budaya kerja disana. Kalian harus ngerti sama perubahannya, membiasakan diri, beradaptasi dengan perubaha-perubahan di dunia kerja juga. Yakin dengan N4 udah bisa beradaptasi dengan baik?

    Kalau mau beneran survive dan berkembang di dunia kerja Jepang, minimal kalian butuh N3. Kalau bisa, kejar N2.

    Bukan berarti kalian harus tunggu N3 atau N2 dulu baru berangkat. Tapi jangan berhenti di N4 dan ngerasa udah aman. Justru yang bisa naik ke N3 dan N2 itu yang bakal lebih cepat dipercaya, lebih bisa baca situasi kerja, dan punya lebih banyak pilihan ke depannya.

    Kalau kalian mau naik dari N4 ke N3 secara otodidak dan ga perlu berhenti dari kegiatan kalian sekarang kalian bisa cek program N3 ≠ S1. Bahkan dari Jepang juga bisa ikut kok. Jadi udah di Jepang pun kalian bisa terus naik level. Yang belum berangkat, dan nungguin keberangkatan, daripada diem ga ngelakuin apa-apa kalian bisa coba terus naikin level kalian untuk persiapan di Jepang nanti.

    ---

    Kesimpulan

    Berita soal 4 hari kerja di Jepang itu bukan hoax. Memang ada dorongan ke arah sana, dan itu sinyal positif bahwa Jepang sadar ada yang perlu diubah dari budaya kerjanya.

    Tapi data berbicara lain soal realita di lapangan sekarang. 0,9% perusahaan. 88,7% yang bahkan belum pernah mempertimbangkan. Angka-angka itu nggak bohong.

    Jadi jangan jadikan headline itu sebagai alasan buat turunin standar persiapan kalian.

    Justru sebaliknya makin banyak kalian tahu soal realita Jepang, makin siap kalian menghadapinya.

    Dan salah satu bekal paling konkret yang bisa kalian siapkan dari sekarang? Upgrade bahasa Jepang kalian. Serius.

    Karena yang bisa survive dan berkembang di Jepang bukan yang paling cepat berangkat, tapi yang paling siap menghadapi perubahan ketika udah di sana. Anggap aja gini, sekarang standar pengajuan visa Tokutei Ginou itu N4, tapi apakah ada jaminan kedepannya ga akan tiba-tiba naik jadi N3 minimalnya? Kalau itu terjadi terus kalian yang ga siap-siap mau ngapain? Panik? Udah paham kan?

    ---

    Sampai sini aja pembahasan aku kali ini. Kalian punya pertanyaan soal persiapan kerja ke Jepang, soal level bahasa yang perlu dikejar? Atau apapun itu, silahkan tulis di kolom komentar ya, kita diskusi bareng!

  • Belajar Bahasa Jepang

    Bagian JLPT yang Paling Bikin Gagal

    Ayo bulan Juli udah makin deket loh, siapa di sini yang masih berleha-leha belajarnya? Udah kebagian kuota kan?. Ya kali ini aku mau bahas tentang JLPT. Oke, jujur deh. Buat kalian yang sekarang lagi persiapan JLPT, bagian mana yang paling kalian takutin? Aku yakin sebagian besar dari kalian bakal jawab: "KANJI dong, kak! Banyak banget, susah lagi!" Nah, justru di situ banyak yang salah kaprah. Kenapa? Ayo kita bahas!

    Kalian yang masih pemula ketika liat kanji, pasti langsung ngerasa kanji itu seram. Tapi tau ga? Ternyata bukan itu yang jadi penyebab paling banyak orang gagal ketika test JLPT. Ada "penghalang tak terlihat" yang sering banget luput dari radar persiapan kalian, udah kaya penyakit jantung yang tiba-tiba menyerang. So, di artikel ini aku mau bongkar satu per satu supaya kalian bisa mengantisipasinya ya. Tapi sebelum itu, siapa tau ada yang belum tau struktur ujian dalam JLPT, jadi aku coba rangkum dulu struktur ujiannya biar kita sefrekuensi ya.

    Struktur Ujian JLPT yang Wajib Kamu Pahami Sebelum Mulai Belajar

    JLPT N5~N4 terdiri dari tiga bagian besar:

    1. Moji Goi (文字・語彙) — Kanji dan kosakata
    2. Bunpou + Dokkai (文法・読解) — Pola kalimat dan membaca
    3. Choukai (聴解) — Mendengarkan

    Sedangkan N2 dan N1 jadi 2 bagian

    1. Gengo Chisiki (言語知識) — Pengetahuan bahasa (meliputi kosakata, kanji, pola kalimat dan membaca)
    2. Choukai (聴解) — Mendengarkan (Listening)

    Sistem penilaiannya bukan sekadar ngejar minimal total nilai secara keseluruhan, tapi ada juga passing score per sesinya. Artinya, kalian bisa punya total nilai tinggi, tapi kalau salah satu seksinya di bawah batas minimum, tetap TIDAK LULUS. Ini yang sering banget jadi jebakan, karena masih ada yang ngira ga perlu mahir di semua sesi, dan hanya fokus untuk mahir di satu sesiinya aja udah cukup tanpa mengetahui ada sessional score yang harus di kejar di setiap sesinya. Udah paham sampe sini? Berarti kalian harus punya skill yang merata ya untuk bisa lulus.

    Kanji si "Bintang Iklan" yang Ternyata Bukan Musuh Utama

    Kita ambil contoh deh kalau mau ikut JLPT N4, kalian perlu hafal bentuk kanji N4 sekitar 200 kanji, ditambah yang N5nya sekitar 80 kanji jadi totalnya sekitar 280an ya. Kedengarannya banyak, tapi sebenarnya ini adalah kanji-kanji yang cukup sering muncul di kehidupan sehari-hari. Karena sering muncul, kalian yang rajin baca atau dengerin materi Jepang secara konsisten bakal familiar dengan banyak dari kanji ini. Konsistenkan nambahin kanji baru tiap hari, terus dengan banyak baca-baca tulisan Jepang kalian bisa hafal kok sama kanji.

    Aku ga bilang kanji bisa dikesampingkan dan bisa diabaikan ya! Tapi maksudku, kanji itu visible enemy. Kalian tau musuhnya, bisa dihitung, bisa didrill satu per satu. Tapi dalam ujian seperti JLPT, yang berbahaya justru sesuatu tidak kelihatan seperti musuh. Aku coba jabarin apa aja penghalang tak terlihat yang perlu kalian hadapi.

    3 Penghalang Tersembunyi yang Sering Bikin Peserta JLPT Gagal

    Choukai (Listening) — Sesi yang Paling Diremehkan

    Ini dia yang paling sering bikin orang kaget di hari H ujian.

    Banyak peserta yang belajar berbulan-bulan tapi porsi latihannya 90% baca dan hafal, 10% dengerin. Begitu masuk ruang ujian, soal listening muncul, dan... panik. Di level N5 dan N4 mungkin masih terasa gampang banget soalnya pace atau kecepatan ngomongnya masih terbilang pelan. Tapi karena cuman diputar sekali, dan ga ada teks yang bisa dibaca ulang, banyak yang ngeblank saat sesi ini.

    Soal listening itu bukan sekadar "dengar lalu pilih jawaban". Ada soal yang menguji kemampuan kalian untuk memahami konteks percakapan, bukan cuma kata per kata. Misalnya dua orang lagi ngomongin jadwal, dan kalian harus nyimpulin mereka setuju ketemu jam berapa. Kalau kalian jarang latihan listening, kosakata yang udah dihafalin pun jadi percuma karena otak belum terlatih memproses bahasa yang masuk lewat telinga bukan lewat mata. 

    Untuk yang telinganya udah terbiasa dengan bahasa Jepang seperti dari anime, drama, lagu-lagu Jepang atau mungkin dari game, bisa jadi listening akan terasa relatif mudah. Tapi aku tau ga semua dari kalian melakukan itu, jadinya ada yang ngerasa listening itu bukan sesi yang mudah. Kalau mau latihan listening yang penglafalan dan pace bicara yang dekat dengan native coba banyak-banyak nonton drama dan variety show Jepang. Tapi untuk melatih listening sebaiknya ga pilih-pilih, silahkan latihan dari mana yang kalian suka dan sesuai dengan level kalian dulu.

    Grammar JLPT Bukan Soal Hafalan, tapi Pemahaman Konteks

    Banyak yang belajar pola kalimat dengan cara menghafal rumus, contoh waktu belajar pola kalimat "Bentuk TE + から = setelah melakukan A, lakukan B." Hafal? Iya. Tapi pas ketemu soal, tetap bingung?

    Ini karena soal grammar di JLPT itu bukan ujian hafalan rumus, tapi ujian pemahaman konteks. Soalnya sering dalam bentuk kalimat panjang yang disisipin grammar point di tengah-tengah, dan jawabannya kelihatannya mirip semua. Buat yang cuman hafal rumus A = B, pasti bakal kebingungan waktu ngerjain soal pola yang mirip. Contoh, kalian pasti tau bedanya Bentuk TE + もいいです dan Bentuk A + なければならない, tapi kalau udah masuk ke kalimat kompleks dengan konteks percakapan tertentu, pilihannya bisa bikin ragu.

    Ya sebenernya kalau ngomongin pola kalimat yang lebih sering jadi jebakan untuk para pemula itu bisa jadi "partikel" ya? Partikel secara jumlah ga sedikit sih tapi sebenernya simpel kalau paham logikanya. Kenyataannya banyak yang menghafalkan partikel tanpa mengerti logika penggunaannya. Contoh paling seringnya di partikel-partikel keterangan tempat. Kapan kita pakai partikel へ, に, で, sama を. Kalau paham logika perbedaannya sebenernya partikel akan terasa gampang. Inget kuncinya bukan hafal tapi paham. Mau sampai kapan kalian di level kognitif menghafal? Bahasa itu bukan hanya di hafal tapi dipahami, yang akhirnya diaplikasikan di keseharian kalian.

    Manajemen Waktu saat Ujian JLPT

    Kita mengelola waktu ga hanya di tempat kerja loh. Ketika ikut ujian seperti JLPT akan terasa sangat berbeda ketika kalian bisa mengelola waktu kalian selama proses ujian. Ini yang paling jarang banget dibahas orang, padahal dampaknya sangat terasa di hari ujian.

    Kenapa? Karena JLPT itu ada batas waktunya. Tiap level dan tiap sesi punya durasi waktu yang berbeda. Kejadian di lapangan sering kali peserta sebenernya tau jawabannya, tapi kehabisan waktu karena terlalu lama di soal tertentu. Ujung-ujungnya soal-soal di akhir diisi asal-asalan. Gara-gara kehabisan waktu jadi ya udah diisi apa aja lah dari pada kosong. Padahal udah belajar bagian itu loh, jadi pasti bisa jawab benernya. Kalau gitu kan skor kalian jadi ga bisa maksimal ya. Harusnya kalian bisa lulus tapi malah gagal karena soal-soal yang bisa kalian isi dengan bener malah diisi asal-asalan.

    Makanya ketika ngerjain soal JLPT, pastikan kalian mengerjakannya secara efektif. Ketika kalian udah baca soal, dan pilihan gandanya kalian GA KENAL sama kanjinya atau sama pola kalimatnya, mau dipikirin sampe kepala kalian botak juga ga akan dapet jawabannya. Jadi ya udah langsung skip aja dan move on ke soal berikutnya. Pastikan semua soal yang kalian bisa bener udah keisi dulu, sisa yang ga yakin atau yang ga tau isinya bisa dipikirin nanti belakangan. Inget ya SKIP SOAL YANG BIKIN BINGUNG dan pikirin soal itu belakangan aja.

    Lalu Gimana Strategi Belajar Kanji yang Benar untuk JLPT?

    Oke balik lagi ke kanji. Aku bilang bukan halangan, tapi bukan berarti diabaikan ya! Secara jumlah memang banyak, dan ini harus dipelajari. Kalau fondasi kanji kalian kuat, bagian lain jadi lebih mudah. Karena di soal kanji, kosakata, bunpo, sampai dokkai (membaca) kalian bakal ketemu banyak teks yang butuh pemahaman kanji. Tapi kita tau kanji apa aja yang perlu dipelajari kan? Coba baca buku kanji N5 atau N4, pasti ada list kanji apa aja yang perlu dipelajari. Bahkan ada kanji card yang membantu kalian belajar kanji lewat ilustrasi. 

    Jadi kanji itu musuh yang terlihat bentuknya dan ga sulit untuk mengalahkannya selama kita tau cara belajarnya. Yang kesulitan mengerjakan soal kanji, itu mereka yang memang belum belajar aja. Belum kenal bentuk kanji dan makna kanjinya. Yang masih kesulitan belajar kanji coba tonton video dibawah ini ya, siapa tau membantu kalian.


    Kesimpulan

    JLPT bukan cuma ujian hapalan. Ini ujian yang menguji apakah kalian bisa menggunakan bahasa Jepang, bukan cuma mengingat-ingatnya. Makanya persiapan yang seimbang antara kosakata, grammar, listening, yang merata itu penting. Selain itu mulailah sadar untuk mengelola waktu ketika ujian nanti agar bisa mendapat skor yang maksimal.

    Kalau kalian pengen persiapan yang lebih terstruktur dan ingin belajar bahasa Jepang otodidak yang efektif ga buang-buang waktu, coba lirik program Akselerasi N4 = 15 Hari di J-Class. Info lengkapnya bisa cek di https://j-class.id/akselerasi-n4/. Gimana bahasan kali ini? Kalau ada pertanyaan atau mau sharing pengalaman ujian JLPT kalian silahkan tulis aja di kolom komentar ya. Kita diskusi bareng!

  • Belajar Bahasa Jepang

    Angka dalam Bahasa Jepang: Lebih Mudah dari yang Kamu Kira


    "Ichi, ni, san..." — siapa di sini yang lagi menghafalkan angka dalam bahasa Jepang? Atau mungkin sudah mulai belajar tapi masih belum hafal-hafal juga?

    Kabar baiknya, belajar bilangan bahasa Jepang untuk pemula itu jauh lebih mudah dari yang kamu bayangkan. Bahkan lebih mudah dibanding angka dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kenapa bisa begitu? Ikuti pembahasan ini sampai selesai, dan kamu akan paham sendiri jawabannya.

    Kenapa Angka Bahasa Jepang Lebih Mudah dari Bahasa Indonesia dan Inggris?

    Sebelum masuk ke cara baca angka dalam bahasa Jepang, coba kita lihat dulu perbandingannya.

    Dalam bahasa Indonesia, ada banyak sekali kosakata angka yang perlu dipelajari. Dari angka 1 sampai 10, lalu ada belasan, ratusan, ribuan, puluhan ribu, jutaan, miliar, biliun, triliun, dan seterusnya. Bahkan ada istilah seperti 1K untuk 1.000 dan 1M untuk 1 miliar — padahal dalam bahasa Inggris, 1M justru berarti 1 juta. Hal seperti ini sering bikin salah paham, bukan?

    Bahasa Inggris pun tidak jauh berbeda. Kosakata angkanya banyak, bahkan untuk angka belasan saja punya bentuk yang berbeda-beda — eleven, twelve, thirteen, dan seterusnya. Orang yang baru belajar bahasa Inggris pasti butuh waktu dan usaha lebih untuk benar-benar menguasai penyebutan angkanya.

    Nah, berbeda dengan keduanya, dalam bahasa Jepang kamu hanya perlu menghafal 16 kosakata untuk bisa menyebutkan angka sampai triliunan sekalipun. Ini bisa terjadi karena sistem angka bahasa Jepang sangat mengandalkan pola dan logika, bukan menghafal banyak kata baru. Kalau sudah paham polanya, semua angka akan terasa jauh lebih mudah.

    Percaya? Mari kita buktikan satu per satu.

    Angka Dasar Bahasa Jepang 0–10

    Langkah pertama dalam belajar angka bahasa Jepang adalah menghafal angka dasar dari 0 sampai 10. Ini adalah fondasi dari segalanya.

    Udah pada hafal belum angka-angka di atas? Iya angka dasar mah hafalin aja dulu ya, gampang kok ga banyak kan. Aku buat tabelnya ada 2 kolom. Kolom ke-2 yang tengah itu bacaan normalnya, jadi kalau kamu sebutin angkanya aja seperti angka 1 itu "いち", 4 itu "よん", 9 itu "きゅう". Tapi di kolom ke-3 itu cara baca khusus yang biasanya dipake saat nyebutin jam, bulan dan tanggal. Bagian cara baca khususnya kita bahas lain kali ya. Sekarang pertama-tama fokus dulu aja pelajari yang di kolom tengah. Cara latihan terbaik: ambil angka secara acak, lalu coba sebutkan dalam bahasa Jepang. Ulangi sampai hafal tanpa harus berpikir lama.

    Cara Membaca Angka Belasan (11–19) dalam Bahasa Jepang

    Kalau udah hafal bisa kita lanjut ke angka belasan. Logika penyebutan angka belasan itu sebutin 10 kemudian angka satuan di setelah angka 10nya. Kalau angka 11 berarti 10 (じゅう) dan 1 (いち) makanya kalau digabung jadi "じゅういち". Angka 12 berarti 10 (じゅう) dan 2 (に) digabung jadi じゅうに, dan seterusnya. Aku udah coba rangkum kaya berikut ya:

    Cara Membaca Angka Puluhan Hingga Ribuan (20–9.999)

    Sampai belasan gini udah pada bisa caranya? Kita belum nambah kosakata baru loh. Masih pake 0~10, belum nambah lagi. Kita lanjut ya? Next kita tambahkan logika penyebutan angka 20~9,999 yang caranya sama seperti pengejaan dalam bahasa Indonesia. Ejaan yang aku maksud ejaan yang formal ya, bukan yang dipake sama orang Indonesia sehari-hari. Anggap lah sekarang kan 95 itu pada nyebutnya sembilan lima kan bukan sembilan puluh lima? Biar lebih jelas coba liat detailnya di contoh berikut ya:

    - 20 = dua (に) puluh (じゅう) = にじゅう
    - 34 = tiga (さん) puluh (じゅう) empat (よん) = さんじゅうよん
    - 68 = enam (ろく) puluh (じゅう) delapan (はち) = ろくじゅうはち
    - 89 = delapan (はち) puluh (じゅう) sembilan (きゅう) = はちじゅうきゅう

    Kebayang ga sekarang cara bacanya? Sampe 99 sih kita belum perlu nambahin kosakata baru ya. Tapi kalau udah nyebutin lebih besar dari 99 kita perlu nambahin kosakata yang ke 12, yaitu 100 atau disebut ひゃく (hyaku). Logika cara bacanya masih sama dengan yang tadi, tapi perlu dicatat bahwa 100 ini memang ada cara baca yang spesial, di mana seratus / ratus itu ga selalu dibaca ひゃく (hyaku), tapi ketika angkanya 300 dia akan dibaca さんびゃく (sanbyaku), 600 dibaca ろっぴゃく (roppyaku), dan 800 itu はっぴゃく (happyaku). Sisanya 100, 200, 400, dll itu tetap dibaca ひゃく. Kita coba liat contoh-contoh berikut yuk.

    - 200 = dua (に) ratus (ひゃく) = にひゃく

    - 375 = tiga (さん) ratus (びゃく) tujuh (なな) puluh (じゅう)
       lima (ご) = さんびゃくななじゅうご

    - 704 = tujuh (なな) ratus (ひゃく) empat (よん) = ななひゃくよん

    - 861 = delapan (はっ) ratus (ぴゃく) enam (ろく) puluh (じゅう)
       satu (いち) = はっぴゃくろくじゅういち

    Mulai agak panjang ya? Ayo kita panjangin lagi, kalau seratus tadi ada ひゃく (hyaku), kita lanjut ke seribu ada せん (sen). Sekali lagi, logika cara bacanya masih sama ya, kali ini cuman nambah kosakata ke 13 aja yaitu せん (sen). Sama dengan ratusan, ribuan juga punya angka yang cara bacanya spesial yaitu 3,000 dibaca さんぜん (sanzen), dan 8,000 yang dibaca はっせん (hassen). Coba check contoh-contoh berikut: 

    - 1,200 = せんにひゃく
      seribu (せん) dua (に) ratus (ひゃく) 

    - 3,850 = さんぜんはっぴゃくごじゅう
      tiga (さん) ribu (ぜん) delapan (はっ) ratus (ぴゃく) lima (ご)
       puluh (じゅう) 

    - 8,491 = はっせんよんひゃくきゅうじゅういち
      delapan (はっ) ribu (せん) empat (よん) ratus (ひゃく) sembilan (きゅう)
       puluh (じゅう) satu (いち) 

    - 9,999 = きゅうせんきゅうひゃくきゅうじゅうきゅう
      sembilan (きゅう) ribu (せん) sembilan (きゅう) ratus (ひゃく)
       sembilan (きゅう) puluh (じゅう) sembilan (きゅう)

    Angka Puluhan Ribu ke Atas: Sistem まん・おく・ちょう

    Sampe sini udah ada yang ngebul? Masih gampang kan ya? Cara nyebutinnya aja sama banget dengan pengejaan dalam bahasa Indonesia. Jadi kalau udah hafal kosakata dan logikanya, bakal otomatis jago nyebutin angka sampe ribuannya. Sisanya tinggal dilancarin dengan latihan sebutin angka-angka aja biar lebih lancar lagi. Kita ga selesai di sini, ayo lanjut ke yang berikutnya yaitu penyebutan puluhan ribu ke atas.

    Tapi sebelum itu aku mau kasih 3 kosakata baru beserta cara aku menggunakannya.

    - Ketika liat tanda | (satu garis) kita baca まん (man)
    - Ketika liat tanda || (dua garis) kita baca おく (oku)
    - Ketika liat tanda ||| (tiga garis) kita baca ちょう (chou)

    Kenapa aku kasihnya seperti ini? Kalau dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris kita terbantu dengan koma di setiap 3 digit dari belakang kan. Komanya ada 1 berarti "ribu", komanya ada 2 berarti "juta", komanya ada 3 berarti "miliar". Nah angka dalam bahasa Jepang itu beda. Point ini bisa jadi satu-satunya yang menurut aku ngeselin banget dari bahasa Jepang. Cara baca yang angkanya lebih dari 4 digit, kita perlu ngitung tiap 4 digit dari paling belakang angkanya. Padahal penulisan komanya tiap 3 digit sama seperti bahasa Indonesia dan Inggris. Belum kebayang? Coba liat contoh-contoh gampang berikut:

    Ketika mau baca "12,500" kita itung dulu 4 digit dari belakang jadi "1 | 2,500" kalau udah ditandai satu garis (まん)nya ada di mana, kita bisa lebih mudah bacanya. Sebelum satu garis ada angka 1 maka baca dulu いち, kemudian baca tanda | dibaca まん, dan terakhir baca 2,500 seperti cara pengejaan biasa. Hasilnya akan jadi いちまんにせんごひゃく. Coba liat contoh-contoh lain seperti:

    - 25,000 → 2 | 5,000
      2 | dibaca にまん  
      5,000 dibaca ごせん
      Jadi keseluruhan akan dibaca にまんごせん
    - 430,020 → 43 | 0,020
      43 | dibaca よんじゅうさんまん
      0,020 dibaca にじゅう
      Jadi keseluruhan akan dibaca よんじゅうさんまんにじゅう

    Kalau setelah nandain | (satu garis) di sebelumnya masih ada sisa lebih dari 4 digit, maka tambahin || (dua garis) yang dibaca おく ya. Contoh:

    - 850,200,750 → 8 || 50,20 | 0,750 
      8 || dibaca はちおく
      50,20 | dibaca ごせんにじゅうまん
      0,750 dibaca ななひゃくごじゅう
      Jadi keseluruhan dibaca はちおくごせんにじゅうまんななひゃくごじゅう
    Kalau udah liat contoh-contoh tadi kita simpulkan dah 
    - まん (man) itu 10,000 (puluh ribu)
    - おく (oku) itu 100,000,000 (ratus juta)
    - ちょう (chou) itu 1,000,000,000,000 (triliun)

    Panjang? Ya bayangin aja coba angka tadi disebutin dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pasti ga beda jauh kok. Belum lagi ini baru sampe おく (oku) ya, belum sampe ちょう (chou). Tapi yang ちょう (chou) pun caranya sama dengan yang tadi, aku ga akan kasih contoh disini, tapi di akhir nanti aku kasih kamu PR buat dicoba ya. 

    Sampai Mana Kita Perlu Menguasai Angka Besar dalam Bahasa Jepang?

    Ngeliat bacaannya yang panjang muncul pertanyaan ga sih, "apakah sehari-hari di Jepang nanti kita bakal sering nyebutin angka panjang gitu?", "Terus kita harus bisa lancar baca angka panjang-panjang gitu kak?" Jawabannya engga harus lancar, tapi sebaiknya bisa nyebutinnya meskipun harus mikir dulu. 

    Kalau tujuannya minimal bisa survive tinggal di Jepang kamu bisa lancar nyebutin angka sampe ratusan ribu aja udah pasti bisa survive kok. Minimal bisa sebutin gaji sebulannya berapa, sewa apartemen berapa, mau beli iPhone baru kita ngerti angka yang disebutin penjualnya, dan harga-harga tadi biasanya sih ga akan sampai jutaan yen ya. Orang Jepang sendiri pun rata-rata ga lancar kok kalau udah sebutin puluhan juta mah, mereka pasti loading dulu waktu liat angkanya. Kecuali kamu nanti ke Jepang bakal jadi businessman, buka bisnis sendiri di Jepang dan uang yang kamu pegang memang bakal ampe jutaan atau puluhan juta yen. Kalau sampe segitunya sih aku saranin untuk bisa lancar sebutin sampe おく (oku) bahkan ちょう (chou) mungkin ya. 

    Sampe sini ada yang mau ditanyakan dulu? Kalau masih ada yang ga ngerti dan ingin ditanyain coba tulis di kolom komentar ya. Ngomong-ngomong aku suka share ilmu bahasa Jepang kaya gini, materinya manfaatin buat belajar ya. Kalau mau dibantu lebih serius kita ada program belajar bahasa Jepang OTODIDAK. Tenang kamu bisa lulus N4 hanya dengan 15 hari aja kok. Sebagai penutup aku mau tantang kamu dengan kasih PR baru ya, coba tulis di komentar penyebutan bahasa Jepang dari angka 2,040,055,700. Kira-kira ada yang bisa ga ya?

  • Sekolah/Kuliah di Jepang

    Kuliah S1 Sambil Kerja di Jepang Lewat Program RPL: Begini Caranya!

    Kamu yang sekarang lagi di Jepang, kerja keras tiap hari, bahasa Jepangnya udah lumayan, pengalaman kerja udah numpuk — pernah nggak tiba-tiba kepikiran soal ijazah S1 yang belum kelar? Atau mungkin memang nggak sempat kuliah dulu karena langsung tancap gas kerja ke Jepang?
     Kalau kamu ngerasa relate, artikel ini memang ditulis buat kamu.

    Masalah yang Sering Ngalangin Pekerja Indonesia di Jepang

    Di dunia kerja Jepang, terutama kalau kamu lagi ngincar posisi yang lebih profesional atau sedang mempersiapkan upgrade visa ke gijinkoku, ada satu tembok yang sering menghalangi jalan: ijazah S1.

    HRD Jepang nanya. Imigrasi Jepang nanya. Semua nanya hal yang sama.

    Solusi yang paling kebayang memang "kuliah lagi aja" — tapi nggak sesederhana itu. Kuliah reguler butuh 4 tahun, dan itu artinya kamu harus milih: lanjut kerja di Jepang atau pulang kuliah. Kalau harus pulang ke Indonesia dulu, berarti mengorbankan tabungan, waktu, dan kesempatan yang sudah ada di sana.

    Akibatnya, banyak yang akhirnya diam saja. Tahu masalahnya, tapi nggak tahu solusinya.

    Apa Itu Program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau)?

    RPL atau Rekognisi Pembelajaran Lampau adalah program resmi dari pemerintah Indonesia yang mengakui pengalaman dan kompetensi yang sudah kamu miliki sebelum masuk kuliah. Dasar hukumnya jelas — diatur dalam Permendikbud Nomor 41 Tahun 2021 tentang RPL untuk Pendidikan Tinggi.

     Artinya ini bukan program abal-abal. Pengalaman kerja di Jepang, sertifikat JLPT, skill yang sudah terbukti di lapangan — semua itu bisa dikonversikan menjadi SKS kuliah.

    Kamu tidak harus mengulang hal-hal yang sebetulnya sudah kamu kuasai.

    Apa Bedanya RPL dengan Kuliah Biasa?

    Kalau kuliah reguler, kamu mulai dari nol tanpa mempertimbangkan apa yang sudah kamu punya. RPL justru mengakui dulu apa yang sudah ada, baru kekurangannya yang diselesaikan. Karena itulah durasinya bisa jauh lebih singkat — bahkan bisa selesai dalam waktu kurang dari 2 tahun.

    Apakah Kuliah RPL Harus Pulang ke Indonesia Dulu?

    Tidak perlu. Ini yang membuat program RPL jadi pilihan yang masuk akal buat kamu yang sedang kerja di Jepang.

    Sistem kuliahnya sepenuhnya bisa dilakukan secara online, bahkan asinkronus — artinya kamu bisa mengakses materi kapanpun, tanpa harus menunggu jadwal kelas yang fixed. Buat kamu yang lagi shift pagi di pabrik, atau kerja kantoran dan baru pulang malam, tetap bisa kuliah tanpa harus memilih salah satu.

    Kerja jalan, kuliah juga jalan.

    Apakah Program RPL Wajib Mengerjakan Skripsi?

    Ini yang sering bikin banyak orang langsung semangat begitu dengar soal RPL.

    Di beberapa kampus penyelenggara RPL, skripsi tidak wajib. Tugas akhir punya banyak bentuk yang bisa dipilih sesuai latar belakang masing-masing:

    • Laporan pengalaman kerja atau magang di Jepang
    • Laporan kegiatan sebagai interpreter atau penerjemah
    • Karya kreatif seperti terjemahan buku atau naskah
    • Jurnal atau artikel ilmiah
    • Laporan kegiatan entrepreneurship bagi yang punya usaha atau LPK

    Jadi buat yang sudah punya banyak pengalaman di lapangan, tugas akhirnya bukan membuat sesuatu dari nol. Tapi menuliskan apa yang sudah ada dan sudah dikerjakan. Jauh lebih manusiawi, bukan?

    Siapa Saja yang Bisa Ikut Program RPL?

    Ini yang sering bikin orang ragu duluan, padahal tidak perlu.

    Syarat utamanya cukup sudah lulus SMA, SMK, atau MA sederajat dan punya pengalaman kerja setelah lulus. Tidak ada batasan usia. Tidak ada batasan tahun lulus. Lulusan SMA tahun 2005 pun masih bisa ikut.

    Buat kamu yang sekarang di Jepang pakai visa tokutei ginou atau sedang magang dengan kemampuan bahasa Jepang masih di level N4 — tetap bisa mendaftar. Karena penilaiannya tidak hanya dari sertifikat. Ada tim assessment yang mengukur kemampuan sebenarnya. Jadi kalau setelah 3 tahun tinggal di Jepang kemampuanmu sudah jauh di atas N4 meski belum sempat ikut ujian, itu tetap diakui.

    Soal Sertifikat JLPT yang Sudah Lama, Masih Bisa Dipakai?

    Pertanyaan ini sering sekali muncul. Untuk keperluan pendaftaran RPL, tidak ada batas kedaluwarsa sertifikat JLPT. Sertifikat lama tetap diterima. Bukan hanya JLPT — sertifikasi bahasa Jepang internasional lainnya juga diakui.

    Jadi kalau kamu punya N2 dari beberapa tahun lalu dan belum sempat perpanjang, itu bukan penghalang untuk daftar RPL.

    Apakah Gelar dari Program RPL Diakui untuk Upgrade Visa Gijinkoku?

    Bisa.

    Gelar S1 dari jalur RPL setara dengan S1 reguler dan diakui untuk keperluan visa gijinkoku. Tapi perlu diingat, punya gelar S1 saja tidak otomatis cukup. Untuk visa gijinkoku di bidang bahasa Jepang, tetap diperlukan sertifikat N2.

    Jadi kalau sekarang masih di level N4 atau N3, gelar S1-nya bisa dikejar lewat RPL — tapi kemampuan bahasa Jepangnya juga harus terus dinaikkan secara paralel. Jangan sampai 5 tahun di Jepang, skill bahasanya jalan di tempat.

    Program RPL di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang

    Salah satu kampus di Indonesia yang sudah menjalankan program RPL secara resmi adalah Universitas Dian Nuswantoro, atau yang dikenal dengan Udinus, berlokasi di Semarang. Udinus sudah terakreditasi dan punya rekam jejak panjang di dunia pendidikan teknologi dan ilmu komputer di Indonesia.

    Konversi SKS Hingga 100 SKS — Apa Artinya Buat Kamu?

    Yang membuat Udinus menonjol adalah besaran konversi SKS-nya. Di Udinus, pengalaman dan kompetensi yang kamu bawa bisa dikonversi hingga maksimal 100 SKS. Untuk konteks, total SKS yang dibutuhkan untuk lulus S1 biasanya berkisar di 144 SKS. Artinya dengan konversi 100 SKS, kamu tinggal menyelesaikan sekitar 44 SKS sisanya.

    Dengan beban sebesar itu, kuliah bisa selesai hanya dalam 3 semester — atau kurang dari 2 tahun.

    Buat kamu yang sudah kerja di Jepang 2–3 tahun ke atas, punya sertifikat JLPT, dan aktif di bidang bahasa atau teknologi, potensi konversi SKS kamu sangat besar.

    Apa Saja yang Bisa Dikonversi di Udinus?

    Pengalaman dan dokumen berikut termasuk yang bisa diajukan dalam proses asesmen RPL di Udinus:

    • Pengalaman kerja di Jepang (magang, tokutei ginou, SSW) yang terdokumentasi
    • Sertifikat JLPT atau kemampuan bahasa Jepang yang dapat diuji
    • Pelatihan atau kursus yang pernah diikuti dan relevan dengan program studi
    • Portofolio, karya, atau proyek yang bisa dibuktikan secara nyata

    Proses asesmen dilakukan oleh tim akademik Udinus untuk menentukan berapa SKS yang layak dikonversi dari riwayat kamu. Ada proses validasi resmi — bukan kamu sendiri yang menentukan nilainya.

    Cara Daftar dan Kode Referral Khusus Wagomu

    Kalau kamu sudah mantap dan mau langsung daftar program RPL di Udinus, pastikan kamu memasukkan kode referral M02087 saat proses pendaftaran. Dengan kode ini, kamu terdaftar sebagai calon mahasiswa yang datang dari komunitas WaGoMu #JapaneseClass — dan ada keuntungan khusus yang bisa kamu dapatkan.

    Untuk detail proses pendaftaran lengkapnya, tonton video kolaborasi kami bersama Udinus di sini: Cara lulus S1 kurang dari 2 tahun dan GAK PAKE SKRIPSI?! | Jalur RPL



    Kesimpulan — RPL Paling Cocok Buat Siapa?

    Program RPL ini paling cocok buat kamu yang:

    • Sudah kerja di Jepang (magang, tokutei ginou, atau SSW) minimal 2 tahun setelah lulus SMA
    • Punya sertifikat JLPT atau kemampuan bahasa Jepang yang bisa diuji
    • Mau punya gelar S1 tanpa harus berhenti kerja atau pulang ke Indonesia
    • Sedang mempersiapkan upgrade visa ke gijinkoku tapi belum punya ijazah S1

    RPL bukan jalan pintas ilegal. Ini program resmi yang diakui pemerintah, dan gelarnya setara penuh dengan S1 reguler. Bedanya hanya di efisiensinya — kamu tidak perlu mengulang apa yang sebetulnya sudah kamu kuasai.

    Kalau ada yang mau sharing pengalaman soal topik ini, tulis di kolom komentar ya. Siapa tahu ada yang relate dan bisa saling bantu infonya.



    masih ada pertanyaan soal program rpl atau cara daftarnya?
    Hubungi kami langsung via WhatsApp dan sebutkan kode kami untuk mendapatkan voucher khusus.
    Atau langsung daftar ke Udinus dan masukkan kode referral M02087 saat pendaftaran.

    kalau ada yang mau sharing pengalaman soal topik ini, tulis aja di kolom komentar ya. Siapa tau ada yang relate dan bisa saling bantu infonya.

  • Sekolah/Kuliah di Jepang

    Beasiswa MEXT 2026: 58 Pemuda Indonesia Resmi Berangkat ke Jepang

    Kalau ngomongin tentang kuliah di Jepang siapa sih yang ga kenal Beasiswa Monbukagakusho (MEXT)? Iya beasiswa ini sampe saat ini pun masih jadi beasiswa bergensi dari Pemerintah Jepang. Nah bulan Maret 2026 jadi babak baru bagi dunia pendidikan Indonesia. Karena 58 pemuda asal Indonesia secara resmi dilepas untuk melanjutkan studi ke Jepang lewat beasiswa MEXT ini. Yang tertarik bisa coba ikutin sampe beres ya biar ga ketinggalan, di akhir nanti aku tambahkan tips dan triknya supaya bisa lolos seleksi beasiswanya.

    Jadi bulan maret 2026 kemarin kita melepas 58 peserta yang terpisah menjadi 4 jalur program. 32 peserta research students (pascasarjana), 6 peserta gakubu (S1), 12 peserta kosen (D3), dan 8 peserta senshu (D2). Apakah jumlah ini besar? Nah kita coba bahas dulu mengenai jumlah peserta MEXT selama ini.

    Pertama-tama udah pada tau ga ya? Indonesia tuh sebenernya bukan sekadar partisipan biasa di beasiswa MEXT. Secara global, Indonesia konsisten menjadi salah satu negara dengan jumlah penerima beasiswa MEXT terbanyak. Contohnya di maret 2026 aja ada 58 pemuda yang berangkat. Dari data yang aku sempat baca-baca, Indonesia masih bisa konsisten mengirimkan 50~60+ peserta tiap taunnya, di kawasan ASEAN kita masuk tiga besar bersaing dengan Vietnam dan Thailand. Sebagai tambahan informasi, dari negara-negara Eropa atau Amerika ternyata tiap tahunnya cuman ada satuan tiap tahunnya. Ya mungkin karena di kawasan Eropa dan Amerika udah banyak universitas dan beasiswa yang lebih menggiurkan bagi mereka ya.

     Indonesia dan Beasiswa MEXT: Hubungan yang Panjang

    Jumlah peserta Indonesia bisa sebanyak ini dikarenakan pertama hubungan diplomatik yang erat dengan Jepang, dimana kita udah punya sejarah panjang dalam kerja sama ekonomi dan politik bersama Jepang. Kedua, kualitas dan minat pelamar yang tinggi, dikarenakan peminat yang banyak dan kompetitif sehingga menghasilkan kandidat yang berualitas dimata penyeleksi. Ketiga, pada akhirnya karena kebutuhan tenaga ahli di Indonesia. Ga dikit kok yang udah selesai program beasiswa MEXT ini, mereka sukses berkarir di Jepang maupun balik ke Indonesia. 

    4 Program Beasiswa MEXT yang Tersedia untuk Indonesia

    Tertarik untuk ikut beasiswa MEXT? Aku coba bahas dikit tentang program beasiswanya. Dari beasiswa MEXT ada 4 program yang populer banget di Indonesia. 

    1. Research Students (Pascasarjana), jalur ini diperuntukkan bagi lulusan S1 atau S2 yang ingin melakukan penelitian di universitas Jepang. Menariknya, jalur ini bisa menjadi pintu masuk menuju jenjang Master (S2) atau Doktor (S3) setelah melewati masa research student.

    2. Undergraduate (Gakubu - S1), program sarjana penuh bagi lulusan SMA/SMK/Sederajat. Penerima beasiswa akan menjalani sekolah persiapan bahasa Jepang selama satu tahun sebelum masuk ke universitas.

    3. Kosen (College of Technology), program yang fokus di teknik, teknologi, sains, dan IT. Biasanya sekitar 3 tahun + 1 tahun persiapan bahasa Jepang. Tujuan akhirnya supaya peserta bisa jadi insinyur, teknisi profesional ataupun bisa juga lanjut S1 setelah 3 tahun.

    4. Senshu (Specialized Training College), program keterampilan praktis (kejuruan) seperti teknologi, bisnis, fashion, kebudayaan, dan kesehatan. Sama dengan Kosen biasanya berlangsung 3 tahun + 1 tahun persiapan bahasa Jepang. Tujuannya agar siap kerja di industri spesifik atau melanjutkan S1 setelah 3 tahun. 

    Dari keempat programnya ada yang tertarik ga? Apa? Bingung nanti biar lolos seleksinya gimana? Inget ya! MEXT itu beasiswa yang paling populer saat ini, jadi persaingannya itu tingkat nasional ya. Jadi kalian bakal butuh persiapan dan strategi yang lebih matang lagi biar bisa lolos. 

    Tips Lolos Seleksi Beasiswa MEXT

    • Pertama coba kuasai esai atau study plan kalian. Khususnya yang program study research rencana penelitian kalian itu kunci dari proses seleksinya. Kalau rencana penelitian kalian terasa kurang matang di mata penyeleksi ya udah pasti bakal gagal tuh, jadi pastikan matang ya rencana studi dan rencana penelitiannya.
    • Kedua, persiapkan ilmu bahasanya. Memang ada beberapa program yang mengizinkan pakai bahasa Inggris sih, jadi JLPT itu bukan syarat mutlaknya di awal gitu. Tapi dimata penyeleksi bisa dan ga bisa bahasa Jepang itu cukup sering jadi penentu siapa yang diloloskan. Kalau udah bisa bahasa Jepang sebelum mengajukan beasiswanya, itu akan jadi nilai tambah yang signifikan bagi mereka.
    • Ketiga, persiapan administrasi. Jangan remehkan detailnya ya, karena Jepang itu negara yang sangat memperhatikan hal detail. Kesalahan waktu pengisian formulir dan dokumen, ketidak cocokan dokumen, dll itu bisa membuat kalian gugur di tahap seleksi dokumen.
    • Terakhir, latihan ujian tulis MEXT. Biasanya MEXT punya standar ujian tulis Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, yang test ilmu sesuai jurusan IPA/IPS.

    Sekali lagi, bahasa Jepang memang ga selalu jadi penentu akhirnya, karena beberapa programnya memang menyediakan pelatihan bahasa Jepang dulu sebelum mulai kuliahnya.

    Tapi bayangin kalau udah punya N4 atau N3 dulu sebelum mengajukan beasiswanya? Kalian di mata penyeleksi bakal terlihat lebih serius kan untuk bisa berangkat. Sok yang mau dibantu belajar sampe N4nya kita bisa bantu 15 hari. Kalian ga usah berhenti kerjanya atau sekolahnya, soalnya nanti zoom sessionnya di luar jam kerja kok. Itung-itung persiapan untuk ikut beasiswa MEXT ya. Ngomong-ngomong kerja di Jepang lebih gampang nyarinya kalau udah kuliah di Jepang loh! Yang mau kerja di Jepang pake visa gijinkoku bakal sangat memungkinkan untuk upgrade visa dari visa student. Kalau kalian udah nyiapin rencana karir dan studi kalian dari mana sampai mana? Coba ceritain dong di kolom komentar, aku mau tau rencana kalian.

    Selamat berjuang, calon scholarship hunters!

  • Belajar Bahasa Jepang

    Belajar Bahasa Jepang Sambil Main Game?! KENAPA ENGGA

    Halo guys, ketemu lagi sama aku di J-Class! Kalian yang suka main game pasti pernah kepikiran "Enak ya kalau waktu gaming ini bisa sekalian dipake buat belajar bahasa Jepang?.", atau ada juga nanya "Kak ada rekomendasi game gitu ga ya biar bisa seneng-seneng main game tapi sambil belajar bahasa Jepang juga?" Kebetulan ketika zoom session beberapa minggu lalu aku dapet pertanyaan di atas, jadi aku mau coba bahas bareng di sini biar kalian semua juga dapet bahasannya ya. 

    Beda sama aplikasi belajar yang memang dibuat khusus buat belajar ya, tapi kali ini kita bahas game sungguhan baik itu dari konsol, PC, sampai mobile yang aku pernah aku mainin, dan kayanya bisa nih ini game dipake buat belajar bahasa Jepang. Jadi game-game yang aku sebutin nanti emang dibuat buat hiburan, bukan buat belajar. Tapi justru di situlah kuncinya: kamu paparin diri ke bahasa Jepang yang natural, yang beneran dipakai orang Jepang di kehidupan sehari-hari. 

    INGET YA! Main game dalam bahasa Jepang itu efektif kalau kalian udah punya fondasi yang cukup kuat dulu, minimal udah lancar hiragana, katakana, dan punya kosakata dasar sekitar N5. Coba bayangin kalian main pake bahasa Jepang tapi belum punya basic bahasa Jepangnya. Aku yakin game bakal terasa frustrasi alih-alih menyenangkan kan? Udah kaya jaman dulu kita main tenchu di PS1 tapi pake bahasa Jepang. Frustasi kan? Ga tau apa-apa? Meskipun ujung-ujungnya tetap dilanjut mainnya.

    So, bahasan kali ini mungkin untuk kalian yang udah punya N5 ke atas nih, yang masih belum bisa hiragana katakana dan belum punya basic bahasa Jepang, coba pelajari dulu ya. Yang mau dibantuin belajarnya bisa aku bantuin. Tontonin aja playlist belajar bahasa Jepang di chanel youtube aku, atau kalau mau dibantu lebih serius bisa tulis di komentar aja ya.

    Oke, langsung gas ke pembahasan game yang bisa dipake belajar bahasa Jepang yuk!

    Untuk Pemula (N5 - N4)

    Game-gamenya punya teks yang sederhana, dengan dialog yang cenderung pendek, dan lebih banyak kosakata dasar atau sehari-hari.

    Animal Crossing: New Horizons

    Nintendo Switch | N5 - N4 | Simulasi/Life Sim

    Animal Crossing adalah salah satu game paling direkomendasikan buat pemula bahasa Jepang. Dialognya pendek-pendek, kosakatanya sederhana, dan topiknya seputar kehidupan sehari-hari seperti belanja, cuaca, dan aktivitas rumah. Selain itu, gamenya santai dan ga ada tekanan waktu, sehingga kamu bisa baca dialog pelan-pelan tanpa panik. Cocok banget buat belajar, karena dialog repetitif bikin kamu terbiasa sama pola kalimat yang sama berulang kali, jadi ya bisa dipake untuk bikin kosakata nyangkut di otak.

    Pokémon (Scarlet / Violet / seri lainnya)

    Nintendo Switch | N5 - N4 | RPG

    Pokemon itu salah satu game dengan bahasa Jepang paling ramah pemula. Nama-nama Pokemon asli Jepangnya sering diambil dari kata Jepang asli, jadi sambil main kalian sekalian belajar kosakata baru. Tapi jangan heran ya kalau nama versi internationalnya banyak yang beda banget. Dialog di gamenya ini ga terlalu panjang, dan karena alur ceritanya repetitif (pergi ke gym, kalahkan musuh, lanjut), strukturnya mudah diprediksi. Game ini cocok buat belajar, karena selain kosakata, nama-nama serangan Pokemon banyak yang pakai kanji umum, jadi lumayan buat latihan baca.

    Stardew Valley (versi Jepang)

    PC/Switch/PS/Mobile | N4 - N3 | Simulasi Pertanian

    Mungkin kalian udah kenal Stardew Valley. Nah, coba deh ganti bahasanya ke Jepang! Teksnya cukup ramah untuk level N4 ke atas, karena banyak dialog kasual antar karakter, deskripsi item, dan surat-surat yang bisa jadi bahan baca yang asyik. Bonusnya, gamenya sendiri udah seru banget jadi kamu bakal betah main lama-lama. Cocok dipake belajar karena ragam teks yang variatif, baik dari dialog santai sampai surat formal. So bisa bikin kamu mengeksplor berbagai gaya bahasa.

    Sebelum lanjut ada tips buat kalian yang belajar pake game-game di atas. Jangan langsung panik kalau nemu kanji yang ga kalian kenal. Fokus dulu ke hiragana dan katakana-nya, coba tebak artinya dari konteks, baru deh cek kamusnya. Proses nebak dari konteks ini justru yang bikin otak kalian aktif belajar! Oke? Kalau gitu kita lanjut ke level menengah.

    Level Menengah Ke Atas (N3–N2)

    Kita bisa lanjut ke level berikutnya, dengan game yang punya narasi yang lebih kompleks, dialog lebih panjang, dan kanji yang lebih banyak. So mulai dari sini bisa jadi ga cocok untuk pemula.

    Persona Series

    PC/PS4/PS5/Switch | N3 - N2 | JRPG

    Persona adalah salah satu game JRPG yang sangat terkenal, dan secara conteks bahasa pun lebih ke arah "sekolah bahasa Jepang" versi gaming. Dialognya panjang, natural, dan penuh dengan ekspresi sehari-hari anak muda Jepang. Dari cara ngomong kasual, slang, sampai bahasa formal semua ada di sini. Persona 5 Royal khususnya punya voice acting yang lengkap, jadi kamu bisa latihan listening sekaligus. Cocok untuk kalian yang mulai masuk belajar bahasa penuh ekspresi yang natural banget, soalnya kalian bakal banyak nemu ungkapan yang ga ada di buku teks dari game ini.

    Yakuza / Like a Dragon Series

    PC/PS4/PS5 | N3 - N2 | Action RPG

    Kalau mau belajar bahasa Jepang yang bener-bener dipakai orang Jepang dewasa, Yakuza/Like a Dragon adalah jawabannya. Dialognya panjang dan natural, settingnya di kota-kota Jepang yang riil, dan karakter-karakternya ngomong dengan gaya yang sangat otentik. Banyak banget slang dan ekspresi informal yang kalian ga bakal nemuin di buku pelajaran ataupun di kelas kursus. Bahasa yang dipakai sangat natural dan kontekstual jadi sangat bagus untuk belajar, dari dialog serius sampai percakapan kocak di mini-game karaoke pun ada di game ini.

    Ace Attorney Series (Gyaku Saiban)

    PC/Switch/Mobile | N3 - N1 | Visual Novel/Puzzle

    Ace Attorney atau 逆転裁判 (Gyakuten Saiban) adalah game visual novel berbasis persidangan yang isinya hampir 100% teks. Ini artinya porsi reading-nya luar biasa tinggi. Teksnya sendiri variatif banget, mulai dari bahasa sehari-hari, bahasa hukum, sampai humor verbal. Levelnya memang bukan untuk pemula, tapi bagi kalian yang N3 ke atas, game ini adalah tambang emas buat belajar. Game ini isinya hampir murni teks, dan variatif banget, jadi buat yang mau ningkatin kemampuan baca/readingnya, ini salah satu yang aku rekomendasikan.

    Berbagai Macam Visual Novel Jepang (Steins;Gate, Clannad, dll)

    PC/PS/Switch | N2 - N1 | Visual Novel

    Sebenernya ga hanya Serinya Ace Attorney aja, sebagian besar visual novel bisa jadi surga buat yang mau belajar bahasa Jepang lewat cerita. Ya visual novel mungkin ada yang ngerasa bukan game tapi lebih ke novel dengan visual yang lebih detail sih bisa jadi, meskipun gitu tetap secara kategori Visuan Novel itu tergolong kedalam game karena ada unsur pilihan yang mengubah ending ceritanya. Sebagai contoh lain, kalian bisa coba Steins;Gate terkenal dengan dialog yang cerdas dan banyak referensi budaya Jepang. Clannad punya bahasa yang lebih emosional dan sastrawi. Kalau kalian udah di level N2 ke atas dan mau beneran uji kemampuan membaca, visual novel original (bukan terjemahan) adalah tantangan yang worth untuk dicoba. Sayangnya kita sebagai user visual novel perlu berhati-hati, karena budaya di Jepang memang beda dengan di Indonesia. Sehingga jangan heran kalau nemu visual novel yang kontennya tidak sesuai dan tidak bisa diterima dengan budaya di Indonesia. Kita perlu pintar-pintar memilih visual novel apa yang aman untuk di mainkan ya.

    Mungkin ini belum semuanya ya, tapi itu yang bisa aku rekomendasikan, kalau mau aku sebutin selain yang tadi, aku mau nambahin game gacha karena jaman sekarang game gacha lagi naik-naiknya, aku coba bahas singkat aja. Bahwa game-game gacha baik yang dari china, atau asli Jepang itu bisa dipake buat selingan belajar bahasa Jepang juga. Seperti Genshin Impact, Fate/Grand Order, Wuthering Waves, Granblue Fantasy, dll lah ada banyak banget game gacha yang udah go international dan bisa dimainin. Ya meskipun banyak juga game asli Jepang yang kena region lock, jadi kalian perlu akun google/apple Jepang untuk bisa main. Tapi banyak game-game gacha itu punya versi bahasa Jepang baik voice actingnya dan juga text in gamenya. Kalian bisa manfaatin juga game-game tersebut dengan mengubahnya ke bahasa Jepang. 

    EITSS!! TAPI INGET YA!! Yang namanya game gacha itu biasanya gachanya selalu bikin ga sadar diri, jadi tolong jangan sampe top up berlebihan!!! Sekedar mengingatkan, untuk lebih bijak dalam penggunaan uang kalian, karena ga worth sama sekali kalian top up berlebihan hanya untuk game yang ga akan jadi value apa-apa di kehidupan kalian.

    Sekian referensi game yang bisa aku bahas, soalnya kalau aku bahas semua banget, bisa jadi ga ada habisnya. Jangan lupa pindahin setiap kosakata baru yang kalian denger dari game ke kamus personal kalian. Biar nanti bisa kalian baca-baca ulang kosakatanya, dan kerekam juga jejak belajar kalian. Jangan ragu juga pake kamus baik yang buku atau aplikasi ketika main, inget kamus itu teman baik kita yang lagi belajar bahasa asing loh. Intinya tetep konsisten nambahin kosakata baru, dan juga terus konsisten gunakan bahasa Jepang yang udah dipelajarinya. Bayangin main game aja kalian pake bahasa Jepangnya, lancar bahasa Jepangnya pasti akan lebih cepet dong daripada yang cuman belajar dari buku, bisa sambil seneng-seneng lagi. Kalau kalian udah pernah coba main game dalam bahasa Jepang, cerita dong pengalamannya di kolom komentar! Game apa yang kalian coba, dan seberapa susah? Kita diskusi bareng yuk.

J-Class, pernah diliput di :