Cari

Belajar Efektif dan Fun di WaGoMu#JapaneseClass

Kerja

Tokutei Gino itu penyelamat atau penghancur Jepang?

Tokutei Gino itu penyelamat atau penghancur Jepang?Jepang mengalami krisis penduduk karena kekurangan pemuda produktif, dan bertambahnya lansia. Sehingga Jepang memutuskan untuk mempermudah akses warga asing untuk bisa bekerja di Jepang. Maka muncul lah visa baru yaitu Tokutei Gino (Specified Skill Worker). Setelah munculnya visa TG ini, jumlah pekerja asing di Jepang meningkat cukup drastis. Tapi apakah ada dampak lain dari visa ini?

Tokutei Gino dibuat untuk menyelesaikan krisis penduduk di Jepang. Di waktu bersamaan, Jepang pun membantu negara-negara yang memiliki penduduk yang banyak dan juga orang yang ingin kerja di Jepang untuk bisa berkarir di Jepang. Nah ternyata di Indonesia banyak banget yang tertarik untuk kerja di Jepang, sehingga visa Tokutei Gino mendadak ramai peminatnya di Indonesia. Ya kalau dibanding dengan Ginojisshu (magang) sih memang lebih menarik, baik dari sisi pendapatan, hingga perlakuan visanya. Tapi ada hal detil yang perlu diperhatikan oleh warga lokal dan juga peserta Tokutei Ginonya

Kali ini aku bukan mau ngebesar-besarin atau ngejelek-jelekin Tokutei Gino, tapi kali ini mau ngajak kalian mikir bareng nih, mari kita liat juga sisi negatif dari program yang satu ini. Jadi kalian bisa mempersiapkan bila terjadi hal yang tidak diinginkan selama di Jepang nanti. Nah menurut kalian Tokutei Gino ini sebenernya penyelamat atau penghancur Jepang? 

Tokutei Gino berhasil menyelesaikan masalah kekurangan penduduk di Jepang

Serius loh, jumlah pekerja asing di Jepang itu meningkat cukup drastis. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, katanya jumlah pekerja asing sebelum adanya TG di tahun 2018 itu sekitar 1,46 juta. Sedangkan setelah adanya TG di tahun 2023 jumlahnya jadi 2,04 juta penduduk. Kalau dihitung kasar jumlahnya naik sekitar 40% dalam 5 tahun. Ini hal yang bagus, karena ternyata program baru ini udah sesuai target dan berhasil mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja di Jepang.

Kalau kita lihat secara jumlah aja, program ini terlihat sukses. Selain menyelesaikan masalah penduduk di Jepang, program ini pun berhasil memberikan kesempatan bagi warga asing yang ingin kerja di Jepang. Saat ini, beberapa pabrik makanan mulai bisa beroperasi 24 jam, pedesaan-pedesaan mulai terisi kembali karena adanya TG di sektor pertanian, 40% lowongan perawatan lansia terisi oleh TG. Sehingga pekerja TG pun ikut membantu Jepang dari sisi pendapatan PDB Jepang. Bagus banget berarti ya program TG ini. 

Eits!? ternyata ada masalah yang terjadi dengan program ini

Pertama pekerja TG ternyata cukup banyak yang dibayar di bawah upah minimum. Contoh ada yang cuman dibayar 120.000 Yen per bulannya dengan jam kerja 12 jam/hari. Sampai saat ini, ternyata masih ada perusahaan di Jepang yang melihat warga asing sebagai tenaga kerja yang murah. Sehingga bisa dengan mudahnya dipekerjakan lebih tapi dapet bayaran yang kurang dari seharusnya. Memang ga segila Gino Jisshu, tapi ternyata masalah ini tetap terjadi di Tokutei Gino.

Selain itu ada juga perbudakan modern yang terjadi seperti paspor disita oleh pihak TSK atau mungkin perusahaannya. Kemudian hal ini perlu diperhatikan ya untuk yang ingin coba ikut TG. Program TG sendiri selama belum upgrade ke TG2, kita belum bisa pindah kerja. Sehingga kalau udah terlanjur masuk ke perusaahan itu, mau perusahaannya memperlakukan kalian dengan baik atau engga, kalian harus bekerja disitu setidaknya 5 tahun sampai kalian berhasil upgrade ke TG2. Belum selesai disitu, ternyata cukup banyak perusahaan yang menolak memberikan rekomendasi peserta TG untuk ikut test TG2. Kalau ga di kasih rekomendasi dari perusahaan TG1, kalian ga bisa ikut test dan upgrade ke TG2. Ujung-ujungnya kalian terpaksa pulang ke negara asal kalian tanpa jalan ke status permanen resident.

Balik lagi, ini ga semua perusahaan di Jepang gitu ya. Nah alasan mereka ga ngasih rekomendasi kemungkinannya ada dua. Pertama memang kinerja peserta TGnya yang kurang. Atau memang ga ada rencana untuk ngelanjutin peserta ke TG2, dan memilih untuk nerima peserta TG baru, guna mendapatkan tenaga kerja yang lebih murah. Selain itu, cukup banyak orang Jepang yang masih melihat pekerja TG sebagai 'kasta rendah', alhasil banget peserta TG yang mengaku tidak punya teman orang Jepang (survei NPO Solidarity Network, 2024). Ya kondisi ini diakibatkan juga sama pekerja TG yang melakukan kriminalitas seperti pencurian ataupun pembunuhan yang sempat viral di media sosial ya, mana ada orang Indonesia lagi yang ngelakuinnya.

Jadi dari yang aku sebutkan tadi, selain masalah dari sistemnya seperti masalah upah yang tidak dibayar seharusnya, masalah perbudakan modern, sampai sistem upgrade ke TG2 tadi, ternyata masalah dari sisi peserta TGnya pun ada ya guys. Jadi kita ga bisa 100% menyalahkan 1 belah pihak nih. Peserta TG yang melakukan kriminal juga bisa aja ternyata di perusahaannya dia mendapat perlakuan yang tidak baik. Tapi kalau ini terus dibiarkan, bisa-bisa Jepang akan dicap sebagai negara eksploitatif atau belum lagi kalau pesertanya tidak disaring dengan benar, bisa-bisa kota-kota di Jepang akan kumuh dipenuhi oleh orang asing yang pastinya akan membuat warga lokal tidak nyaman ya. 

Aku sharing ini bukan untuk menakutkan kalian, ataupun membuat kalian mengurungkan niat kalian untuk berangkat ke Jepang pakai visa TG. Tapi siapa tau dengan aku sharing kaya gini, mata kalian bisa lebih terbuka, bisa melihat kenyataan bahwa ga semuanya indah dan kalian bisa lebih siap menghadapi kondisi apapun selama nanti kalian di Jepang. Nah gimana ya menurut kalian? Apakah program TG ini penyelamat Jepang atau sebenarnya penghancur Jepang? Coba tuliskan pendapat kalian di komentar ya, aku mau tau pendapat kalian.

Kontak Aku kesini yaa:

Komentari Artikel Ini

Komentar

    No Comments To Display

J-Class, pernah diliput di :