Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

  • Belajar Bahasa Jepang

    Masih Relevan Ga Belajar N5 atau N4 Bertahun-tahun?

    Masih kesini makin banyak orang Indonesia yang tertarik buat belajar bahasa Jepang. Tujuannya berbagai macam, ada yang memang cuman sekedar suka Jejepangan ada juga yang memang niat awalnya untuk berkarir. Tapi tau ga sih, sampe sekarangpun masih banyak orang yang rela membuang waktu lama banget untuk belajar bahasa Jepang? Mending kalau bertahun-tahun jadinya N1 gitu ya, tapi kenyataannya bertahun-tahun cuman buat dapetin N5 atau N4. Loh kok bisa? Yuk, aku mau coba bahas di artikel ini ya.

    Kita harusnya udah cukup sadar, WAKTU adalah salah satu aset yang sangat berharga. Malah kalau kata aku, lebih berharga dari UANG, karena selama ada waktu, uang bisa kita cari lagi. Tapi WAKTU kalau udah lewat ya udah ga bisa diapa-apain lagi. So, menggunakan lah waktu dengan sebijaknya, seperti MENJAGA KESEHATAN dengan berolahraga rutin, BERSOSIALISASI untuk menjaga atau mencari hubungan dengan sesama, bisa juga untuk UPGRADE atau CARI SKILL BARU, dan lainya. 

    Iya, ngabisin waktu secara berlebihan sebenernya akan merugikan kita, apalagi buang-buang waktu tuh hal yang biasanya gak akan kita sadari, tau-tau udah abis aja waktunya gitu ga akan sadar lah. Jadi aku tanya lagi ke kalian, apakah perlu waktu yang lama untuk belajar bahasa Jepang? Tergantung targetnya sampai level mana sih, tapi seperti yang aku mention tadi, belajar N5 atau N4 ampe bertahun-tahun tuh kebangetan. 

    Sampe sekarangpun masih ada lembaga yang punya sistem pembelajaran yang makan waktu bertahun-tahun. Katanya sih biar mantep belajarnya bahkan ada yang sampe mewajibkan pesertanya untuk tinggal di asrama. Iya, katanya biar ngelancarin bahasa Jepangnya bareng-bareng di asrama. Eits, jangan salah paham dulu, aku ga bilang itu salah ya selama program belajar mereka ga makan waktu secara berlebihan sih aku bilang wajar. Tapi kenyataannya masih banyak orang yang belajar di lembaga seperti itu tapi skill bahasa Jepangnya ga begitu berkembang.

    Kok bisa? Nah menurut aku jawabannya adalah GAK EFEKTIF. Mereka masih pake cara belajar konvensional dimana guru ceramah di depan kelas, murid mendengarkan, dan diulang terus. Aku ga bilang cara konvensional itu salah, dalam case tertentu ini cara belajar yang bagus. Namun dalam kasus belajar bahasa cara ini malah kebalikannya. Bukan guru yang harus mengeja dan mengulang-ulang pelajaran tiap harinya. Melainkan pelajarlah yang harusnya lebih aktif untuk berprogres tiap harinya. Konsistenkan nambah kosakata dan kanji, perluas pola kalimat, latihan bikin kalimat, perbanyak dengerin bahasa Jepang, dan lainnya. Yang membuat cara belajar konvensional kurang baik untuk belajar bahasa adalah guru yang masih jadi pusat pembelajaran. Dimana dalam belajar bahasa murid lah yang seharusnya membiasakan diri dengan bahasa yang dipelajari.

    Nah ga dikit loh lembaga yang masih menggunakan cara belajar konvensional. Sehingga banyak pelajar bahasa Jepang yang harus mengeluarkan waktu, uang dan energi yang banyak untuk bisa memahami bahasa Jepang. Bagi yang suka nontonin video aku atau udah ikut program di J-Class bareng aku mungkin udah sadar bahwa bahasa Jepang tuh bisa dipelajari OTODIDAK loh sebenernya. Kita ga perlu ngabisin berbulan-bulan, tiap hari berjam-jam untuk bisa lulus N4. Terus kenapa kita harus buang waktu kita untuk hal yang ga diperlukan? Ga dikit loh yang udah buktiin bisa lulus N4 dalam waktu 15 hari. Bahkan banyak yang sebelumnya ikut lembaga yang aku sebutin tadi, kemudian waktu ikut program N4 15 Hari mereka nyesel kenapa mereka masuk lembaga, dan ga ikut program N4 15 hari dari awal aja gitu. Yang dibutuhkan itu bukan kuantitas belajarnya tapi kualitasnya. Bukan berapa banyak kita ulang kosakata atau pola kalimatnya, tapi bagaimana cara memahaminya dan menggunakannya.


    Sekali lagi, waktu itu aset yang ga bisa balik lagi. Ga perlu bela-belain buat belajar bahasa Jepang sampe berhenti kerja atau berhenti kuliah biar bisa masuk lembaga. Belajar OTODIDAK juga bisa kok, kalau mau dibantu sama pengajar juga boleh cari yang online dan di luar jam kerja atau kuliah kalian. Jaman sekarang udah terfasilitasi dengan baik, kelas online udah ada jadi ga usah berhenti kerja atau kuliah kan? Manfaatin waktu luang kalian buat upgrade skill tanpa melepas kegiatan penting lainnya. 

    Belum lagi kalian ga perlu ngeluarin uang lebih kalau kalian sampe harus ngekost atau mungkin ke asrama. Kecuali kalau kalian memang bersikeras untuk ikut kelas offline sampe harus ngeluarin uang extra buat biaya ngekost atau tinggal di asrama. Silahkan! Itu hak kalian, aku hanya bisa ngingetin aja. Selama masih hidup belajar ga akan berhenti, tapi kalau hanya belajar N5 atau N4 sih ga perlu bertahun-tahun. 

    Nah ngomong-ngomong udah kebayang ga? Kenapa belajar lama-lama sekarang udah ga relevan? Semakin lama kita belajar, semakin banyak aset yang kita keluarkan untuk mendapatkan skill tersebut. Tapi menurut kalian oke mana ya? Jujur aku ingin tau juga pendapat kalian, masih relevan ga sih belajar lama-lama buat ngejar level N5 atau N4 dengan cara konvensional? Atau pada sependapat nih dengan aku? Tulis di kolom komentar ya!

  • Kerja di Jepang

    STOP Mindset Yang Penting Kerja di Jepang dan Dibayar YEN!

    Kerja di Jepang, sekarang udah jadi impian banyak orang. Sejalan dengan data di imigrasi Jepang per desember 2023, terhitung ada 120 ribu lebih pekerja Indonesia yang bekerja di Jepang. Ya itungan kasarnya sekitar 26% meningkat dibanding tahun 2022. Dan Indonesia menempati peringkat tertinggi ke 3 sebagai penyumbang pekerja asing di Jepang. Tapi kalian tau ga sih kalian bisa jadi ga akan selamanya di Jepang, dan kalian bisa bayangin ga sih apa yang akan kalian lakukan setelah program di Jepang kalian udah selesai dan pulang ke negara kalian masing-masing. Yuk kita coba kita bahas sedikit mengenai ini.

    Semuanya berawal dari kalian bawa kabar gembira ke keluarga kalian, akhirnya kalian diterima kerja di Jepang. Usaha dan uang yang keluarkan untuk belajar bahasa Jepang selama ini akan segera membuahkan hasil. Pada akhirnya kalian berangkat, bekerja keras hidup merantau di negara sakura. Eits, kalau kalian berfikir 'pada akhirnya' ini salah ya. Hidup kalian masih terlalu panjang untuk bisa bilang 'pada akhirnya'. Setelah program di Jepang selesai dan kalian pulang ke negara kalian, disitu kalian akan mendapatkan cobaan baru dan kalian mungkin belum mikirin sampe sejauh itu. Bahkan aku masih inget beberapa teman lama aku bilang ya udah yang penting kerja di Jepang, yang penting kerja di bayar YEN, dan lainnya. Ini pikiran yang agak menghawatirkan karena kalian cuman memfokuskan pikiran kalian dalam 1 chapter kehidupan kalian aja. 

    So, aku mau kasih tau kalian kenapa ini menghawatirkan, kita masuk ke pembahasan berikutnya, yaitu apa yang akan kalian lakukan setelah kerja di Jepang? Kalau kalian udah di Jepang bukan berarti kalian bisa bye bye sama negara kalian selamanya. Sekalipun kalian udah punya visa permanent resident, bukan berarti kalian ga mungkin bakal dipulangkan atau dideportasi ke negara kalian. So, selain kalian mikirin ketika di Jepang akan seperti apa, kalianpun harus mikirin setelah kalian pulang dari Jepang atau pait-paitnya kalian dipulangkan dari Jepang. Kita balik lagi ke pertanyaan pertama tadi, apa yang akan kalian lakukan setelah pulang? 

    Serius, banyak loh yang ga mikirin ini karena mereka terpana sama negara sakura seperti apa. Padahal bisa jadi kalian di Jepang cuman hitungan tahun ya, misal kalian berumur 20an berarti sisa umur kalian masih panjang banget. Dan kalau sisa umur kalian waktu pulang ke Indonesia ga kalian pikirin, kasus buruknya yaitu uang yang kalian kumpulkan selama di Jepang habis untuk hidup sehari-hari mikirin mau ngapain kedepannya. Kebiasaan buruk kalian untuk berfoya-foya selama di Jepang karena punya banyak uang akan ngancurin kehidupan kalian ketika pulang ke Indonesia. So, aku sebut ini sebagai salah satu kesalahan terbesar buat kalian yang bekerja di Jepang. 

    Aku mau kasih tau kalian ya, kalian udah bisa bawa pulang privilege yang bagus dari Jepang. Yaitu privilege pengalaman kerja dan longstay di Jepang. Dimana ini bisa kita manfaatin buat jenjang karir kita. Tapi masalahnya ga dikit yang kerja di Jepang itu sebagai pekerja blue collar atau pekerja kasar lah ya. Dimana pekerja blue collar di Indonesia itu kebanyakan gajinya minim kalo di banding di Jepang. Aku yakin kebanyakan dari kalian yang udah ngerasain dibayar pakai YEN pasti ga mau kerja sama tapi dibayar RUPIAH dengan UMR di Indonesia. Ujung-ujungnya kalian akan semakin milih-milih kerja dan menganggur dalam waktu yang lama, ditambah lagi uang yang kalian tabung selama di Jepang akan habis untuk hidup tanpa kejelasan ataupun berfoya-foya.

    Kalian bisa dapet jalan lain kalau ketika udah di Jepang kalian ga berhenti belajar bahasa Jepangnya. Terus naik level sampe level N2 misal. Kalau udah N2 kan kalian bisa dapet banyak peluang kerja bagus tuh di Indonesia, plus bawa penglaman longstay di Jepang. Di Indonesia kalian udah bisa kerja yang lebih proper seperti jadi interpreter ataupun penerjemah. Selain itu, untuk balik lagi kerja ke Jepang akan lebih mudah juga tuh. Itupun kalau memungkinkan ya, karena ada kasus kalian ga bisa langsung balik ke Jepang setelah pulang. Contohnya kalau kalian dideportasi, buat onar di Jepang jadi dipersulit pengurusan visanya, dll. 

    Pilihan keempat yaitu buat bisnis sendiri. Nah untuk yang satu ini, selain butuh nabung uang yang lebih besar waktu di Jepang, butuh juga skill dan networking yang lebih luas kalau dibanding pilihan lainnya. Kalau kalian pilih yang ini, coba pikirin dari sekarang business plan kalian seperti apa, jadi kalian udah bisa persiapin apa aja yang kalian butuhin buat menjalankannya. Modalnya butuh berapa? Butuh networking dengan orang yang seperti apa? Skill apa aja yang dibutuhin? Kalau udah ada business plan bakal keliatan ga tuh apa aja yang dibutuhkan?

    So, masih berani mikir yang penting kerja di Jepang dan dibayar YEN tanpa mikirin next stepnya apa? Terakhir dari aku coba pikirin plan kalian kedepannya dengan pertanyaan-pertanyaan ini

    1. Kerja di Jepang kerjanya apa? 

    2. Pekerjaan itu bisa jadi batu loncatan karir kalian ga? Dan apa mau lanjutin kerja yang sama atau sejenis di Indonesia?

    3. Kalau pertanyaan 2 jawabannya engga, nanti waktu balik ke Indonesia udah kebayang mau ngapain?

    4. Skill atau modal apa aja yang kira-kira bisa kalian bawa selama bertahun-tahun di Jepang?

    5. Apa yang bisa kalian manfaatkan dari skill itu?

    6. Kalo bisa, sudah coba bayangin jalur karir kalian akan kemana?

    So, semoga kalian dapet apa yang ingin aku sampaikan disini. Ga salah kok kalau ingin kerja di Jepang demi dibayar YEN, tapi berhenti berfikir sampai situ, dan mulai coba pikirkan juga apa yang akan kalian lakukan setelahnya. Tapi ngomong-ngomong aku ingin denger juga nih pendapat kalian, apa menurut kalian sudah cukup yang penting bisa kerja di Jepang? Dan kenapa kalian bertifikir seperti itu, coba tulis dikomentar ya.

  • Others

    Apakah Ilmu Bahasa Bisa Hilang?

    Pernah nggak sih merasa lupa bahasa yang dulu pernah dipelajari, entah bahasa asing atau bahkan bahasa ibu? Ini sebenarnya hal yang umum terjadi. Kemampuan bahasa memang bisa "berkarat" kalau jarang digunakan, tapi apakah benar-benar bisa hilang?

    Pernahkah kamu merasa frustrasi karena kosakata bahasa Jepang yang sudah kamu hafalkan dengan susah payah tiba-tiba menguap begitu saja? Atau mungkin kamu pernah berhenti belajar bahasa Jepang untuk sementara waktu, dan saat kembali belajar, merasa seperti memulai dari nol? Jangan khawatir, kamu tidak sendirian! Banyak pembelajar bahasa yang mengalami hal serupa.

    Penelitian menunjukkan bahwa ilmu bahasa cenderung tidak hilang sepenuhnya, tapi lebih terpendam. Proses lupa ini disebut language attrition, di mana kita kehilangan kefasihan karena kurang praktik. Tapi sebenarnya, memori kita masih menyimpan banyak hal tentang bahasa tersebut, hanya saja aksesnya jadi lebih lambat.

    Meskipun sebenarnya, lupa merupakan bagian alami dari proses belajar. Otak kita seperti sebuah komputer yang memiliki kapasitas penyimpanan terbatas. Ketika kita mempelajari hal-hal baru, otak akan membuat koneksi saraf baru. Namun, jika koneksi-koneksi ini tidak sering digunakan, otak akan cenderung memangkasnya untuk membuat ruang bagi informasi baru.

    Kabar baiknya, banyak ahli percaya bahwa meskipun kita melupakan sebagian kosakata atau aturan grammar, belajar ulang bisa lebih cepat. Istilahnya, otak sudah punya "jalan" yang pernah dibangun, jadi proses mengingat kembali akan lebih mudah. Kalau dirangkum, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelupaan dan cara mengatasinya, seperti :

    1. Frekuensi Penggunaan:
       Singkat kata semakin sering kita menggunakan suatu kosakata atau struktur kalimat, semakin kuat koneksi saraf yang terbentuk, alhasil kita akan semakin sulit lupa. Masih ingat kan aku selalu menyarankan untuk sering-sering menggunakan kosakata yang telah kita pelajari, tujuannya biar lebih nempel dan sukar lupa.
    2. Konteks Pembelajaran:
       Belajar dalam konteks yang relevan dan menarik akan membuat informasi lebih mudah diingat. Banyak cara belajar yang bisa lebih menarik dari sekedar baca buku aja. Seperti belajar Kanji pakai ilustrasi di Kanji Card, belajar bahasa Jepang dari media-media menarik seperti Anime, Drama, Lagu, dll. Meskipun kita tetep butuh buku sebagai panutan utama, tapi untuk menambah referensi yang lebih menarik, kita bisa cari referensi yang menarik sebagai sumber pembelajaran tambahan.
    3. Metode Pembelajaran:
       Menggunakan berbagai metode pembelajaran seperti membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan akan membantu memperkuat pemahaman. Masih ingat dengan "Kamus Personal" kan? Iya, aku pernah sharing cara belajar "mindahin kosakata ke kamus personal", inget ya "mindahin". Dari "mindahin" kosakata setidaknya kalian udah melewati 3 proses yaitu "membaca", "menulis", dan "mengucap".
    4. Jeda Waktu:
       Luangkan waktu secara teratur untuk mengulang materi yang sudah dipelajari. Ingat, selain mindahin kosakata tiap hari, sisipkan juga baca ulang apa yang telah dipelajari, latihan juga untuk buat kalimat secara konsisten. Ga perlu lama-lama tapi, konsisten tiap hari, setidaknya kita bisa ngirim sinyak ke otak untuk tidak melupakan apa yang kita pelajari.

    Yuk simpulkan apa yang kita bahas tadi. Meskipun terasa lupa, ilmu bahasa kita sebenarnya nggak hilang sepenuhnya, hanya perlu diaktifkan kembali dengan latihan rutin! So, konsisten nambahin kosakata dan latihan tiap hari agar otak tidak memangkas sebagai info yang tidak penting, cari media dan konteks relevan yang menarik untuk belajar, dan mindahkan kosakata ke kamus personal sebagai metode pembelajaran khususnya untuk menambahkan bank kosakata. 

    So, ilmu yang tidak dipakai dikeseharian memang cenderung akan dilupakan. Contoh lainnya yang mungkin paling kerasa oleh banyak orang seperti belajar 12 tahun dari SD sampai SMA, namun ilmu yang benar-benar nempel di otak kita bisa jadi dibawah 50 persennya. Kenapa? Karena tidak dipakai di kesehariannya. Nah orang yang udah belajar bahasa Jepang sampai N1 pun, kalau dia tidak melakukan rutinitas yang menggunakan bahasa Jepang, cepat atau lambat ilmu bahasa Jepangnya pasti akan terpangkas, namun waktu yang dibutuhkan untuk mengingat kembail akan lebih mudah daripada mereka yang baru belajar bahasa Jepang. 

    Yang terakhir, apa kalian juga ngerasain hal yang sama dengan yang tadi aku share mengenai kelupaan? Atau mungkin kalian punya pendapat lain? Coba ceritain pendapat kalian, aku tunggu kolom komentar ya!

  • Belajar Bahasa Jepang

    Kenapa masuk LEMBAGA malah bikin kamu miskin?

    Aku ingin belajar bahasa Jepang nih, tapi ga mau sendirian, dan biar ada temennya mau masuk lembaga belajar bahasa Jepang aja dah. Nanti biar ga bosen dan tetep asik juga belajarnya kalo bareng-bareng. Biar asik? Atau biar bisa lama-lama nih? Banyak orang yang berfikir ingin belajar sesuatu bareng-bareng biar asik atau mungkin dia memang ga kuat sendiri aja kali ya, dan aku ga menyalahkan itu. Tapi yakin mau masuk lembaga hanya untuk belajar bahasa Jepang? Hmmm..

    Ya, untuk belajar bahasa Jepang masuk lembaga itu salah satu alternatif kayanya kebanyakan orang milih jalan ini ya. Meskipun ga semuanya ngerti kenapa aku baik tim aku selalu berusaha mengedukasikan audience kita untuk lebih baik belajar OTODIDAK daripada masuk lembaga, dan kalian mungkin dah ga asing dengan kata-kata "jangan masuk LEMBAGA kalau belum punya N4". Alasannya ada beberapa, dan aku mau bahas salah satunya yaitu masuk lembaga bisa bikin kamu MISKIN

    Memang bener sih ekonomi Indonesia yang makin kesini makin menekan golongan menengah, tapi terlepas dari itu masuk lembaga tuh bisa jadi salah satu alasan kalian bisa jatuh miskin kalau kalian ga tau resikonya loh. Jadi kalau kalian (khususnya orang tua kalian) ga termasuk yang punya uang banyak banget uang, wajib banget baca ampe beres nih kalau ga mau udah ngeluarin banyak uang tapi ujung-ujungnya ga berangkat ke Jepang.

    Pertama, Admission and Study Fees atau biaya masuk dan belajar. Kalau biaya masuk mungkin ga semua ya, tapi ya selama bukan NPO, lembaga pun pasti butuh uang sehingga lembaga biasanya akan narik biaya belajar. Tergantung daerahnya juga tapi kita bisa garis besarkan kisaran 1jt~5jt, dan ini dari perbulan dan ada yang per level. Di harga segitu mungkin sekilas keliatan oh cuman segitu ya. Kenyataannya banyak kok lembaga yang ngasih biaya yang rasional, tapi ada juga yang keliatan rasional tapi ternyata engga. Kok bisa gitu? Karena ada biaya-biaya lain yang ga tertulis disitu, dan anak-anak muda jaman sekarang mungkin ga sadar atas itu. 

    So kita lanjut yang kedua, yaitu Accomodation Fee atau biaya akomodasi, dan kita bagi dua jadi biaya tempat tinggal dan transportasi. Kalo mau ikut lembaga carilah yang dekat dengan rumah kalian, tapi masalahnya jumlah lembaga ga sebanyak itu. Sehingga ada kalanya kalian terpaksa mengeluarkan biaya transportasi yang tinggi atau bisa jadi kalian memutuskan untuk tinggal di kosan. Biaya transportasi sudah dihitung tiap hari akan keluar berapa? Terus kalau milih untuk tinggal di kosan bakal ngeluarin berapa tiap hari atau tiap bulannya ? Itu semua ga akan kecil guys. Belum kalau ngekost kalian bakal ngeluarin biaya lain seperti listrik, air, internet, dll. Sudah diperhitungkan segalanya ga tuh? Ada kasus lain juga dimana lembaga yang memaksa pesertanya untuk tinggal di asrama bersama peserta yang lainnya.

    Ketiga, ini real bukan ngada-ngada, tapi memang sulit ditemukan, yaitu institution's strategy atau strategi lembaganya. Lembaga yang bakal menjualkan produk yang ga bagus kan ya? Mereka pasti menjualnya dengan kata-kata yang indah sehingga kalian terpana dan akhirnya milih untuk gabung ke lembaganya. Banyak loh lembaga yang bener-bener bagus, aku sebelumnya sempet buat video rekomendasi lembaga belajar bahasa Jepang. Dan selain yang direkomendasikan aku pun masih banyak lembaga yang bagus.

    Tapi kalau kalian salah milih, point ketiga ini yang bisa menentukan kalian jatuh miskin atau engga. Kenapa? Aku sering nemu kasus seperti orang yang udah masuk lembaga berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, tapi belum pergi ke Jepang juga.

    Singkat kata lembaganya bilang bisa nerbangin ke Jepang, tapi ternyata engga bisa atau lembaga mereka belum SO, sehingga mereka harus menggantungkan nasib para pesertanya ke pihak 3 yaitu dengan mengirimkan ke lembaga yang sudah SO. Dimana lembaga SO belum tentu diterima semua pesertanya, kalau ga diterima kan ujung-ujungnya kalian balik lagi ke lembaga awal. Apalagi kalau kalian sampe ngekost atau dipaksa untuk tinggal di asrama. Ini makan biaya banget kalau ga ada kejelasan kapan bisa berangkat, kapan bisa interview, dll. BTW, lembaga yang maksa tinggal di asrama mungkin lembaganya ingin pesertanya bisa belajar bareng lebih sering gitu. Tapi balik lagi, kalau skill pengajarnya bagus, harusnya gak akan makan sampe setahun atau mungkin lebih untuk ngejar N4. Jelas daya tangkap dan pemahaman pesertanya pun ikut mempengaruhi ya.

    Keempat, ini agak aneh tapi nyata. Kebetulan akhir-akhir ini lewat di beranda aku, dimana ada yang udah gabung lembaga ngeluarin banyak uang dengan harapan bisa kerja di Jepang, nah waktu udah di Jepang malah dideportasi atau bisa jadi minta dipulangin ke Indonesia. So yang keemat ini aku bilang Mental & Knowledge Issue. Maksudnya tuh, kalian kan ke Jepang buat kerja ya, dan Jepang tuh terkenal atas budaya kerjanya yang keras. So, setidaknya siapkan mental kalian sebelum pergi ke Jepang. Jangan sampe udah di Jepang kalian nangis karena ternyata berat banget kerja di Jepang. Selain mental kalian juga udah harus tau knowledge atau pengetauhan tentang Jepang, budayanya, dll. Setidaknya kalian bisa menjauhi hal-hal yang tidak disukai orang sana, hal-hal yang dilarang, dan hal-hal yang membuat kalian bisa dideportasi. Please jaga reputasi warga negara Indonesia juga ya, kalau kalian kelakuannya jelek kan kasian mereka yang belum ke Jepang akan dipersulit juga nantinya. 

    Nah dengan mental & knowledge issue ini kok jadi miskin? Hubungannnya apa dengan jadi miskin? Bayangin kalian dah ngeluarin banyak uang bisa ampe puluhan juta loh untuk bisa berangkat ke Jepang. Eh udah di Jepang kalian ga bisa balik modal, gara-gara kalian dideportasi atau minta dipulangin. Pulang dari Jepang kalian masih punya muka buat ketemu keluarga setelah kalian kuras uang mereka ? 

    So, apa aku bilang gabung dengan lembaga bisa bikin kamu miskin? Jawaban aku BISA bikin kamu miskin, bukan PASTI buat kamu miskin ya. Karena kasusnya udah banyak yang belajar berbulan hingga bertahun-tahun di lembaga tapi tak kunjung berangkat ke Jepang, Ditambah lagi kasus yang dideportasi atau mulangin diri. So impian kalian untuk kerja di Jepang tuh bisa jadi bukan sesuatu yang MURAH kalau kalian milih untuk belajar di LEMBAGA dari NOL. Beda kasus kalau kalian belajar sendiri atau OTODIDAK sampe dapet N4 atau standar minimal berangkatnya. Setelah itu gabung ke lembaga untuk proses jobmatch, pengajuan visa, dll. 

    Balik lagi, pilihan ada di tangan kalian, tapi aku mau nanya nih, kalian masih mau milih gabung lembaga? Coba tulis di komentar sekaligus alasan kalian ingin belajar dari NOL di lembaga ya.

  • Others

    Stigma dan Pandangan Terhadap Gen Z di Jepang

    Tau ga kalian di Jepang ternyata Gen Z dianggap Generasi yang seperti apa? Apa yang membuat imagenya berbeda dengan di Indonesia terhadap Gen Z? Kali ini aku mau coba bahas perbedaan perlakuan Gen Z di Jepang nih, yuk kita masuk ke pembahasan. 

    Seperti yang aku sebutkan tadi, di Indonesia Gen Z dianggap sebagai generasi yang punya image yang tidak baik. Seringkali distigma dengan berbagai label negatif seperti malas, individualis, dan kurang menghargai orang tua. Banyak faktor yang membuat di Indonesia Gen Z dianggap kurang baik, apakah dari Perbandingan Generasi yang sebelumnya cenderung lebih bekerja keras, disiplin dan sopan. Ada juga Pengaruh Media yaitu Media Social yang sering sekali menyoroti sisi negatif dari Gen Z di Indonesia. Dan juga Pengaruh Zaman dimana Gen Z hidup dan dibesarkan bersama dengan teknologi dan social media, sehingga nilai-nilai di generasi sebelumnya tidak sepenuhnya relevan dengan Gen Z. 

    Lah ? Emang bedanya apa dengan di Jepang ?

    Image Gen Z di Jepang sebenernya lebih netral kalau dibandingkan dengan di Indonesia. Secara garis besar malahan Gen Z Jepang seringkali dilihat sebagai generasi yang inovatif dan adaptif terhadap teknologi. Banyak warga generasi sebelumnya yang memang sebenernya tidak terlalu paham dengan teknologi, padahal di negara semaju Jepang nih. 

    Selain itu Budaya Jepang yang meninggikan kesopanan dan ketekunan, membuat Gen Z Jepang tumbuh dalam era digital namun umumnya masih menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional ini. Campuran dari tradisi dan modernisasi membuat Gen Z di Jepang pun terkesan unik di mata warga Jepang sendiri. Mereka yang tidak lepas dari teknologi di keseharian membuat mereka dapat beradaptasi dengan modernisasi dibanding generasi sebelum-sebelumnya, namun tetap mewarisi tradisi budaya dan kebiasaan warga Jepang pada umumnya.

    Di sisi lain Gen Z Jepang pun memiliki kesadaran sosial yang lebih tinggi, seperti isu-isu lingkungan, kesetaraan gender, keberagaman, dan lainnya. Dari situ mereka punya ciri khas Menghargai Perbedaan dan melebihi generasi sebelum-sebelumnya. Bisa jadi saat ini Jepang lebih terbuka terhadap muslim pun bagian dari Menghargai Perbedaan mereka loh. 

    Iya, dianggap netral disini berarti ada nilai-nilai yang dianggap kurang baik oleh generasi sebelumnya. Meskipun mewarisi budaya Jepang pada umunya, tapi sepertinya tidak sepenuhnya loh. Contohnya ketika selesai kerja lebih suka untuk pulang atau lanjut ke kegiatan pribadi daripada kumpul minum sama atasan atau rekan kerjanya. Work Life Balance pun ditinggikan oleh Gen Z di Jepang, dan mereka pun lebih suka mencari tempat kerja yang Ideal bagi mereka seperti perusahaan yang memiliki budaya kerja yang positif, inklusif, dan mendukung pertumbuhan pribadi. Dimana generasi sebelum-sebelumnya yang cenderung mengejar konsep Ikigai dari kerjaan mereka. 

    Namun hal yang sangat membedakan di Jepang dan di Indonesia adalah pandangan dan usaha terhadap perbedaan Gen Z guys.

    Warga Jepang melihat perbedaan pandangan dan nilai yang di anut Gen Z sebagai sebuah tantangan bukan sebagai stigma buruk. Dibandingkan konten yang menunjukkan keburukan Gen Z, konten yang menunjukkan cara untuk berkomunikasi, menjalin hubungan baik, hingga hal-hal NG dilakukan kepada Gen Z lebih banyak loh. Bahkan aku sering melihat iklan ataupun konten yang menawarkan konsultasi untuk menghadapi tantangan dalam menghadapi Gen Z. Kalau aku coba cari Gen Z di Google pun artikel mengenai ciri khas, konsultasi, dan tips menghadapi Gen Z banyak yang muncul di halaman-halaman depan. Aku pribadi sih melihat perubahan pandangan ini pun dianggap awal yang bagus untuk memperbaiki budaya kerja di Jepang yang terbilang keras ya. 

    Apapun itu pada akhirnya Jepang melihat Gen Z sebagai penerus mereka, dimana tiap tahunnya jumlah kelahiran semakin turun. Sehingga Jepang cenderung lebih mensupport Gen Z meskipun mereka berbeda dengan Genenrasi sebelum-sebelumnya. Apakah Indonesia perlu melakukan hal yang sama dengan Jepang ? Dan kalau perlu apa yang sekiranya bisa kalian lakukan untuk tantangan ini ? Yuk kita mulai dari diri sendiri. 

  • Kerja di Jepang

    Ekspektasi vs Realita kerja di Jepang !

    Jepang adalah negara impian dengan budaya yang unik, teknologi canggih, dan tingkat kehidupan yang tinggi. Sehingga kerja di Jepang sekarang jadi impian banyak warga Indonesia. Mulai dari lingkungan yang indah dan nyaman, gaji yang tinggi, ada juga yang memang ingin cari kebebasan ataupun jati diri. Iya, Jepang jadi pilihan bagi yang mencari hal-hal tadi. Sehingga terkadang orang-orang tidak melihat sisi negatif dari Jepang itu sendiri. So, aku mau coba bandingin ekspektasi orang-orang itu sesuai ga sih sama realita kerja di Jepang. 

    Yuk kita coba masuk ke yang pertama yaitu gaji tinggi dan bonus besar. Ya, banyak banget yang berekspektasi gaji di Jepang itu besar. Meskipun ga 100% salah loh ekspektasi itu. Setidaknya kalian bisa dapet Gaji yang lebih baik kalau dibanding di Indonesia, tapi sebaiknya jangan terlalu tinggi ekspektasinya ya. Sebagai gambaran, memang benar gaji rata-rata freshgraduate atau UMR di sana kisaran 200.000 ~ 250.000 yen, tapi kalian harus tau biaya tempat tinggal, makan, asuransi, dll itu udah makan berapa besar dari gaji kalian. Nah gaji itu untuk visa engineer atau visa kerja profesional ya, kalau visa tokutei ginou bakal lebih kecil apalagi kalau magang. 

    Kedua adalah jam kerja fleksibel. Ini yang sangat salah, untuk urusan jam kerja, Jepang itu salah satu negara dengan jam kerja yang parah abis. Tergantung perusahaan sih, tapi ga dikit kasus Karoshi (kematian akibat kerja berlebihan) yang terjadi di Jepang. Belum kebayang separah apa kasusnya ? Aku kasih gambaran ya. Ketenagakerjaan di Jepang menetapkan batas waktu kerja maksimal 40 jam per minggu. Tapi, kenyataannya, banyak pekerja Jepang terutama di perusahaan besar bekerja jauh melebihi batas tersebut. Budaya kerja yang menekankan loyalitas terhadap perusahaan dan semangat kerja keras sering kali mendorong karyawan untuk bekerja lembur tanpa kompensasi yang memadai. Udah kebayang sekarang?

    Ketiga ini mirip dengan yang kedua tapi kali ini bahas lingkungan kerja yang baik atau santai. Tidak ya, di Jepang sebenernya masih ada budaya hirarki yang ketat sehingga harus menghormati senior. Ga semua perusahaan sih, tapi yang seperti ini masih dianggap wajar sama orang Jepang. Apalagi kalau kalian ga jago-jago amat bahasa Jepangnya, kalian malah makin diremehin sama rekan kerja kalian. Seperti yang dibahas di artikel sebelumnya mengenai pembulian, ilmu bahasa kalian akan menentukan kemudahan kalian mendapatkan teman di Jepang, dan teman di Jepang menentukan kualitas kehidupan kalian di tempat kerja kalian nantinya. So jangan anggap level bahasa Jepang yang jadi standar minimal ngajuin visa aja sudah cukup untuk hidup bahagia di Jepang ya, teruslah kejar ilmu setinggi mungkin, dan siapkan mental yang kuat sebelum berangkat ke Jepang.

    Keempat yaitu mudah mendapatkan pekerjaan. Sekalipun Jepang butuh banyak tenaga kerja, bakal kerasa ga gampang kalau kalian ngerasa bahwa standar minimal ngajuin visa saja sudah cukup buat kerja di Jepang. Contoh kalian mau kerja SSW di Jepang dengan N4 + sertifikat skill SSWnya aja, ya bisa aja kok, tapi siap-siap bersaing dengan mereka yang mungkin punya skill yang lebih tinggi atau bisa jadi punya pengalaman dibidangnya. Belum lagi coba itung juga saingan kalian dari negara-negara lain seperti Vietnam, Filipina, dll. Jadi kalau mau mudah cari kerjaan di Jepang coba siapkan dan kejar sesuatu yang lebih dari sekedar standar minimal untuk kerjanya yaa.

    Kelima sih yang sangat umum yaitu musim di Jepang. Di Anime atau di Drama Jepang, mungkin banyak yang menunjukkan musim panas di Jepang itu panas tapi ga nunjukkin banget sepanas apa, dan musim dinginnya indah banget ampe turun salju. Tapi kenyataannya kalian meremehkan itu. Musim panas di Jepang bisa melebihi 40 derajat celcius dan telah membunuh banyak orang dengan heatstrokenya. Musim dingin terutama di daerah tertentu contohnya di Hokkaido bisa mencapai minus 10 derajat dan banyak yang meremehkan ini. Belum lagi ga semua daerah bakal turun salju loh, jadi belum tentu kalian kebagian daerah bersalnju. So ketika kerja di Jepang terutama yang longstay, bisa jadi bakal bertahun-tahun di sana, jadi persiapkan perbedaan musim dengan baik ya. 

    Bekerja di Jepang bisa menjadi pengalaman yang sangat berharga, tapi penuh tantangan juga. Kalau ingin bekerja di Jepang, penting untuk memiliki ekspektasi yang realistis dan mempersiapkan diri dengan baik. BTW aku baru sebutin sebagian yang populer nih, jadi hal-hal kecil lainnya kalau aku jabarin bakal ada banyak banget sebenernya. Dengan artikel inipun harusnya udah kebayang ya, ekspektasi orang-orang terhadap kerja di Jepang sebenarnya banyak yang salah. Tapi kali ini aku baru bahas yang pentingnya aja dulu. Next mungkin pada kalau tertarik, coba tulis dikomentar biar aku bahas hal-hal kecilnya juga di artikel lain. Atau kalau ada bahasan lain yang ingin aku bahas boleh coba tulis di komentar ya.

  • Kerja di Jepang

    Pembulian di negara se-hormat dan se-sopan Jepang?

    Kalian pernah ga sih liat konten-konten yang menujukkan pengalaman orang Indonesia yang tertindas atau dibuli di tempat kerjanya di Jepang? Atau mungkin kalian yang mengalaminya secara langsung? So, orang Jepang tuh sebenernya orang-orang yang "rasis" atau "pembuli" kah? Yuk aku mau coba bahas mengenai hal ini.

    Disclaimer dulu, kali ini aku mau menggabungkan berbagai macam cerita-cerita orang mengenai pengalaman mereka mengenai pengalaman mereka selama bekerja di Jepang. So, aku ga bisa jamin perlakuan di tempat kerja atau lingkunan kalian bakal sama dengan yang aku ceritakan. Karena balik lagi ya, Jepang itu luas, jadi aku ga bisa nyamain semuanya gitu.

    Oke, aku mau coba ceritain dulu berbagai macam pengalaman mereka di Jepang yang pernah aku denger atau bahkan yang kebetulan lewat di FYP aku nih. Banyak yang ngaku pernah dibuli selama bekerja di Jepang. Ada yang cuman sekedar dijailin, sampai ada yang bilang 2 tahun kerja di Jepang selalu dibuli. Meskipun dari setiap berita-berita pembulian itu aku nangkep kebanyakan adalah para peserta "magang".

    Angka pembulian atau ijime itu sendiri di Jepang udah cukup tinggi ya. Aku sempet kaget waktu baca berita di internet yang bilang jumlah pembulian yang tercatat di tahun 2022 ada 681.948. Ini terjadi di kalangan sekolahan aja, tapi menurut kalian apa ga mungkin kebiasaan ijime ini menular sampe ke usia dewasa? Orang Jepang yang terkenal atas budaya kesopanan dan menghormatinya, ternyata masih ada budaya yang tercela seperti pembulian. Jumlah tadi terhitung pembulian sesama orang Jepang, nah ke kita yang orang Indonesia gimana? orang asing yang kondisinya ketika ada masalah bisa jadi bakal dipulangkan ke negaranya, ya mereka bisa jadi lebih enteng ya lebih enak aja gitu ngelakuinya. 

    Kita ngadu ke atasan pun responnya ga selalu bagus, seperti "ya udah biarin aja ga usah dimasalahin", ada juga "dia mah memang gitu orangnya", dan lain-lain. So, terkadang para peserta magang pun kesulitan menyelesaikan masalahnya, dan berujung berusaha bertahan dengan berpura-pura ga terjadi apa-apa. 

    Aku baru cerita soal kondisi yang udah terjadi di program magang nih, terus kedepannya gimana?

    Magang Jisshusei udah mulai dihilangkan, dan akan diganti dengan Ikusei Shuurou. Di artikel sebelumnya aku sempat share juga ya soal ini, salah satu alasan program magang dihapus karena banyak terjadi pembulian atau perlakuan yang tidak etis selama program magang berjalan. So, Ikusei Shuurou ini akan dikontrol dan diawasi juga oleh pemerintah. Apakah perusahaan penerima akan menerima tekanan dari pemerintah? Ataupun cara pemerintah, tapi kita bisa berharap kedepannya selama berjalannya Ikusei Shuurou ini kasus pembulian atau ijime bisa dihilangkan atau setidaknya bisa lebih diminimalisir lah ya. 

    Nah kalau di luar kasus magang gimana? Apakah banyak terjadi pembulian? 

    Sependengaran aku sih lebih sedikit ya. Malah saking jarangnya aku hampir ga pernah denger kasus pembulian untuk pekerja profesional di Jepang, tapi balik lagi ga menutup kemungkinan terjadi ya. Karena mereka yang kerja menggunakan visa gijinkoku itu mereka yang udah punya skill bahasa Jepang yang bagus, sehingga ga ada masalah ketika berkomunikasi dengan rekan kerja di Jepang. So, ga aneh donk kalau mereka bisa lebih gampang dapet teman selama di Jepang? Malah aku banyak denger cerita mereka yang dapet jodoh di Jepang. 

    So, dari cerita itu apakah kalian ngerasa bahwa belajar bahasa Jepang cuman sampai standar minimal untuk visanya saja sudah cukup? Terlepas dari menghidari pembulian pun, sebenernya bahaya loh kalau kalian ngerasa lulus N4 atau JFT Basic A2 itu udah cukup sampai berhenti untuk lanjut naik level. Untuk berangkatnya aja sih udah bisa, tapi siap-siap ketika di Jepang kalian akan berada di kondisi yang lebih sulit untuk mendapatkan teman, sahabat, atau bahkan memperluas koneksi. 

    Supaya bisa meminimalisir pembulian pun kita perlu naik level skill kita terus guys, kalau level skill kita tinggi kan minimal kita bisa nunjukkin kita tuh bukan orang yang bisa dibuli seenaknya. So, kalian mau sampe kapan merasa nyaman dengan skill bahasa Jepang yang pas-pasan?

  • Belajar Bahasa Jepang

    Belajar bahasa Jepang dari NOL pakai Minna No Nihongo

    Kalian mau mulai belajar bahasa Jepang, tapi bingung mulai darimana? Nih aku jelasin beberapa step awal untuk mulai belajar bahasa Jepang, dan cara belajarnya gimana. Ikutin sampe beres yaa. Ga perlu banyak basa-basi kita coba masuk ke pembahasan yuk.

    Kalian yang tertarik ingin belajar bahasa Jepang pasti udah sempet coba cari tau lah sedikit ya mengenai bahasa Jepang. Sebagian besar dari orang awam pasti udah kaget duluan ngeliat jenis tulisan bahasa Jepang. Betul, dalam bahasa Jepang ada 4 jenis huruf yang digunakan yaitu Hiragana, Katakana, Kanji, dan Romaji. Terutama Kanji, orang awam biasanya langsung minder waktu pertama kali liat, tapi inget! Kanji itu ga wajib, dan akan jadi WAJIB ketika kalian udah mulai ngerasa ingin naik level. So step pertama mulai dulu dari huruf Hiragana & Katakana. Yang belum bisa baca Hiragana & Katakana, kalian bisa Hafalin Hurufnya menggunakan KANA Card & belajar sambil nonton video belajar Hiragana dan belajar Katakana yaa.

    Nah kalau udah sukses mempelajari Hiragana dan Katakana baru bisa mulai pake buku sejuta umat nih. Ga harus hafal banget kok, minimal udah kenal dan bisa ngelancarin sambil pake textbooknya. Nama buku yang kita pake tuh Minna no Nihongo Shokyu I. Untuk awal2 pake yang Shokyu I dulu ya. Nah kalo dah punya bukunya kita masuk ke step kedua kita yaitu mulai belajar menggunakan Minna no Nihongo. Buku minna no nihongo itu biasanya sepaket 2 buku, ada buku textbooknya dan ada buku terjemahannya. Nah, sebenernya kita butuh keduanya ya, jadi 2 buku itu dipake bersamaan. Kalau liat gambar dibawah, yang merah itu textbooknya dan yang kuning itu buku terjemahannya.


    Nah jangan kaget, isi dari buku yang textbook (merah) itu isinya memang udah full text Jepang, itulah alasan aku saranin udah belajar Hiragana dan Katakana dulu baru mulai masuk ke bukunya, kalau belum lancar pun kalian bisa juga manfaatin bukunya buat latihan baca. Di buku ini juga disediakan CD audio yang isinya ada suara-suara orang Jepang ngomongnya sepertia apa. So, bisa juga dipake untuk latihan listening ya. Oke, aku langsung coba kasih tau cara belajar pake bukunya nih. 

    Step by step belajar bahasa Jepang pakai buku Minna no Nihongo

    1. Buka dan baca Kata pengantar

    Ini banyak yang suka skip, tapi inget di dalam kata pengantar itu ada banyak informasi seperti ada apa aja dalam bukunya, apa aja yang dapat dipelajari dari bukunya, dll. 

    2. Pelajari huruf dasar bahasa Jepang di buku terjemahan


    Meskipun udah hafal Hiragana dan Katakana, tetep coba buka dan baca halaman 2 sampai halaman 7 yang buku terjemahan yaa, di situ ada informasi mengenai tulisan-tulisan dalam bahasa Jepang beserta aturan-aturan khusus dalam pembacaannya guys, pastikan baca dan pahami dulu ya.

    3. Gunakan buku Textbook dan Terjemahan secara bersamaan

    Nah kalau udah mulai bisa masuk bukunya, aku kasih tau nih step by step belajar pakai buku Minna no Nihongonya.


    Sebelum masuk ke buku textbook dan latihan kalimat, pertama-tama coba buka buku terjemahan dan pelajari dulu kosakata-kosakata di BAB yang ingin dipelajari yaa. Ga apa-apa step by step kita dari bab 1 berurutan sampai bab 25 yaa. Sebagai contoh sebelum mulai belajar BAB 1, coba buka buku terjemahan halaman 10 dan 11. Kalian pindahin dulu kosakata-kosakatanya ke kamus personal yaa. 


    Kalau kosakatanya udah dipindahin ke kamus personal, buka halaman berikutnya di halaman 12, di situ ada terjemahan dari bagian Bunkei (Pola Kalimat), Reibun (Contoh Kalimat), dan Kaiwa (Percakapan). Ketika pelajari BAB 1 buka buku terjemahan halaman 12 tadi bersamaan dengan buku textbook halaman 6 dan 7. Jadi kalian bisa baca dan latihan kalimat-kalimat di textbook sambil lihat artinya di buku terjemahan, kalau gitu bisa lebih mudah dipahami kan? Dari pada cuman liat text Jepangnya aja. 


    Nah aku yakin liat contohnya aja mungkin masih kurang paham, makanya coba buka juga buku terjemahan halaman 14, disitu ada bagian Keterangan Tata Bahasa, di situ tertulis keterangan dan penjelasan dari pola kalimat yang dibahas di setiap BABnya


    Kalau dirasa sudah paham dengan kosakata dan pola kalimat yang dibahas di BAB 1, setelah itu masuk ke bagian Renshuu (latihan) dan Mondai (soal) dan mulai ngerjain latihannya yaa.

    Kalau aku rangkum akan seperti ini yaa,
    1. Pertama pelajari huruf Jepang dasar (hiragana & katakana)
    2. Kemudian baru masuk ke buku Minna no Nihongo, dan step yang dibutuhkan ketika kita masuk BAB baru adalah Pelajari Kosakatanya dulu
    3. Baca dan pahami penjelasan pola kalimat di bagian Keterangan Tata Bahasa
    4. Mulai baca dan pahami contoh-contoh kalimat di Bunkei, Reibun, dan Kaiwa
    5. Latihan kalimat di bagian Renshuu dan Mondai.

    Gimana step by stepnya udah paham belum? Dari tadi aku baru nyontohin ketika belajar BAB 1 yaa. Jadi ketika masuk BAB 2 hal yang kalian lakukan sebenarnya sama aja kok. Kalau ngerasa latihannya masih kurang kalian bisa juga pakai buku Minna no Nihongo Renshuucho yang isinya kumpulan soal latihan guys. 

    Nah seperti itulah kurang lebih cara belajar bahasa Jepang OTODIDAK pakai buku Minna no Nihongo guys. Gimana udah pada paham belum? Jadi sebenernya ga wajib ikut les atau khursus bahasa Jepang ya untuk bisa belajar. Kalau mau tau lebih banyak cara belajar bahasa Jepang OTODIDAK bookmark halaman BLOG J-Class ini atau kalian bisa juga ikuti atau subscribe akun-akun social media aku. So, semoga membantu dan kita bisa terus berkembang tiap harinya.

  • Belajar Bahasa Jepang

    Belajar cara meminta tolong dalam bahasa Jepang

    Hallo guys!!, ketemu lagi di BLOG J-class, yang sebelumnya kita udah sharing sharing soal cara menyebutkan 'sedikit', cara cara me ngungkapkan 'tetapi'. Nah kali ini aku mau share soal cara cara meminta tolong dalam bahasa Jepang guys. Langsung aja yuk ke materinya 

    1. 〜てください (te kudasai)

    Pola pertama yaitu pola kalimat umum yang aku yakin ini pola pertama yang kalian pelajari di buku-buku. Ya pola '~te kudasai' ini digunakan untuk meminta seseorang untuk melakukan sesuatu dengan sopan. Ini adalah ungkapan yang umum digunakan dalam situasi formal maupun informal.

     Polanya :
    KK  Bentuk TE + ください
                                        (kudasai)

     Contoh :
    明日(あした)()()わせを(じゅん)()してください。
     Ashita no uchiawase o junbi shite kudasai.
     Tolong persiapkan meeting besok.

    まだ(べん)(きょう)(ちゅう)ですから、もう(すこ)しゆっくり(はな)してください。
     Mada benkyouchuu desu kara, mou sukoshi yukkuri hanashite kudasai.
    Karena masih belajar, tolong bicaranya sedikit lebih pelan. 

    ()(ちょう)(つくえ)にある(しょ)(るい)()ってください。
     Buchou no tsukue ni aru shorui o totte kudasai.
     Tolong ambilkan dokumen yang ada di meja manager.


    1-1. 〜 ないでください (naide kudasai)
     Kalau mau bikin versi kalimat negatifnya kita bisa gantikan bentuk TE-nya menjadi bentuk A + ないで yaa 

     Polanya :
     KK Bentuk A + ないで ください
                                                        (naide kudasai)

     Contoh :
    これは(どく)キノコですから、()べないでください。
    Kore wa doku kinoko desu kara, tabenaide kudasai.
    Karena ini jamur beracun, jadi tolong jangan dimakan.

    ここで()たものは(だれ)にも()わないでください。
    Koko de mita mono wa dare ni mo iwanaide kudasai.
    Apa yang kamu lihat disini tolong jangan katakan ke siapapun.

    2. 〜てもらいますか (te moraimasu ka)

    Pola kedua yaitu pola yang digunakan untuk meminta seseorang melakukan sesuatu untuk kamu dengan sopan. Jadi "~te moraimasu ka" menunjukkan bahwa kamu minta orang tersebut dengan sopan. 

     Polanya :
    KK Bentuk TE +もらいますか
                                                     (moraimasu ka)

    Contoh :
     もう開店(かいてん)()(かん)ですから、(みせ)のドアを()けてもらいますか。
     Mou kaiten no jikan desu kara, mise no doa o akete moraimasuka.
    Karena udah waktunya buka toko, tolong bukakan pintu tokonya.

    テレビの(おと)(すこ)(ちい)さくしてもらいますか。
    Terebi no oto o sukoshi chiisaku shite moraimasuka.
     Suara TVnya tolong di kecilin dikit.

    Pola ini suka pake bentuk negatif juga nih, 〜てもらいませんか (te moraimasen ka). Apakah jadi minta tolong ga melakukan ? Jawabannya tidak. "~te moraimasen ka" itu bentuk yang lebih sopan dari hanya sekedar "~te moraimasu ka". Sopan dalam artian kita merendahkan diri saat meminta tolong orang lain. Sebagai contoh :

    (かい)(しゃ)のロゴを(あたら)しいデザインにしてもらいませんか。
     Kaisha no rogo o atarashii dezain ni shite moraimasen ka.
     Tolong buat logo perusahaan dengan design baru.
    *kalimat ini akan lebih sopan kalau dibanding "te moraimasu ka"

     Nah kalau 〜てくれますか (te kuremasu ka) bagaimana ? bukannya sama aja ya ?

    Kalau dibilang sama aja sebenarnya 〜てもらいますか (te moraimasu ka) dan 〜てくれますか (te kuremasu ka) itu serupa tapi tak sama. Maksud aku tuh kalau "te moraimasu ka" kan kesannya orang yang ngomong itu minta bantuan ke orang lain, sedangkan "te kuremasu ka" itu orang yang membantu itu ngebantuin tanpa diminta, atau bisa dibilang yang ngebantuinnya itu inisiatif atau emang udah niat bantuin meskipun ga diminta. Jadi "te kuremasu ka" sebenarnya kurang tepat kalau kita masukkan sebagai cara meminta bantuan. Kalau memang digunakan untuk minta bantuan, berarti hal yang diminta itu adalah sesuatu yang udah se


    2-1.  ~ないでもらいますか (naide moraimasu ka)
    Ini pola untuk nyebutkan permintaan kalimat negatif dari pola 'te moraimasu ka' yaa

    Polanya :
     KK Bentuk A + ないで もらいますか
                                                      (naide moraimasu ka)

     Contoh :
    (きたな)()()をそのままにしないでもらいますか。
    Kitanai heya o sono mama ni shinaide moraimasu ka.
     Tolong untuk tidak membiarkan ruangan kotor begitu saja.

      じんじょうほうにんおしえないでもらいますか。
    Kojin jouhou o tanin ni oshienaide moraimasu ka.
     Tolong jangan kasih tau informasi pribadi ke orang lain.


    3. 〜ていただけませんか (te itadakemasen ka)

    Pola ini digunakan untuk meminta seseorang yang lebih tinggi statusnya atau orang yang lebih tidak akrab untuk melakukan sesuatu dengan sangat sopan. Pola 〜ていただけませんか (te itadakemasen ka) sebenarnya berawal dari もらいます yang ikta ubah menjadi bentuk hormat / (そん)(けい)() (sonkeigo) yaitu いただきます (itadakimasu). Yang kemudian kita ubah lagi jadi bentuk E yaitu いただけます (itadakemasu). Jadi kesannya kita bilang "bisakah anda melakukan ... ". Karena menjadi bagian dari bentuk hormat, ditambah lagi kesannya itu kita nanya dulu "bisakah .. ?" jadi ngasih kesan 'ga minta secara langsung', jadi pola ini menjadi salah satu yang sering digunakan di dunia bisnis di Jepang. 

    Polanya :
    KK Bentuk TE +いただけませんか
                              (itadakemasen ka) 

    Contoh :
    ファイルが(ひら)かないので、ファイルを再送信(さいそうしん)していただけませんか。
    Fairu ga hirakanai node, fairu o saisoushin shite itadakemasen ka.
    Karena filenya tidak terbuka, bisakah anda mengirimkan ulang filenya ?

    (そう)(きゅう)対応(たいおう)必要(ひとよう)案件(あんけん)なので、(いま)はこの案件(あんけん)優先(ゆうせん)していただけませんか。
    Soukyuu ni taiou ga hitsuyou na anken na node, ima wa kono anken o yuusen ni shite itadakemasen ka. 
    Karena ini kasus yang perlu ditangani segera, bisakah anda memprioritaskan kasus ini sekarang ? 

    このデザインの(いろ)をもう(すこ)(あか)るい(かん)じにしていただけませんか。
    Kono dezain no iro o mou sukoshi akarui kanji ni shite itadakemasen ka.
    Bisakah anda buat warna dalam desain ini menjadi sedikit lebih cerah.


    3-1. 〜ないでいただけませんか (naide itadakemasen ka)
     Untuk menyebutkan kalimat negatif pada pola ini, caranya sama seperti pola 〜てもらいますか (te moraimasu ka), polanya aku ringkas jadi berikut :

    Pola :
    Kata kerja bentuk A + ないで いただけませんか
                                                                                 (naide itadakemasen ka)

    Contoh :
    ()(かん)(なま)ゴミのゴミ(ばこ)()れないでいただけませんか。
    Akikan wa nama gomi no gomibako ni irenaide itadakemasenka.
    Bisakah minta tolong untuk tidak masukin kaleng kosong ke tempat sampah makanan ?

    店内(てんない)では写真(しゃしん)()らないでいただけませんか。
    Tennnai de wa shashin o toranaide itadakemasenka.
    Bisakah minta tolong untuk tidak memotret foto di dalam toko. 

    4. 〜てもらってもいいですか (te moratte mo ii desu ka)

    Pola ini merupakan cara minta tolong secara tidak langsung. Terkesan menanyakan dulu "bolehkan/bisakah minta tolong ... ". Liat bentuknya pasti ada yang udah kebayang, pola ini sebenarnya berawal dari bentuk TE + もらいます (moraimasu), yang kemudian もらいます (moraimasu)nya di ubah ke bentu TE + もいいですか (mo ii desu ka). Nah kalau mau lebih sopan lagi, kita ganti aja もらいます (moraimasu)nya menjadi いただきます (itadakimasu). Polanya akan jadi seperti berikut :

    Pola :
    Bentuk TE + もらっても いい ですか
                                                 (moratte mo ii desu ka)
    Bentuk TE + いただいても いい ですか
                                                       (itadaitemo ii desu ka)

    Contoh :
    (みち)がわからないので、(びょう)(いん)まで(おく)ってもらってもいいですか。
    Michi ga wakaranai node, byouin made okutte moratte mo ii desu ka.
    Karena ga tau jalan, bolehkah antarkan sampai ke rumah sakit ?

    ここのビデオを(あたら)しいビデオに()()えてもらってもいいですか。
     Koko no bideo  o atarashii bideo ni sashikaete moratte mo ii desu ka.
    Bolehkah minta ganti video yang disini dengan video yang baru ?


    Kita bahkan bisa menggunakan よろしい (yoroshii) menggantikan いい (ii) untuk memberikan kesan yang lebih halus. Seperti contoh-contoh berikut : 

    (らい)(しゅう)()(しゃ)にご(らい)(ほう)していただいてもよろしいでしょうか。
    Raishuu kisha ni goraihou shite itadaite mo yoroshii deshou ka.
    Minggu depan bolehkah saya berkunjung ke perusahaan anda ?

    (いそが)しいところ大変(たいへん)恐縮(きょうしゅく)ですが、お(はや)めにお(おく)っていただいてもよろしいでしょうか。
    Oisogashii tokoro taihen kyoushuku desuga, ohayame ni ookutte itadaite mo yoroshii deshou ka.
    Kami mohon maaf ditengah kesibukannya, tapi bisakah anda mengirimkannya sesegera mungkin ?


     Nah gimana guys, ga kalah menarik kan bahasan kali ini. Pola kalimat atau cara-cara meminta bantuan dalam bahasa Jepang bisa jadi ga hanya ini lho, kalau aku nemu lagi nanti aku share lagi yaa. Pokonya stay tune ya di BLOG WaGoMu, next aku akan share bahasan bahasan menarik lagi.



J-Class, pernah diliput di :