Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

  • Belajar Bahasa Jepang

    Penjelasan Subjek dan Partikel WA serta GA dalam Bahasa Jepang

    Kak perbedaan partikel は dan が apa ya kak? Nah pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan, bahkan kita udah bikin content versi singkatnya, kali ini aku mau coba bahas SUBJEK dan partikelnya yang lebih detil. Coba pastikan udah paham dulu apa itu SUBJEK dan juga partikel penandanya biar nanti udah ga kesulitan ketika bikin kalimat. Meskipun kalau ngomongin SUBJEK itu basic banget sebenarnya, tapi kita coba bahas yuk.

    Masih inget kan? Supaya terbentuknya sebuah kalimat, setidaknya kalimat harus terdiri dari SUBJEK dan PREDIKAT. Yuk kita coba bahas satu-satu, awali dari pahami dulu apa itu SUBJEK dan penggunaan partikelnya seperti apa. 

    Apasih SUBJEK kalimat? Banyak yang mengartikan subjek itu adalah orang. Ga salah sih, tapi kurang tepat. Kalau di KBBI, arti dari subjek adalah "pokok pembicaraan" atau "pokok bahasan". Kalau aku cek sumber lain, ada yang bilang subjek itu "bagian dari kalimat yang menjelaskan siapa atau apa yang melakukan tindakan atau mengalami sesuatu". Subjek bisa aja terdiri dari orang, benda, tempat, hal, dll yang lagi kita omongin atau yang dijelaskan oleh predikatnya. Nah mungkin karena kita sering ngomongin orang jadi aja banyak yang nangkepnya subjek itu "orang" mungkin ya. Atau bisa jadi asal muasalnya dari waktu belajar bahasa Inggris subject itu diajarkan sebagai "orang", padahal sebenarnya bukan ya.

    Berbedanya sama bahasa Indonesia dan Inggris, selain ada partikel yang perlu kita tambahkan, dalam bahasa Jepang SUBJEK menunjukkan "topik pembicaraan" atau "orang/hal yang melakukan atau dijelaskan oleh predikat". Pertama-tama partikel penanda SUBJEK umumnya adalah は yang dibaca WA, karena untuk menyampaikan kedua fungsi subjek tadi kita bisa menggunakan partikel は (wa). Jadi yang ada di belakang は (wa) itu udah pasti subjek kalimatnya. Kalau kalian belajar dari Minna no Nihongo, kalian pasti udah belajar partikel atau pola kalimat seperti berikut di BAB 1, coba aku jelasin sambil liat contoh kalimatnya :

    Maiku miraa wa kaishain desu.
    マイク・ミラー (かい)(しゃ)(いん)です。
                S                     P
    Mike Miller adalah seorang pegawai perusahaan.
    Kalimat di atas bisa diliat subjek adalah Mike Miller, makanya di bahasa Jepangnya ditambahin partikel は (wa) di setelahnya.

    Maiku san no kaisha wa konpyuutaa no kaisha desu.
    マイクさんの(かい)(しゃ)は コンピューターの(かい)(しゃ)です。
                 S                                       P
    Perusahaannya Mike adalah perusahaan komputer.
    Sama dengan kalimat ini, subjek adalah Suzuki, jadi di tambahkan partikel は (wa) di setelahnya.

    Ano shiroi fuku wa takai desu ga, totemo kirei desu.
    あの(しろ)(ふく)は (たか)いですが、 とても きれいです。
            S                                             P
    Baju putih itu harganya mahal tapi sangat cantik.
    Kalimat ini pun subjeknya baju putih itu, makanya ditambahkan partikel は (wa) di setelahnya.

    Seperti yang ada di 3 contoh di atas, kita bisa simpulkan :
    1. SUBJEK itu topik pembicaraan atau apa yang sedang dibahas, dimana selalu ada partikel は (wa) disetelahnya
    2. SUBJEK itu ga selalu orang
    3. SUBJEK bisa berupa kata gabungan

    Sampai sini kebayang kan apa itu SUBJEK, dan di bahasa Jepang itu penggunaannya seperti apa?

    Berikutnya kita bahas partikel lain dari SUBJEK. Dimana partikel ini sangat dengan fungsinya dengan partikel は (wa) sebagai penanda SUBJEK, dan kebetulan bagian ini mungkin masih ada yang bingung nih. Yaitu partikel が (ga) sebagai pendanda "siapa" yang ngelakuin atau "apa" yang terjadi. sambil kita lihat contoh berikut :

    Watashi ga nihongo ga dekimasu.
    (わたし)が ()(ほん)()が できます。
     S            O                P
    Saya bisa bahasa Jepang.

    Kore ga watashi tachi no kyou no asagohan desu.
    これが (わたし)たちの 今日(きょう)の (あさ)ごはです。
      S                                    P
    Ini adalah sarapan kita hari ini.

    Di buku mungkin dijelaskan secara tidak langsung, atau mungkin masih kurang penjelasannya, sehingga banyak yang masih suka bingung sama perbedaan dari kedua partikel ini. Penggunaan partikel が (ga) sebenarnya mirip banget は (wa) sebagai penanda SUBJEK. Kalau kita perhatikan lebih dalam, partikel は (wa) digunakan untuk penanda SUBJEK "topik pembicaraan" atau juga "orang/hal yang melakukan atau yang terjadi". Tetapi partikel が (ga) itu hanya punya fungsi yaitu "nentuin pelaku atau hal yang terjadi" saja. 

    Neko wa/ga sakana o tabemasu.
    (ねこ)は (さかな)を ()べます。
    (ねこ)が (さかな)を ()べます。
    Kucing memakan ikan.

    Di kalimat ini kalau kita pake partikel は (wa) maka kita lagi ngomongin "kucing" sehingga kita ngasih tau "kucing itu makan ikan", atau bisa juga ngasih tau "kucing yang makan ikan".

    Sedangkan kalau pake partikel が (ga) kesannya kucing lah yang melakukan predikatnya yaitu makan


    So kita tambahin kesimpulan lagi yuk
    1. は (wa) sebagai penanda SUBJEK baik topik pembicaraan ataupun pelaku predikat / yang dijelaskan predikat, umumnya kita bisa tau lagi ngomongin apa dengan liat apa yang disebelum partikel は (wa).
    2. Sedangkan が (ga) hanya bisa sebagai penanda "siapa" yang ngelakuin atau "apa" yang terjadi.
    3. Kalau ga mau ribet, pisah aja penggunaannya kaya gini :
      は (wa) untuk topik pembicaraan
      が (ga) untuk pelaku yang ngelakuin / ngalamin predikatnya
    Tapi ini menurut aku ya, kalau menurut kalian gimana? Kalian punya cara misahin yang lebih mudah ga ya?

    Pembahasan kali ini basic banget ya, tapi hal basic kaya gini aja masih banyak yang kurang paham loh. Jadi aku tertarik ingin bahas tentang SUBJEK dan penggunaan partikelnya. Sampe sini dulu mungkin sharing-sharingnya kali ini. Menurut kalian gimana guys, apakah ada fungsi atau penjelasan aku yang kurang? Sekalian kasih tau aku juga menurut kalian oke ga penjelasan seperti ini? Dan apakah ada materi lain yang ingin kita bahas bareng disini? Coba tulis di komentar juga ya. Aku ingin denger pendapat dan masukan dari kalian.

  • Kerja di Jepang

    Bahasa Jepang Saja Tidak Cukup untuk Kerja di Perusahaan Jepang

    Aku pernah denger pertanyaan ini nih "Apa punya N3 aku bisa kerja di Jepang kak?", "Kak aku punya JLPT N2 nih kak, aku mau kerja visa gijinkoku nih ke Jepang kira-kira kerja apa ya kak?", atau semacamnya. Aku ngerti sih, pasti banyak yang ingin kerja ke Jepang. Jadi banyak yang ngejar skill bahasa Jepang sampe N3 atau mungkin N2 bahkan N1. Tapi apakah skill bahasa Jepang aja udah cukup untuk cari kerja ke Jepang? 

    Aku selama ini memang selalu membahas "sebaiknya punya N2 kalau mau ke Jepang pake visa gijinkoku" atau "punya N4 dulu baru coba cari lembaga buat bantuin ke Jepangnya", tapi kayanya aku kurang mention juga ya skill yang dibutuhin selain skill bahasa Jepang. Sebenernya basicnya memang di bahasa Jepang guys, jadi kalau bahasa Jepang kalian masih ancur, pintu untuk kerja ke Jepang masih ketutup buat kalian. Jadi yang belum punya skill bahasa Jepang yang memumpuni, terus bertahap dinaikin ya skill bahasanya ya. 

    Nah yang mau ngejar kerja pake visa tokuteigino pasti udah tau ya. Selain skill bahasa Jepang kalian juga butuh sertifikasi skill bidang yang kalian tuju. Aku mau jawab pertanyaan pertanyaan seperti "kak aku bukan lulusan SMK perawat bisa ikut TG Kaigo ga ya?", atau semacamnya. Jawaban dari pertanyaan itu bisa aja, kalau punya skillnya. Jadi yang mau ikut TG kaigo / perawatan ya kalian butuh sertifikasi TG kaigo jadi punya dulu ilmu dan skill basic dari kaigo di Jepangnya, bidang lain pun sama yang mau ikut TG perikanan, ya butuh sertifikat TG perikanan juga. Jadi selain skill bahasa Jepang, kalian harus punya ilmu dan skill basic dari bidangnya. 

    Nah kalau udah lulus test TG perawatan, otomatis kalian akan dianggap punya basic ilmu dan skill perawat meskipun bukan lulusan perawatan, jadi pintu buat berangkat ke Jepang udah terbuka. Tapi "apakah itu sudah cukup?" atau pertanyaannya aku ganti jadi "apakah kalian boleh puas dengan itu?" 

    Kalau tujuannya untuk TG, menurut aku udah cukup, tapi jangan puas dengan skill yang kalian punya sekarang. Jadi waktu kalian di Jepang silahkan perdalami skill yang udah dipelajari, baik bahasa Jepangnya ataupun skill praktek lapangannya. Kalau nanya pendapat aku pribadi, ga ada salahnya kalian punya N3 dulu, baru berangkat, tapi kalau udah mau buru-buru berangkat biar bisa ngubah nasib ya silahkan lah, tapi jangan berhenti belajar ya. FIY untuk upgrade visa ke TG2 aja ada test lagi nanti di Jepang ya, jadi selama proses TG1 kalian harus sambil belajar dan berkembang biar bisa lulus TG2 dan bisa lanjut kerja di Jepangnya.

    Kalau ngomongin TG, itu udah cukup. Tapi kalau kita ngomongin yang lebih tinggi lagi seperti visa gijinkoku ceritanya akan berbeda. Visa Gijinkoku itu singkat kata kaya visa pekerja profesional lah ya, jadi wajar lah kalau syarat untuk pengajuan visanya lebih tinggi. Contohnya, setidaknya kalian harus lulusan diploma, kalau bisa lebih kaya S1 gitu. Jadi lulusan SMA/K belum bisa apply visa gijinkoku. Tapi aku sering denger juga dari temen-temen aku yang gagal waktu interview untuk kerja pake visa gijinkoku. Dimana mereka gagal karena kalah saing dengan yang lainya.

    Kalah saing bukan di skill bahasa Jepangnya. Tapi di softskill atau skill tambahan yang akan membantu di pekerjaannya nanti. Contoh, ada yang lulusan N2 mengapply jadi programer di Jepang, kalah saing sama yang lulusan N3 karena skill programingnya yang lebih menjanjikan dimata perusahaan Jepang. Ada juga yang ngelamar ke bandara kansai, tapi kalah sama yang punya skill bahasa Inggris yang bagus. Bahkan pengalaman dan portofolio pelamar pun akan sangat mempengaruhi diterima atau tidaknya. 

    Apa yang ingin aku sampaikan bukan "kita harus punya pengalaman dan porofolio yang bagus dulu untuk bisa kerja ke Jepang". Aku mau sampaikan ke kalian bahwa bukan hanya skill bahasa Jepang yang dibutuhkan untuk kerja ke Jepang. Kita perlu juga softskill dan ilmu yang dibutuhkan untuk bisa bersaing di negara orang. 

    Kita ambil contoh, untuk programer kalian ga hanya butuh skill bahasa Jepang N3 atau N2, kalian perlu juga bener-bener menguasai setidaknya salah satu bahasa programing, dan sisanya minimal bisa gitu. Jadi waktu interview kalian punya seesuatu yang bisa kalian jual ke perusahaan Jepang. Contoh lain waktu ngelamar ke bandara di Jepang, skill bahasa Inggris jangan sampe bolong ya. Inget kalian bakal berhadapan sama orang-orang luar Jepang yang keluar dan masuk Jepang jadi harus bisa berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa Inggris juga. Contoh lain, di perusahaan otomotif, kalau menguasai skill seperti pengoprasian mesin CNC atau product designing ya sesuai dengan posisi yang kalian tuju itu akan sangat mempermudah proses perekrutan kalian. 

    "Kak aku udah punya skill yang dibutuhkan untuk bisa kerja di posisinya, tapi waktu interview aku tetep kalah sama yang lebih rendah skillnya dari aku" Nah kalau gitu bisa jadi kalian kalah di proses interviewnya. Dikira interview visa gijinkoku itu sama dengan TG ya? Pertanyaan di interview gijinkoku biasanya lebih detil guys, bahkan pertanyaannya bisa lebih rumit dan terkadang mereka membutuhkan jawaban yang menarik supaya bisa ngeliat kalian itu orang yang tepat atau bukan. Selain itu kalian juga perlu punya skill menjual diri kalian waktu interview, kalau di Jepang sebutannya 自己PR (jiko PR) atau mempromosikan diri sendiri. Yakinkanlah perusahaan bahwa kalian itu orang yang tepat buat ngisi posisinya.

    Itu aja kali ya yang ingin aku bahas kali ini. Kesimpulannya, skill bahasa Jepang aja ga cukup untuk kerja ke Jepang. Kita butuh softskill di bidangnya supaya kita bisa bersaing dengan pelamar lain. Point ini jarang banget aku mention jadi khawatir pada berfikir punya bahasa Jepang aja pasti bisa bertahan hidup disana. Ya ga beda jauh sih sama nyari kerja di Indonesia, tapi standarnya lebih tinggi aja. Tapi menurut kalian gimana guys mengenai softskill yang aku bahas tadi? Coba tulis dikolom komentar ya, aku mau denger pendapat kalian.

  • Belajar Bahasa Jepang

    Materi bahasa Jepang DASAR bukan bahasa sehari-hari?

    Untuk kalian yang udah pernah tinggal di Jepang atau minimal sering nontonin media-media Jepang seperti anime, drama, lagu, acara TV Jepang, kalian pernah ga sih mempertanyakan kenapa bahasa Jepang yang aku pelajari beda sama yang ada di buku? Atau mungkin kaget setelah nontonin percakapan sehari-hari di Jepang ternyata beda sama bahasa di textbook kalian? Ga perlu kaget, aku mau coba bahas kenapa materi bahasa Jepang DASAR bukan bahasa yang digunakan di sehari-hari. Kita coba masuk ke pembahasan yuk.

    (わたし)はマイク・ミラーです

    Nah yang belajar bahasa Jepangnya dari Minna no Nihongo pasti kenal banget sama kalimat tadi ya. Kalau kalian belajar dari buku, sebagai contoh aku ambil buku Minna no Nihongo. Di awal-awal kalian pasti belajar dulu kosakata dan pola kalimat yang nuansanya formal, atau kaku. Partikel penanda predikatnya masih pakai ...です, ...ます, ...ました dsb. Di awal-awal kurang dikenalkan gitu bahasa yang umum digunakan di keseharian. Nah sepemahaman aku setidaknya sampe N4, buku textbook memang kurang mengenalkan bahasa dengan nuansa casual, dan dibahasnyapun di akhir-akhir bukan di awal pelajaran. Jadi banyak orang yang ngerasa aneh ketika menonton media Jepang ternyata bahasa yang native gunakan ternyata beda dengan yang dipelajari di buku. Padahal sama, tapi karena penyampaian dari buku-buku itu selalu menekankan bahasa yang formal bukan bahasa yang casual. Sedangkan bahasa yang sering digukanan dalam keseharian adalah bahasa yang casual.

    Memang sebeda apa? Nih contohnya ya

    1. Orang ga ngomong 今日(きょう)(あつ)いですね tapi 今日(きょう)(あつ)いね, nah ga pake です kan?. 

    2. Ada juga bukan ngomong もう()べましたが、まだお(はら)()っています tapi lebih familiar もう()べたけど、まだお(はら)()ってる, nah mulai kerasa banget bedanya kan?

    Itu aja dah aku contohinnya. Secara garis besar bahasa formal dan casual ga beda jauh, tapi ada perbedaan yang membuat nuansanya memang kerasa beda. Terlepas nuansanya, meskipun orang Jepang cenderung sopan, dan agak kaku sama aturan. Mereka tetap menggunakan bahasa casual di keseharian layaknya warga negara lainnya. Orang yang belajar bahasa Jepang dari buku aja, setelah tinggal di Jepang, sebulan atau dua bulan berikutnya langsung lebih terbiasa menggunakan bahasa casual, karena kesehariannya pake bahasa casual bersama warga sekitarnya. Pengalaman pribadiku pun sama, aku datang ke Jepang memang awal-awalnya suka pake bahasa formal ke orang lain, tapi lama kelamaan malah jadi lebih nyaman pake bahasa casual, terutama ke orang yang udah kenal. Kerasa banget dah lebih nyantei juga ngomongnya.

    Kalau bahasa formal tidak dipakai di keseharian, terus buat apa dipelajari?

    Nah ini pertanyaan yang pernah aku temukan di Youtube. Bahkan ada konten kreator yang menyebarkan ajaran ga perlu belajar bahasa formal atau bahasa textbook karena ga dipakai di keseharian di Jepang. So aku sebutin kesimpulan jawaban aku dulu ya : KALIAN SALAH BESAR. Sehari-hari kita memang ngobrol pake bahasa casual, karena ya kita ngobrolnya sama orang yang udah kita kenal, udah akrab juga, sehingga lebih nyaman ngobrol dengan nuansa nyantai kan. Memang sih orang Jepang pun ngobrol sama orang yang dia ga kenal ada kalanya pakai bahasa caual kok. Nah kasus seperti itu biasanya ngobrolnya ketika nuansa yang nyantai. Kaya waktu nanya jalan kan ga usah kaku kaku gitu, ya ga beda jauh lah orang Indonesia juga gitu kan. 

    Nah pertanyaannya lawan bicaranya suka ga tuh di ajak ngobrol pake bahasa kasual sama orang yang ga dikenal atau yang posisinya mungkin dibawah mereka? Kalau lawannya ga suka, hal yang tidak diinginkan bisa jadi terjadi tuh. Jadi bahasa formal itu bahasa yang paling aman untu dipake ke semua orang, kecuali dipake ke orang yang udah akrab banget. Karena kesannya malah jadi kurang menghargai pertemanan. Kan udah akrab kok masih kaku aja ngobrolnya? Hehe.

    Selain itu pernah ga kalian berada di posisi dimana kalian memang perlu ngomong pake bahasa formal, seperti kalian jadi waiter/waitress di restoran, atau kalian kerja di hotel dimana kalian perlu ngomong sopan sama pelanggan. Dalam kasus seperti itu kalau kalian ngomong ke pelanggan pakai bahasa casual, sama aja kalian mengikat tali ke leher sendiri. Jangankan bahasa casual, bahasa formal pun sebenarnya kurang bagus kalau ke pelanggan. Alangkah baiknya kalian pakai bahasa sopan atau (けい)() (kegio) ke pelanggan. 

    Jadi udah tau kan alasan kenapa bahasa formal duluan yang dipelajari di buku pelajaran bahasa Jepang? Supaya kalian terbiasa menggunakan bahasa yang paling aman dulu biar ga nyusahin diri sendiri waktu di Jepang. Eh tunggu, tadi ke mention bahasa sopan beda sama bahasa formal?

    Beda ya, dalam bahasa daerah di Indonesia pun banyak juga yang ada nuansa sopan ya, contoh bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Nah (けい)() (kegio) atau bahasa sopan dalam bahasa Jepang pun dibagi menjadi 2 yaitu (そん)(けい)() (sonkeigo) yang meninggikan lawan dan (けん)(じょう)() (kenjougo) yang merendahkan diri. Kali ini aku ga akan bahas detil bahasa sopan dalam bahasa Jepang, tapi kita coba fokus ke digunakan untuk apa bahasa sopan itu? Di Jepang bahasa sopan sering digunakan dalam konteks yang lebih tinggi seperti profesional atau bisnis. Makanya di dunia kerja yang berada di posisi menghubungkan perusahaan dengan pelanggan (B2C) atau bahkan menghubungkan dua perusahaan (B2B) diharuskan menggunakan bahasa yang sopan karena kalian mewakili perusahaan kalian. Kalau kalian pake bahasa casual, itu akan memberikan kesan perusahaan kalian tidak menghargai atau menganggap rendah pelanggan atau perusahaan client. 

    Terus seperlu itu kah mempelajari ketiganya ?

    Kalau udah tau fungsi masing-masing nuansanya, sekarang kita masuk ke seperlu apa kita pelajari semuanya. Seberapa perlunya aku tanya ke kalian langsung. Kalian mau terus naik level ga? Mau terus naik jabatan ga? dan mau terus naik kualitas hidup kalian di Jepang? Aku bilang kalian perlu bisa menguasai ketiganya, bisa memisahkan kapan pake bahasa casual, formal sampe ke bahasa sopan. Karena ga mungkin perusahaan menenpatkan orang yang ga bisa menguasai ketiganya di posisi yang crusial seperti penghubung ke perusahaan atau client. So kesimpulannya apa kalian masih ngerasa ga perlu menguasai ketiganya karena sehari-hari cuman pakai bahasa kasual? Kalau kalian bener-bener berfikir seperti itu silahkan tulis dikomentar pendapat kalian, aku ingin tau pendapat kalian. 

  • Others

    Masalah Jepang yang besar tapi dianggap kecil oleh sebagian orang

    Kali ini mau ngomongin Jepang lagi nih. Dengan teknologi, etos kerja, bahkan inovasi-inovasi mereka, Jepang berhasil berkembang menjadi negara maju, dan menjaga ekonomi negara mereka. Negara yang memiliki teknologi yang cangih ini pun, tetap menjaga budaya dan tradisi mereka. Keindahan pemandangan alam dan perkotaannya, tarian kabuki, hingga permainan-permainan tradisional pun diwarisi dengan baik oleh warga Jepang. Kalau denger sampe sini aja, pasti orang akan ngerasa Jepang pasti negara yang sangat menarik, sehingga semua orang ingin tinggal di negara tersebut. Tapi ternyata Jepang memiliki berbagai masalah yang terjadi sudah cukup lama tapi tidak terlalu terekspose, atau bisa aku bilang masih banyak orang yang melihat masalah ini sebagai masalah kecil. 


    Pertama, yang udah sering aku bahas yaitu penurunan angka kelahiran, tapi populasi semakin tua. Sekarang penduduk Jepang udah banyak yang aware terhadap masalah ini, tapi ternyata sebagian besar dari mereka masih tidak begitu peduli. Aku sampai buat conten juga kan tentang prediksi tahun 2040 orang jepang akan punah. Waktu itu aku pernah bahas juga, bahwa masalah ini udah terjadi semenjak awal tahun 2000an, tapi penduduk Jepang memang tidak aware sama ini dan menganggap ini hanyalah masalah kecil yang seseorang pasti akan mengatasinya. Alhasil sampai taun 2024, angka kelahiran di Jepang tidak kunjung menaik malah yang ada menurun terus. Disaat angka kelahiran menurun, angka jumlah lansia terus meningkat. Hingga saat ini berada di tahap pemerintah Jepang membuka lebar pintu masuk warga asing yang ingin bekerja di Jepang. Ya ini jadi kesempatan yang bagus sih bagi kita-kita yang ingin kerja di Jepang.

    Tapi masalah populasi ini udah terlihat dari dulu tapi tidak kunjung dapat solusi yang membuat penduduk ingin punya anak. Nah kalau kita coba gali lebih dalam, sebenernya masalahnya tidak hanya disitu. Di konten sebelumnya aku sempat share juga hasil penelitian di akhir taun 2024. Singkat kata, penduduk tidak ingin menikah dan merasa lebih cocok hidup sendiri, ingin fokus berkarir, ingin prioritasin diri sendiri, dll. Pemikiran seperti ini lah yang menyembabkan masalah populasi di Jepang menurun terus. Sebagian memang tidak memiliki anak karena khawatir terhadap masa depan anaknya, karena mereka tidak percaya diri bisa mendidik anak, atau khawatir dengan kondisi ekonomi mereka sendiri. Ini masih jadi PR pemerintah Jepang untuk mengatasi bagaimana cara supaya warga tidak khawatir untuk punya anak. Hingga saat ini masalah ini masih belum mendapat solusi yang baik bagi pemerintah dan juga masyarakat Jepang.


    Kedua adalah Hikiromori. Jangankan penduduk Jepang, aku yakin kita warga asing pasti mikirnya Hikikomori adalah sebuah masalah yang kecil, masalah sepele gitu kan? Singkat kata, Hikikomori itu adalah kegiatan mengisolasi diri dari kehidupan sosial. Jadi dia mengurung diri di kamar sambil nonton, main game, di ajak ngobrol malah diem, ya beneran mengisolasi diri lah dari orang lain. Terlihan sepele kalau cuman aku jelasin seperti itu. Tapi tau ga berapa banyak warga Jepang yang Hikikomori? Saat ini tidak ada angka yang jelas, namun laporan terbaru dari pemerintah Jepang itu ada sekitar 1,5 juta penduduk yang Hikikomori, dan sebagian besarnya itu di umur produktif. Jumlah ini yang berdasarkan laporan aja, sehingga bisa jadi belum semua terhitung. Belum lagi jumlah ini terus meningkat setiap tahunnya.

    1,5 juta penduduk loh yang memilih untuk diem di kamar mereka. Bayangin kalau 1,5 juta penduduk tadi itu dia bekerja, dan produktif. Punahnya penduduk Jepang bukan di 2040 tapi bakal mundur kayanya. Bandara Haneda ga akan bikin statement kekurangan tenaga kerja, Jepang ga perlu ngebuka pintu lebar-lebar untuk tenaga kerja asing, ekonomi Jepang bisa lebih stabil malah bisa lebih baik. Absennya 1,5 juta penduduk ini efeknya selain kekurangan tenaga kerja, tapi bisa sampai memperlambat ekonomi Jepang. 

    Selain itu ga dikit juga loh, orang yang hikikomori itu udah masuk umur 40 ke atas, dan mereka masih hidup dibiayai orang tuanya yang udah berumur 60 ke atas. Ya, dia ngurung diri di kamar ga kerja ya, jadi mereka ga bisa ngasilin uang, jadi ujung-ujungnya masih mengandalkan dompet orang tuanya. Kalau udah gini yang pusing siapa coba? Ya orang tuanya ya. Meskipun yang paling dihawatirkan adalah kalau orang tuanya udah ga ada, terus itu yang hikikomori gimana nasibnya?


    Hikikomori tidak akan mucul begitu aja. Ada faktor eksternal yang membuat mereka memilih untuk mengasingkan diri. Sebagian besar itu karena tekanan berlebih. Beberapa contoh yang bisa aku angkat seperti pembulian di sekolah, tekanan pendidikan yang tinggi, atau tingkat stress tinggi di pekerjaan. Tekanan pendidikan disana ga main-main ya, contoh orang pada mikir seperti "ingin sukses harus masuk universitas unggul", nah biaya masuk universitas unggul itu mahalnya amit-amit, belum lagi universtias unggul bakal ngasih tekanan akademis yang lebih besar juga ke mahasiswa/i nya. Nah ga dikit orang yang ga kuat dengan tekanan itu sehingga memilih untuk hikikomori, sehingga angka hikikomori terus meningkat. Belum lagi kalau selama sekolah mereka dibuli, sama temen-temennya, nah double tuh tekanannya. Kemudian setelah lulus, mereka dapet kerjaan dengan tekanan yang tinggi. Ga cape tuh jadi orang Jepang?

    Seperti yang di awal aku sebutkan, Jepang itu negara maju dengan teknologi, etos kerja, dan inovasi yang bagus. Tapi ternyata Jepang saat ini mengalami kemunduran yang cepat atau lambat kalau ga ditangani bakal menghancurkan negara Jepang itu sendiri. Aku baru sebutin 2 di antaranya, tapi aku rasa masih ada masalah lain yang bisa merusak masa depan Jepang. Nah menurut kalian gimana ya? Kalau penduduk Jepang aware sama masalah tadi apakah bisa mengatasi masalah ini? Dan apakah kalian punya bayangan solusi yang bisa menyelamatkan Jepang dari kepunahan dan keterpurukan ini? Coba tuliskan pendapat kalian ya, aku mau denger pendapat kalian.

  • Kerja di Jepang

    Alasan kenapa liburan ke Jepang jauh lebih baik dari pada Kerja di Jepang

    Kerja di Jepang itu gini, kerja di Jepang itu gitu. Kok bosen ya, sekali-sekali kita coba refresing dulu dengan ngeliat hal baik yang ada di Jepang. Di Jepang itu banyak banget hal baik, dan aku yakin kalian pun pasti udah pernah denger beberapa hal baiknya ya. Ada yang bilang kulinernya mantap, pemandangannya indah, budaya keseharian orang lokalnya yang ramah dan bersih, dll. Ada banyak dah, dari pada kita liat terus yang sulit-sulitnya, atau yang berat-beratnya dari negara Jepang ini, yuk aku mau coba bahas alasan kenapa liburan itu lebih baik dari pada kerja ke Jepang. Apa yang aku mau bahas kali ini semoga aja secara tidak langsung bisa naikin montivasi kalian buat menginjakan kaki disana ya, baik mau sekedar libur, ataupun kerja. 


    Hal baik dari liburan ke Jepang yang pertama, meskipun ga dikasih tau sama aku juga kalian pasti udah pernah liat-liat kan pemandangan sakura di Taman Hirosaki, ataupun di kota-kota, dan taman-taman di Jepang. Pemandangan danau di Lima Danau Fuji, pemandangan musim gugur di Kiyomizudera, pemandangan unik di Hutan bambu Arashiyama, Deretan Tori di Kuil Fushimi Inari, Tori unik di danau Biwa, Air Terjun Nachi, dll. ada juga wisata bermain menarik seperti Universal Studio Japan, Tokyo Disneyland, berbagai macam aquarium besar, bahkan kalian jalan-jalan di perkotaan aja udah kaya lagi di dunia lain. Cobain jalan-jalan di Shibuya, atau Akihabara mungkin.



    Di Jepang itu ada banyak banget wisata yang bener-bener bisa jadi tempat healing kalian. Selama di sana sambil rasain kuliner mereka yang unik. Aku ga salah kan pake kata "unik"? Karena aku bisa jamin, kalian belum tentu suka, terutama buat orang Indonesia yang sehari-harinya makan makanan yang rasanya kuat. Tapi kuliner mereka ngasih rasa yang unik. So, bisa ilang lah penat kehidupan kalau healing ke Jepang. Sampai-sampai banyak yang udah pernah healing ke Jepang, mereka kebelet balik lagi buat lanjutin liburan part berikutnya hanya untuk muterin wisata-wisata di Jepang. 

    Populasi turis di Jepang meningkat drastis di beberapa tahun terakhir. Pernah liat berita orang Jepang pada ngeluh sama jumlah turis? Tapi eits, yang paling dikeluhkan sama penduduk lokal itu bukan hanya jumlahnya tapi kelakuan para turisnya, jadi nitip berperilaku sopan dan hargai budaya dan kebiasaan lokalnya ya. Jadi kalau main ke Jepang jaga kelakuan ya.

    Kalau kalian ke Jepang saat kurs YEN lagi turun, kalian bisa dapet harga yang lebih murah buat jalan-jalan loh. Tapi ini juga yang jadi salah satu alasan kenapa liburan ke Jepang malah jadi lebih menarik daripada kerja ke Jepang. Mulai dari sini, pembicaraanya mulai bergeser guys. Tadi kita udah dapet point bahwa liburan ke Jepang itu wah banget ya, nah kalau kerja beda tuh. Udah cape-cape kerja di Jepang dimarahin sama atasan, ternyata kurs YEN turun jadi waktu pulang cuman bawa uang sedikit. Belum lagi kalau selama kerja di Jepang kalian ga upgrade skill kalian, jadi stuck di level tertentu, ya udah deh pulang cuman bawa uang yang valuenya sedang turun. Ya Jepang memang lagi ngalamin beberapa masalah ekonomi, tapi kita ikut berdoa aja ya semoga aja kurs YEN bisa naik lagi. 


    Belum lagi kalau kerja ke Jepang kalian akan ngerasain budaya kerja yang memang gila banget. Pernah denger istilah karoshi (過労死)? Iya karoshi itu mati karena kebanyakan kerja. Ditambah dengan tekanan kerjaan yang gila juga, sampai angka bunuh diri di Jepang itu terbilang sangat tinggi untuk ukuran negara maju. Pemerintah disana udah berusaha untuk ngurangin angkanya, tapi ternyata tidak seefektif itu. 

    Kalau kalian mau kerja ke Jepang, sekarang coba tanya ke diri sendiri, setelah tau kerja di Jepang itu berat, apakah kalian siap kerja di Jepang? Kalian yang mungkin berleha-leha selama ini, terus berharap bisa hidup enak dengan bekerja di Jepang? Kalau mau enaknya sih aku saranin buat liburan aja ke Jepang mah. Kalian yang dibentak dikit sama atasan langsung mikir untuk resign, kalian yang dateng ke kantor yang penting keliatan kerja, kalian punya sifat nunda-nunda kerjaan atau belajar kalian. Kalian ga akan kuat deh, mending liburan aja ke Jepangnya, biar dapet enaknya aja.

    Artikel ini diawali dengan hal baik yang memberikan harapan kalau Jepang itu negara yang bagus, tapi tolong liat juga sisi negatifnya. Dan menurut aku sisi negatif yang paling aku rasain banget itu adalah sisi negatif di bagian bekerja di Jepang. Kalau aku simpulin, Jepang itu negara yang indah banget. Untuk healing sih Jepang itu negara yang bagus banget, tapi kalau mau bekerja aku saranin pikir-pikir dulu. Aku ga bilang kerja di Jepang itu ga layak ya, tapi kalian harus tau dulu kondisi budaya kerja di sana, sehingga kalian berangkat ke Jepang kalian ga akan kaget dan udah dalam kondisi mental yang kuat. Jangan sampai udah sampai di Jepang malah nangis ingin pulang ke Indonesia, padahal kontrak kerja baru aja di tanda tanganin. 

    Terus layak kah kerja di Jepang? kurs YEN memang menurun, tapi dengan tinggal di negara yang punya lingkungan yang sebagus Jepang sih aku masih ngerasa layak-layak aja ya. Seberat-beratnya kerja di Jepang selama kita bisa berusaha berdamai dengan kondisi kerjaan dan menyamankan diri selama tinggal di Jepang, kita pasti bisa enjoy selama tinggal disana. Liburan ke Jepang ga begitu mahal kalau dibanding ke negara indah lainnya seperti negara-negara di Eropa, tapi secara kualitas bisa bersaing dengan nuansa unik yang hanya bisa didapat di Jepang. Tapi kalau kerja kalian bisa stress, pusing, cape sama kerjaan yang budayanya gila, malah kalau ga hoki kalian bisa dapet tempat kerja yang toxic, banyak lembur tapi ga dibayar, dll. Kalau kalian ga bisa berdamai dengan budaya kerja di Jepang, aku yakin kalian ga akan betah bekerja di Jepang.

    Tapi menurut kalian gimana ya? Lebih baik ke Jepang untuk liburan dan healing-healing aja? Atau tetap memilih untuk kerja di Jepang? Coba tulis di kolom komentar ya, aku mau denger pendapat kalian. 

  • Belajar Bahasa Jepang

    Bagus ga ya belajar bahasa Jepang dari anime, lagu, atau drama ?

    Belajar bahasa Jepang lewat media2 seperti anime, lagu, dan drama Jepang itu bagus ga sih ?

    Nah  pertanyaan2 seperti di atas pasti udah sering denger
     Apalagi akhir2 ini aku sering ditanyain begitu sama mereka yang baru mulai belajar bahasa Jepang.

    Di Indonesia banyak yang suka nonton anime, dan drama Jepang, atau dengerin lagu2 Jepang, dan ga dikit dari mereka yang berujung tertarik belajar bahasa Jepang. Jadi kali ini aku mau coba bahas soal media2 tersebut bisa dijadiin media belajar ga yaa ? , kalau memang dijadikan itu ada plus minusnya ga ya ? Yuk langsung ke pembahasannya.

    Bahasa Jepang dalam ANIME, LAGU, dan DRAMA Jepang 

    Kalau kalian belajar dari 3 media ini apa aja sih yang bisa kalian dapatkan, dan apa aja sih yang perlu kalian perhatikan, yuk kita bahas.

    Point pertama yaitu bisa belajar listening. Banyak pelajar bahasa Jepang merasa kesulitan dalam melatih listening mereka. Nah 3 media ini dapat membantu kalian melatih listening bahasa Jepang. Karena tokoh2 dalam drama maupun anime mereka punya perbedaan kebiasaan berbicara masing2. Ada yang bicaranya cepet, ada yang pelan, terus perbedaan penggunaan intonasi2 juga. Ga beda jauh sama orang Jepang pada umumnya. 


    So, untuk melatih pendengaran, membiasakan diri mendengarkan bahasa Jepang, 3 media ini bisa kalian manfaatkan yaa, selain itu untuk kalian yang memang menyukai 3 media ini, kalian bisa belajar sambil menikmati konten yang kalian sukai.

    Point kedua, banyak yang bisa kalian ambil dari media2 tersebut. Salah satunya adalah bahasa Jepang kasual, atau yang biasanya digunakan dalam keseharian. Iya, banyak slang, dialek, ekspresi, hingga budaya keseharian mereka. Jadi dalam media2 ini kalian bakal dapat banyak mengenai bahasa non formal hingga budaya2 yang bisa jadi kalian ga dapat dari buku2 pelajaran.

    Iya, jadi orang belajar dari buku aja, bisa jadi akan kaget ketika datang ke Jepang.  
    "Lho kok mereka ngomongnya beda sama yang ada di buku?!?!"
    Buku2 pelajaran itu menjelaskan bahasa Jepang yang formal atau baku. Gimana aja di Indonesia, di Jepang pun ketika bicara sama orang2 yang udah deket seperti temen, keluarga, dll, itu kan ga ngobrol pake bahasa baku kan. Jadi dari media2 ini kalian bisa dapet bahasa2 yang sering digunakan dalam konteks keseharian.   



    Penting ternyata yah belajar dari media2 tersebut. TAPI Eitts!?!?!?, sebelum menyimpulkan seperti itu kita bahas point ke tiga dulu yuk. Bahasa2 yg digunakan itu ga selalu bahasa yang bagus yah, malah terkadang kesannya kasar. Jadi kalian perlu bisa milih mana bahasa2 yang bisa kalian adaptasi dalam keseharian kalian. Selain itu hasil terjemahan subtitle itu biasanya disesuaikan dengan budaya bahasa hasil terjemahannya. So sering banget kosakata atau pola kalimat diterjemahkan sedikit berbeda dengan maksud sebenarnya dalam budaya Jepang.

    So, kalian perlu juga tau konteks penggunaan kata/pola kalimat yang digunakan pada media2 tersebut. Nah di sinilah peran buku2 pelajaran, dan juga keberadaan mentor diperlukan. Karena apa yang kalian dengar dari media2 tersebut biasanya ga akan ada penjelasan kapan sebaiknya kalian menggunakannya. Kalau kalian pinter2 sih bisa aja kalian belajar otodidak dan mencari sendiri cara pake kata/pola kalimat tersebut. 

    Nah sekarang kita lanjut ke point ke empat, yaitu media2 tersebut khususnya anime dan lagu, mereka terkadang, atau mungkin sering kali menggunakan pola kalimat yang tidak sesuai dengan seharusnya. Di anime sering kali bahasa yang digukanan itu menyesuaikan dengan tokoh/karakternya sehingga muncul kebiasaan2 yang ga bagus untuk ditiru. Sehingga kalau kita tiru 100% malah membuat bahasa Jepang kita terkesan tidak natural.

    Beda lagi kalau di lagu2 Jepang, guna meningkatkan estetika lagu terkadang atau bisa jadi sering mereka menghiraukan pola kalimat yang benar. Kalau dari sisi drama, seharusnya kasus2 seperti ini lebih jarang terjadi, tapi tetap ada loh guna menyesuaikan dengan cerita. So, tetap hati2 ya dalam mengadaptasi bahasa Jepang dari media2 tersebut.



    Kesimpulannya, jika kalian milih untuk belajar bahasa Jepang lewat anime, lagu, atau drama, disarankan untuk tetap mengkombinasikannya dengan sumber belajar resmi seperti buku teks, atau dibimbing juga oleh mentor. Ini akan membantu kamu belajar bahasa Jepang secara lebih akurat. Karena kalau kalian belajar dari 3 media itu saja, setidaknya bahasa Jepang kalian pasti bakal aneh dan gak akan natural.

    So gimana kalau kalian ?
     Yang sekarang lagi belajar bahasa Jepang aku saranin gunakan media2 ini sebagai materi tambahan aja kali yaa. Jadi buku2 yang udah kalian beli, gunakan juga sebagai materi utamanya biar bahasa Jepang kalian masih tetap akurat.

    Semoga diberi kelancaran dan, (がん)()ってくださいね

  • Others

    Fakta Unik Ramadan di Jepang

    Bulan Ramadhan di Jepang punya tantangan dan keunikan sendiri buat Muslim yang tinggal di sana. Karena emang bukan negara mayoritas Muslim, suasana Ramadhan di sana nggak semeriah di negara-negara Islam lain. Tapi justru itu yang bikin pengalaman Ramadhan di Jepang jadi spesial dan berkesan. 


    Pemahaman Orang Jepang tentang Puasa

     Orang Jepang sebenarnya nggak asing sama konsep puasa. Mereka punya istilah danjiki, yang biasanya dipakai buat latihan spiritual para biksu Buddha dengan cara nggak makan dan minum.

    Nah, pas mereka tahu kalau Muslim juga puasa selama Ramadhan, banyak yang penasaran. Nggak jarang ada yang nanya, "Emang kuat kerja sambil puasa?" atau "Boleh nggak sih kalau kita makan di depan orang yang lagi puasa?"

    Tapi setelah dijelasin kalau puasa itu bukan cuma soal nahan lapar dan haus, tapi juga melatih kesabaran dan kedekatan sama Tuhan, mereka biasanya langsung paham dan malah jadi lebih menghargai. Ada juga yang jadi ikutan coba puasa buat ngerasain gimana rasanya.

    Durasi Puasa di Jepang

     Ramadhan tahun ini di Jepang datang pas transisi dari musim dingin ke musim semi, jadi durasi puasanya sekitar 13–14 jam per hari. Awal-awal Ramadhan masih agak pendek, sekitar 13 jam, tapi makin mendekati akhir bulan, siang makin panjang, jadi puasanya bisa sampai 14 jam. Di awal Ramadhan, udara masih dingin menusuk, tapi makin lama, hawa musim semi mulai kerasa, bunga sakura mulai bermekaran, dan suhu jadi lebih hangat. Jadi, selain menahan lapar dan haus, puasa kali ini juga bakalan jadi perjalanan menyesuaikan diri dengan perubahan musim.

    Ketersediaan Makanan Halal

     Soal makanan, pilihan halal di Jepang emang nggak sebanyak di Indonesia. Makanya, banyak Muslim di sana yang lebih pilih masak sendiri. Tapi kalau tinggal di kota besar kayak Tokyo atau Osaka, masih ada beberapa restoran dan toko yang jual bahan makanan halal. Selain itu, komunitas Muslim dan masjid juga sering ngadain buka puasa bareng, yang jadi ajang seru buat ketemu orang baru dan ngerasain kebersamaan. Buat yang jauh dari keluarga, buka puasa rame-rame ini jadi momen spesial biar tetap terasa hangat, meskipun jauh dari kampung halaman.

    Kegiatan Ramadhan Komunitas Muslim Jepang

     Kadang, komunitas Muslim di Jepang juga ngadain bazar Ramadhan, yang jualan makanan khas dari berbagai negara. Seru banget, soalnya bisa cobain macam-macam hidangan dari budaya Muslim lain, sambil sekalian kumpul dan ngobrol bareng komunitas Muslim di sana.

    Salat Tarawih tetap berjalan walaupun masjid di Jepang nggak banyak. Biasanya, Muslim di sana kumpul di masjid atau mushola kecil buat salat bareng. Di Tokyo, Masjid Tokyo Camii jadi tempat favorit buat yang mau buka puasa bareng, Tarawih, sampai ikut kajian. Walaupun kadang harus jalan jauh buat ke masjid, banyak yang tetap semangat karena bisa ngerasain kebersamaan dan makin dekat sama sesama Muslim.

    Ramadhan di Jepang emang nggak serame di Indonesia yang penuh suara azan dan penjual takjil di mana-mana, tapi tetap ada kehangatannya sendiri. Justru karena serba terbatas, komunitas Muslim di sana jadi makin kompak dan lebih ngerasain makna Ramadhan yang sebenarnya. Malah, buat sebagian orang, pengalaman ini bikin mereka lebih sadar dan lebih menghargai momen-momen kecil yang dulu mungkin dianggap biasa aja.

  • Kerja di Jepang

    Bisa gak kita Kerja sama orang Jepang dari Indonesia?

    Jalan buat kerja ke Jepang ada banyak. Mungkin aku sempet bahas macam-macam caranya juga ya di artikel sebelumya. Nah kali ini ada yang sempet nanyain tentang apakah bisa kerja sama orang Jepang dari Indonesia? Ya semacam remote ya jadi kerja di perusahaan atau untuk orang Jepang tapi kitanya di Indonesia gitu. Nah ni masih jarang ada yang tau, atau lebih tepatnya ga banyak yang nyobain ya jadi kurang diketahui. So aku mau coba bahas dikit soal ini.

    Kerja di Jepang itu cape banget ya, mungkin udah banyak yang denger juga tentang budaya kerja di Jepang seperti apa. Bahkan ada yang sampe baru kerja bentar terus nangis ingin pulang ke Indonesia. Sekeras itu guys budaya kerja di sana. Jadi kalau mental ga kuat-kuat amet ya siap-siap kena mental health waktu di sananya. Gaji besar tapi biaya hidup tinggi, disuruh lembur tapi belum tentu dibayar, tapi yang paling penting tekanan kerja yang sangat keterlaluan sampai orang Jepang aja banyak yang stress hingga berujung bunuh diri. Jadi kalau kalian kerja di Indonesia aja dikit-dikit minta healing, gimana kerja di Jepang?

    Tapi gimana ya ada ga sih cara supaya ga perlu ngerasain itu tapi kita kerja sama orang Jepang dari Indonesia gitu. Sebenernya ada, secara jumlah aku ga begitu tau sih, tapi ada loh, dan sebenernya menurut aku layak banget buat dicoba. Soalnya gini loh, kita kerja dari Indonesia tapi digaji kerja di Jepang. Dengan kata lain gaji kita dapet gaji Jepang tapi biaya hidup di Indonesia. Nah masalahnya ga segampang itu ya. Kebanyakan kerjaan yang seperti ini tuh kerjaan high skill atau yang butuh kemampuan tinggi. Makanya punya skill bahasa Jepang aja ga cukup, kalian harus punya hardskill dan portofolio yang dibutuhkan sama perusahaan penerima. Contohnya ingin jadi programer remote dari Indonesia, ya kalian harus bisa nunjukkin dulu kalian punya bahasa Jepang yang tinggi minimal untuk bisa bekerja profesional, serta skill dengan porftofolio yang meyakinkan buat perusahaan penerima.

    Sama dengan yang aku jelasin di artikel sebelumnya, kita bisa kerja ke Jepang atau kerja remote lewat jalur headhunter. Kalau lewat jalur ini skill bahasa yang aku saranin sih coba kejar level bisnis atau N2 ke atas ya. Biasanya sih N3 juga bisa, tapi kalau punya N2 atau N1 bisa lebih kuat posisi kalian. Jadi syaratnya memang serupa dengan kalian ingin kerja denga visa gijinkoku di Jepang gitu, karena yang dicari biasanya pekerja high skill.

    Kalau kalian nyarinya kerjaan yang ga perlu high skill dan portofolio yang bagus, ya lebih sulit sih nyari yang remote, untuk kalian yang gitu aku saranin carinya yang visa tokutei gino aja dengan catatan kalian kerjanya di Jepang langsung. Jadi silahkan pilih jalur karir kalian ya.

    Ya untuk sekedar cari pekerjaan tambahan sih kerja remote dari Indonesia menurut aku oke banget. Kenapa ? Karena kebanyakan pekerjaan remote itu hitungannya freelance gitu guys, jadi bukan berarti kalian jadi pegawai tetap gitu. Kalian dibayar setelah 1 projek selesai, dan udah aja. Kalau performa kalian bagus, mungkin aja perusahaan tadi akan pake jasa kalian lagi. Tapi kalau jelek ya sayonara ya, dan seperti itulah dinamika pekerja freelance.

    Kalau tertarik kalian bisa cari pekerjaan remote lewat website-website headhunter Jepang. Biasanya ada banyak jenis pekerjaan, dari yang remote sampe yang kerja langsung di Jepang. Orang-orang banyak yang bilang kerja ke Jepang bisa cari mandiri, nah ini salah satu cara buat cari kerja mandiri yaitu lewat website headhunter. Tapi inget ya, resiko ambil sendiri. Karena biasanya ga ada yang bantuin kalau kalian cari mandiri, jadi bagus jeleknya kalian harus terima.

    Maksudnya gimana? Ya bayangin aja gini, kalau remote ternyata perusahaannya lemot, apa apa lama, atau ga ngerti apa-apa, jadi kalian kerjanya repot. Mending sih kalau gitu, tapi kalau ternyata di PHPin sama perusahaan atau sama websitenya hhe kecewa kan. Yang kerja langsung ke Jepang juga resikonya besar ya, soalnya bisa aja ternyata perusahaan tempat kerja kalian ternyata black company gitu, wah kerja kaya orang gila nanti kalian. Udah tanda tangan kontrak lagi jadi mau ga mau selesain dulu kontraknya wah gawat kan.

    Kalau ga mau lewat website headhunter, alternatifnya ya dapet dari kenalan atau relasi kalian. Ya cara ini bisa jadi lebih sulit, karena kalian harus ke Jepang dan menjalin relasi dulu dengan mereka, tapi setidaknya karena dikenalkan oleh relasi kalian jadinya lebih ngerasa aman kali ya, selama relasi kaliannya ga macem-macem.

    Nah itu aja paling yang ingin aku share mengenai kerja ke perusahaan Jepang remote dari Indonesia. Ya setelah baca pendapat aku mungkin ada yang dapet sedikit gambaran tentang kerja remote ke perusahaan Jepang ya. Tapi kalau dari kalian ada yang punya pengalaman kerja remote ke perusahaan Jepang mungkin bisa ceritakan pengalaman kalian di kolom komentar ya, aku ingin tau pengalaman kalian.

  • Belajar Bahasa Jepang

    Seberapa efektif punya sertifikasi JLPT?

    Mau belajar bahasa Jepang? Udah kenal apa itu JLPT ga tuh? Emang bedanya apa kalau punya dan ga punya sertifikat JLPT? Terus rencananya mau ngejar JLPT level berapa? Nah kali ini aku mau coba cerita lebih nih untuk JLPT ya.

    Sertifikat dan sertifikat. Iya bahasa Jepang pun ga beda sama skill yang lainnya ya, ada sertifikat yang bisa dijadikan standar kemampuan bahasa Jepang seseorang. Nah kali ini aku mau bahas yang paling populer yaitu Japanese Language Proficiency Test atau biasa disingkat JLPT. Anggaplah seperti TOEFL dalam bahasa Inggris ya. Ada sertifikat lain buat bahasa Jepang, tapi sertifikat JLPT memang yang paling populer dan paling diakui di seluruh dunia. 

    Kalau kalian check di websitenya JLPT ada levelnya dari N5 yang paling beginer dan N1 yang paling fasih. Nah aku ga mau bahas JLPT yang tertulis di website mereka, so aku mau coba fokus bahas kalau udah punya sertifikasi JLPT terus kamu bisa dapet apa? Seberapa efektif mengubah hidup kalian ketika punya sertifikasi JLPT?

    Pertama, untuk kalian yang ingin kerja/sekolah di Jepang sertifikasi JLPT akan jadi sebuah kewajiban. Terlepas beberapa case seperti sekolah bahasa Jepang di Jepang memperbolehkan sertifikasi lainnya seperti JLCT, NAT-Test, dan J-Test. Tapi sebagian besar syarat buat kerja dan sekolah membutuhkan sertifikasi JLPT di level yang sesuai kebutuhannya. 

    Contoh kerja ke Jepang pakai visa specified skill worker N4 aja cukup kok, atau alternatifnya yaitu JFT-Basic A2 ya. Terus contoh lain untuk kerja pakai visa gijinjkoku atau bisa kita anggap profesional worker butuh setidaknya N3 bahkan kalau bisa N2 dan N1, Kenapa ? Singkat kata "persaingan", karena kalian perlu bersaing dengan semua job hunter di seluruh dunia, so aku saranin skill bahasa Jepangnya setinggi mungkin ya biar lembih gampang keterima kerjanya. 

    Dari contoh itu aku mau coba simpulin dikit. Iya, kalian bisa kerja ke Jepang dengan N4 menggunakan visa specified skill worker. Sekarang pertanyaannya apakah kalian mau jauh-jauh kerja ke Jepang buat kerjaan blue-collar seperti pekerjaan-pekerjaan kasar? Atau kalau kalian punya impian tinggi buat kerja di bagian white-collar seperti pekerjaan-pekerjaan kantor yang punya bayaran tinggi? Nah yang ini memang butuh skill bahasa yang lebih tinggi minimal N3 tapi usahain lebih dari N3 ya. So, silahkan pilih sendiri ya mau belajar sampe level mana. Tapi yang pasti baik blue-collar ataupun white-collar keduanya kalau kalian ga bisa manage uang kalian, uang kalian pasti tetep habis ya wkwk.

    Di point pertama aku bahas kalau kalian ke Jepang, di point ke-dua, aku bahas alternatif kalau kalian ga milih untuk kerja ke Jepang. Ada banyak perusahaan Jepang di Indonesia dan ga dikit dari perusahaan tersebut menginginkan pegawai yang bisa berbahasa Jepang. Dan sebagian besar mereka menggunakan JLPT sebagai standarisasi kemampuan bahasa Jepang para pelamar kerjaan. Mungkin ada yang ga wajib punya, meskipun casenya jarang. Tapi punya ga punya JLPT akan menentukan pandangan perusahaan terhadap kamu. Semakin tinggi level sertifikat JLPT kalian akan mempermudah mendapatkan pekerjaan impian kalian di perusahaan Jepang. 

    Selain itu, kalian juga bisa dapet peluang buat kerja sebagai penerjemah atau interpreter. Ada yang fulltime ataupun freelance, yang manapun gajinya menarik loh. Malah memungkinkan loh dapet bayaran 2 digit hanya dengan bekerja selama hitungan hari. Tentu kalian butuh skill bahasa Jepang yang tinggi seperti N2 atau bahkan N1. Tapi serius, banyak loh yang lulusan SMA yang udah lulus N2 mereka udah ga peduli lagi sama gelar akademinsnya. Soalnya mereka udah bisa makan lebih dari cukup dengan penghasilan mereka. 

    Malah kalau diitung-itung lulusan sarjana bahasa, pendidikan atau sastra Jepang standarnya punya skill bahasa Jepang setara JLPT N3, meskipun ga banyak yang lulus S1 dan punya N3 atau lebih. Jadi kalau kalian punya sertifikat N2, meskipun kalian lulusan SMA kalian bisa bersaing atau bahkan melewati lulusan S1 yang belajarnya cuman ngikutin standar kelulusan. 

    Udah mulai kebayangkan kalau punya sertifikat JLPT dapet benefit seperti apa?

    Sekali lagi "banyak loh lulusan non sarjana yang udah punya sertifikat N2 mereka ga peduli lagi dengan gelar pendidikan mereka". Disclaimer, bukan berarti aku bilang ga penting kuliah ya, tapi kalau kalian lulus N3 atau N2 setidaknya kalian udah punya kompetensi yang setara atau mungkin lebih dari para lulusan sarjana. So kalau kalian lulusan sarjana jurusan yang lain, kalian secara kompentensi jadi double degree tanpa harus kuliah sarjana bahasa Jepang lagi loh. 

    Menarik ga menurut kalian? So, aku mau nanya nih sama kalian, kalian mau belajar bahasa Jepangnya sampe level mana? Dan kalau udah di level itu mau dipake buat apa nih? Coba tulis dikomentar ya, semoga impian kalian semua bisa terkabul ya.

J-Class, pernah diliput di :